11 Juli 2021

2

Bakso di Kereta Api Isinya Cuma 3 Biji

Gue suka naik kereta eksekutif malam. Selain suasananya boboable, naik kereta malam di tengah pandemi sangat leluasa karena 2 kursi cuma diisi satu orang. Jadi gue sendirian dan kursi sebelah kosong. Makin bebas tidur dan melakukan aktivitas apa pun. Termasuk makan tanpa takut risih sama orang di sebelah.

Kemarin, 3 Juli 2021, gue pulang ke Pekalongan dengan menggunakan kereta Sembrani eksekutif yang berangkat dari Stasiun Gambir jam 7 malam. Karena nawaitunya untuk tidur di kereta, jadi outfit yang gue pakai pun boboable: celana jeans longgar + hoodie tebel + sepatu dengan kaos kaki tinggi biar nggak dingin.

Baru jalan beberapa menit, gue sudah ngantuk. Setelah kursi gue senderin, gue pun mulai memejamkan mata dan tidur. Dua jam berselang, gue bangun dan laper. Kebetulan, ada 2 karyawan (pramugari) kereta api yang lewat dan menawarkan makanan. Di antara makanan-makanan yang mereka coba tawarkan, bakso kuah berhasil mencuri perhatian gue.

"Enak nih kayaknya malem-malem gini. Dingin, makan bakso panas." batin gue.

"Mau dong baksonya satu. Berapa?"

"Dua puluh lima ribu," jawab si pramugari. Kaget. Gue pikir harganya 15 ribu-an. Akhirnya gue pun membeli bakso itu. Si Mbak mencatat pesanan gue kemudian berjalan ke gerbong makan. "Tunggu sebentar ya, nanti kami antarkan pesanan ibu."


Selang beberapa menit, sebuah cup bertuliskan "Bakso Enak" mirip wadah pop mie sudah di depan mata. Saat gue terima, cup bakso "Bakso Enak" itu tertutup rapat. Ada sambel-kecap-saus dan sendok yang diberikan terpisah di dalam plastik. Kuahnya panas, terlihat dari asap yang keluar secara intens dari dalam cup. Gue penasaran, apakah rasanya benar-benar enak seperti tulisan yang di cupnya tersebut?

Gue aduk-aduk isi cup itu sambil menghitung berapa biji bakso yang ada di dalam sana. Guys, menghitung jumlah biji bakso yang akan kita makan ini penting untuk menentukan berapa lama waktu untuk menghabiskannya. Adukan pertama, hasil hitung jumlah baksonya 3 biji + 1 tahu kulit mini. Nggak percaya, gue aduk lagi, dan hasilnya masih sama: 3 biji bakso kecil + 1 tahu kulit mini

Sepi bet ni cup isinya cuma 3 biji bakso + 1 tahu kulit yang nggak gede-gede amat?!

Tambahan mie kuning di dalamnya, belum cukup membuat cup bakso ini terlihat penuh.

Buat traveler low budget alias bokek kayak gue ini, 25.000 rupiah untuk seporsi bakso, harusnya bisa lebih banyak isinya.

Sudah dibeli, masa tidak dimakan? Ya, akhirnya gue makan bakso harga 25 ribu yang berisi 3 biji ini.

Setelah gue tiup-tiup, kuahnya gue cicipin. Asin, rasanya kayak kuah Indomie ayam bawang, pas buat gue yang emang suka asin dan nggak berekspektasi tinggi soal makanan. Tapi untuk kalian yang emang ngerti makanan, kuah bakso "Bakso Enak" ini bakal dinilai biasa aja. Cita-rasanya kurang. Terlalu sederhana, asin doang. Minimalis banget konsep kuahnya.

Untuk baksonya, meskipun kecil tapi lumayan kerasa dagingnya nggak cuma tepung doang. Baksonya nggak pelit urat, tapi juga nggak banyak-banyak amat. Ya.. tergolong niatlah untuk menjadi sebuah bakso.



Tahunya sendiri agak nggak niat ya, Bun. Terlalu kecil dan lemes. Kayak nggak semangat jadi tahu. Sekali caplok, tahu mini itu pun hilang di dalam mulut gue. Rasa tahunya standar banget kayak tahu pada umumnya.

Mie kuning yang ada di antara bakso dan tahu, rasanya biasa banget. Sedikit hambar, mirip mie kuning yang dijual abang gerobak bakso komplek.

