8 November 2019

4

Hampir Hilang di Thailand bagian 2: Hampir Sujud Syukur Gara-gara Paspor Indonesia

Bersambung...

G U E   H A R U S   L A R I ! ! !

Pikiran gue nyuruh lari. Jantung gue berdegup kencang seperti genderang mau perang (Ahmad Dani kali ah). Tapi kaki gue gak bisa digerakin, sama sekali. Akhirnya gue berdiri mematung dan pasrah membiarkan si ibu itu datang menghampiri. Apa pun yang ia lakukan, hamba serahkan semuanya hanya kepadaMu ya Allah ya Rabbi, Tuhan semesta alam.

"Trang tung tung tuk tuk tung lae lae?" Ibu itu nyerocos di depan gue. Jarak kami hanya satu langkah. Jarak yang tepat untuk si ibu membacok kepala gue yang kosong ini. "Trang tung tung mai?"

Gue membisu. Dahi mulai keriting. Keringat mengucur deras di dalam kaos yang gue pakai. "Tung tung tung krap to in to eng?" Ibu itu melanjutkan. Nada bicaranya seperti ia sedang bertanya, bukan ingin membunuh. Gue sedikit sadar. Jika ibu ini membunuh gue di tengah terminal, akan banyak orang yang membawa gue ke UGD dan melaporkan si ibu ke polisi.

Nggak mungkin ada pembunuh sebego ini, batin gue.

"Kin ken lew trung tung tung?" Ibu masih berucap.

Kalo emang si ibu ini nanya, gimana cara gue jawabnya? Orang pertanyaannya aja kaga paham.

Gue celingak celinguk berharap ada malaikat penolong untuk mentranslate apa yang ibu ini katakan, sayangnya nggak ada. Semua orang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing di terminal itu.

Si ibu memandangi gue dengan tatapan menagih jawaban dari pertanyaannya. Gue hanya bisa memandangi mukanya dengan raut muka memelas dan kebingungan. "Aku ki ra ngerti kowe ngomong opo ndes! Aku kon piye?!" teriak gue dalam hati.

Tiba-tiba gue inget paspor yang selalu gue bawa di tas selempang kecil. Gue ambil paspor dan angkat paspor itu tinggi-tinggi, persis wasit sepak bola pas ngeluarin kartu kuning. Bedanya, gue nggak pake peluit.
Bola mata si ibu mengikuti posisi paspor gue. Beberapa saat kemudian, ia tertawa kecil dan berkata, "oh...mai khon Thai! Hahaha."

"He-he-he," gue ikut tertawa, dipaksakan. Kenapa nggak dari tadi lo keluarin paspor, Farih?! Bego banget lo!

Disitu gue ngerti apa yang ibu itu katakan dan gue baru ingat kalimat tersebut, kalimat yang Ploy ajarkan ke gue sebelum gue mendarat di Thailand.

Mai = tidak / bukan.
Kon = orang.
Thai = Thailand.

Mai kon Thai = bukan orang Thailand! Ibu itu akhirnya ngerti gue bukan orang Thailand dan nggak paham apa yang dia katakan dari tadi.

"Dai dai, chan mai kon Thai na ka." gue menjawab dan membenarkan apa yang si ibu itu katakan. Gue langsung mengingat-ingat beberapa kalimat yang pernah gue pelajari dari teman-teman Thailand.

Raut muka si ibu berubah menjadi lebih ramah. Rasanya gue pengen sujud syukur di situ. Tapi sadar kalau sujud syukur di tengah terminal Thailand dengan kondisi sepanas itu, matahari tepat di atas ubun-ubun, akan terlihat aneh. Gue urungkan niat tersebut.

Si ibu berjalan ke salah satu loket yang berada di dekat kami berdua. Refleks, gue ikutin si ibu berjalan sambil masih mengangkat paspor tinggi-tinggi dan tangan kiri menarik tas koper warna hitam. Dari jauh, kami berdua terlihat seperti induk ayam dan satu anaknya yang lahir prematur.

