31 Maret 2020

3

Pengalaman Pertama Turun ke Jalan: Women's March Jakarta 2020 & Gambar-gambarnya

Hampir di semua kampus, FISIP pasti terkenal sebagai sarang mahasiswa yang aktif bersuara dan melakukan aksi. Nggak jarang, ketika ada satu demo, orang-orang akan berkomentar, "anak FISIP tuh pasti yang bakar ban". Atau ketika lagi kenalan dan bilang kita jurusan FISIP, orang akan bertanya "terkahir ikut demo dimana?". Ya, umumnya anak FISIP akrab dengan aksi atau pun orasi. Tapi nggak buat gue. Selama kuliah di FISIP dulu, gue nggak pernah ikut aksi apa pun. Paling mentok ikut lomba 17-an antar jurusan.

Setelah lulus dan sadar gue nggak punya pengalaman demo sama sekali, gue menyesal. Ketika udah nggak berstatus 'mahasiswa', peluang ikut demo sangat kecil. Nama kita udah nggak ada di dalam list peserta demo kampus. Kalau pun nekat tetep ikut, kita bakal ngerasa gak pantes pakai jas almamater buat turun ke jalan.


Tidak ingin terpuruk dalam penyesalan, gue bertekad untuk ikut aksi turun ke jalan meskipun udah lulus. Dan, kesempatan itu akhirnya gue dapat bulan Maret lalu. Gue ikut marching International Women's Day Indonesia Jakarta dan menangkap beberapa momen disana.

























Serius ngelukis di tengah marching. Keren.



Gue seneng akhirnya gue bisa ngerasain 'turun ke jalan' meski tanpa jas almamater. Ditambah, gue bisa menyalurkan hobi untuk motret di marching tersebut.

Semua gambar di atas adalah hasil foto gue yang gue ambil pakai canon 70D dan iphone 6s. Feel free, kalian boleh save atau pun share foto-foto di atas kalau suka. Gue bakal seneng kalau kalian menuliskan nama gue -farih ikmaliyani- ketika ngeshare.

Location: Sarinah - Monas, Jakarta Pusat
Time: March 8th, 2020

Thanks Women's March Jakarta!

24 Februari 2020

12

Percakapan Kecil di Depan Stasiun Pasar Senen Jakarta

Di setiap tempat yang gue sambangi, gue selalu berusaha mengenal orang-orang yang ada disana lewat obrolan singkat atau sekedar bertukar sapa. Menurut gue, itu bikin tempat tersebut terasa lebih hidup dan gue ingat terus nantinya. Kayak contohnya tempat yang gue lewati minggu lalu, Stasiun Pasarsenen, Jakarta.

Malam itu gue dan dua orang teman tiba di Stasiun Pasar Senen 2 jam lebih awal dari jadwal keberangkatan kereta ke Pekalongan, pukul 23.25 WIB. Dua teman gue ini sekedar mengantar dan membawakan tas-tas yang mirip koper haji. Hawa panas Jakarta malam itu, ditambah tas besar yang kami tenteng, sukses bikin haus luar biasa.

"Jangan beli minum di staisun, mahal. Beli di depan aja yuk, murah-murah cuy." kata teman gue, Baren, ketika gue mengajaknya beli minum. Bukan rahasia lagi memang, makanan dan minuman di area stasiun harganya nggak tau diri, nggak kompak sama es teh-es teh yang lain. Es teh lain harganya 3 ribu, di stasiun jadi 10 ribu. Jiwa miskin gue jelas nggak terima lah!

Setelah berjalan sebentar, sampailah kami di depan stasiun yang berisi deretan pedagang kaki lima yang kakinya cuma dua. Gue nggak nemu pedagang yang kakinya lima, sih.

"Mbak, es teh tarik satu ya." gue meletakkan tas besar di atas bangku kayu salah satu lapak pedagang minuman dan rokok yang dijaga oleh seorang perempuan bermasker. Dari gaya berpakaiannya, gue tau mbak itu seumuran sama gue. Tanpa sepatah kata pun yang keluar, Mbak itu segera membuatkan minuman instan yang gue pesan di gelas plastik.

