6 Januari 2020

11

Roller Coaster Itu Bernama 2019

Akhir tahun 2018, gue lewati dengan cara yang cantik: backpackeran ke Bali bareng temen-temen yang asik. Kembang api di Pantai Kuta malam itu bikin gue optimis, "2019 bakal sepenuhnya menyenangkan". Ternyata enggak. 2019 adalah roller coaster pendek penuh kejutan namun berhenti dengan baik. Gue selamat, dengan sedikit mual di dalam perut.

Setelah perayaan tahun baru di Bali selesai, gue pulang lagi ke kota perantauan, Semarang, dengan rasa bingung antara memilih investasi uang lewat proyek survey politik yang lagi ramai menjelang pemilu presiden atau investasi ilmu dengan pergi ke Kampung Inggris Pare Kediri di awal tahun 2019. Akhirnya, gue memilih pilihan kedua.

Yep, investasi ilmu dengan belajar Bahasa Inggris di Kampung Inggris Pare adalah pilihan gue.

23 Januari tengah malam, gue berangkat sendirian ke Kediri dari Stasiun Semarang Tawang dengan modal punya temen yang ngajar disana. Setelah menempuh perjalanan cukup panjang, jam 7 pagi gue sudah duduk manis di dalam warung yang letaknya persis di depan salah satu lembaga belajar bahasa Inggris, Smart ILC, menunggu teman yang sedang ngajar.

"Gue nggak tau kalo Smart udah pindah. Tadi gue kesasar." gue berkata ke temen gue dalam perjalanan kami menuju asrama yang nantinya gue tinggali selama di Pare. "Banyak yang udah berubah, ya. Tapi suasananya masih terasa sama." gue mengenang tempat yang kami berdua lewati karena dulu 2014 gue pernah belajar di Pare juga selama 2 bulan.

"Semua hal pasti berubah lah Rih seiring berjalannya waktu." jawab teman gue, Purdianto.

"Ini asramanya Rih." kami sampai di depan rumah sederhana dengan beberapa sepeda perempuan rapi berjejer di depannya. "Gimana? Lo siap tinggal disini?" tanya Purdianto.


"Iya, gue siap." gue menjawab singkat. Nggak sadar, jawaban itu adalah kalimat terakhir sebelum akhirnya roller coaster gue menyala dan berjalan sesuai lintasannya; naik turun, meliak-liuk sesuai aturan Yang Maha Agung. Ya, roller coaster itu bernama 2019.

---

Semua orang punya roller coasternya masing-masing. Tiketnya udah rapi dibagiin Tuhan satu per satu di awal tahun. Mungkin, lintasan kita terlihat lebih ngeri daripada lintasan orang lain atau sebaliknya. Tapi sebenarnya sama, sesuai porsi masing-masing dan jelas adil. Bagaimana perspektif kita aja soal hal itu.

Sayangnya, nggak semua orang bisa mikir jernih kayak gitu pas ada di roller coasternya. Termasuk gue.
beautifulrealizations.wordpress.com
Cuma Tuhan yang tau persis lintasan roller coaster kita seperti apa. Kita sama sekali nggak diberi bocoran bakal ada berapa lintasan naik, berapa lintasan menikung tajam, atau berapa lintasan naik pelan yang memberikan kita kesempatan untuk melihat keindahan dunia dari ketinggian. Tuhan cuma ingin kita duduk anteng, pasang sabuk pengaman, dan menikmati setiap naik-turun roller coaster kehidupan sambil pinter-pinter atur napas agar tetap bertahan hidup.

Gue sama sekali nggak nyangka 2019 akan menjadi roller coaster yang sangat bikin jantungan. Segala lintasan, rasanya ada di dalam situ. Mual, muntah, air mata, umpatan, doa-doa, semuanya tumpah selama roller coaster gue melaju. Bahkan gue sempat berpikir akan mati di bangku roller coaster 2019 ini karena kehabisan tenaga sebelum sampai garis finish.

