23 November 2021

0

Tempat Wisata Gratis di Jogja

Kalau ada yang gratis, kenapa harus bayar?

Yup, itu adalah pepatah pegangan orang Indonesia kebanyakan, gue salah satunya. Sebisa mungkin mendapatkan sesuatu dengan harga yang murah, malah kalau bisa gratis, termasuk tempat wisata.

Siapa si yang nggak mau jalan-jalan gratis? Bisa refresh pikiran tanpa ngeluarin uang sepeser pun? Gue rasa semua orang mau.

Jogja adalah salah satu destinasi wisata favorit orang Indonesia dan terkenal dompet friendly, alias murah. Makanan di Jogja murah-murah, oleh-olehnya murah, dan tiket tempat wisatanya pun, murah! Tapi, tau nggak kalian? Di samping murah, Jogja juga punya beberapa destinasi wisata yang gratis. Sekali lagi, GRATIS!

Kalian nggak salah baca, beneran gratis dan gue sudah membuktikannya. So, here we go! 5 tempat wisata gratis di Jogja, versi Farih Ikmaliyani asek~ :

1. Masjid Gedhe Mataram Kotagede

Aduh, ini favorit gue banget! Gue udah kesini 2 kali dan selalu excited. Tempatnya luas, sepi, estetik, banyak spot foto, dan tentunya bersejarah.

Masjid Agung Kotagede Jogja. Foto oleh Farih Ikmaliyani

Masjid Gedhe adalah masjid peninggalan Kerajaan Mataram yang dibangun tahun 1640 M oleh Sultan Agung Mataram bersama rakyatnya yang kebanyakan beragama Hindu dan Budha. Nah, udah kebayang kan gimana kerennya ni masjid? Rumah ibadah orang islam, tapi yang bangun orang-orang Hindu dan Budha.

Ornamen-ornamen dan arsitektur Hindu-Budha melekat di setiap sudut masjid. Pintu masuknya aja berupa gapura kecil kayak yang biasa kita temui di pura-pura Bali. Pelatarannya pun masih didominasi bebatuan bata merah arsitektur Hindu-Budha. Di dalam masjid, kita bakal disuguhi arsitektur Jawa kuno hasil karya Sultan Agung Mataram dan diteruskan oleh Raja Kasunanan Surakarta, Paku Buwono X.

gerbang depan masjid

Yang paling unik dari Masjid Gedhe Mataram ini adalah adanya kolam pemandian dan makam kuno di kompleks masjid. Jadi, kompleks masjid ini sangat luas. Sebelum masuk ke dalam masjid, kalian bisa belok ke kiri dan akan memasuki kawasan seperti tempat pemandian dan juga makam kuno di paling ujung. Semua orang bisa memasuki area makam kuno ini namun dilarang membawa kamera dan wajib mengenakan pakaian adat Jawa. Untuk perempuan yang sedang menstruasi, dilarang masuk dulu ya bestie~

tempat kolam pemandian. dulu dipakai raja-raja

plataran depan makam kuno. sebelah kiri warna putih, itu gerbang masuk makam

Masjid ini masih aktif digunakan warga sekitar dan tentu saja siapa pun boleh masuk dan beribadah, gratis.

2. Masjid Gedhe Kauman

Masih tentang masjid, destinasi gratis di Jogja selanjutnya adalah Masjid Gedhe Kauman. Masjid cantik yang terletak di sisi kanan Alun-Alun Utara ini dibangun oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I bersama Kyai Faqih Ibrahim Diponingrat (penghulu kraton pertama), dan Kyai Wiryokusumo sebagai arsiteknya. Masjid ini dibangun pada hari Ahad Wage, 29 Mei 1773 M.

tampak depan Masjid Gedhe Kauman. foto oleh Farih Ikmaliyani

Gue sering banget ke Alun-alun Utara Jogja tapi cuma sekali mampir ke masjid ini, itu pun nggak sengaja karena berniat untuk solat.

Dari luar, masjid ini nampak seperti bangunan biasa yang dikelilingi tembok besar. Nggak menarik. Tapi setelah masuk gerbang dan sampai di pelatarannya, gue terpesona. Masjid dengan latar luas dan disain kuno terlihat semakin cantik di jam-jam golden hour waktu gue kesana. Di halaman masjid juga banyak berjejeran street food sederhana ala Jogja alias warung kucingan yang siap memberi kalian asupan selama menikmati bangunan kuno Masjid Kauman Jogja.

pelataran masjid

Arsitektur di dalam Masjid Gedhe Kauman masih sangat kental dengan disain kuno. Lampu-lampu gantung jadul dan tiang-tiang dari kayu, bikin betah lama-lama buat anteng di dalam masjid.

suasana di kota santri. eh, dalam masjid

Dibanding masjid Gedhe Mataram, Masjid Kauman ini emang nggak terlalu luas dan banyak spot foto. Tapi gue merasakan vibes yang Jogja banget ketika mengunjungi Masjid Kauman ini. Worth to visit, sekalian solat, ya kan?