Gue pecinta kecap dan nggak suka pedeas. Tapi untuk kali ini gue sedang nggak pengen menambah rasa manis dan pengen ngerasain sensasi pedes dikit di dalam bakso. Jadi gue tambahi sambel sebanyak sekitar 3 tetes. Gue pikir sedikit rasa pedas akan menambah cita rasa hangat di perut gue.

Karena gue lapar dan merasa kedinginan, bakso 25 ribu itu pun gue habiskan tanpa waktu lama. Lumayan, menghangatkan badan.

Oh iya, ini adalah kali pertama gue beli bakso di dalam kereta. Sebelumnya, menu yang sering gue nikmati di kereta api adalah nasi sapi lada hitam.

So far, bakso 'Bakso Enak' KAI ini nilainya: biasa aja, buat gue. Tapi cukup buat penghangat badan dan memenuhi mulut dengan rasa asin. Kuahnya enak, bikin gue ngerasa kayak lagi menikmati Indomie kuah ayam bawang.

Biar kayak blogger-blogger review yang lain, gue kasih nilai 'Bakso Enak' ini 6 dari skala 10.

Itu cerita gue menikmati bakso kereta api pertama kali. Kalian pernah makan bakso ini juga nggak? menurut kalian gimana rasanya?

8 Desember 2020

1

Dosen Terbaik Sedunia

Tulisan ini akan panjang. Tapi tidak akan mampu lebih panjang dari kebaikan-kebaikan Pak Pri kepada saya.

Momen buka puasa bersama Pak Pri & Anak-anak tahun 2018

Satu pagi di tahun 2014, seorang dosen dengan mengenakan kemeja kotak-kotak, celana panjang jeans, dan sepatu kets ala anak muda masuk dan mengisi kelas 'Bisnis dan Politik'. Dengan singkat dan tanpa banyak menulis di papan tulis, beliau mengakhiri kelas dengan kesan menyenangkan. Sejak hari itu, beliau sukses mendapat tempat di hati gue sebagai salah satu dosen favorit. Namanya Priyatno Harsasto.

Hari demi hari terlewati, tibalah gue di semester 5, dimana setiap mahasiswa mendapatkan dosen pembimbing skripsi dengan cara acak. Gue pasrah dan hanya berdoa agar dosen pembimbing gue nanti bisa mempermudah proses kelulusan. Tanpa disangka, nama gue ada di list daftar mahasiswa bimbingan Pak Pri, sapaan akrab Pak Priyatno Harsasto. Setelah itu, hari-hari perkuliahan gue menjadi lebih menyenangkan. Gue dan Pak Pri menjadi akrab karena sering berkomunikasi. Banyak cerita mengesankan terjadi, hingga beberapa mahasiswa lain sering mengatakan; "Farih mahasiswa kesayangan Pak Pri".

Oleh-oleh dari Thailand

Normalnya, mahasiswa semester akhir akan fokus ke skripsi dan berusaha keras untuk segera lulus. Namun tidak untuk gue yang memang kurang normal ini. Di tahun keempat kuliah, gue malah melancong ke Thailand sendirian selama hampir 2 minggu. Gila kan?

Gue merahasiakan perjalanan ke Thailand ini kepada semua dosen termasuk Pak Pri. Bahkan teman-teman satu jurusan gue pun sudah gue wanti-wanti agar tutup mulut soal ini di depan para dosen.

Pulang ke Indonesia, satu hal yang paling gue takuti waktu itu, yaitu: menghadap Pak Pri untuk bimbingan skripsi setelah berminggu-minggu mangkir. Karena takut itulah, gue malah menunda-nunda untuk bertemu beliau.

"Rih, kok lo gak konsul skripsi?" tanya salah satu teman gue saat kita sedang beristirahat di kantin. "Lo dicariin Pak Pri tuh kemaren. Udah 2 bulan katanya lo gak bimbingan."

"Iya nih, gue belum selesai revisinya. Lagian takut juga udah lama gak konsul, takut diamuk." jawab gue waku itu.

"Lo lebih takut diamuk Pak Pri atau gak wisuda tahun ini?"

"..." Gue tersadar. "Oke, besok gue nemuin Pak Pri."

Besoknya, dengan membawa revisian skripsi seadanya, gue memberanikan diri menemui Pak Pri di ruang jurusan. Baru sampai di depan pintu, gue berpikir untuk putar balik, pulang ke kosan. 