Gue menjumpai berbagai lintasan yang semuanya mempunyai makna sendiri. Beberapa lintasan bahkan nggak pernah gue bayangkan sebelumnya bakal gue lewatin. Lintasan di roller coaster 2019 menuntut gue untuk menjadi lebih dewasa dan lebih mencintai diri sendiri. Lintasan di roller coaster 2019 mengajarkan gue untuk memaknai semua hal dengan lebih bijak atau gue kehilangan apa saja yang gue miliki. Gue hampir mati dengan itu semua. Terlalu berat.

Tapi, ternyata gue kuat. Ternyata gue bisa sampai dengan selamat.

Tuhan mempertemukan gue dengan sosok-sosok hebat selama di lintasan 2019. Kami berpapasan ketika lintasan roller coaster kami bertemu. Dari mereka, gue belajar banyak hal tentang kehidupan. Durasi papasan kami pun bermacam-macam. Ada yang sekejap, lama, bahkan ada juga yang membekas dan sepertinya selamanya punya tempat tersendiri di hati dan pikiran gue.

Roller coaster 2019 gue sudah berhenti dan siap nggak siap, gue harus menaiki roller coaster selanjutnya, 2020. Entah lintasan apa yang sudah disiapkan Tuhan di depan sana, gue harus memasang sabuk pengaman dengan baik sebelum mesin dinyalakan.

Untuk semua sosok yang berpapasan dengan gue di 2019, gue ucapkan terimakasih atas segala kesan yang ada.
Untuk semua waktu berbincang yang kalian luangkan ketika kita berpapasan di lintasan, gue mencintai hal itu.
Untuk sikap kekanakan yang masih melekat pada diri, gue meminta maaf.
Untuk janji-janji pertemuan di lintasan berikutnya, semoga Tuhan berpihak pada kita, entah kapan pun itu, dan semoga masih dengan rasa yang sama.

Tuhan, terimakasih untuk roller coaster 2019 yang menyenangkan ini.

Selamat Tahun Baru!
Selamat menyambut roller coaster baru juga untuk kita semua. Kencangkan sabuk pengaman, and let's go! \m/

30 November 2019

8

Bu Susi dan Wishlist di Pangandaran

Gue patah hati ketika kemarin Presiden Jokowi mengumumkan jajaran menteri di Kabinet Indonesia Maju. Bu Susi Pudjiastuti nggak dipilih lagi jadi menteri Kelautan dan Perikanan. Padahal Bu Susi adalah menteri favorit gue dan gue berharap beliau masih menjadi menteri di Kabinet Indonesia Maju.

Baca juga: Jokowi Bukan Atlet Tong Setan

Banyak hal yang gue suka dari Bu Susi. Mulai dari gayanya yang tomboy, ke-santuy-annya menenggelamkan kapal, pemikirannya yang out of the box, dan lain-lain. Sebagai cewek tomboy, gue seperti memiliki role model ketika melihat sosok Bu Susi ini. Bedanya mungkin beliau jago menenggelamkan kapal, kalau gue cuma jago menenggelamkan perasaan. Jiahh~

Soal pendidikan formal, Bu Susi bukan seorang yang berpendidikan tinggi. Ijazah terakhirnya cuma sampai SMP. Tapi hal itu nggak menutup kesempatan untuk beliau berkarir. Nggak tanggung-tanggung, Bu Susi sudah memiliki perusahaan yang go international!

Dari semua pencapaian yang diperoleh Bu Susi, yang bikin gue penasaran adalah: lingkungan seperti apa yang mampu membentuk sosok Susi Pudjiastuti menjadi sukses walaupun hanya dengan ijazah SMP?

Bu Susi Pudjiastuti lahir dan gede di Pangandaran, Jawa Barat. Kalau gue jadi Bu Susi, pasti gue akan jalan-jalan terus tiap hari setelah putus sekolah, bukan bangun usaha kayak beliau gitu. Gimana enggak? Setelah gue kepoin, Pangandaran ternyata memiliki banyak tempat wisata cantik yang selama ini kurang terekspos! Beberapa diantaranya sukses bikin gue pengen segera packing dan nyari hotel buat stay disana beberapa hari.