3. Malioboro & Titik Nol Kilometer

Berbeda dengan Masjid Gedhe Kauman, nggak kehitung berapa kali gue ke Malioboro dan Titik Nol Kilometer Jogja. Sering banget woy!


suasana Jalan Malioboro beserta senimannya

Ikon Kota Jogja ini udah sangat terkenal. Tempat ini gak pernah sepi didatengin pengunjung, selalu ramai. Malioboro dan Titik Nol Kilometer sebenernya hanya jalanan biasa yang terdapat banyak penjual makanan dan oleh-oleh khas Jogja, serta diramaikan dengan adanya beberapa seniman lokal yang pentas di sepanjang Jalan Malioboro. Kalian bisa nemuin pedagang batik, makanan, hingga aksesoris-aksesoris lucu di sepanjang jalan Malioboro. Seniman jalanan yang bertalenta pun ramai berkumpul di jalan ini sehingga membuat suasana semakin hangat.

Titik Nol Kilometer adalah ujung dari jalan Malioboro yang berupa perempatan jalan. Di sekitar Titik Nol Kilometer ini, banyak terdapat bangunan kuno khas Eropa yang seperti membawa kita pergi kesana.

kawasan Nol Kilometer Jogja

Suasana di Malioboro dan Titik Nol Kilometer yang Jogja buanget ini mungkin yang jadi magnet wisatawan untuk selalu menghabiskan malam di sini. Jangan lupa untuk berfoto di samping plang nama Jalan Malioboro, ya! xD

4. Tugu Jogja

Lokasi yang sering gue lewatin tapi nggak pernah gue kunjungin, alias gue nggak pernah sengaja berhenti di Tugu Jogja untuk berfoto atau menghabiskan waktu disana. Gue masih ingat, dulu ada mitos jika foto bersama kekasih di Tugu Jogja, pasti hubungan nggak awet. Haha, entah.

sumber: suara.com

Tugu Jogja adalah sebuah monumen yang sering dipakai sebagai simbol Yogyakarta. Terletak di perempatan Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan Margo Utomo, tugu Jogja memiliki nilai simbolis yang merupakan garis yang bersifat magis yang menghubungkan Pantai Parangtritis, Panggung Krapyak, Keraton Yogyakarta dan Gunung Merapi.

Tugu Jogja dibangun oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I pada tahun 1755. Konon pada saat itu, Tugu Jogja digunakan oleh Sultan untuk patokannya bertapa menghadap puncak Gunung Merapi.

Saat gempa bumi besar yang terjadi pada 10 Juni 1867, Tugu Jogja ini pernah runtuh dan dibangun kembali oleh pemerintah Hindia-Belanda. Beberapa bagian diubah pada saat renovasi, namun warna putih khas tugu ini tetap dipertahankan.

Jujur, gue selalu ingin menepi ketika lewat Tugu Jogja ini. Suasananya nyaman banget, banyak lampu temaram di sekitar Tugu dan juga coffeeshop. Karena lokasinya di tengah jalan, orang bebas buat berkunjung dan gratis tentunya. Someday deh, gue mampir dan foto!

5. Pantai Seruni di Gunung Kidul

Oke, ini lokasi wisata gratis terakhir versi gue (untuk sekarang); Pantai di Gunung Kidul Yogyakarta.

Udah tau kan, kalau Jogja punya buanyak pantai pasir putih bersih dengan air sebening kristal? Yap, muka gebetan lo kalah beningnya.

Tahun 2013 gue baru tau kalau Jogja punya pantai pasir putih yang cakep-cakep. Banyak pilihan pantai pasir putih di Selatan Jogja ini. Mulai yang berbayar sampai yang gratis alias belum dikomersilkan oleh pejabat setempat.

pasir aslinya lebih cantik dari foto ini

Pantai Seruni adalah salah satu pantai yang masih alami dan masuknya gratis. Gue kesini 1 bulan lalu, saat PPKM. Beberapa pantai terkenal ditutup dan Pantai Seruni ini adalah salah satu pantai yang masih bisa dikunjungi.

chill ye ngga? padahal besoknya kerja

Beberapa vila terlihat mulai dibangun di sekitar pantai ini. Baliho-baliho rancangan pembangunan pantai juga berjejer sepanjang jalan menuju pantai Seruni. Jalannya masih jelek karena memang belum terbangun dengan baik.