Gimana nanti kalau Pak Pri marah dan gak mau bimbing skripsi gue lagi? Gimana nanti kalau gue harus ganti dosen? Gimana nanti kalau dosen barunya minta gue ubah judul skripsi dan ngulang dari awal? Kelar deh lo Rih, nikah aja udah nggak usah wisuda!

Pikiran-pikiran negatif muncul akibat ketakutan gue saat itu. Akhirnya, setelah beberapa menit mematung di depan pintu ruang jurusan, gue menarik satu nafas panjang dan melangkahkan kaki masuk.

Dari kejauhan, ruangan Pak Pri yang berupa bilik kayu 9 meter persegi berderet dengan bilik dosen lain terlihat. Disana, duduk dengan tenang Pak Pri sambil membaca lembaran kertas di tangannya. Gue makin gugup. Langkah gue makin pelan mendekati meja beliau.

Gue berdiri diam di depan meja Pak Pri. Melihat ada sosok di depannya, Pak Pri meletakkan kertas yang ia baca dan mengalihkan pandangannya ke gue. Gue berusaha untuk senyum semanis mungkin menyambut tatapan Pak Pri, meskipun degup jantung udah nggak karuan.

Pak Pri tersenyum ke arah gue. "Eh kamu nduk, baru keliatan. Mana oleh-oleh dari Thailand-nya buat saya?". Setelah itu ia tertawa kecil. "Kok nggak bawa apa-apa ki piye?". (kok nggak bawa apa-apa itu bagaimana?)

Lah.

Lahhh.

Di luar dugaan, ternyata respon Pak Pri nggak sesuram yang gue pikir. Masih sehangat biasanya. Bahkan konsultasi skripsi hari itu berjalan lebih dari 3 jam dan banyak berisi tentang sharing pengalaman jalan-jalan gue ke Thailand. Pak Pri begitu antusias mendengarkan cerita-cerita gue. Beberapa kali kami berdua menertawakan kebodohan-kebodohan gue selama jalan-jalan.

Sampai sekarang, masih menjadi misteri, siapa yang membocorkan rahasia gue ke Thailand pas skripsian kepada Pak Pri.

Mahasiswa Wajah Muram

Satu angkatan kuliah biasanya akan lulus bersama atau setidaknya dalam waktu yang berdekatan. Dalam hal ini, dosen pembimbing skripsi benar-benar menjadi salah satu faktor penentu durasi kuliah mahasiswa. Gue beruntung punya dosen pembimbing sebaik Pak Pri. Tapi nggak semua mahasiswa seberuntung gue. Beberapa mahasiswa yang nggak beruntung itu, bahkan untuk konsultasi secara nyaman aja nggak bisa dengan dosen pembimbing mereka. Apalagi lulus cepet(?)

Siang itu, seperti biasa, tanpa janjian terlebih dahulu, gue berniat konsultasi skripsi dengan Pak Pri. Gue yakin Pak Pri pasti ada di ruangannya dan memiliki waktu untuk gue ganggu dengan pertanyaan-pertanyaan seputar perilaku politik masyarakat Indonesia, tema skripsi gue.

Setelah melewati dan menyapa beberapa teman satu jurusan yang duduk berjejer menunggu dosen pembimbing mereka di depan ruang jurusan, gue memasuki ruang kerja dosen itu.

Dengan menenteng lembar-lembar revisi skripsi, gue melenggang masuk berjalan menuju meja Pak Pri. Ketika melewati bilik-bilik dosen lain, gue melihat beberapa teman kelas sedang duduk di hadapan dosen pembimbing mereka masing-masing. Ada yang lagi ngobrol santai, ada juga yang terlihat muram-masam diceramahin dosen di hadapannya.

Pak Pri sedang ngobrol dengan dosen lain saat gue datang. "Eh, Nduk, arep ngopo?" (eh nak, mau ngapain?) Pak Pri menyapa.

"Mau konsul bab 3 Pak, kalau Pak Pri lega. Revisiannya sudah selesai." jawab gue.

"Mana coba tak liat dulu." Pak Pri menyelesaikan obrolannya dengan dosen tadi kemudian mempersilakan gue duduk.

Setelah selesai membahas skripsi gue, seperti biasa, kami ngobrol ngalor-ngidul dengan santainya. Lalulalang mahasiswa maupun dosen lain lewat di belakang gue ketika kami berdua ngobrol. Sampai ada satu mahasiswi berjalan di belakang gue dengan muka lesu gundah gulana mendung hampir hujan. Pak Pri melihat mahasisi itu lewat.