"Gue juga mau dong Mbak, es teh tarik ya!" ucap Baren. Si Mbak langsung membuatkan minuman dan memberikannya ke Baren. Setelah itu, dia kembali duduk di belakang meja dagangan dan sibuk dengan HP-nya. Nggak ada satu pun kata yang keluar dari mulutnya.

Penasaran, gue coba buka percakapan ke si Mbak.

Gue: mbak, harga minum di dalem stasiun mahal-mahal ya Mbak?
Si Mbak: Iya.
Gue: udah lama dagang disini Mbak?
Si Mbak: Iya.
Gue: gue cantik banget ya Mbak?
Si Mbak: Iya.

Jutek banget Mbaknya, mau nangis. :(

Ada masalah apa sih Mbak?

Menghindari darah tinggi akibat kesel sama Mbak jutek ini, gue beralih ngobrol dan bercanda dengan Baren dan Delsa, dua teman gue yang berbaik hati membawakan tas. Selama kami ngobrol, Si Mbak beberapa kali curi pandang ke arah kami bertiga, seperti memperhatikan percakapan kami.

"Kesel banget gue tadi bapak-bapak ojol cat-calling ke gue!" Delsa teman gue sedang berkeluh soal seorang supir ojol yang godain dia sewaktu dia berjalan di depan stasiun.

Tiba-tiba Si Mbak nyaut, "suka gitu emang Mbak supir ojek kalo sama orang baru.".

"Mbaknya kerja disini sampe malem sering digodain juga dong?" tanya Delsa.

"Kalo sama orang sini mah enggak Mbak, udah kenal soalnya." Si Mbak yang tadinya jutek pun berubah menjadi ramah dan baik hati. "Aku aja sama abang-abang ojek udah biasa ngobrol. Kita, pedagang gini, suka dibantuin abang-abang ojol kalo ada penertiban. Kadang juga informasi mau ada sweeping dari temen-temen disini. Jadi kita kenal. Mereka baik kok Mbak sebenernya. Kadang iseng aja itu sama orang baru."

Suasana pun menjadi cair. Si Mbak masih dengan maskernya, berubah posisi duduk. Yang awalnya menghadap ke depan, ke meja dagangan, jadi menyamping, ke arah kami bertiga.

"Jualan kayak gini untungnya lumayan ya Mbak? Apalagi di stasiun." Tanya gue makin sok akrab.

"Iya Mbak, lumayan banget!" jawab Si Mbak antusias. "Apalagi waktu lebaran kemarin, yang lain libur, orang tuaku doang di trotoar ini yang jualan. Bisa dapet 10 juta sehari."

"Wih, gila. Gaji PNS lewat tuh Mbak..."

Percakapan pun berlanjut. Tanpa terasa, kita berempat menjadi seperti teman dekat yang lama nggak ketemu.

Waktu berlalu. Nggak kerasa, jam menunjukkan pukul 23.00. Gue pamit ke Si Mbak kemudian meminta Baren dan Delsa menemani gue kembali ke dalam stasiun.

Gue menyempatkan foto sebelum cabut dari lapak Si Mbak. (kiri ke kanan: Si Mbak, Baren, Delsa)
"Ada yang ketinggalan nggak Lay?" tanya Baren ketika kami bertiga berada di depan pintu masuk. 'Lay' adalah nama panggilan akrab gue dengan Baren dan beberapa teman-teman teater kampus.

"Enggak Lay, aman semua kok." jawab gue.

"Yaudah gih sono masuk kereta. Ati-ati ya lu!"

"Oke. Thanks ya udah bawain tas gue. Bye!". Gue pun beranjak masuk stasiun. Sesaat setelah berjalan masuk, gue memanggil Baren dan Delsa yang mulai melangkah meninggalkan pintu masuk stasiun. "Lay! Tanyain Si Mbak tadi, namanya siapa. Gue mau tulis cerita kita berempat malam ini di blog!". Teriak gue.

"Oke, ntar gue tanyain!" Baren menjawab teriakan gue dari kejauhan.