Gue sampai di pantai Seruni sekitar jam 5 pagi. Hanya ada 2 tenda camping dan 3 warung berjejer di pantai. Sampai tengah hari, suasana pantai masih sepi, hanya ada beberapa kelompok pengunjung yang datang. Suasananya enak banget dan chill. Gue suka pantai pasir putih yang sepi gini.

ngopi di pinggir pantai yang sepi, kapan lagi?

Pasir putih, karang di tepi pantai, dan beningnya air laut, membuat gue betah berlama-lama di Pantai Seruni.

Kalau kalian nggak pengen ke Pantai Seruni, kalian bisa telusuri panta-pantai di selatan Jogja ini. Banyak pantai yang cantik dan masih belum terekspose.

4 Oktober 2021

3

[Review] Face Care Nggak Lengket Dari Scarlett

Setiap orang memiliki caranya sendiri untuk menyikapi pandemi covid-19. Ada yang menganggap ini waktu yang tepat untuk family time di rumah, ada yang menjadikan pandemi ini ajang memanjakan sifat introvertnya dengan anteng di kamar aja sendirian, dan ada juga yang waktu pandemi ini jadi rajin nabung alias berhemat. Sedangkan buat gue yang sebelum pandemi sering jalan-jalan, pandemi jadi waktu yang cocok untuk merawat kulit wajah secara total. Mumpung banyak di rumah dan nggak kena polusi, ngerawat kulit jadi lebih efektif.

Kebetulan, minggu lalu gue mendapat kiriman face care dari Scarlett Whitening.

Sebelum ini, gue sudah pakai produk skincare dari Scarlett. Gue naksir dengan baunya dan karena gue pakai secara teratur, kulit gue makin cerah. Jadi, gue seneng banget ketika dikirimin face-carenya ini. Nggak sabar buat coba!

Akhirnya gue nyobain dan gini pengalamannya..

Paket yang dikirim Scarlett ada 2; brightening facial wash dan acne serum. Dengan box yang segede gitu, gue pikir bakal dapet lebih dari 2 produk.

Brightening Facial Wash

sumber: website Scarlett

Si jangkung cantik yang harganya cuma IDR 75.000 ini sukses bikin gue tertarik buat ngepoin isinya. Gimana enggak? Dari luar keliatan kalau di dalam botol facial wash itu terdapat banyak kelopak bunga mawar pink. Dengan melihat dari luar, otomatis bau bunga mawar tergambar di kepala gue, padahal facial wash ini baunya nggak terlalu wangi.

Di dalam Scarlett Whitening Facial Wash terdapat kandungan Rose Petals, makanya tampak seperti ada kelopak mawar di dalamnya. Gue nggak tau itu kelopak asli atau bukan, tapi mirip banget dan bisa dipegang! Selain mengandung kandungan rose petals, facial wash ini juga mengandung Aloe Vera, Glutathione, dan Vitamin E yang digadang mampu membantu mencerahkan kulit wajah dan mengontrol minyak berlebih juga. 

Gue pakai facial wash ini untuk cuci muka sebelum tidur dan kalau habis bepergian dari luar. Gue punya beberapa facial wash alias sabun muka, tapi Scarlett Brightening Facial Wash adalah salah satu yang nggak lengket saat diaplikasi di wajah dan nggak bikin kulit wajah kering setelah pakai. Nyaman banget buat daily.

Acne Serum

Jujurly, kulit wajah gue masuk ke dalam tipe kulit wajah yang ribet; berminyak, kering, sensitif, dan gampang jerawatan. Kebayang kan lo seribet apa gue dalam memilih skincare? Perlu solat istikharoh untuk memilih skincare yang tepat dan efisien.

Dapet kiriman acne serum Scarlett, awalnya gue ragu untuk coba. "Gimana kalau abis nyobain ini muka gue makin ancur??" Gue post di story instagram kiriman Sacrlett ini dan temen gue langsung berkomentar minta acne serumnya buat dia aja kalau gue nggak mau pakai. Ternyata dia cocok dan suka dengan acne serum ini. Mendapat komentar seperti itu, gue malah jadinya yakin buat nyobain.

Gue pakai acne serum seharga IDR 75.000 ini nggak tiap hari. Gue pakai pas ngerasa muka lagi capek banget aja dan muncul bruntusan. Gue work from home, jadi kerjaan cuma di dalem rumah, ngadep laptop sampai magrib. Muka sering nggak kena sinar matahari apalagi polusi.

