8 November 2019

3

Hampir Hilang di Thailand bagian 2: Hampir Sujud Syukur Gara-gara Paspor Indonesia

Bersambung...

G U E   H A R U S   L A R I ! ! !

Pikiran gue nyuruh lari. Jantung gue berdegup kencang seperti genderang mau perang (Ahmad Dani kali ah). Tapi kaki gue gak bisa digerakin, sama sekali. Akhirnya gue berdiri mematung dan pasrah membiarkan si ibu itu datang menghampiri. Apa pun yang ia lakukan, hamba serahkan semuanya hanya kepadaMu ya Allah ya Rabbi, Tuhan semesta alam.

"Trang tung tung tuk tuk tung lae lae?" Ibu itu nyerocos di depan gue. Jarak kami hanya satu langkah. Jarak yang tepat untuk si ibu membacok kepala gue yang kosong ini. "Trang tung tung mai?"

Gue membisu. Dahi mulai keriting. Keringat mengucur deras di dalam kaos yang gue pakai. "Tung tung tung krap to in to eng?" Ibu itu melanjutkan. Nada bicaranya seperti ia sedang bertanya, bukan ingin membunuh. Gue sedikit sadar. Jika ibu ini membunuh gue di tengah terminal, akan banyak orang yang membawa gue ke UGD dan melaporkan si ibu ke polisi.

Nggak mungkin ada pembunuh sebego ini, batin gue.

"Kin ken lew trung tung tung?" Ibu masih berucap.

Kalo emang si ibu ini nanya, gimana cara gue jawabnya? Orang pertanyaannya aja kaga paham.

Gue celingak celinguk berharap ada malaikat penolong untuk mentranslate apa yang ibu ini katakan, sayangnya nggak ada. Semua orang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing di terminal itu.

Si ibu memandangi gue dengan tatapan menagih jawaban dari pertanyaannya. Gue hanya bisa memandangi mukanya dengan raut muka memelas dan kebingungan. "Aku ki ra ngerti kowe ngomong opo ndes! Aku kon piye?!" teriak gue dalam hati.

Tiba-tiba gue inget paspor yang selalu gue bawa di tas selempang kecil. Gue ambil paspor dan angkat paspor itu tinggi-tinggi, persis wasit sepak bola pas ngeluarin kartu kuning. Bedanya, gue nggak pake peluit.
Bola mata si ibu mengikuti posisi paspor gue. Beberapa saat kemudian, ia tertawa kecil dan berkata, "oh...mai khon Thai! Hahaha."

"He-he-he," gue ikut tertawa, dipaksakan. Kenapa nggak dari tadi lo keluarin paspor, Farih?! Bego banget lo!

Disitu gue ngerti apa yang ibu itu katakan dan gue baru ingat kalimat tersebut, kalimat yang Ploy ajarkan ke gue sebelum gue mendarat di Thailand.

Mai = tidak / bukan.
Kon = orang.
Thai = Thailand.

Mai kon Thai = bukan orang Thailand! Ibu itu akhirnya ngerti gue bukan orang Thailand dan nggak paham apa yang dia katakan dari tadi.

"Dai dai, chan mai kon Thai na ka." gue menjawab dan membenarkan apa yang si ibu itu katakan. Gue langsung mengingat-ingat beberapa kalimat yang pernah gue pelajari dari teman-teman Thailand.

Raut muka si ibu berubah menjadi lebih ramah. Rasanya gue pengen sujud syukur di situ. Tapi sadar kalau sujud syukur di tengah terminal Thailand dengan kondisi sepanas itu, matahari tepat di atas ubun-ubun, akan terlihat aneh. Gue urungkan niat tersebut.

Si ibu berjalan ke salah satu loket yang berada di dekat kami berdua. Refleks, gue ikutin si ibu berjalan sambil masih mengangkat paspor tinggi-tinggi dan tangan kiri menarik tas koper warna hitam. Dari jauh, kami berdua terlihat seperti induk ayam dan satu anaknya yang lahir prematur.

"Mai kon Thai, mai kon Thai." ibu tersebut seperti ngasih tau orang-orang di sekitar loket kalau gue bukan orang Thailand.
Foto asli si Mbak penjaga loket
Gue menghentikan langkah ketika si ibu menghampiri mbak-mbak yang duduk di belakang loket. Beberapa orang di sekitar loket tersebut memandangi gue dengan tatapan heran, kasihan, sekaligus jijik. Orang-orang Thailand yang berkulit putih bersih ini mungkin berpikir, "udah item, dekil, jerawatan, ngangkat-ngangkat paspor begitu, gembel Indonesia stres ini ngapain sih di negara gue?"