Setelah memastikan gerbong dan kursi dengan benar, gue duduk manis dan menghela napas. Tiba-tiba HP gue bergetar, ada sebuah notifikasi instagram;


Si Mbak follow gue di instagram dan ternyata dia nggak sejutek yang gue pikir sebelumnya.

Semua orang memang sepertinya akan ramah kepada siapa pun setelah percakapan kecil di awal. Karena pada dasarnya semua orang baik. Mungkin, si bapak ojol yang cat-calling ke Delsa juga akan lebih sopan setelah ngobrol bareng Delsa. Mungkin.

(Tulisan ini mulai gue tulis sebulan yang lalu, tapi baru gue publish hari ini karena banyak kesibukan yang menghambat gue untuk menyelesaikan tulisan ini.)

6 Januari 2020

11

Roller Coaster Itu Bernama 2019

Akhir tahun 2018, gue lewati dengan cara yang cantik: backpackeran ke Bali bareng temen-temen yang asik. Kembang api di Pantai Kuta malam itu bikin gue optimis, "2019 bakal sepenuhnya menyenangkan". Ternyata enggak. 2019 adalah roller coaster pendek penuh kejutan namun berhenti dengan baik. Gue selamat, dengan sedikit mual di dalam perut.

Setelah perayaan tahun baru di Bali selesai, gue pulang lagi ke kota perantauan, Semarang, dengan rasa bingung antara memilih investasi uang lewat proyek survey politik yang lagi ramai menjelang pemilu presiden atau investasi ilmu dengan pergi ke Kampung Inggris Pare Kediri di awal tahun 2019. Akhirnya, gue memilih pilihan kedua.

Yep, investasi ilmu dengan belajar Bahasa Inggris di Kampung Inggris Pare adalah pilihan gue.

23 Januari tengah malam, gue berangkat sendirian ke Kediri dari Stasiun Semarang Tawang dengan modal punya temen yang ngajar disana. Setelah menempuh perjalanan cukup panjang, jam 7 pagi gue sudah duduk manis di dalam warung yang letaknya persis di depan salah satu lembaga belajar bahasa Inggris, Smart ILC, menunggu teman yang sedang ngajar.

"Gue nggak tau kalo Smart udah pindah. Tadi gue kesasar." gue berkata ke temen gue dalam perjalanan kami menuju asrama yang nantinya gue tinggali selama di Pare. "Banyak yang udah berubah, ya. Tapi suasananya masih terasa sama." gue mengenang tempat yang kami berdua lewati karena dulu 2014 gue pernah belajar di Pare juga selama 2 bulan.

"Semua hal pasti berubah lah Rih seiring berjalannya waktu." jawab teman gue, Purdianto.

"Ini asramanya Rih." kami sampai di depan rumah sederhana dengan beberapa sepeda perempuan rapi berjejer di depannya. "Gimana? Lo siap tinggal disini?" tanya Purdianto.


"Iya, gue siap." gue menjawab singkat. Nggak sadar, jawaban itu adalah kalimat terakhir sebelum akhirnya roller coaster gue menyala dan berjalan sesuai lintasannya; naik turun, meliak-liuk sesuai aturan Yang Maha Agung. Ya, roller coaster itu bernama 2019.

---

Semua orang punya roller coasternya masing-masing. Tiketnya udah rapi dibagiin Tuhan satu per satu di awal tahun. Mungkin, lintasan kita terlihat lebih ngeri daripada lintasan orang lain atau sebaliknya. Tapi sebenarnya sama, sesuai porsi masing-masing dan jelas adil. Bagaimana perspektif kita aja soal hal itu.

Sayangnya, nggak semua orang bisa mikir jernih kayak gitu pas ada di roller coasternya. Termasuk gue.
beautifulrealizations.wordpress.com
Cuma Tuhan yang tau persis lintasan roller coaster kita seperti apa. Kita sama sekali nggak diberi bocoran bakal ada berapa lintasan naik, berapa lintasan menikung tajam, atau berapa lintasan naik pelan yang memberikan kita kesempatan untuk melihat keindahan dunia dari ketinggian. Tuhan cuma ingin kita duduk anteng, pasang sabuk pengaman, dan menikmati setiap naik-turun roller coaster kehidupan sambil pinter-pinter atur napas agar tetap bertahan hidup.