Ini adalah wishlist tempat cantik di Pangandaran favorit gue :

Pantai Pasir Putih Cagar Alam Pananjung

Sumber: tripadvisor.co.id
Sebagai pecinta pantai garis miring, Pantai Pasir Putih di Cagar Alam Pananjung Pangandaran adalah destinasi favorit nomor satu. Pantai ini letaknya di dalam cagar alam, jadi lingkungannya terjaga dan masih asli. Dari foto-foto yang gue pantau dari google, ada spot foto kapal karam juga di pantai ini yang sangat menarik dan bikin beda dari pantai-pantai kebanyakan.

Pantai Batu Karas

Sumber: jejakpiknik.com
Yang kedua masih pantai. Kali ini bukan pantai pasir putih. Namanya Pantai Batu Karas. Pasirnya berwarna cokelat gelap. Ombak di pantai ini gede, jadi banyak yang datang kesini buat berselancar.

Salah satu bagian yang gue suka dari pantai adalah suara ombak. Makanya Pantai Batu Karas berhasil menarik perhatian gue buat dijadikan destinasi impian di Pangandaran.

Green Canyon Cukang Taneuh

Ini yang paling bikin gue penasaran: Green Canyon-nya orang Sunda, Cukang Taneuh. Dekat dengan Pantai Batu Karas, Green Canyon menyuguhkan pemandangan alam luar biasa. Jurang dengan dasar sungai berair jernis bisa dirasakan di Green Canyon ini.

Sumber: idntimes.com
Nama Green Canyon diberikan oleh turis asal Perancis yang datang ke Cutang Taneuh tahun 1993 karena airnya berwarna hijau.

Di Green Canyon, banyak kegiatan asik yang bisa dilakukan. Misalnya menjelajahi goa, rafting, berenang, atau pun mengerjakan skripsi. Iya, saking menenangkannya tempat ini.

Sumber: dakatour.com
Setelah menentukan tujuan wisata, biasanya gue mencari tempat menginap. Ada nggak tempat buat stay disana. Baru deh yakin buat jalan ke daerah tersebut. Biasanya gue numpang di rumah temen. Tapi karena nggak punya temen di Pangandaran, gue jaga-jaga dulu hunting hotel di Pangandaran.

Gue hunting pakai Pegipegi. Di tampilan depan Pegipegi, gue langsung disuguhi menu 'hotel'. Nggak perlu scroll atau cari-cari menu penginapan lagi. Pegipegi ngerti banget 4 menu yang sering gue pakai jalan-jalan: kereta api, pesawat, hotel, dan bus/travel.

Setelah klik gambar 'hotel', langsung aja masukin destinasi tujuan. Bisa nama kota atau nama landmark. Pegipegi loadingnya cepet, nggak berat.
Langsung nemu 'hotel' gais. Segampang itu
Selain langsung disodorin menu-menu favorit, Pegipegi juga memudahkan dalam memfilter fasilitas dan harga hotel yang gue cari. Tombolnya gede-gede jadi mantep gak bikin typo salah pencet. Filter hotelnya sendiri juga lengkap sih kata gue. Mau nyari room yang family friendly, buat kencan, atau bahkan kategori mewah juga ada.
Menu 'filter'nya mantep banget gue jari preman gue ini
Dari Pegipegi, gue jadi tau ternyata hotel di Pangandaran banyak yang murah dengan fasilitas nggak murahan. Duh makin mupeng gue main ke daerah idola gue yang satu ini, Bu Susi Pudjiastuti.
6

Hampir Hilang di Thailand Bagian 3 (selesai): Senyuman Terakhir

Nggak lama, van yang gue tunggu datang. Pak supir turun dari mobil dan langsung mengangkut koper gue ke bagasi belakang tanpa ba-bi-bu.

Ketika gue masuk mobil, sudah ada sekitar 4 orang penumpang di dalamnya. Gue duduk di jok tengah, sebelah jendela. Di samping gue ada mbak-mbak berbaju pink dan memakai topi putih. Dari gayanya, dia terlihat seperti mbak-mbak salon yang suka nawarin rebonding rambut padahal rambut si tamu sudah lurus.