Acne serum Scarlett ini nggak lengket pas gue coba pegang teksturnya. Baunya juga nggak yang menyengat gitu. Waktu diaplikasiin di wajah, langsung meresap dan kering. Cepet banget. Gue pikir awalnya serum ini bakal seperti serum-serum wajah lain yang bikin wajah lengket, taunya enggak.

Gue pakai skincare udah dari jaman SMP. Krim malam adalah yang paling males gue pakai karena lengket dan bikin ga nyaman tidur, nggak bisa nempelin wajah ke bantal. Tapi anehnya, acne serum Scarlett ini meresap banget saking meresapnya nggak nempel di bantal ketika gue tidur. Gokil. Bantal aman, wajah pun menawan.

Hasil

Setelah beberapa minggu pakai 2 skincare dari Scarlett Whitening ini, muka gue menjadi lebih baik. Gue merasa lebih bersih dan minyak sedikit tekontrol. Bekas jerawat yang tadinya terpampang jelas, sedikit memudar.

No filter, cahaya paripurna pagi hari, iphone 6s, ga pakai skincare apa-apa pas foto.
Yang paling gue suka dari 2 produk face care-nya Scarlett Whitening ini adalah; nggak terjadi efek dakjal aneh-aneh ketika gue stop pemakaian. Ya biasa aja gitu, nggak yang tiba-tiba jerawat bermunculan alias ketergantungan. Cuma paling kalau gue nggak pakai acne serum ini sebelum tidur, bangun-bangun wajah berminyak dan nggak nyaman ketika pakai.

Overall, face care dari Scarlett ini recommended buat kalian yang lagi pengen coba face care ringan nggak lebay dari segi bau dan teksturnya. Harganya yang total cuma 150.000 juga menurut gue oke untuk nyobain skin care ini cocok di wajah kalian atau enggak. Nggak usah khawatir, face care ini sudah terdaftar di BPOM, jadi aman.

Anyway, balik lagi ke paragraf awal, selama pandemi ini, kalian lebih sering ngapain?

11 Juli 2021

2

Bakso di Kereta Api Isinya Cuma 3 Biji

Gue suka naik kereta eksekutif malam. Selain suasananya boboable, naik kereta malam di tengah pandemi sangat leluasa karena 2 kursi cuma diisi satu orang. Jadi gue sendirian dan kursi sebelah kosong. Makin bebas tidur dan melakukan aktivitas apa pun. Termasuk makan tanpa takut risih sama orang di sebelah.

Kemarin, 3 Juli 2021, gue pulang ke Pekalongan dengan menggunakan kereta Sembrani eksekutif yang berangkat dari Stasiun Gambir jam 7 malam. Karena nawaitunya untuk tidur di kereta, jadi outfit yang gue pakai pun boboable: celana jeans longgar + hoodie tebel + sepatu dengan kaos kaki tinggi biar nggak dingin.

Baru jalan beberapa menit, gue sudah ngantuk. Setelah kursi gue senderin, gue pun mulai memejamkan mata dan tidur. Dua jam berselang, gue bangun dan laper. Kebetulan, ada 2 karyawan (pramugari) kereta api yang lewat dan menawarkan makanan. Di antara makanan-makanan yang mereka coba tawarkan, bakso kuah berhasil mencuri perhatian gue.

"Enak nih kayaknya malem-malem gini. Dingin, makan bakso panas." batin gue.

"Mau dong baksonya satu. Berapa?"

"Dua puluh lima ribu," jawab si pramugari. Kaget. Gue pikir harganya 15 ribu-an. Akhirnya gue pun membeli bakso itu. Si Mbak mencatat pesanan gue kemudian berjalan ke gerbong makan. "Tunggu sebentar ya, nanti kami antarkan pesanan ibu."


Selang beberapa menit, sebuah cup bertuliskan "Bakso Enak" mirip wadah pop mie sudah di depan mata. Saat gue terima, cup bakso "Bakso Enak" itu tertutup rapat. Ada sambel-kecap-saus dan sendok yang diberikan terpisah di dalam plastik. Kuahnya panas, terlihat dari asap yang keluar secara intens dari dalam cup. Gue penasaran, apakah rasanya benar-benar enak seperti tulisan yang di cupnya tersebut?

Gue aduk-aduk isi cup itu sambil menghitung berapa biji bakso yang ada di dalam sana. Guys, menghitung jumlah biji bakso yang akan kita makan ini penting untuk menentukan berapa lama waktu untuk menghabiskannya. Adukan pertama, hasil hitung jumlah baksonya 3 biji + 1 tahu kulit mini. Nggak percaya, gue aduk lagi, dan hasilnya masih sama: 3 biji bakso kecil + 1 tahu kulit mini

Sepi bet ni cup isinya cuma 3 biji bakso + 1 tahu kulit yang nggak gede-gede amat?!