"Mai kon Thai, mai kon Thai." ibu tersebut seperti ngasih tau orang-orang di sekitar loket kalau gue bukan orang Thailand.
Foto asli si Mbak penjaga loket
Gue menghentikan langkah ketika si ibu menghampiri mbak-mbak yang duduk di belakang loket. Beberapa orang di sekitar loket tersebut memandangi gue dengan tatapan heran, kasihan, sekaligus jijik. Orang-orang Thailand yang berkulit putih bersih ini mungkin berpikir, "udah item, dekil, jerawatan, ngangkat-ngangkat paspor begitu, gembel Indonesia stres ini ngapain sih di negara gue?"

Di tengah rasa canggung karena diliatin begitu, HP gue kembali berbunyi. Ploy menelpon lagi. "Hallo, where are you? Are you ok?" Suara Ploy khawatir di ujung sana.

"I am ok, bro. I am at the terminal now." Jawab gue. Kemudian gue ceritakan kejadian ibu-ibu tadi dan Ploy meminta untuk ngomong dengan si ibu tersebut. Tanpa kata-kata, gue sodorin HP gue ke si ibu yang sedang berbicara dengan mbak-mbak loket.

Gue hanya memandangi si ibu ngobrol dengan Ploy. Paspor sudah gue turunkan. Koper hitam masih gue pegang erat.

Lumayan lama, si ibu memberikan HP gue kembali dan berbicara dengan mbak loket seperti memberti tau sesuatu. "Bro, get a pen, and write my phone number." Ploy menginstruksikan gue untuk mengambil bolpoin.

Gue heran, kenapa harus pake bolpoin? Gue tanya ke Ploy, "Can I write your phone number on my phone?".

"How about if your phone died? How about if your battery is running out? Think smart! You can't do anything if your phone is off." Ploy merepet. "It needs 5 until 7 hours to get my home. It will be a long journey today. And I am not sure if you can charge your iphone after this."

Perjalanan 7 jam? Di negara orang tanpa tau jalanannya bakal kayak apa? Gue pengen balik langsung ke Semarang rasanya waktu itu.

Akhirnya, gue pun menulis nomor HP Ploy di sebuah kertas lalu gue simpan di saku jaket jeans yang gue pakai.

Selesai berbicara dengan Ploy, ibu itu memberikan gue karcis van (semacam suttle bus atau travel di Indonesia). Gue nggak paham tulisannya apa, gue cuma mengeluarkan uang sesuai dengan angka yang tertera di karcis tersebut dan memberikannya ke si ibu. Dari semua tulisan di karcis, gue cuma bisa ngerti "300 baht". Tulisan lainnya terlihat seperti aksara Jawa typo di mata gue.

Karcis van
"You wait, wait here." si ibu menunjuk bangku kayu panjang di sebelah loket untuk gue duduk dan menunggu van yang akan membawa gue ke Buayai, Nakhon Ratchasima.

Ibu yang semula gue kira akan membunuh gue ini ternyata baik. Dari awal liat gue kebingungan di tengah terminal, dia cuma berniat menolong. Karena tampang gue yang keliatannya kayak orang lokal Thailand, makanya si ibu ngajak ngomong gue pake bahasa Thailand tadi.

"Thankyou so much for your help." Gue pengen peluk rasanya. Tapi si ibu keburu pergi dengan lambaian tangan dan cuma menjawab gue dengan senyuman.

Tas pinggang warna gelap lusuh yang si ibu pakai, menandakan kalo ibu itu di terminal buat kerja, cari uang. Gue cuma bisa mendoakan agar rejeki ibu itu lancar terus dan sehat selalu.

Gue memandangi punggung si ibu yang kian jauh meninggalkan gue dan meminta maaf dalam hati. Ada senyum getir yang nggak mampu gue sembunyikan.

Ibu baik banget sih. Andaikan kita bisa ngobrol, pasti kita jadi sohib.

Gue kemudian duduk dan menunggu van datang.