Gue senyumin si mbak baju pink. Dia senyum balik. Gue senyumin lagi. Dia senyum balik lagi. Akhirnya kita senyum-senyuman sepanjang perjalanan.

Eh, nggak gitu~

Gambaran van Thailand. Sumber: https://12go.asia
Gue duduk anteng di dalam mobil. Membuka HP dan membalas pesan Ploy yang memonitor gue tiap menit dari rumahnya. Setelah memberitahu Ploy kalau gue aman, gue mematikan internet untuk menghemat baterai. Dari sudut mata, gue bisa liat kalau mbak baju pink sesekali mencuri pandang ke arah gue.

Van yang gue tumpangi perlahan melaju ke arah Timur, meninggalkan Terminal Mochit, kemudian meninggalkan Kota Bangkok. Jalanan mulai lengang. Yang terlihat hanya truk-truk pengangkut sayur dan sesekali hamparan perkebunan. Gue capek, tapi nggak bisa tidur. Takut bablas ke Vietnam kalo tidur.

Baterai HP 10% ketika van berhenti dan menurunkan seorang penumpang di pinggir jalan. HP gue yang dibuat offline itu masih bisa menunjukan google maps. Perjalanan ke Bua Yai masih sekitar 3 jam lagi.

Perempuan di samping gue pun nggak tidur. Dia beberapa kali masih mencuri pandang ke arah gue dan ketika gue lihat ke arah dia, dia hanya tersenyum. Ada apa?

Gue memberanikan diri menyapa, "hi!". Gue pikir dia punya hal yang ingin disampaikan. Sapaan gue nggak dijawab. Dia cuma senyum. "Where do you go?". Lagi-lagi nggak ada jawaban selain sebuah senyuman. Ok, ada 2 kemungkinan: si mbak nggak bisa ngomong bahasa Inggris atau dia budeg.

Van masih melaju dengan tenang. Pemandangan danau dan temple khas Thailand menjadi pemandangan gue dari dalam van. Semua plang di pinggir jalan menggunakan bahasa dan aksara Thailand yang membuat gue migrain ketika mencoba mengartikannya.

Tiba-tiba van berbelok ke arah pom bensin. Semua penumpang turun dan berjalan menuju ke minimarket yang ada di pom tersebut. Bingung mau ngapain di dalam mobil sendirian, gue akhirnya ikut turun juga dan membeli beberapa cemilan kemudian duduk santai di kursi yang berjejer di depan minimarket.
Pom bensin tempat transit waktu itu
Saat sedang santai menikmati cemilan, mbak baju pink terlihat keluar dari mini market kemudian duduk di sebelah gue. Dia memberikan sebuah senyuman. Gue jawab dengan senyuman juga. Gue bener-bener pengen ngobrol sama dia. "You speak English?" tanya gue ketika dia sudah duduk. Si mbak baju pink hanya tersenyum lagi.

Ok, gue udah tau jawabannya: dia nggak bisa bahasa Inggris.

Semua penumpang kembali menaiki van ketika mobil mini bus itu selesai mengisi bahan bakar. Van melaju tenang lagi di jalanan Provinsi Nakhon Ratchasima. Google Maps menunjukan bahwa gue sudah memasuki Distrik Bua Yai.

Nggak lama, satu per satu penumpang turun di pinggir jalan dan ada juga yang di tempat ngetem bus. Tersisa gue, mbak baju pink, satu penumpang anak laki-laki di belakang, dan supir.

Seperti ada malaikat lewat, gue tersadar satu hal.
Hal yang sangat penting.
Dan krusial.

Ini gue turunnya kapan dan dimana?!

Bua Yai itu kabupaten, bukan lapangan futsal. Gue bisa aja salah turun di Bua Yai bagian utara, padahal rumah Ploy di Bua Yai Selatan.

"Trung tung tung tung ka ni tung." Mbak baju pink berbicara ke supir van kemudian memandang ke arah gue sebentar dan lanjut berbicara ke pak supir lagi. "Mai mai trung tung rap rap."