Gue sama sekali nggak nyangka 2019 akan menjadi roller coaster yang sangat bikin jantungan. Segala lintasan, rasanya ada di dalam situ. Mual, muntah, air mata, umpatan, doa-doa, semuanya tumpah selama roller coaster gue melaju. Bahkan gue sempat berpikir akan mati di bangku roller coaster 2019 ini karena kehabisan tenaga sebelum sampai garis finish.

Gue menjumpai berbagai lintasan yang semuanya mempunyai makna sendiri. Beberapa lintasan bahkan nggak pernah gue bayangkan sebelumnya bakal gue lewatin. Lintasan di roller coaster 2019 menuntut gue untuk menjadi lebih dewasa dan lebih mencintai diri sendiri. Lintasan di roller coaster 2019 mengajarkan gue untuk memaknai semua hal dengan lebih bijak atau gue kehilangan apa saja yang gue miliki. Gue hampir mati dengan itu semua. Terlalu berat.

Tapi, ternyata gue kuat. Ternyata gue bisa sampai dengan selamat.

Tuhan mempertemukan gue dengan sosok-sosok hebat selama di lintasan 2019. Kami berpapasan ketika lintasan roller coaster kami bertemu. Dari mereka, gue belajar banyak hal tentang kehidupan. Durasi papasan kami pun bermacam-macam. Ada yang sekejap, lama, bahkan ada juga yang membekas dan sepertinya selamanya punya tempat tersendiri di hati dan pikiran gue.

Roller coaster 2019 gue sudah berhenti dan siap nggak siap, gue harus menaiki roller coaster selanjutnya, 2020. Entah lintasan apa yang sudah disiapkan Tuhan di depan sana, gue harus memasang sabuk pengaman dengan baik sebelum mesin dinyalakan.

Untuk semua sosok yang berpapasan dengan gue di 2019, gue ucapkan terimakasih atas segala kesan yang ada.
Untuk semua waktu berbincang yang kalian luangkan ketika kita berpapasan di lintasan, gue mencintai hal itu.
Untuk sikap kekanakan yang masih melekat pada diri, gue meminta maaf.
Untuk janji-janji pertemuan di lintasan berikutnya, semoga Tuhan berpihak pada kita, entah kapan pun itu, dan semoga masih dengan rasa yang sama.

Tuhan, terimakasih untuk roller coaster 2019 yang menyenangkan ini.

Selamat Tahun Baru!
Selamat menyambut roller coaster baru juga untuk kita semua. Kencangkan sabuk pengaman, and let's go! \m/

30 November 2019

8

Bu Susi dan Wishlist di Pangandaran

Gue patah hati ketika kemarin Presiden Jokowi mengumumkan jajaran menteri di Kabinet Indonesia Maju. Bu Susi Pudjiastuti nggak dipilih lagi jadi menteri Kelautan dan Perikanan. Padahal Bu Susi adalah menteri favorit gue dan gue berharap beliau masih menjadi menteri di Kabinet Indonesia Maju.

Baca juga: Jokowi Bukan Atlet Tong Setan

Banyak hal yang gue suka dari Bu Susi. Mulai dari gayanya yang tomboy, ke-santuy-annya menenggelamkan kapal, pemikirannya yang out of the box, dan lain-lain. Sebagai cewek tomboy, gue seperti memiliki role model ketika melihat sosok Bu Susi ini. Bedanya mungkin beliau jago menenggelamkan kapal, kalau gue cuma jago menenggelamkan perasaan. Jiahh~

Soal pendidikan formal, Bu Susi bukan seorang yang berpendidikan tinggi. Ijazah terakhirnya cuma sampai SMP. Tapi hal itu nggak menutup kesempatan untuk beliau berkarir. Nggak tanggung-tanggung, Bu Susi sudah memiliki perusahaan yang go international!

Dari semua pencapaian yang diperoleh Bu Susi, yang bikin gue penasaran adalah: lingkungan seperti apa yang mampu membentuk sosok Susi Pudjiastuti menjadi sukses walaupun hanya dengan ijazah SMP?

