23 Oktober 2019

21

Hampir Hilang di Thailand bagian 1: Dikejar Ibu-ibu di Terminal Mo Chit Bangkok

Semenjak bisa ngomong bahasa Inggris, tingkat ke-pede-an gue solo traveling ke luar negeri meingkat. Gue selalu berpikir, "selow ae lah gue bisa minta tolong ntar disana”.


Sumber: iTravel Channel
Sampai akhirnya, Tuhan Maha Baik nyentil gue dan bilang, “baru bisa bahasa Inggris aja songong lu tong!”

Gue hampir hilang di Thailand.

Ceritanya gini...

Setelah check out dari Hotel Livotel Ladphrao Bangkok Senin pagi, gue memutuskan untuk pergi ke Distrik Bua Yai, Provinsi Nakhon Ratchasima, Thailand buat ketemu temen online gue, namanya Ploy. Gue kenal Ploy lewat aplikasi HitMeUp. Iya, gue se-kesepian itu sampai main aplikasi begituan.
Rute Bangkok - Bua Yai
Aplikasi tuh nggak ada yang negatif. Semua tergantung pemakai, dipakai buat apa aplikasi itu, iya kan? Bisa aja lo main tinder buat dakwah dan menyebarkan agama islam. Kan bagus.

Ploy adalah temen online paling akrab gue so far. Dia punya pacar bule Jerman. Jadi bahasa Inggrisnya bagus dan aktif. Gue sering ngobrol dan diajari bahasa Thailand sama Ploy. Tapi karena kapasitas otak gue yang nggak seberapa, gue cuma ngerti "khop khun ka".
Ini Agum, waktu kita di lobi hotel.
"Lo serius mau kesana sendirian Rih?" tanya temen gue, Agum, di lobi hotel waktu kita nungguin grabcar bareng. Agum nunggu grabcar buat ke bandara dan pulang ke Indonesia, sedangkan gue nunggu grabcar buat ke terminal Mo Chit Bangkok, lalu lanjut naik suttle bus ke Bua Yai. "Nggak takut ilang?"

"Iya serius lah." Jawab gue singkat. "Kalo ilang, ntar gue halo-halo di pos satpam terdekat."

Beberapa menit kemudian grabcar yang gue pesan datang. Sebuah sedan Toyota Carmy. Drivernya seorang bapak-bapak bermuka sedikit garang. Gue cari tato mawar di kedua lengannya nggak ketemu. Lega.

Setelah memasukan tas-tas di bagasi, gue pun duduk di jok depan sebelah supir. Entah kenapa ya, gue selalu seneng duduk di sebelah supir kalau naik taksi online sendirian.

Aplikasi grab gue waktu itu
"To Mo Chit Terminal, sir. I wanna go to Bua Yai." Gue membuka kesunyian setelah beberapa saat mobil sedan itu meninggalkan hotel.

Si driver menjawab singkat, "krab."

Setelah itu hening lagi. Mobil melaju tenang menembus kepadatan jalanan Bangkok.

Gue berpikir, kok sepi banget? Nyalain musik enak kali ya.

"Sir, can you turn the music on? Dangdut maybe?" Gue sok akrab. Si om diem, memandang gue, dahinya mengkerut. "Dangdut sir, dangdut. Indonesia music."

Om supir masih diem dan memandang ke jalanan di depannya. Gue belum menyerah untuk akrab dengan si om. "You know Indonesia? Dance? Joget Om. Music, music!" Gue menunjuk-nunjuk music player di dashboard mobil dengan muka girang senyum lebar. Si om grabcar malah menggeser duduknya mepet ke jendela mobil, menjauhi gue. Kurang ajar.

Gue nyerah. Gue nggak berusaha lagi buat nyalain musik di dalam mobil. Tiba-tiba HP gue berbunyi. Ploy menelpon.

"Hallo?"

"Hey, where are you?!" Ploy ngegas di ujung sana. "Why don't you tell me? I worry about you!"

"I am on my way to Mo Chit Terminal now by grabcar. Don't worry. I am still alive." Gue coba menenangkan Ploy.