Jika ternyata mereka bertiga sekongkol mau merampok gue, gue pasrah saat itu juga. Toh, gue cuma seorang gembel yang lagi jalan-jalan di Thailand. Paling banter, mereka dapet batik yang gue bawa buat oleh-oleh Ploy.

Si mbak baju pink memandangi gue dan berkata, "trung tung tang tung tang ting tung.". Gue pun menjawab, "mai kon Thai ka." (saya bukan orang Thailand).

Suasana hening.

Gue memutuskan untuk menyalakan internet walaupun baterai tersisa 5% dan menelpon Ploy. Gue ceritakan secara singkat keadaan saat itu dan Ploy meminta bicara dengan Si Mbak. Gue berikan HP gue dan mereka berbicara.

"Tang ying yung ka pum." Mbak baju pink memberitahu sesuatu ke pak supir setelah mengembalikan HP gue. Si supir menjawab dengan memberikan tanda 'oke' ke arah gue. Gue gelagapan. Maksudnya apa?

Internet gue matikan kembali.

Di depan deretan rumah pinggir jalan yang terlihat sederhana, van berhenti. Mbak baju pink kemudian merapikan barang-barangnya dan bersiap turun. Sebelum benar-benar turun, dia memberi gue sebuah senyuman dan anggukan. Kayak kalo di Jawa tuh, "monggo..." gitu.

Setelah semua tas di bagasi belakang milik Mbak baju pink turun, gue memberanikan diri untuk meminta foto bareng Si Mbak. Mbak ini baik, gue harus punya kenang-kenangan sama dia, pikir gue. Walaupun tanpa percakapan, gue merasa nyaman selama perjalanan bareng dia.

"Photo, please."

Tutupin dikit ye muka gue bopung banget seharian jadi bolang di Thailand
"Thank you. Khop khun ka." Ucap gue setelah berfoto. "It was nice to meet you. I hope, we can meet again some day!" gue tetap melanjutkan. Meskipun terlihat di raut muka Si mbak bahwa dia nggak ngerti namun tetap tersenyum.

"Bye bye!" gue melambaikan tangan ketika Si Mbak mulai beranjak dan turun dari van.

"Bye bye!" Si Mbak menjawab disertai sebuah senyuman dan lambaian tangan. Belakangan gue tau bahwa itu senyuman terakhir Si Mbak setelah sekian banyak senyuman yang dia beri selama perjalanan.

Van kembali melaju tenang di jalanan. Sama seperti hati gue yang tenang meskipun nggak tau akan turun dari van ini kapan.

Roda van mulai melambat ketika memasuki komplek pasar tradisional dan kian melambat ketika memasuki area seperti terminal kecil namun bersih di ujung pasar. Van sepenuhnya berhenti di depan deretan ruko, di samping mobil-mobil van yang sudah terparkir disana lebih dulu.

Pak Supir membuka pintu van. Kemudian gue melihat sosok perempuan yang duduk di bangku depan ruko yang sudah nggak asing lagi. Wajahnya sering gue lihat melalui layar HP. Dia adalah Ploy.

Gue turun dan menghampiri Ploy. Dia melihat gue dan merekam momen itu. Momen dimana gue berjalan ke arah dia dan kita saling bertukar peluk. "Look! Who's coming!". Sayang videonya udah nggak ada lagi.

Ini adalah kali pertama gue bertemu Ploy, sahabat jauh gue yang berkenalan lewat online.

Setelah sampai rumah Ploy, gue ceritakan tentang Si Mbak baju pink dan Ploy bilang, "she was a kind person bro."

"Yeah, I think so. I hope we meet again someday and talk."

8 November 2019

6

Hampir Hilang di Thailand bagian 2: Hampir Sujud Syukur Gara-gara Paspor Indonesia

Bersambung...

G U E   H A R U S   L A R I ! ! !

Pikiran gue nyuruh lari. Jantung gue berdegup kencang seperti genderang mau perang (Ahmad Dani kali ah). Tapi kaki gue gak bisa digerakin, sama sekali. Akhirnya gue berdiri mematung dan pasrah membiarkan si ibu itu datang menghampiri. Apa pun yang ia lakukan, hamba serahkan semuanya hanya kepadaMu ya Allah ya Rabbi, Tuhan semesta alam.