Ini baru sampai terminal. Perjalanan 7 jam menanti gue di depan mata. Gue deg-degan.

---

Bersambung ke bagian ketiga.

28 Oktober 2019

8

Tahun Baru di Bali Pake Kartu Kredit BNI, Berani?

Nggak semua orang suka backpackeran. Alasannya nggak nyaman dan nggak bisa fokus menikmati wisata. Giliran ditawari liburan mewah dan nyaman, nggak mau juga. Alasannya mahal, nggak ada duit. Akhirnya batal jalan-jalan. Diem di rumah, rebahan. Gitu tuh, problematika manusia jaman now, termasuk temen-temen SMA gue yang merencanakan liburan tahun baru di Bali. Mereka nggak mau backpackeran, tapi juga nggak mau keluar duit banyak. huft! Akhirnya, gue yang kebagian tugas searching promo-promo hotel dan akhirnya gue nemu promo kartu kredit BNI.
Source: https://www.threesixtyguides.com

Promo Kartu Kredit BNI

Sewaktu SMA, gue punya geng ciwi-ciwi yang bertahan sampai sekarang. Kita merencanakan liburan bareng ke Bali sejak lama dan belum pernah terealisasikan hingga Jokowi jadi presiden dua kali dan Jan Ethes mulai sekolah. Kendala utamanya ada 2; soal waktu yang susah disamain karena punya kesibukan sendiri-sendiri dan duit.

"Kita jadi tahun baruan di Bali gak sih?"

"Gak tau nih gue gak libur."
"Gue lagi bokek banget anjirrr."
"Gue pengen jadi Anya Geraldine."

Itu obrolan kami di grup Line.

Masalah kesibukan, bisa diatasi dengan merencanakan cuti kerja bersamaan dari jauh-jauh hari. Jadi cuti bareng-bareng dan disamain waktu cutinya buat liburan.

Kalo masalah duit, semua orang juga bermasalah kecuali keluarga Bakrie. Tapi apa itu artinya cuma keluarga Bakrie yang boleh liburan tahun baru? Kan enggak. Banyak cara yang bisa dilakukan buat menghemat biaya liburan. Salah satunya adalah dengan liburan gaya backpacker hemat yang selama ini gue terapkan. Masalahnya adalah, temen-temen gue ini tipe yang nggak bisa tidur di musola atau pun bermalam di McD. Mereka pengennya tidur di hotel, ada kolam renangnya, dan viewnya langsung laut. Mampus.

"Gue pengen liburan kayak Siti Badriah gitu. Tahun baruan di Bali, breakfast di kolam renang." ucap salah satu temen gue, Anis.

"Duitnya ada?" tanya gue.

"Enggak." jawab Anis singkat.

"Sadar Nis, kita bukan Nia Ramadani. Tahun baru di Bali pasti mahal semuanya. Apalagi hotelnya. Gue gak berani." Nabila, temen gue yang lain coba menyadarkan Anis dari kehaluan.

"Nyari laki model Ardi Bakrie dimana sih?" Anis makin halu.

Gue kasian.

"Rih, lo kan biasanya nemu aja promo jalan-jalan murah dan segala isinya. Buat liburan di Bali ini, lo nggak ada ide apa gitu buat menghemat budget?" tanya Nabila.

"Harus hotel ya?" gue tanya.

"Iya."

"Harus yang ada kolam renangnya?"

"Iya."

"Harus yang kalo bangun tidur liatnya laut ya?"

"Iya!"

"Yaudah. Ngecamp aja di pinggir pantai yuk. Pake tenda gunung, bawa bekel dari rumah."

Gue digebug.

Akhirnya gue memutuskan untuk hunting promo liburan dulu yang ada sampai akhir tahun karena bakal dipake pas tahun baru.

Setelah berselancar di internet beberapa hari, nyari promo yang paling menguntungkan, gue ketemu sama promo kartu kredit BNI untuk hotel di Bali dari CekAja.com yang berlaku sampai Januari 2020! Bisa nih gue pake buat tahun baruan.