"Farih, itu teman kelasmu bukan?" tanya Pak Pri sesaat setelah mahasiswi tadi melewati kita berdua.

"Iya Pak, itu teman sekelas saya. Kenapa ya Pak?"

"Siapa namanya?" tanya Pak Pri lagi tanpa menjawab pertanyaan gue.

"Namanya Depe, Pak."

"Dari kemarin saya liat dia bolak-balik ke ruang jurusan nggak ketemu siapa-siapa, terus sering nunggu di depan sendirian sampai sore. Ini sekarang malah wajahnya nggak karuan gitu." Pak Pri melanjutkan, "dosen pembimbingnya siapa ya? Kamu tau nggak?"

"Dosen pembimbingnya Pak Adi*, Pak." jawab gue singkat. Pak Adi memang terkenal sebagai dosen sibuk dan sedikit killer. *nama samaran

"Oh, pantesan. Kasian saya liatnya. Nanti skripsinya nggak selesai-selesai." Gue mengangguk-angguk mendengarkan. "Kamu samperin dia ya Farih. Bilang sama dia kalau dia bisa konsultasi skripsi sama saya. Nanti saya bantu bimbing skripsinya biar cepet selesai. Walaupun saya bukan dosen pembimbingnya secara resmi, nggak papa kok nanti dia bisa nanya dan saya ajarin nyusun skripsinya."

Sedikit kaget gue dengan ide Pak Pri itu, tapi gue mengiyakan.

Keesokan harinya di kelas, gue menemui Depe dan mengatakan apa yang kemarin Pak Pri sampaikan. Sejak hari itu, gue nggak pernah lagi melihat wajah muram Depe. Dia rutin menemui Pak Pri untuk menyusun skripsinya hingga selesai dan wisuda.

Pak Pri memang sebaik itu kepada semua mahasiswanya. Mengenang ini, mata gue lembab.

Omongan Pak Pri Di Belakang

Mungkin beberapa orang nggak percaya kalau gue memang jarang membuat janji terlebih dulu sebelum konsultasi skripsi dengan Pak Pri. Seringnya, dosen pembimbing skripsi identik dengan imej sibuk, galak, dan mempersulit mahasiswa. Tapi semua itu nggak ada di diri Pak Pri, sama sekali. Beliau benar-benar baik hati dan selalu memudahkan urusan mahasiswanya. Di luar urusan skripsi, beliau juga menyediakan banyak waktu.

Nggak terhitung berapa kali gue menghabiskan waktu berjam-jam sekedar bertukar cerita dengan Pak Pri. Dari bahasan politik sampai hal-hal yang bersifat pribadi seperti masa lalu Pak Pri ketika bekerja sebagai loper koran di Jepang, cerita kuliah Pak Pri di Jepang dan New Zealand, cerita-cerita menarik tentang anak-anak Pak Pri, cerita kegiatan gue di luar kuliah, sampai cerita lucu kucing-kucing peliharaan Pak Pri di Solo. Itu semua membuat gue dekat dengan beliau dan selalu rindu ingin mendengar ceritanya lagi dan lagi.

Pak Pri mengirim gambar kucing-kucingnya
Satu siang, setelah kelas selesai, gue berniat menemui Pak Pri untuk sekedar ngobrol. Santai banget kan? Dosen mana lagi yang bisa diajak ngobrol se-nyaman beliau?

Seperti biasa, gue melewati lobi jurusan. Saat itu lobi jurusan nggak terlalu ramai. Hanya ada satu dua mahasiswa yang duduk sibuk dengan buku-bukunya.

Gue memasuki ruang jurusan. Sama seperti lobi, ruangan luas yang berisi bilik-bilik itu nggak terlalu ramai. Gue berjalan menuju meja Pak Pri. Saat hampir sampai ruang Pak Pri, gue berhenti. Jarak gue dan ruang Pak Pri sekitar 3 bilik. Dari situ gue bisa melihat Pak Pri sedang berbicara dengan seorang dosen perempuan berjilbab. Dari jarak ini, gue mampu mendengar apa yang mereka bicarakan.

Iya, gue nguping.

Gue kaget ketika mendengar nama 'Farih' disebut dalam percakapan antara Pak Pri dan dosen perempuan itu. Karena semakin penasaran, gue mempertajam indera pendengaran yang gue miliki agar percakapan dua dosen itu jelas.