Bu Susi Pudjiastuti lahir dan gede di Pangandaran, Jawa Barat. Kalau gue jadi Bu Susi, pasti gue akan jalan-jalan terus tiap hari setelah putus sekolah, bukan bangun usaha kayak beliau gitu. Gimana enggak? Setelah gue kepoin, Pangandaran ternyata memiliki banyak tempat wisata cantik yang selama ini kurang terekspos! Beberapa diantaranya sukses bikin gue pengen segera packing dan nyari hotel buat stay disana beberapa hari.

Ini adalah wishlist tempat cantik di Pangandaran favorit gue :

Pantai Pasir Putih Cagar Alam Pananjung

Sumber: tripadvisor.co.id
Sebagai pecinta pantai garis miring, Pantai Pasir Putih di Cagar Alam Pananjung Pangandaran adalah destinasi favorit nomor satu. Pantai ini letaknya di dalam cagar alam, jadi lingkungannya terjaga dan masih asli. Dari foto-foto yang gue pantau dari google, ada spot foto kapal karam juga di pantai ini yang sangat menarik dan bikin beda dari pantai-pantai kebanyakan.

Pantai Batu Karas

Sumber: jejakpiknik.com
Yang kedua masih pantai. Kali ini bukan pantai pasir putih. Namanya Pantai Batu Karas. Pasirnya berwarna cokelat gelap. Ombak di pantai ini gede, jadi banyak yang datang kesini buat berselancar.

Salah satu bagian yang gue suka dari pantai adalah suara ombak. Makanya Pantai Batu Karas berhasil menarik perhatian gue buat dijadikan destinasi impian di Pangandaran.

Green Canyon Cukang Taneuh

Ini yang paling bikin gue penasaran: Green Canyon-nya orang Sunda, Cukang Taneuh. Dekat dengan Pantai Batu Karas, Green Canyon menyuguhkan pemandangan alam luar biasa. Jurang dengan dasar sungai berair jernis bisa dirasakan di Green Canyon ini.

Sumber: idntimes.com
Nama Green Canyon diberikan oleh turis asal Perancis yang datang ke Cutang Taneuh tahun 1993 karena airnya berwarna hijau.

Di Green Canyon, banyak kegiatan asik yang bisa dilakukan. Misalnya menjelajahi goa, rafting, berenang, atau pun mengerjakan skripsi. Iya, saking menenangkannya tempat ini.

Sumber: dakatour.com
Setelah menentukan tujuan wisata, biasanya gue mencari tempat menginap. Ada nggak tempat buat stay disana. Baru deh yakin buat jalan ke daerah tersebut. Biasanya gue numpang di rumah temen. Tapi karena nggak punya temen di Pangandaran, gue jaga-jaga dulu hunting hotel di Pangandaran.

Gue hunting pakai Pegipegi. Di tampilan depan Pegipegi, gue langsung disuguhi menu 'hotel'. Nggak perlu scroll atau cari-cari menu penginapan lagi. Pegipegi ngerti banget 4 menu yang sering gue pakai jalan-jalan: kereta api, pesawat, hotel, dan bus/travel.

Setelah klik gambar 'hotel', langsung aja masukin destinasi tujuan. Bisa nama kota atau nama landmark. Pegipegi loadingnya cepet, nggak berat.
Langsung nemu 'hotel' gais. Segampang itu
Selain langsung disodorin menu-menu favorit, Pegipegi juga memudahkan dalam memfilter fasilitas dan harga hotel yang gue cari. Tombolnya gede-gede jadi mantep gak bikin typo salah pencet. Filter hotelnya sendiri juga lengkap sih kata gue. Mau nyari room yang family friendly, buat kencan, atau bahkan kategori mewah juga ada.
Menu 'filter'nya mantep banget gue jari preman gue ini
Dari Pegipegi, gue jadi tau ternyata hotel di Pangandaran banyak yang murah dengan fasilitas nggak murahan. Duh makin mupeng gue main ke daerah idola gue yang satu ini, Bu Susi Pudjiastuti.
6

Hampir Hilang di Thailand Bagian 3 (selesai): Senyuman Terakhir

Nggak lama, van yang gue tunggu datang. Pak supir turun dari mobil dan langsung mengangkut koper gue ke bagasi belakang tanpa ba-bi-bu.