Gue langsung ngabarin temen-temen gue di grup.


"Ada diskon gede di Bali Niksoma Boutique Beach Resort tuh, lumayan." gue menawari dengan gaya sales kompor gas.

"Ada kolam renangnya gak disana?" tanya Anis.
"Ada."
"Bangun tidur bisa langsung liat laut?"
"Bisa."
"Bisa makan di atas kolam renang kayak Siti Badriah gitu gak?"
"Bisa. Request makan sambil nyelem juga bisa ntar gue bilangin ke yang punya hotel."
Sekarang waktunya nabung biar tahun baru nanti terealisasikan liburan bareng temen-temen di Bali pake promo kartu kredit BNI dari CekAja.com.

https://www.cekaja.com/banks/bni/kartu-kredit/promo

23 Oktober 2019

21

Hampir Hilang di Thailand bagian 1: Dikejar Ibu-ibu di Terminal Mo Chit Bangkok

Semenjak bisa ngomong bahasa Inggris, tingkat ke-pede-an gue solo traveling ke luar negeri meingkat. Gue selalu berpikir, "selow ae lah gue bisa minta tolong ntar disana”.


Sumber: iTravel Channel
Sampai akhirnya, Tuhan Maha Baik nyentil gue dan bilang, “baru bisa bahasa Inggris aja songong lu tong!”

Gue hampir hilang di Thailand.

Ceritanya gini...

Setelah check out dari Hotel Livotel Ladphrao Bangkok Senin pagi, gue memutuskan untuk pergi ke Distrik Bua Yai, Provinsi Nakhon Ratchasima, Thailand buat ketemu temen online gue, namanya Ploy. Gue kenal Ploy lewat aplikasi HitMeUp. Iya, gue se-kesepian itu sampai main aplikasi begituan.
Rute Bangkok - Bua Yai
Aplikasi tuh nggak ada yang negatif. Semua tergantung pemakai, dipakai buat apa aplikasi itu, iya kan? Bisa aja lo main tinder buat dakwah dan menyebarkan agama islam. Kan bagus.

Ploy adalah temen online paling akrab gue so far. Dia punya pacar bule Jerman. Jadi bahasa Inggrisnya bagus dan aktif. Gue sering ngobrol dan diajari bahasa Thailand sama Ploy. Tapi karena kapasitas otak gue yang nggak seberapa, gue cuma ngerti "khop khun ka".
Ini Agum, waktu kita di lobi hotel.
"Lo serius mau kesana sendirian Rih?" tanya temen gue, Agum, di lobi hotel waktu kita nungguin grabcar bareng. Agum nunggu grabcar buat ke bandara dan pulang ke Indonesia, sedangkan gue nunggu grabcar buat ke terminal Mo Chit Bangkok, lalu lanjut naik suttle bus ke Bua Yai. "Nggak takut ilang?"

"Iya serius lah." Jawab gue singkat. "Kalo ilang, ntar gue halo-halo di pos satpam terdekat."

Beberapa menit kemudian grabcar yang gue pesan datang. Sebuah sedan Toyota Carmy. Drivernya seorang bapak-bapak bermuka sedikit garang. Gue cari tato mawar di kedua lengannya nggak ketemu. Lega.

Setelah memasukan tas-tas di bagasi, gue pun duduk di jok depan sebelah supir. Entah kenapa ya, gue selalu seneng duduk di sebelah supir kalau naik taksi online sendirian.

Aplikasi grab gue waktu itu
"To Mo Chit Terminal, sir. I wanna go to Bua Yai." Gue membuka kesunyian setelah beberapa saat mobil sedan itu meninggalkan hotel.

Si driver menjawab singkat, "krab."

Setelah itu hening lagi. Mobil melaju tenang menembus kepadatan jalanan Bangkok.

Gue berpikir, kok sepi banget? Nyalain musik enak kali ya.

"Sir, can you turn the music on? Dangdut maybe?" Gue sok akrab. Si om diem, memandang gue, dahinya mengkerut. "Dangdut sir, dangdut. Indonesia music."