"Let me talk with the driver. Mo Chit Terminal is not small, Bro. You may be lost there!"

Astgafirullah mulutnya dijaga woy! Jangan doain gue ilang.

HP gue berikan ke om driver. Ploy dan driver berbincang dengan bahasa Thailand. Mendengarkannya membuat kepala gue pening. Kunang-kunang. Vertigo. Kemudian pingsang.

Enggak lah!
Gue nggak selemah itu.

Gue memperhatikan si om driver dari kursi penumpang dengan kepala berasap karena menerka-nerka, "mereka ngomongin apa ya? Jangan-jangan lagi ngomongin kejelekan gue."

Setelah selesai, om grabnya balikin HP ke gue. Ploy masih tersambung.

"Bro..." suara Ploy diujung sana. "The driver cannot speak English at all. Maybe just Yes or No. Take care. I've told him your direction in Mo Chit."

Mak tratap! Bakal sepi dong ini mobil sedan selama perjalanan ke terminal? Si Om-nya nggak bisa ngomong bahasa Inggris. Huhu.

Mobil sedan om grab masih melaju, membelah jalanan Kota Bangkok yang padat dan kadang macet di beberapa titik. Gue duduk diam sambil memandangi google maps yang sedari tadi gue buka. Perjalanan masih beberapa menit lagi. Taksi-taksi berwarna pink yang lalu lalang di luar jendela mobil menghibur gue di tengah kesunyian antara gue dan om grab. Imut banget taksinya woy.. Kasih pita di bagian atas, udah jadi mobil lamaran tuh. hehe. Sesaat, gue merasa kayak lagi marahan sama pacar di dalam mobil.

Laju mobil menjadi pelan ketika memasuki palang pos parkir. Gue sampai di Terminal Mo Chit. Setelah mengambil karcis parkir, mobil melaju lagi menuju sudut terminal yang ternyata luas banget.


Mirip di Indonesia, terminal Mo Mchit berisi loket-loket pembayaran bis atau pun suttle bus dengan tujuan masing-masing yang ditulis besar di setiap loket dengan huruf Thailand dan ada nomor di setiap loketnya.

Mobil yang gue tumpangi berhenti di salah satu sudut terminal. Gue pun membayar tarif grab sesuai yang tertera di aplikasi ditambah biaya parkir. Kalau nggak salah tarif parkirnya 10 baht (5 ribu rupiah).

Setelah selesai menurunkan tas-tas gue yang cuma 2 biji, gue mengucapkan "thankyou. Khop khun ka." ke si om driver.


Gue berada di depan loket bus yang penampakannya sama semua: loket berwarna dominan putih-orens dengan petugas berseragam di dalamnya dengan tulisan Thailand gede-gede. Itu bacanya apa ya Tuhaaan???

Panasnya Thailand bikin gue makin panik, "gue harus ke loket mana ya Tuhan???"

Gue berdiri sambil nenteng tas di bawah terik matahari jam 12 siang. Gue lingung dan bingung. Gerah juga. Apakah ini azab karena riya bisa bahasa Inggris?

Di tengah kelinglungan, gue melihat dari kejauhan ada seorang ibu-ibu yang agak subur badannya teriak-teriak ke arah gue dengan bahasa Thailand.

"Trang tung tung tung kap kap pung pung ... !!!"

Gue nggak ngerti.
Makin linglung.
Matahari terasa makin panas.

Ya Allah Gusti...

"Trung tung tung tang tang tung lew lew krap kun trung tung tung tung!!!" Ibu-ibu itu melambaikan tangan ke arah gue dan berlari mendekat. Iya gais, berlari ke arah gue dan teriak-teriak pakai bahasa Thailand. :(

Astagfirullahalazim.

Gue dikejar.

Gue cuma bisa diem mematung. Bingung harus ngapain.

"Trang tung tung tang tang tung khap khap nai lew krung tang tung tang tang tang tung tung !!!" Ibu itu semakin dekat dengan gue.