Tambahan mie kuning di dalamnya, belum cukup membuat cup bakso ini terlihat penuh.

Buat traveler low budget alias bokek kayak gue ini, 25.000 rupiah untuk seporsi bakso, harusnya bisa lebih banyak isinya.

Sudah dibeli, masa tidak dimakan? Ya, akhirnya gue makan bakso harga 25 ribu yang berisi 3 biji ini.

Setelah gue tiup-tiup, kuahnya gue cicipin. Asin, rasanya kayak kuah Indomie ayam bawang, pas buat gue yang emang suka asin dan nggak berekspektasi tinggi soal makanan. Tapi untuk kalian yang emang ngerti makanan, kuah bakso "Bakso Enak" ini bakal dinilai biasa aja. Cita-rasanya kurang. Terlalu sederhana, asin doang. Minimalis banget konsep kuahnya.

Untuk baksonya, meskipun kecil tapi lumayan kerasa dagingnya nggak cuma tepung doang. Baksonya nggak pelit urat, tapi juga nggak banyak-banyak amat. Ya.. tergolong niatlah untuk menjadi sebuah bakso.



Tahunya sendiri agak nggak niat ya, Bun. Terlalu kecil dan lemes. Kayak nggak semangat jadi tahu. Sekali caplok, tahu mini itu pun hilang di dalam mulut gue. Rasa tahunya standar banget kayak tahu pada umumnya.

Mie kuning yang ada di antara bakso dan tahu, rasanya biasa banget. Sedikit hambar, mirip mie kuning yang dijual abang gerobak bakso komplek.

Gue pecinta kecap dan nggak suka pedeas. Tapi untuk kali ini gue sedang nggak pengen menambah rasa manis dan pengen ngerasain sensasi pedes dikit di dalam bakso. Jadi gue tambahi sambel sebanyak sekitar 3 tetes. Gue pikir sedikit rasa pedas akan menambah cita rasa hangat di perut gue.

Karena gue lapar dan merasa kedinginan, bakso 25 ribu itu pun gue habiskan tanpa waktu lama. Lumayan, menghangatkan badan.

Oh iya, ini adalah kali pertama gue beli bakso di dalam kereta. Sebelumnya, menu yang sering gue nikmati di kereta api adalah nasi sapi lada hitam.

So far, bakso 'Bakso Enak' KAI ini nilainya: biasa aja, buat gue. Tapi cukup buat penghangat badan dan memenuhi mulut dengan rasa asin. Kuahnya enak, bikin gue ngerasa kayak lagi menikmati Indomie kuah ayam bawang.

Biar kayak blogger-blogger review yang lain, gue kasih nilai 'Bakso Enak' ini 6 dari skala 10.

Itu cerita gue menikmati bakso kereta api pertama kali. Kalian pernah makan bakso ini juga nggak? menurut kalian gimana rasanya?

8 Desember 2020

1

Dosen Terbaik Sedunia

Tulisan ini akan panjang. Tapi tidak akan mampu lebih panjang dari kebaikan-kebaikan Pak Pri kepada saya.

Momen buka puasa bersama Pak Pri & Anak-anak tahun 2018

Satu pagi di tahun 2014, seorang dosen dengan mengenakan kemeja kotak-kotak, celana panjang jeans, dan sepatu kets ala anak muda masuk dan mengisi kelas 'Bisnis dan Politik'. Dengan singkat dan tanpa banyak menulis di papan tulis, beliau mengakhiri kelas dengan kesan menyenangkan. Sejak hari itu, beliau sukses mendapat tempat di hati gue sebagai salah satu dosen favorit. Namanya Priyatno Harsasto.

Hari demi hari terlewati, tibalah gue di semester 5, dimana setiap mahasiswa mendapatkan dosen pembimbing skripsi dengan cara acak. Gue pasrah dan hanya berdoa agar dosen pembimbing gue nanti bisa mempermudah proses kelulusan. Tanpa disangka, nama gue ada di list daftar mahasiswa bimbingan Pak Pri, sapaan akrab Pak Priyatno Harsasto. Setelah itu, hari-hari perkuliahan gue menjadi lebih menyenangkan. Gue dan Pak Pri menjadi akrab karena sering berkomunikasi. Banyak cerita mengesankan terjadi, hingga beberapa mahasiswa lain sering mengatakan; "Farih mahasiswa kesayangan Pak Pri".

Oleh-oleh dari Thailand

Normalnya, mahasiswa semester akhir akan fokus ke skripsi dan berusaha keras untuk segera lulus. Namun tidak untuk gue yang memang kurang normal ini. Di tahun keempat kuliah, gue malah melancong ke Thailand sendirian selama hampir 2 minggu. Gila kan?