Di tengah rasa canggung karena diliatin begitu, HP gue kembali berbunyi. Ploy menelpon lagi. "Hallo, where are you? Are you ok?" Suara Ploy khawatir di ujung sana.

"I am ok, bro. I am at the terminal now." Jawab gue. Kemudian gue ceritakan kejadian ibu-ibu tadi dan Ploy meminta untuk ngomong dengan si ibu tersebut. Tanpa kata-kata, gue sodorin HP gue ke si ibu yang sedang berbicara dengan mbak-mbak loket.

Gue hanya memandangi si ibu ngobrol dengan Ploy. Paspor sudah gue turunkan. Koper hitam masih gue pegang erat.

Lumayan lama, si ibu memberikan HP gue kembali dan berbicara dengan mbak loket seperti memberti tau sesuatu. "Bro, get a pen, and write my phone number." Ploy menginstruksikan gue untuk mengambil bolpoin.

Gue heran, kenapa harus pake bolpoin? Gue tanya ke Ploy, "Can I write your phone number on my phone?".

"How about if your phone died? How about if your battery is running out? Think smart! You can't do anything if your phone is off." Ploy merepet. "It needs 5 until 7 hours to get my home. It will be a long journey today. And I am not sure if you can charge your iphone after this."

Perjalanan 7 jam? Di negara orang tanpa tau jalanannya bakal kayak apa? Gue pengen balik langsung ke Semarang rasanya waktu itu.

Akhirnya, gue pun menulis nomor HP Ploy di sebuah kertas lalu gue simpan di saku jaket jeans yang gue pakai.

Selesai berbicara dengan Ploy, ibu itu memberikan gue karcis van (semacam suttle bus atau travel di Indonesia). Gue nggak paham tulisannya apa, gue cuma mengeluarkan uang sesuai dengan angka yang tertera di karcis tersebut dan memberikannya ke si ibu. Dari semua tulisan di karcis, gue cuma bisa ngerti "300 baht". Tulisan lainnya terlihat seperti aksara Jawa typo di mata gue.

Karcis van
"You wait, wait here." si ibu menunjuk bangku kayu panjang di sebelah loket untuk gue duduk dan menunggu van yang akan membawa gue ke Buayai, Nakhon Ratchasima.

Ibu yang semula gue kira akan membunuh gue ini ternyata baik. Dari awal liat gue kebingungan di tengah terminal, dia cuma berniat menolong. Karena tampang gue yang keliatannya kayak orang lokal Thailand, makanya si ibu ngajak ngomong gue pake bahasa Thailand tadi.

"Thankyou so much for your help." Gue pengen peluk rasanya. Tapi si ibu keburu pergi dengan lambaian tangan dan cuma menjawab gue dengan senyuman.

Tas pinggang warna gelap lusuh yang si ibu pakai, menandakan kalo ibu itu di terminal buat kerja, cari uang. Gue cuma bisa mendoakan agar rejeki ibu itu lancar terus dan sehat selalu.

Gue memandangi punggung si ibu yang kian jauh meninggalkan gue dan meminta maaf dalam hati. Ada senyum getir yang nggak mampu gue sembunyikan.

Ibu baik banget sih. Andaikan kita bisa ngobrol, pasti kita jadi sohib.

Gue kemudian duduk dan menunggu van datang.

Ini baru sampai terminal. Perjalanan 7 jam menanti gue di depan mata. Gue deg-degan.

---

Bersambung ke bagian ketiga.

3 komentar:

  1. Wowww! Tersesat di negeri orang? Bukan panic stress sedih aja rasanya, semua akal sehat juga hilang mendadak. Pikiran positif ke orang bahkan buat seorang ibu-ibu atau orang asing pun juga ilang, terlebih di negara atau masyarakat yang bukan kawasan kita sendiri. Pengalamannya serem juga, tapi pasti bikin terkesan karena ada kejadian-kejadian tak terduga kayak bantuan dari si ibu diatas. Lanjutkan ceritanya jadi penasaran hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, bener banget! Apalagi bahasanya kita nggak ngerti sama sekali. Panik sih, jelas.

      Thankyou. Stay tune ya. Hehe

      Hapus
  2. Wow bersambung lagi pemirsa. Masih lebih greget bagian pertama sih karena bikin orang pengen ikutan marah. Kalau bagian ini cuma bikin gue pengen bilang "hmmmmmmmmmm".

    BalasHapus

Teman