"Iya Bu, mahasiswa kuwi pancen kreatif." kata Pak Pri dalam bahasa Jawa. (Iya Bu, mahasiswa itu memang kreatif). "Dia punya blog dan usaha dekor gitu. Kemarin jalan-jalan ke luar negeri sudah pakai uang sendiri."

"Oalah pantes skripsinya lama." jawab sang dosen perempuan.

Ternyata Pak Pri dan sang dosen perempuan sedang membicarakan gue.

"Dia juga kerja di lembaga survey kalau weekend. Wes jan (udah pokoknya), Farih itu aktif terus. Saya juga kadang heran gimana dia bagi waktunya. Tapi saya seneng mahasiswa aktif gitu." timpal Pak Pri. "Saya salut sama dia."

Gue terenyuh. Dalam posisi masih nguping secara khidmat, gue pengen berterimakasih langsung ke Pak Pri. Bagaimana dia memuji gue di depan dosen lain, padahal di depan gue jarang banget?

Sebelumnya, kadang gue pikir penilaian Pak Pri jelek karena gue termasuk mahasiswa yang malas dan lambat dalam mengerjakan skripsi. Soal kuliah pun, gue bukan mahasiswa yang cemerlang dibanding mahasiswa lain. Pak Pri bisa menjelek-jelekan gue di depan dosen itu kalau dia mau. Tapi ternyata enggak. Pak Pri mengerti kesibukan gue di luar kuliah karena gue sering cerita hal itu kepada beliau. Gue nggak nyangka beliau melihat itu sebagai hal positif dan menceritakannya kepada dosen lain.

Betapa baiknya bapak dosen satu itu.

Nggak lama, percakapan Pak Pri dan sang dosen perempuan selesai. Dosen perempuan tersebut kembali ke ruangannya. Pak Pri masih belum melihat keberadaan gue saat itu.

Setelah menyembunyikan rasa bahagia dari raut wajah, gue melangkahkan kaki mendekati meja Pak Pri. Dan seperti biasa, Pak Pri menyapa kedatangan gue dengan ramah, "Eh, kamu nduk. Sini duduk."

Hari itu, gue dan Pak Pri membicarakan banyak hal sampai sore. Hangat, seperti biasanya Pak Pri memberi kesan kepada mahasiswa lainnya.

---

Jumat pagi, 13 November 2020, gue dikagetkan dengan berita duka yang sama sekali nggak gue bayangkan sebelumnya. Dengan mata yang masih setengah merem, gue membaca puluhan chat masuk melalui whatsapp. Satu dua pesan masuk gue baca, gue masih nggak percaya. Gue telpon salah satu pemberi informasi di whatsapp tersebut, Depe. Dan benar, berita itu terkonfirmasi. Pak Pri meninggal dunia Jumat dini hari karena sakit.

Gue masih nggak percaya.

Gue telpon teman-teman gue yang lain, satu per satu. Semuanya mengkonfirmasi berita duka itu; Pak Pri sudah pulang.

Mendadak, cerita-cerita Pak Pri berhamburan di kepala gue, memenuhi ingatan dan tanpa bisa dibendung lagi, air mata gue berjatuhan.

Rencana surprise ulang tahun Pak Pri yang selalu tertunda tiba-tiba menguap muncul dengan jelas di ingatan. Permintaan Pak Pri untuk membuat kalender foto mahasiswa bimbingan skripsi beliau yang bahkan kami lupakan.

Dosen paling baik itu telah pulang.

Dosen yang selalu menanyakan kabar mahasiswanya, dosen yang selalu support mahasiswanya, dosen yang mengerti cara membagikan ilmunya dengan baik, dosen yang terbuka dengan segala diskusi, dosen yang selalu ada untuk mahasiswanya, dosen yang paling ramah, dosen yang selalu memudahkan urusan mahasiswanya, dosen yang nggak pernah marah, dosen yang selalu kirim guyonan ala bapak-bapak di whatsapp, dosen yang nggak pernah absen kirim informasi lowongan kerja, dosen yang selalu bangga menceritakan cerita SMA-nya bersama Jokowi, dosen yang selalu baik dengan siapa pun, dia telah pulang.

Kini grup whatsapp "Pak Pri & Anak-anak" yang gue buat 2 tahun lalu sepi. Nggak ada lagi chat beliau. Gue menyesal, jarang merespon guyonan atau chat perhatian beliau di grup itu.

Gue kehilangan sosok bapak setelah ayah kandung gue, gue kehilangan pembaca setia blog gue, gue kehilangan satu-satunya orang yang selalu berkomentar di fan-page facebook gue.