Gue merahasiakan perjalanan ke Thailand ini kepada semua dosen termasuk Pak Pri. Bahkan teman-teman satu jurusan gue pun sudah gue wanti-wanti agar tutup mulut soal ini di depan para dosen.

Pulang ke Indonesia, satu hal yang paling gue takuti waktu itu, yaitu: menghadap Pak Pri untuk bimbingan skripsi setelah berminggu-minggu mangkir. Karena takut itulah, gue malah menunda-nunda untuk bertemu beliau.

"Rih, kok lo gak konsul skripsi?" tanya salah satu teman gue saat kita sedang beristirahat di kantin. "Lo dicariin Pak Pri tuh kemaren. Udah 2 bulan katanya lo gak bimbingan."

"Iya nih, gue belum selesai revisinya. Lagian takut juga udah lama gak konsul, takut diamuk." jawab gue waku itu.

"Lo lebih takut diamuk Pak Pri atau gak wisuda tahun ini?"

"..." Gue tersadar. "Oke, besok gue nemuin Pak Pri."

Besoknya, dengan membawa revisian skripsi seadanya, gue memberanikan diri menemui Pak Pri di ruang jurusan. Baru sampai di depan pintu, gue berpikir untuk putar balik, pulang ke kosan. 

Gimana nanti kalau Pak Pri marah dan gak mau bimbing skripsi gue lagi? Gimana nanti kalau gue harus ganti dosen? Gimana nanti kalau dosen barunya minta gue ubah judul skripsi dan ngulang dari awal? Kelar deh lo Rih, nikah aja udah nggak usah wisuda!

Pikiran-pikiran negatif muncul akibat ketakutan gue saat itu. Akhirnya, setelah beberapa menit mematung di depan pintu ruang jurusan, gue menarik satu nafas panjang dan melangkahkan kaki masuk.

Dari kejauhan, ruangan Pak Pri yang berupa bilik kayu 9 meter persegi berderet dengan bilik dosen lain terlihat. Disana, duduk dengan tenang Pak Pri sambil membaca lembaran kertas di tangannya. Gue makin gugup. Langkah gue makin pelan mendekati meja beliau.

Gue berdiri diam di depan meja Pak Pri. Melihat ada sosok di depannya, Pak Pri meletakkan kertas yang ia baca dan mengalihkan pandangannya ke gue. Gue berusaha untuk senyum semanis mungkin menyambut tatapan Pak Pri, meskipun degup jantung udah nggak karuan.

Pak Pri tersenyum ke arah gue. "Eh kamu nduk, baru keliatan. Mana oleh-oleh dari Thailand-nya buat saya?". Setelah itu ia tertawa kecil. "Kok nggak bawa apa-apa ki piye?". (kok nggak bawa apa-apa itu bagaimana?)

Lah.

Lahhh.

Di luar dugaan, ternyata respon Pak Pri nggak sesuram yang gue pikir. Masih sehangat biasanya. Bahkan konsultasi skripsi hari itu berjalan lebih dari 3 jam dan banyak berisi tentang sharing pengalaman jalan-jalan gue ke Thailand. Pak Pri begitu antusias mendengarkan cerita-cerita gue. Beberapa kali kami berdua menertawakan kebodohan-kebodohan gue selama jalan-jalan.

Sampai sekarang, masih menjadi misteri, siapa yang membocorkan rahasia gue ke Thailand pas skripsian kepada Pak Pri.

Mahasiswa Wajah Muram

Satu angkatan kuliah biasanya akan lulus bersama atau setidaknya dalam waktu yang berdekatan. Dalam hal ini, dosen pembimbing skripsi benar-benar menjadi salah satu faktor penentu durasi kuliah mahasiswa. Gue beruntung punya dosen pembimbing sebaik Pak Pri. Tapi nggak semua mahasiswa seberuntung gue. Beberapa mahasiswa yang nggak beruntung itu, bahkan untuk konsultasi secara nyaman aja nggak bisa dengan dosen pembimbing mereka. Apalagi lulus cepet(?)

Siang itu, seperti biasa, tanpa janjian terlebih dahulu, gue berniat konsultasi skripsi dengan Pak Pri. Gue yakin Pak Pri pasti ada di ruangannya dan memiliki waktu untuk gue ganggu dengan pertanyaan-pertanyaan seputar perilaku politik masyarakat Indonesia, tema skripsi gue.

Setelah melewati dan menyapa beberapa teman satu jurusan yang duduk berjejer menunggu dosen pembimbing mereka di depan ruang jurusan, gue memasuki ruang kerja dosen itu.