Om supir masih diem dan memandang ke jalanan di depannya. Gue belum menyerah untuk akrab dengan si om. "You know Indonesia? Dance? Joget Om. Music, music!" Gue menunjuk-nunjuk music player di dashboard mobil dengan muka girang senyum lebar. Si om grabcar malah menggeser duduknya mepet ke jendela mobil, menjauhi gue. Kurang ajar.

Gue nyerah. Gue nggak berusaha lagi buat nyalain musik di dalam mobil. Tiba-tiba HP gue berbunyi. Ploy menelpon.

"Hallo?"

"Hey, where are you?!" Ploy ngegas di ujung sana. "Why don't you tell me? I worry about you!"

"I am on my way to Mo Chit Terminal now by grabcar. Don't worry. I am still alive." Gue coba menenangkan Ploy.

"Let me talk with the driver. Mo Chit Terminal is not small, Bro. You may be lost there!"

Astgafirullah mulutnya dijaga woy! Jangan doain gue ilang.

HP gue berikan ke om driver. Ploy dan driver berbincang dengan bahasa Thailand. Mendengarkannya membuat kepala gue pening. Kunang-kunang. Vertigo. Kemudian pingsang.

Enggak lah!
Gue nggak selemah itu.

Gue memperhatikan si om driver dari kursi penumpang dengan kepala berasap karena menerka-nerka, "mereka ngomongin apa ya? Jangan-jangan lagi ngomongin kejelekan gue."

Setelah selesai, om grabnya balikin HP ke gue. Ploy masih tersambung.

"Bro..." suara Ploy diujung sana. "The driver cannot speak English at all. Maybe just Yes or No. Take care. I've told him your direction in Mo Chit."

Mak tratap! Bakal sepi dong ini mobil sedan selama perjalanan ke terminal? Si Om-nya nggak bisa ngomong bahasa Inggris. Huhu.

Mobil sedan om grab masih melaju, membelah jalanan Kota Bangkok yang padat dan kadang macet di beberapa titik. Gue duduk diam sambil memandangi google maps yang sedari tadi gue buka. Perjalanan masih beberapa menit lagi. Taksi-taksi berwarna pink yang lalu lalang di luar jendela mobil menghibur gue di tengah kesunyian antara gue dan om grab. Imut banget taksinya woy.. Kasih pita di bagian atas, udah jadi mobil lamaran tuh. hehe. Sesaat, gue merasa kayak lagi marahan sama pacar di dalam mobil.

Laju mobil menjadi pelan ketika memasuki palang pos parkir. Gue sampai di Terminal Mo Chit. Setelah mengambil karcis parkir, mobil melaju lagi menuju sudut terminal yang ternyata luas banget.


Mirip di Indonesia, terminal Mo Mchit berisi loket-loket pembayaran bis atau pun suttle bus dengan tujuan masing-masing yang ditulis besar di setiap loket dengan huruf Thailand dan ada nomor di setiap loketnya.

Mobil yang gue tumpangi berhenti di salah satu sudut terminal. Gue pun membayar tarif grab sesuai yang tertera di aplikasi ditambah biaya parkir. Kalau nggak salah tarif parkirnya 10 baht (5 ribu rupiah).

Setelah selesai menurunkan tas-tas gue yang cuma 2 biji, gue mengucapkan "thankyou. Khop khun ka." ke si om driver.


Gue berada di depan loket bus yang penampakannya sama semua: loket berwarna dominan putih-orens dengan petugas berseragam di dalamnya dengan tulisan Thailand gede-gede. Itu bacanya apa ya Tuhaaan???

Panasnya Thailand bikin gue makin panik, "gue harus ke loket mana ya Tuhan???"

Gue berdiri sambil nenteng tas di bawah terik matahari jam 12 siang. Gue lingung dan bingung. Gerah juga. Apakah ini azab karena riya bisa bahasa Inggris?