Ketika gue masuk mobil, sudah ada sekitar 4 orang penumpang di dalamnya. Gue duduk di jok tengah, sebelah jendela. Di samping gue ada mbak-mbak berbaju pink dan memakai topi putih. Dari gayanya, dia terlihat seperti mbak-mbak salon yang suka nawarin rebonding rambut padahal rambut si tamu sudah lurus.

Gue senyumin si mbak baju pink. Dia senyum balik. Gue senyumin lagi. Dia senyum balik lagi. Akhirnya kita senyum-senyuman sepanjang perjalanan.

Eh, nggak gitu~

Gambaran van Thailand. Sumber: https://12go.asia
Gue duduk anteng di dalam mobil. Membuka HP dan membalas pesan Ploy yang memonitor gue tiap menit dari rumahnya. Setelah memberitahu Ploy kalau gue aman, gue mematikan internet untuk menghemat baterai. Dari sudut mata, gue bisa liat kalau mbak baju pink sesekali mencuri pandang ke arah gue.

Van yang gue tumpangi perlahan melaju ke arah Timur, meninggalkan Terminal Mochit, kemudian meninggalkan Kota Bangkok. Jalanan mulai lengang. Yang terlihat hanya truk-truk pengangkut sayur dan sesekali hamparan perkebunan. Gue capek, tapi nggak bisa tidur. Takut bablas ke Vietnam kalo tidur.

Baterai HP 10% ketika van berhenti dan menurunkan seorang penumpang di pinggir jalan. HP gue yang dibuat offline itu masih bisa menunjukan google maps. Perjalanan ke Bua Yai masih sekitar 3 jam lagi.

Perempuan di samping gue pun nggak tidur. Dia beberapa kali masih mencuri pandang ke arah gue dan ketika gue lihat ke arah dia, dia hanya tersenyum. Ada apa?

Gue memberanikan diri menyapa, "hi!". Gue pikir dia punya hal yang ingin disampaikan. Sapaan gue nggak dijawab. Dia cuma senyum. "Where do you go?". Lagi-lagi nggak ada jawaban selain sebuah senyuman. Ok, ada 2 kemungkinan: si mbak nggak bisa ngomong bahasa Inggris atau dia budeg.

Van masih melaju dengan tenang. Pemandangan danau dan temple khas Thailand menjadi pemandangan gue dari dalam van. Semua plang di pinggir jalan menggunakan bahasa dan aksara Thailand yang membuat gue migrain ketika mencoba mengartikannya.

Tiba-tiba van berbelok ke arah pom bensin. Semua penumpang turun dan berjalan menuju ke minimarket yang ada di pom tersebut. Bingung mau ngapain di dalam mobil sendirian, gue akhirnya ikut turun juga dan membeli beberapa cemilan kemudian duduk santai di kursi yang berjejer di depan minimarket.
Pom bensin tempat transit waktu itu
Saat sedang santai menikmati cemilan, mbak baju pink terlihat keluar dari mini market kemudian duduk di sebelah gue. Dia memberikan sebuah senyuman. Gue jawab dengan senyuman juga. Gue bener-bener pengen ngobrol sama dia. "You speak English?" tanya gue ketika dia sudah duduk. Si mbak baju pink hanya tersenyum lagi.

Ok, gue udah tau jawabannya: dia nggak bisa bahasa Inggris.

Semua penumpang kembali menaiki van ketika mobil mini bus itu selesai mengisi bahan bakar. Van melaju tenang lagi di jalanan Provinsi Nakhon Ratchasima. Google Maps menunjukan bahwa gue sudah memasuki Distrik Bua Yai.

Nggak lama, satu per satu penumpang turun di pinggir jalan dan ada juga yang di tempat ngetem bus. Tersisa gue, mbak baju pink, satu penumpang anak laki-laki di belakang, dan supir.

Seperti ada malaikat lewat, gue tersadar satu hal.
Hal yang sangat penting.
Dan krusial.