Dengan menenteng lembar-lembar revisi skripsi, gue melenggang masuk berjalan menuju meja Pak Pri. Ketika melewati bilik-bilik dosen lain, gue melihat beberapa teman kelas sedang duduk di hadapan dosen pembimbing mereka masing-masing. Ada yang lagi ngobrol santai, ada juga yang terlihat muram-masam diceramahin dosen di hadapannya.

Pak Pri sedang ngobrol dengan dosen lain saat gue datang. "Eh, Nduk, arep ngopo?" (eh nak, mau ngapain?) Pak Pri menyapa.

"Mau konsul bab 3 Pak, kalau Pak Pri lega. Revisiannya sudah selesai." jawab gue.

"Mana coba tak liat dulu." Pak Pri menyelesaikan obrolannya dengan dosen tadi kemudian mempersilakan gue duduk.

Setelah selesai membahas skripsi gue, seperti biasa, kami ngobrol ngalor-ngidul dengan santainya. Lalulalang mahasiswa maupun dosen lain lewat di belakang gue ketika kami berdua ngobrol. Sampai ada satu mahasiswi berjalan di belakang gue dengan muka lesu gundah gulana mendung hampir hujan. Pak Pri melihat mahasisi itu lewat.

"Farih, itu teman kelasmu bukan?" tanya Pak Pri sesaat setelah mahasiswi tadi melewati kita berdua.

"Iya Pak, itu teman sekelas saya. Kenapa ya Pak?"

"Siapa namanya?" tanya Pak Pri lagi tanpa menjawab pertanyaan gue.

"Namanya Depe, Pak."

"Dari kemarin saya liat dia bolak-balik ke ruang jurusan nggak ketemu siapa-siapa, terus sering nunggu di depan sendirian sampai sore. Ini sekarang malah wajahnya nggak karuan gitu." Pak Pri melanjutkan, "dosen pembimbingnya siapa ya? Kamu tau nggak?"

"Dosen pembimbingnya Pak Adi*, Pak." jawab gue singkat. Pak Adi memang terkenal sebagai dosen sibuk dan sedikit killer. *nama samaran

"Oh, pantesan. Kasian saya liatnya. Nanti skripsinya nggak selesai-selesai." Gue mengangguk-angguk mendengarkan. "Kamu samperin dia ya Farih. Bilang sama dia kalau dia bisa konsultasi skripsi sama saya. Nanti saya bantu bimbing skripsinya biar cepet selesai. Walaupun saya bukan dosen pembimbingnya secara resmi, nggak papa kok nanti dia bisa nanya dan saya ajarin nyusun skripsinya."

Sedikit kaget gue dengan ide Pak Pri itu, tapi gue mengiyakan.

Keesokan harinya di kelas, gue menemui Depe dan mengatakan apa yang kemarin Pak Pri sampaikan. Sejak hari itu, gue nggak pernah lagi melihat wajah muram Depe. Dia rutin menemui Pak Pri untuk menyusun skripsinya hingga selesai dan wisuda.

Pak Pri memang sebaik itu kepada semua mahasiswanya. Mengenang ini, mata gue lembab.

Omongan Pak Pri Di Belakang

Mungkin beberapa orang nggak percaya kalau gue memang jarang membuat janji terlebih dulu sebelum konsultasi skripsi dengan Pak Pri. Seringnya, dosen pembimbing skripsi identik dengan imej sibuk, galak, dan mempersulit mahasiswa. Tapi semua itu nggak ada di diri Pak Pri, sama sekali. Beliau benar-benar baik hati dan selalu memudahkan urusan mahasiswanya. Di luar urusan skripsi, beliau juga menyediakan banyak waktu.

Nggak terhitung berapa kali gue menghabiskan waktu berjam-jam sekedar bertukar cerita dengan Pak Pri. Dari bahasan politik sampai hal-hal yang bersifat pribadi seperti masa lalu Pak Pri ketika bekerja sebagai loper koran di Jepang, cerita kuliah Pak Pri di Jepang dan New Zealand, cerita-cerita menarik tentang anak-anak Pak Pri, cerita kegiatan gue di luar kuliah, sampai cerita lucu kucing-kucing peliharaan Pak Pri di Solo. Itu semua membuat gue dekat dengan beliau dan selalu rindu ingin mendengar ceritanya lagi dan lagi.

Pak Pri mengirim gambar kucing-kucingnya
Satu siang, setelah kelas selesai, gue berniat menemui Pak Pri untuk sekedar ngobrol. Santai banget kan? Dosen mana lagi yang bisa diajak ngobrol se-nyaman beliau?