Di tengah kelinglungan, gue melihat dari kejauhan ada seorang ibu-ibu yang agak subur badannya teriak-teriak ke arah gue dengan bahasa Thailand.

"Trang tung tung tung kap kap pung pung ... !!!"

Gue nggak ngerti.
Makin linglung.
Matahari terasa makin panas.

Ya Allah Gusti...

"Trung tung tung tang tang tung lew lew krap kun trung tung tung tung!!!" Ibu-ibu itu melambaikan tangan ke arah gue dan berlari mendekat. Iya gais, berlari ke arah gue dan teriak-teriak pakai bahasa Thailand. :(

Astagfirullahalazim.

Gue dikejar.

Gue cuma bisa diem mematung. Bingung harus ngapain.

"Trang tung tung tang tang tung khap khap nai lew krung tang tung tang tang tang tung tung !!!" Ibu itu semakin dekat dengan gue.

Gue mulai berpikir macem-macem.
Gimana kalau ternyata ibu itu adalah seorang pembunuh?
Gimana kalau ternyata ibu itu adalah isterinya om grab tadi yang dendam suaminya semobil sama gue?
Gimana kalau ternyata ibu itu adalah gubernur Bangkok yang nggak ridho kotanya ini didatengi gue, backpacker gembel yang tidak turut serta memajukan perekonomian Bangkok?

ASTAGFIRULLAHALAZIM !!

Gue harus lari.

GUE HARUS LARI!

G U E   H A R U S   L A R I ! ! !

---

Bersambung ke bagian ke dua...

28 Juli 2019

4

Insto Dry Eyes atau Naik Unta?

Source: Flying Carpet Tours
Ada banyak cara untuk menghemat budget ketika traveling. Salah satu dan yang paling sering gue lakukan adalah memangkas biaya transportasi.

Yep!
Menurut gue, biaya transportasi adalah yang paling fleksibel untuk diatur-atur dalam budgeting traveling. Gampang digoyang, cuy.

Soal transportasi, buat gue saat ini yang paling hemat, gampang, dan efisien adalah motor.

Kira-kira begini gambaran gue kalau lagi naik motor. Normal bukan?
Hampir semua perjalanan yang gue lakukan, kendaraan roda dua ini selalu jadi andalan. Bahkan ketika gue di Thailand tahun lalu, gue menggunakan motor untuk keliling kota di Nakhon Ratchasima. Gue berkendara layaknya warga lokal Thailand dan bahkan mendapat sapaan beberapa orang Thailand ketika bersisipan di jalan dengan bahasa mereka. Ofcourse, gue cuma senyum kecut sambil ngangguk-ngangguk sok ngerti. Nggak tau aja mereka yang disapa ini wong Jowo.

Selain lebih hemat, traveling naik motor membuat gue lebih mengenal tempat yang gue kunjungi. Misalnya waktu liburan tahun baru kemarin di Bali, gue jadi lebih ngerasa feel-nya Bali dibanding dengan menggunakan bus pariwisata atau mobil pribadi. Berkat mengendarai motor, gue bisa dengan mudahnya mampir di warung nasi jinggo pinggir jalan, parkir dengan leluasa, tanpa takut kendaraan gue nutupin jalan orang lain. Secara nggak langsung, gue jadi lebih nyaman nongkrong di warung nasi jinggo dan ngobrol banyak bareng si penjual.

See? Banyak keuntungan yang gue dapat ketika traveling naik motor. Meskipun begitu, naik motor apalagi jarak jauh punya beberapa kekurangan, terutama soal dampak langsung ke kesehatan badan. Yang paling gue sering rasakan adalah mata jadi pegel, sepet, dan perih akibat terlalu lama kena angin jalanan. Segala asap debu jahat masuk ke mata.


Hal ini sudah gue rasakan sejak lama. Sempat ingin mengganti motor dengan seekor unta jantan, namun gue urungkan. Gue belum siap ke pura di Bali dan nitipin unta ke tukang parkir dulu. "Pasti ada solusi yang lain!" kata hati gue waktu itu.