Ini gue turunnya kapan dan dimana?!

Bua Yai itu kabupaten, bukan lapangan futsal. Gue bisa aja salah turun di Bua Yai bagian utara, padahal rumah Ploy di Bua Yai Selatan.

"Trung tung tung tung ka ni tung." Mbak baju pink berbicara ke supir van kemudian memandang ke arah gue sebentar dan lanjut berbicara ke pak supir lagi. "Mai mai trung tung rap rap."

Jika ternyata mereka bertiga sekongkol mau merampok gue, gue pasrah saat itu juga. Toh, gue cuma seorang gembel yang lagi jalan-jalan di Thailand. Paling banter, mereka dapet batik yang gue bawa buat oleh-oleh Ploy.

Si mbak baju pink memandangi gue dan berkata, "trung tung tang tung tang ting tung.". Gue pun menjawab, "mai kon Thai ka." (saya bukan orang Thailand).

Suasana hening.

Gue memutuskan untuk menyalakan internet walaupun baterai tersisa 5% dan menelpon Ploy. Gue ceritakan secara singkat keadaan saat itu dan Ploy meminta bicara dengan Si Mbak. Gue berikan HP gue dan mereka berbicara.

"Tang ying yung ka pum." Mbak baju pink memberitahu sesuatu ke pak supir setelah mengembalikan HP gue. Si supir menjawab dengan memberikan tanda 'oke' ke arah gue. Gue gelagapan. Maksudnya apa?

Internet gue matikan kembali.

Di depan deretan rumah pinggir jalan yang terlihat sederhana, van berhenti. Mbak baju pink kemudian merapikan barang-barangnya dan bersiap turun. Sebelum benar-benar turun, dia memberi gue sebuah senyuman dan anggukan. Kayak kalo di Jawa tuh, "monggo..." gitu.

Setelah semua tas di bagasi belakang milik Mbak baju pink turun, gue memberanikan diri untuk meminta foto bareng Si Mbak. Mbak ini baik, gue harus punya kenang-kenangan sama dia, pikir gue. Walaupun tanpa percakapan, gue merasa nyaman selama perjalanan bareng dia.

"Photo, please."

Tutupin dikit ye muka gue bopung banget seharian jadi bolang di Thailand
"Thank you. Khop khun ka." Ucap gue setelah berfoto. "It was nice to meet you. I hope, we can meet again some day!" gue tetap melanjutkan. Meskipun terlihat di raut muka Si mbak bahwa dia nggak ngerti namun tetap tersenyum.

"Bye bye!" gue melambaikan tangan ketika Si Mbak mulai beranjak dan turun dari van.

"Bye bye!" Si Mbak menjawab disertai sebuah senyuman dan lambaian tangan. Belakangan gue tau bahwa itu senyuman terakhir Si Mbak setelah sekian banyak senyuman yang dia beri selama perjalanan.

Van kembali melaju tenang di jalanan. Sama seperti hati gue yang tenang meskipun nggak tau akan turun dari van ini kapan.

Roda van mulai melambat ketika memasuki komplek pasar tradisional dan kian melambat ketika memasuki area seperti terminal kecil namun bersih di ujung pasar. Van sepenuhnya berhenti di depan deretan ruko, di samping mobil-mobil van yang sudah terparkir disana lebih dulu.

Pak Supir membuka pintu van. Kemudian gue melihat sosok perempuan yang duduk di bangku depan ruko yang sudah nggak asing lagi. Wajahnya sering gue lihat melalui layar HP. Dia adalah Ploy.

Gue turun dan menghampiri Ploy. Dia melihat gue dan merekam momen itu. Momen dimana gue berjalan ke arah dia dan kita saling bertukar peluk. "Look! Who's coming!". Sayang videonya udah nggak ada lagi.

Ini adalah kali pertama gue bertemu Ploy, sahabat jauh gue yang berkenalan lewat online.

Setelah sampai rumah Ploy, gue ceritakan tentang Si Mbak baju pink dan Ploy bilang, "she was a kind person bro."

"Yeah, I think so. I hope we meet again someday and talk."

Teman