"Trang tung tung tuk tuk tung lae lae?" Ibu itu nyerocos di depan gue. Jarak kami hanya satu langkah. Jarak yang tepat untuk si ibu membacok kepala gue yang kosong ini. "Trang tung tung mai?"

Gue membisu. Dahi mulai keriting. Keringat mengucur deras di dalam kaos yang gue pakai. "Tung tung tung krap to in to eng?" Ibu itu melanjutkan. Nada bicaranya seperti ia sedang bertanya, bukan ingin membunuh. Gue sedikit sadar. Jika ibu ini membunuh gue di tengah terminal, akan banyak orang yang membawa gue ke UGD dan melaporkan si ibu ke polisi.

Nggak mungkin ada pembunuh sebego ini, batin gue.

"Kin ken lew trung tung tung?" Ibu masih berucap.

Kalo emang si ibu ini nanya, gimana cara gue jawabnya? Orang pertanyaannya aja kaga paham.

Gue celingak celinguk berharap ada malaikat penolong untuk mentranslate apa yang ibu ini katakan, sayangnya nggak ada. Semua orang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing di terminal itu.

Si ibu memandangi gue dengan tatapan menagih jawaban dari pertanyaannya. Gue hanya bisa memandangi mukanya dengan raut muka memelas dan kebingungan. "Aku ki ra ngerti kowe ngomong opo ndes! Aku kon piye?!" teriak gue dalam hati.

Tiba-tiba gue inget paspor yang selalu gue bawa di tas selempang kecil. Gue ambil paspor dan angkat paspor itu tinggi-tinggi, persis wasit sepak bola pas ngeluarin kartu kuning. Bedanya, gue nggak pake peluit.
Bola mata si ibu mengikuti posisi paspor gue. Beberapa saat kemudian, ia tertawa kecil dan berkata, "oh...mai khon Thai! Hahaha."

"He-he-he," gue ikut tertawa, dipaksakan. Kenapa nggak dari tadi lo keluarin paspor, Farih?! Bego banget lo!

Disitu gue ngerti apa yang ibu itu katakan dan gue baru ingat kalimat tersebut, kalimat yang Ploy ajarkan ke gue sebelum gue mendarat di Thailand.

Mai = tidak / bukan.
Kon = orang.
Thai = Thailand.

Mai kon Thai = bukan orang Thailand! Ibu itu akhirnya ngerti gue bukan orang Thailand dan nggak paham apa yang dia katakan dari tadi.

"Dai dai, chan mai kon Thai na ka." gue menjawab dan membenarkan apa yang si ibu itu katakan. Gue langsung mengingat-ingat beberapa kalimat yang pernah gue pelajari dari teman-teman Thailand.

Raut muka si ibu berubah menjadi lebih ramah. Rasanya gue pengen sujud syukur di situ. Tapi sadar kalau sujud syukur di tengah terminal Thailand dengan kondisi sepanas itu, matahari tepat di atas ubun-ubun, akan terlihat aneh. Gue urungkan niat tersebut.

Si ibu berjalan ke salah satu loket yang berada di dekat kami berdua. Refleks, gue ikutin si ibu berjalan sambil masih mengangkat paspor tinggi-tinggi dan tangan kiri menarik tas koper warna hitam. Dari jauh, kami berdua terlihat seperti induk ayam dan satu anaknya yang lahir prematur.

"Mai kon Thai, mai kon Thai." ibu tersebut seperti ngasih tau orang-orang di sekitar loket kalau gue bukan orang Thailand.
Foto asli si Mbak penjaga loket
Gue menghentikan langkah ketika si ibu menghampiri mbak-mbak yang duduk di belakang loket. Beberapa orang di sekitar loket tersebut memandangi gue dengan tatapan heran, kasihan, sekaligus jijik. Orang-orang Thailand yang berkulit putih bersih ini mungkin berpikir, "udah item, dekil, jerawatan, ngangkat-ngangkat paspor begitu, gembel Indonesia stres ini ngapain sih di negara gue?"