Tanpa beliau, mungkin gue nggak bisa lulus tepat waktu.

Tanpa beliau, mungkin gue nggak bisa skripsian sambil nge-gojek tiap pagi dan sore.

Tanpa beliau, mungkin kuliah gue nggak seasik itu.

Dia-lah Pak Pri, dosen yang bajunya selalu dipenuhi bulu-bulu kucing, Priyatno Harsasto, dosen terbaik sedunia.

17 Juli 2020

9

Sunset dan Gorengan

Hari itu Bapak pulang dari pasar lebih awal dari biasanya. Azan ashar selesai, Bapak sudah di rumah.

"Bapak mau ajak kamu lihat matahari terbenam di atas bukit." Ucap Bapak ketika aku menanyakan soal kepulangannya ini. "Ayo! Mumpung lagi cantik. Mumpung ada waktu." Begitu bersemangatnya Bapak, hingga ia lupa berganti pakaian.

Melihat matahari terbenam di atas bukit di pinggir pantai adalah hal paling menyenangkan dan terakhir aku melakukannya Agustus lalu.

Aku bersiap. Topi rimba motif tentara ku pakai dan tentu talinya ku kencangkan. Bapak sudah di depan rumah, duduk tersenyum di atas sepeda tuanya, siap mengayuh. Aku pun buru-buru duduk di belakang Bapak. "Let's go Pak!"

"Kenapa pakai topi itu? Kan banyak topi yang lain?" Bapak bertanya di perjalanan.

"Topi ini banyak kenangan bahagianya Pak. Aku suka."

Sepeda kami berdenyit melewati jalan aspal murahan dan berbatu. Sawah dan kebun tebu bergantian menghibur kami selama perjalanan, sedikit meringankan perih di pantat gara-gara jalanan kurang ajar.

Setelah melewati belokan ke kanan terakhir, bukit yang kami tuju terlihat. Aku gagal menyembunyikan senyum bahagia yang terlalu lebar ini.

Jalanan mulai menanjak. Artinya, tempat cantik itu kian dekat. Bapak tetap mengayuh, walaupun lebih pelan dari sebelumnya. Pelan-pelan, terlihat beberapa orang berjalan menuju bukit yang sedang aku dan Bapak tuju.

Bapak memarkir sepedanya di samping warung yang hanya satu-satunya di bukit itu. Warung itu menjual kopi dan segala rupa gorengan hangat. Pemiliknya juga menyukai senja, seperti kami. Mungkin itu alasannya berjualan disini.

"Kamu kesana dulu ya. Bapak mau beli kopi sambil nunggu gorengan." Bapak menunjuk sudut di atas bukit yang menurutnya adalah lokasi paling pas untuk memandangi matahari terbenam.

Dengan perasaan bahagia luar biasa, aku duduk di tempat yang Bapak tunjuk tadi, sebuah batu yang seperti sudah ditata untuk diduduki manusia. Di sekitarku, banyak orang yang menunggu si cantik senja menampakkan dirinya. Mereka ada yang sendirian, berdua bersama kopi, dan berkelompok duduk mengelilingi sepiring gorengan.

sumber: jogjakartour.com/
Aku duduk termenung sendirian di antara riuhnya orang-orang yang bercengkrama dengan orang-orang terdekatnya. Senja sedikit mengintip, cahayanya terlihat tak sabar ingin keluar.

"Nih, cireng buat temen ngelamun, biar makin asik ngelamunnya." Bapak tiba-tiba muncul di sampingku, dengan membawa sepiring penuh gorengan berbagai rupa di tangan kiri, sedangkan tangan kanannya terlihat sibuk dengan dua cangkir kecil kopi hitam yang terlihat sedikit tumpah.

"Nggak sabar Pak, kayaknya senja kali ini bakal cantik banget." kataku setelah meletakkan dua cangkir kopi di atas batu yang terlihat seperti meja di depan kami.

Bapak duduk di batu yang kami jadikan kursi di sampingku lalu menyeruput kopi di cangkirnya sedikit. "Kenapa kamu suka sekali dengan senja?".

"Ya, karena cantik, Pak." jawabku. "Indah sekali dipandang mata telanjang. Lagian, memang ada orang yang nggak suka senja, ya?"

"Bapak suka. Tapi nggak segila kamu."

"Kenapa?"