Setelah mencari tau, akhirnya gue ngerti bahwa mata gue yang sering pegel, sepet, dan perih ini adalah gejala dari mata kering. Wedew. Ternyata nggak cuma hati aja yang kering, mata juga bisa.

Setelah konsultasi ke beberapa pihak, akhirnya gue menemukan sahabat baik untuk mata kering gue ini nih. Kecil-kecil cabai kampus! Eh maap, cabai rawit maksudnya. Hiyaaa.

Yup, Insto Dry Eyes adalah solusi untuk masalah mata kering yang sering dialami pengendara motor macam gue ini.

Super cute
 Setelah sadar akan -nggak enaknya- mata kering dan -nggak enaknya- naik unta ke pura, gue memutuskan untuk selalu siap sedia Insto Dry Eyes kemana pun gue traveling. Bentuknya yang imut cocok di kantong, membuat gue mudah untuk membawanya.

Saku celana jeans juga masih sisa banyak!
Kadang, kalau pas di jalan mata gue lelah, gue tetesin 1-2 tetes Insto Dry Eyes ini. Jadi gejala mata kering seperti mata sepet, mata pegel, dan mata perih gampang dan cepat diatasi.

So, pilih bawa Insto Dry Eyes pas jalan-jalan atau ganti motor dengan naik unta?


Bye mata kering! :p

21 Juli 2019

6

Nekat ke Karimunjawa Cuma Bawa 400 ribu!

Kamis tengah malam itu, di saat orang-orang tidur nyenyak, gue dan tujuh teman sedang bersiap untuk berangkat ke Karimunjawa hanya dengan modal nekat tanpa persiapan matang. Jam 1 dini hari kami berangkat dari Semarang menuju Pelabuhan Kartini Jepara dengan mengendarai empat motor matic. Dinginnya udara tengah malam kerasa sampai ubun-ubun. Brr!

Kami sampai di Pelabuhan Kartini Jepara jam 4 pagi untuk selanjutnya menyebrang ke Pulau Karimunjawa. Kapal Siginjai yang akan menyebrangkan kami berangkat jam 6 pagi. Ada waktu tunggu 2 jam, gue gunain untuk tidur di salah satu warung di pelabuhan.
Setelah membeli tiket kapal seharga Rp57.000,- untuk penumpang (update 2018: Rp72.000,-) dan Rp25.000,- untuk tarif motor (update 2018: Rp27.000,-), jam 6 pagi kami naik ke Kapal Siginjai kelas ekonomi.

Secerah itu cuy cuacanya!

Ini tiket gue waktu itu. Agak kesel sih, gue ditulisnya "laki-laki". Mau protes juga sia-sia.
Perjalanan menggunakan Kapal Siginjai yang memakan waktu 4-5 jam ini kami gunakan untuk berfoto di beberapa spot menarik di atas kapal dan berkenalan dengan bule.

Sekitar jam 10 siang kami menginjakkan kaki di Pulau Karimunjawa dan langsung lanjut mencari masjid untuk solat Jumat. Sementara temen-temen cowok gue solat Jumat, kita-kita 4 orang cewek mencari penginapan.

Banyak tawaran penginapan dari warga sekitar. Mereka menyewakan rumahnya untuk dijadikan penginapan dengan fasilitas seadanya tapi harganya juga murah banget! Akhirnya kami memilih menginap di rumah warga yang memang disewakan untuk turis dengan harga Rp80.000,- per kamar untuk satu malam. Kami menyewa dua kamar untuk dua malam. Satu kamar diisi 4 cowok dan satu kamar lain untuk 4 cewek. Jatuhnya, per-malam, satu orang kena tarif Rp20.000,00. Murah kan?!

Setelah mandi dan membersihkan diri dari debu-debu jahat Semarang-Jepara, kami mencari makan siang di pinggir jalan dengan harga 10.000-an dan menuju ke Bukit Joko Tuwo untuk menikmati sunset. Tarif memasuki Bukit Joko Tuwo hanya Rp10.000,00 waktu itu. Bukit Joko Tuwo ini punya beberapa spot untuk dikunjungi. Kita harus menaiki anak tangga untuk menuju ke spot-spotnya. Kami memilih spot paling dekat karena waktu yang mepet.