Di tengah rasa canggung karena diliatin begitu, HP gue kembali berbunyi. Ploy menelpon lagi. "Hallo, where are you? Are you ok?" Suara Ploy khawatir di ujung sana.

"I am ok, bro. I am at the terminal now." Jawab gue. Kemudian gue ceritakan kejadian ibu-ibu tadi dan Ploy meminta untuk ngomong dengan si ibu tersebut. Tanpa kata-kata, gue sodorin HP gue ke si ibu yang sedang berbicara dengan mbak-mbak loket.

Gue hanya memandangi si ibu ngobrol dengan Ploy. Paspor sudah gue turunkan. Koper hitam masih gue pegang erat.

Lumayan lama, si ibu memberikan HP gue kembali dan berbicara dengan mbak loket seperti memberti tau sesuatu. "Bro, get a pen, and write my phone number." Ploy menginstruksikan gue untuk mengambil bolpoin.

Gue heran, kenapa harus pake bolpoin? Gue tanya ke Ploy, "Can I write your phone number on my phone?".

"How about if your phone died? How about if your battery is running out? Think smart! You can't do anything if your phone is off." Ploy merepet. "It needs 5 until 7 hours to get my home. It will be a long journey today. And I am not sure if you can charge your iphone after this."

Perjalanan 7 jam? Di negara orang tanpa tau jalanannya bakal kayak apa? Gue pengen balik langsung ke Semarang rasanya waktu itu.

Akhirnya, gue pun menulis nomor HP Ploy di sebuah kertas lalu gue simpan di saku jaket jeans yang gue pakai.

Selesai berbicara dengan Ploy, ibu itu memberikan gue karcis van (semacam suttle bus atau travel di Indonesia). Gue nggak paham tulisannya apa, gue cuma mengeluarkan uang sesuai dengan angka yang tertera di karcis tersebut dan memberikannya ke si ibu. Dari semua tulisan di karcis, gue cuma bisa ngerti "300 baht". Tulisan lainnya terlihat seperti aksara Jawa typo di mata gue.

Karcis van
"You wait, wait here." si ibu menunjuk bangku kayu panjang di sebelah loket untuk gue duduk dan menunggu van yang akan membawa gue ke Buayai, Nakhon Ratchasima.

Ibu yang semula gue kira akan membunuh gue ini ternyata baik. Dari awal liat gue kebingungan di tengah terminal, dia cuma berniat menolong. Karena tampang gue yang keliatannya kayak orang lokal Thailand, makanya si ibu ngajak ngomong gue pake bahasa Thailand tadi.

"Thankyou so much for your help." Gue pengen peluk rasanya. Tapi si ibu keburu pergi dengan lambaian tangan dan cuma menjawab gue dengan senyuman.

Tas pinggang warna gelap lusuh yang si ibu pakai, menandakan kalo ibu itu di terminal buat kerja, cari uang. Gue cuma bisa mendoakan agar rejeki ibu itu lancar terus dan sehat selalu.

Gue memandangi punggung si ibu yang kian jauh meninggalkan gue dan meminta maaf dalam hati. Ada senyum getir yang nggak mampu gue sembunyikan.

Ibu baik banget sih. Andaikan kita bisa ngobrol, pasti kita jadi sohib.

Gue kemudian duduk dan menunggu van datang.

Ini baru sampai terminal. Perjalanan 7 jam menanti gue di depan mata. Gue deg-degan.

---

Bersambung ke bagian ketiga.

28 Oktober 2019

10

Tahun Baru di Bali Pake Kartu Kredit BNI, Berani?