"Senja itu jahat Dik." Bapak mencomot singkong goreng dari piring. "Dia cantik tapi egois. Suka-suka sendiri mau datang kapan. Kadang datang tapi dengan mood jelek. Kadang malah nggak datang sama sekali, padahal sudah ditunggu lama."

Dahiku mengernyit.

"Jangan terlalu gila menyukai sesuatu atau kamu akan sering kecewa." Bapak melanjutkan. "Apa yang kita kejar, belum tentu menghargai kita."

"Iya Pak."

Kemudian suasana bapak-anak ini menjadi khidmat. Hanya terdengar mulut yang sama-sama mengunyah gorengan pilihan yang diselingi bunyi "sluurp" dari bibir cangkir kopi.

Sore itu senja sedang baik padaku dan Bapak. Dia memperlihatkan cantiknya. Setidaknya menghargai pantat kami yang ternaniaya jalanan kurang ajar saat menuju ke bukit ini.

Terimakasih ya.

---

Anjayy up juga nih tulisan setelah hampir setahun mendekam di 'draf'. Sore ini akhirnya selesai dan posted.

Btw, sunset-nya Jogja kenapa sering memikat ya?

24 Juni 2020

6

Rapid Test Sebelum Kembali Bekerja

Pandemi covid-19 bener-bener jadi mimpi buruk untuk sebagian besar masyarakat di seluruh dunia. Semua orang merasakan imbasnya, termasuk gue. Gue harus terpaksa mencoret list-list destinasi wisata yang ingin gue kunjungi tahun ini karena keadaan memaksa untuk stay at home.

Jangankan untuk jalan-jalan, untuk kerja balik ke tempat perantauan aja susah. Yang ada di kepala gue sekarang adalah; "stay at home atau mati?".

sumber: The Jakarta Post
Tepat 3 bulan lalu gue meninggalkan Jakarta karena keadaan yang mengkhawatirkan. Orang tua gue hampir nelpon tiap hari ketika gue WFH di kos Jakarta Barat karena kantor ditutup. Mereka khawatir anaknya terkena virus padahal di kos gue hanya anteng di kamar, paling banter ke warteg. Untuk menghindari kecemasan berlebih orang tua, akhirnya gue pulang kampung sampai sekarang.

Hal yang gue lakukan ini juga dilakukan oleh temen-temen gue yang merantau. Mereka pulang kampung ketika keadaan masih belum separah saat PSBB dan kendaraan masih boleh keluar masuk dengan leluasa. Mereka memanfaatkan WFH untuk pulang ke kampung halaman dan stay safe bersama keluarga di rumah.

Setelah tiga bulan menjalani hari-hari dengan anteng di rumah atau mati, pemerintah mulai melonggarkan PSBB di berbagai wilayah dan mulai mengkampanyekan 'new normal'. Katanya, new normal adalah hidup normal baru berdampingan dengan virus corona karena virus corona ini mustahil untuk hilang 100%. Fuck, berdampingan tu sama pasangan, bukan sama virus! Beberapa perusahaan pun mulai kembali membuka bisnisnya dan karyawan-karyawan yang tadinya WFH, harus kembali bekerja di kantor seperti biasa.

Nah, tapi sebelum masuk kantor, perusahaan-perusahaan ini sebagian besar mewajibkan karyawannya untuk menjalani rapid test covid-19 dan karantina mandiri selama 14 hari. Tujuannya biar ketika mereka masuk kantor, ada bukti yang menunjukan kalau mereka bebas dari virus corona dan aman. Gitu.

Beberapa perusahaan memfasilitasi karyawan mereka dengan rapid test gratis dan hotel untuk karantina di dekat kantornya, seperti yang temen gue rasain. Sebelum masuk kantor, dia harus rapid test dan anteng di hotel yang disediain perusahaan karena selama berbulan-bulan ini dia pulang ke Jawa dan kembali kerja di Kalimantan.

Nah, tapi nggak semua perusahaan se'baik' itu untuk memfasilitasi karyawan mereka melakukan rapid test apalagi sampai hotel untuk karantina, padahal mewajibkan rapid test. Yang kayak gini, bikin karyawan mau nggak mau melakukan rapid test sendiri dengan dana pribadi mereka.

Jujur, kalau gue yang harus rapid test covid-19 sekarang, gue bingung harus kemana dan nggak tau bakal bayar berapa. Selama pandemi covid-19 ini gue menjauhi dokter dan rumah sakit. Takut ketularan aja gitu cuy, apalagi pakaian mereka APD gitu gue liatnya kayak astronot. :( mau ganti karet behel berasa ke luar angkasa.