Sunset cantik dengan background pulau-pulau kecil di sekitar Karimunjawa. Surga dunia!
Keesokan harinya, pagi hari kami mencari persewaan peraahu dan alat snorkeling untuk bersnokel ria di pulau-pulau sekitar Karimunjawa. Setelah mencari dan menawar, akhirnya kami mendapatkan kapal plus alat snorkeling plus guide plus solar plus makan siang dengan harga Rp100.000,- per orang.

Kami mengunjungi beberapa pulau seperti Pulau Menjangan Besar, Menjangan Kecil, Cemara Kecil, dan Tanjung Gelam. Di Pulau Menjangan Besar kami menikmati adrenalin dengan masuk ke kolam yang penuh dengan hiu di tempat penangkatan hiu. Seharusnya pengunjung harus membayar tiket masuk Rp40.000,- . Tapi karena gue berhasil sepik-sepik bapak syahbandar Karimunjawa, kami pun gratis masuk penangkaran hiu ini. Hahaha.

Terlihat tenang padahal deg-degan gais
Snorkeling di sekitaran Pulau Menjangan Kecil dan Tanjung Gelam adalah hal yang nggak bisa gue lupain. Airnya tenang, bersih, dan karangnya bagus-bagus. Dari atas perahu gue bisa melihat karang-karang di bawah air karena karang disini cuma ada di kedalaman setengah meter. Gue beruntung juga karena waktu itu buln Agustus air laut masih surut. Selama snorkeling pantat gue sering kena karang juga. Tapi buat kalian yang mau liburan kesini hati-hati ya. Jangan sampai ngerusak karang.


Cantik banget gak sih?!
Setelah puas dengan snorkeling di beberapa spot underwater dan menikmati sunbath di Tanjung Gelam dengan pasir putihnya, kami kembali ke Pulau Karimunjawa jam 4 sore. Kami langsung menuju ke Bukit Joko Tuwo lagi untuk mengunjungi spot yang lebih tinggi dari sebelumnya dan menikmati sunset. Spot ini namanya Bukit Cinta.

Landmark Karimunjawa yang terkenal itu uwuwu

Malamnya, kami menikmati seafood di Alun-alun Karimunjawa yang penuh dengan pilihan makanan. Sebagai pecinta seafood berkantong tipis, gue benar-benar excited. Banyak banget pilihan seafood dan harganya murah. Gue cuma menghabiskan uang sekitar Rp25.000,- untuk makan seafood disini.

Penjual seafood di Alun-alun Karimunjawa menjual ikan, udang, lobster, dan lain-lain dalam keadaan mentah bahkan masih hidup. Kami bisa memilih sendiri hasil laut apa yang ingin kami makan dan si penjual akan segera mengolahnya menjadi masakan yang enak sesuai keinginan. Jadi benar-benar segar seafood di Alun-Alun Karimunjawa ini.

Minggu pagi jam 5 kami harus segera menuju dermaga untuk kembali ke Jepara dengan Kapal Siginjai. Harga tiket kapal sama dengan ketika kami berangkat.

Minggu siang gue dan teman-teman sampai di Jepara dan langsung pulang menuju ke Semarang dengan membawa pengalaman traveling yang menyenangkan dan kulit yang menghitam. Gue nggak masalah. Karena menghitamnya kulit ini sebagai bukti bahwa gue sudah pernah dan menikmati shirt trip di Karimunjawa.

Untuk trip Karimunjawa ini gue cuma menghbiskan uang Rp430.000,- aja. Rp30.000,- gue pakai buat beli celana pantai di Alun-alun. Hehe.

Gue selalu punya rencana kembali lagi ke Karimunjawa meskipun belum tau kapan. See you again Karimunjawa!

Teman