Gue mulai berpikir macem-macem.
Gimana kalau ternyata ibu itu adalah seorang pembunuh?
Gimana kalau ternyata ibu itu adalah isterinya om grab tadi yang dendam suaminya semobil sama gue?
Gimana kalau ternyata ibu itu adalah gubernur Bangkok yang nggak ridho kotanya ini didatengi gue, backpacker gembel yang tidak turut serta memajukan perekonomian Bangkok?

ASTAGFIRULLAHALAZIM !!

Gue harus lari.

GUE HARUS LARI!

G U E   H A R U S   L A R I ! ! !

---

Bersambung ke bagian ke dua...

21 komentar:

  1. Trung krung pap skinipap skinipew krung lakai nai kai? Skipap krung lew nai nai!

    Poy yang bijak itu ya? Dulu pernah diceritain di blog ini. Yang ngasih analogi move on itu?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lo ngomong apa itu? :(

      Iya! Hahaha. Ploy si bijak.

      Hapus
  2. Kenapa jadi minta lagu dangdut, wey? Betulan pede banget ini anak.

    Permasalahannya ya itu, belum tentu orang sana banyak yang bisa bahasa Inggris. Tapi kerenlah, Rih. Berani sendirian cuma buat bertualang dan ketemu temen.

    Gue zaman masih akrab sama cewek Vietnam tiga tahunan lalu gara-gara online games kayaknya enggak bakal senekat ini juga deh. Waktu itu sih ada salah satu temen dari Medan sempet ngajakin ke sana. Kami padahal cuma akrabnya karena sering party bareng--buat bunuh monster, tapi dia udah sepercaya itu sama orang asing. Gue yang takut kenapa-kenapa karena kemampuan bahasa asing dan duitnya pas-pasan. Jadi, perjalanannya batal. Entah temen gue itu tetep nemuin gadis lucu Vietnam apa enggak. Udah pada lost contact jadi kagak bisa tanya-tanya lagi. XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kan biar rame gitu xD

      Hahaha iya, gak kepikiran kalo percuma kita bisa bahasa Inggris tapi orang sananya gak bisa. :(
      Gue acara delegasi juga sebenernya btw. Jalan-jalan setelah acara delegasi selesai.

      Yahhh, tadinya nekat aja Yog! Lagian lo takut diapain sii? Kan lo cowok wkwkwk

      Hapus
    2. Pas bagian ini juga gue mikir "anjir gak dangdut juga dong hey!"

      Hapus
    3. Gue kan anaknya masih lokal banget gitu :(

      Hapus
  3. Nanggung banget... :')

    Asli ini nekat sih. Gak kebayang kalo pas ketemu, tiba2 si Ploy itu cowok dengan badannya yang gede plus tato mawar di lengan kiri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kan biar pada nungguin xD

      Kan ada teknologi namanya videocall Bapak...

      Hapus
  4. Sibangke sih, ngebayangin ndengerin cengkualamoyan orang thailand... dan kegetiran pun tiba...

    nga bisa.

    saya nga bisa.

    besok langsung ke Paris saja.

    BalasHapus
  5. Menarik. Tulisan mengalir seru dengan target pembaca yang jelas: milenial.

    BalasHapus
  6. Menarik. Tulisan mengalir seru dengan target pembaca yang jelas: milenial.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thank you Mas.

      Tapi btw, targetnya semua orang yang bisa baca sih sebenernya. xD

      Hapus
  7. Kebayang sulitnya gimana buat nyambung ngomong ke orang-orang. Hahaha. Sepertinya jadi pengalaman yang seru sekaligus nakutin. Sekarang aman kan, kak? :D

    Ditunggu cerita selanjutnya~

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ya Allah :(
      Modal bisa bahasa Inggris doang ternyata masih sulit.

      Aman kok :D

      Sip! Soon hehee

      Hapus
  8. AHAHAHAHAHAHAH itu pas bagian lo gatau dia ngomong apa di pala gue malah muncul suara gendang. :)))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama sulingnya juga gak? Gak asik soalnya kalo gendang doang lho.

      Hapus
  9. Trung krung pap skinipap skinipew krung lakai nai kai? Skipap krung lew nai nai!

    Baru tau gue ada Toyota Carmy di Thailand.

    BalasHapus

Teman