Untungnya, di era modern seperti sekarang, kita dimudahkan dalam berbagai hal termasuk kesehatan. Semuanya bisa online. Cek kesehatan pun lebih mudah karena bisa online, termasuk rapid test covid-19. Yup, buat kita yang bingung tapi butuh rapid test, kita bisa memesan rapid test lewat aplikasi halodoc dan memilih fasilitasnya apa aja dengan harga berapa. Jadi bisa nyesuaiin kantong masing-masing.

Halodoc adalah aplikasi yang lahir di tahun 2016 dan fokus untuk memberikan solusi lengkap dan terpercaya dalam memfasilitasi kesehatan masyarakat secara luas. Beli obat dan vitamin, konsultasi dokter, sampai cari rumah sakit untuk kontrol bisa semua lewat aplikasi smartphone ini. Urusan kesehatan jadi gampang, ada di genggaman.

Di tengah pandemi ini, Halodoc memfasilitasi masyarakat untuk menjalani rapid test di berbagai daerah. Lokasi dan biaya rapid test beragam. Ada rapid test dengan metode drive thru, ada yang lengkap dengan konsultasi dokter, dan lain-lain. Cakep.

Jadi buat kalian yang harus rapid test untuk kembali bekerja atau sekedar memastikan bebas dari virus corona, udah nggak bingung lagi kan harus ngapain dulu?

Sehat selalu ya gais. Stay safe and tetep stay at home aja kalo kalian nggak butuh-butuh banget buat ke luar rumah. Jalan-jalan, pending tahun depan! xD

31 Mei 2020

14

Jerapah

Gue suka jerapah, karena jerapah adalah hewan paling tinggi. No debat. Lupakan dinosaurus. Jerapah adalah hewan paling tinggi, lucu, dan gue pengen punya satu di rumah.

http://peoplemagazine.com.pk/
Ketika beberapa waktu lalu ditanya seorang, "hewan favorit lo apa Rih?", gue bingung jawabnya. Menurut gue, semua hewan lucu ketika berwujud emoji. Tapi kenyataannya enggak. Gue gak suka hewan. Di mata gue mereka jorok dan bau. Tapi untuk karakter, sekarang ini gue suka jerapah.

Kenapa jerapah?
Kenapa tidak babi hutan saja?

Gini, menurut gue;

Jerapah hewan yang tinggi. Jerapah bisa liat hal yang hewan lain nggak bisa. Burung? Lupain dulu. Burung nggak bisa berjalan bersama hewan-hewan lain.

Bayangkan ketika segerombolan hewan jalan bareng. Beruang, monyet, kelinci, jerapah, dan sejenisnya, jerapah bisa liat hewan lain dari prespektif yang berbeda. Dengan tubuhnya yang tinggi, jerapah bisa liat hewan apa aja yang lagi sedih, mukanya murung, hewan mana aja yang lagi happy. Dengan cepat dia bisa menghibur hewan sedih itu, tanpa menanyakan lagi, "kamu kenapa?"

Dengan begitu, jerapah bisa banyak memahami hewan lain tanpa banyak pertanyaan.

Ketika jalan bersama hewan lain dan jerapah lagi sedih, dia bisa menyembunyikan kesedihannya dari hewan lain. Nggak bakal ada yang bisa liat muka sedih si jerapah dari bawah. Jerapah nggak bikin khawatir hewan lainnya dan mengganggu perjalanan mereka.

I am fine guys, kata jerapah.

Jerapah bisa liat jauh ke depan, lebih jauh dari apa yang hewan-hewan lain bisa liat. Jerapah bakal jadi yang pertama tau kalo di depan mereka ada sungai untuk minum. Jerapah juga yang bakal pertama kali liat jebakan yang lagi dipasang pemburu di depan jalan rombongan para hewan. Jerapah bisa ngasih tau hewan lain dan voila! Hewan-hewan itu bisa selamat.

Jerapah memang baik.

Gue penggemar warna kuning atau kecoklatan. Jerapah adalah hewan yang pas dengan warna itu. Di berbagai gambar, jerapah akan digambarkan sebegitu lucunya dengan warna khas kuning dengan totol-totol orens di badannya, atau lebih gelap. Gue makin suka jerapah.

Ya gitu..., alasan gue suka jerapah.

Hewan yang kalian suka apa?

Teman