Nggak semua orang suka backpackeran. Alasannya nggak nyaman dan nggak bisa fokus menikmati wisata. Giliran ditawari liburan mewah dan nyaman, nggak mau juga. Alasannya mahal, nggak ada duit. Akhirnya batal jalan-jalan. Diem di rumah, rebahan. Gitu tuh, problematika manusia jaman now, termasuk temen-temen SMA gue yang merencanakan liburan tahun baru di Bali. Mereka nggak mau backpackeran, tapi juga nggak mau keluar duit banyak. huft! Akhirnya, gue yang kebagian tugas searching promo-promo hotel dan akhirnya gue nemu promo kartu kredit BNI.
Source: https://www.threesixtyguides.com

Promo Kartu Kredit BNI

Sewaktu SMA, gue punya geng ciwi-ciwi yang bertahan sampai sekarang. Kita merencanakan liburan bareng ke Bali sejak lama dan belum pernah terealisasikan hingga Jokowi jadi presiden dua kali dan Jan Ethes mulai sekolah. Kendala utamanya ada 2; soal waktu yang susah disamain karena punya kesibukan sendiri-sendiri dan duit.

"Kita jadi tahun baruan di Bali gak sih?"

"Gak tau nih gue gak libur."
"Gue lagi bokek banget anjirrr."
"Gue pengen jadi Anya Geraldine."

Itu obrolan kami di grup Line.

Masalah kesibukan, bisa diatasi dengan merencanakan cuti kerja bersamaan dari jauh-jauh hari. Jadi cuti bareng-bareng dan disamain waktu cutinya buat liburan.

Kalo masalah duit, semua orang juga bermasalah kecuali keluarga Bakrie. Tapi apa itu artinya cuma keluarga Bakrie yang boleh liburan tahun baru? Kan enggak. Banyak cara yang bisa dilakukan buat menghemat biaya liburan. Salah satunya adalah dengan liburan gaya backpacker hemat yang selama ini gue terapkan. Masalahnya adalah, temen-temen gue ini tipe yang nggak bisa tidur di musola atau pun bermalam di McD. Mereka pengennya tidur di hotel, ada kolam renangnya, dan viewnya langsung laut. Mampus.

"Gue pengen liburan kayak Siti Badriah gitu. Tahun baruan di Bali, breakfast di kolam renang." ucap salah satu temen gue, Anis.

"Duitnya ada?" tanya gue.

"Enggak." jawab Anis singkat.

"Sadar Nis, kita bukan Nia Ramadani. Tahun baru di Bali pasti mahal semuanya. Apalagi hotelnya. Gue gak berani." Nabila, temen gue yang lain coba menyadarkan Anis dari kehaluan.

"Nyari laki model Ardi Bakrie dimana sih?" Anis makin halu.

Gue kasian.

"Rih, lo kan biasanya nemu aja promo jalan-jalan murah dan segala isinya. Buat liburan di Bali ini, lo nggak ada ide apa gitu buat menghemat budget?" tanya Nabila.

"Harus hotel ya?" gue tanya.

"Iya."

"Harus yang ada kolam renangnya?"

"Iya."

"Harus yang kalo bangun tidur liatnya laut ya?"

"Iya!"

"Yaudah. Ngecamp aja di pinggir pantai yuk. Pake tenda gunung, bawa bekel dari rumah."

Gue digebug.

Akhirnya gue memutuskan untuk hunting promo liburan dulu yang ada sampai akhir tahun karena bakal dipake pas tahun baru.

Setelah berselancar di internet beberapa hari, nyari promo yang paling menguntungkan, gue ketemu sama promo kartu kredit BNI untuk hotel di Bali dari CekAja.com yang berlaku sampai Januari 2020! Bisa nih gue pake buat tahun baruan.

Gue langsung ngabarin temen-temen gue di grup.


"Ada diskon gede di Bali Niksoma Boutique Beach Resort tuh, lumayan." gue menawari dengan gaya sales kompor gas.

"Ada kolam renangnya gak disana?" tanya Anis.
"Ada."
"Bangun tidur bisa langsung liat laut?"
"Bisa."
"Bisa makan di atas kolam renang kayak Siti Badriah gitu gak?"
"Bisa. Request makan sambil nyelem juga bisa ntar gue bilangin ke yang punya hotel."
Sekarang waktunya nabung biar tahun baru nanti terealisasikan liburan bareng temen-temen di Bali pake promo kartu kredit BNI dari CekAja.com.

https://www.cekaja.com/banks/bni/kartu-kredit/promo

Teman