Seperti biasa, gue melewati lobi jurusan. Saat itu lobi jurusan nggak terlalu ramai. Hanya ada satu dua mahasiswa yang duduk sibuk dengan buku-bukunya.

Gue memasuki ruang jurusan. Sama seperti lobi, ruangan luas yang berisi bilik-bilik itu nggak terlalu ramai. Gue berjalan menuju meja Pak Pri. Saat hampir sampai ruang Pak Pri, gue berhenti. Jarak gue dan ruang Pak Pri sekitar 3 bilik. Dari situ gue bisa melihat Pak Pri sedang berbicara dengan seorang dosen perempuan berjilbab. Dari jarak ini, gue mampu mendengar apa yang mereka bicarakan.

Iya, gue nguping.

Gue kaget ketika mendengar nama 'Farih' disebut dalam percakapan antara Pak Pri dan dosen perempuan itu. Karena semakin penasaran, gue mempertajam indera pendengaran yang gue miliki agar percakapan dua dosen itu jelas.

"Iya Bu, mahasiswa kuwi pancen kreatif." kata Pak Pri dalam bahasa Jawa. (Iya Bu, mahasiswa itu memang kreatif). "Dia punya blog dan usaha dekor gitu. Kemarin jalan-jalan ke luar negeri sudah pakai uang sendiri."

"Oalah pantes skripsinya lama." jawab sang dosen perempuan.

Ternyata Pak Pri dan sang dosen perempuan sedang membicarakan gue.

"Dia juga kerja di lembaga survey kalau weekend. Wes jan (udah pokoknya), Farih itu aktif terus. Saya juga kadang heran gimana dia bagi waktunya. Tapi saya seneng mahasiswa aktif gitu." timpal Pak Pri. "Saya salut sama dia."

Gue terenyuh. Dalam posisi masih nguping secara khidmat, gue pengen berterimakasih langsung ke Pak Pri. Bagaimana dia memuji gue di depan dosen lain, padahal di depan gue jarang banget?

Sebelumnya, kadang gue pikir penilaian Pak Pri jelek karena gue termasuk mahasiswa yang malas dan lambat dalam mengerjakan skripsi. Soal kuliah pun, gue bukan mahasiswa yang cemerlang dibanding mahasiswa lain. Pak Pri bisa menjelek-jelekan gue di depan dosen itu kalau dia mau. Tapi ternyata enggak. Pak Pri mengerti kesibukan gue di luar kuliah karena gue sering cerita hal itu kepada beliau. Gue nggak nyangka beliau melihat itu sebagai hal positif dan menceritakannya kepada dosen lain.

Betapa baiknya bapak dosen satu itu.

Nggak lama, percakapan Pak Pri dan sang dosen perempuan selesai. Dosen perempuan tersebut kembali ke ruangannya. Pak Pri masih belum melihat keberadaan gue saat itu.

Setelah menyembunyikan rasa bahagia dari raut wajah, gue melangkahkan kaki mendekati meja Pak Pri. Dan seperti biasa, Pak Pri menyapa kedatangan gue dengan ramah, "Eh, kamu nduk. Sini duduk."

Hari itu, gue dan Pak Pri membicarakan banyak hal sampai sore. Hangat, seperti biasanya Pak Pri memberi kesan kepada mahasiswa lainnya.

---

Jumat pagi, 13 November 2020, gue dikagetkan dengan berita duka yang sama sekali nggak gue bayangkan sebelumnya. Dengan mata yang masih setengah merem, gue membaca puluhan chat masuk melalui whatsapp. Satu dua pesan masuk gue baca, gue masih nggak percaya. Gue telpon salah satu pemberi informasi di whatsapp tersebut, Depe. Dan benar, berita itu terkonfirmasi. Pak Pri meninggal dunia Jumat dini hari karena sakit.

Gue masih nggak percaya.

Gue telpon teman-teman gue yang lain, satu per satu. Semuanya mengkonfirmasi berita duka itu; Pak Pri sudah pulang.

Mendadak, cerita-cerita Pak Pri berhamburan di kepala gue, memenuhi ingatan dan tanpa bisa dibendung lagi, air mata gue berjatuhan.

Rencana surprise ulang tahun Pak Pri yang selalu tertunda tiba-tiba menguap muncul dengan jelas di ingatan. Permintaan Pak Pri untuk membuat kalender foto mahasiswa bimbingan skripsi beliau yang bahkan kami lupakan.

Dosen paling baik itu telah pulang.

Dosen yang selalu menanyakan kabar mahasiswanya, dosen yang selalu support mahasiswanya, dosen yang mengerti cara membagikan ilmunya dengan baik, dosen yang terbuka dengan segala diskusi, dosen yang selalu ada untuk mahasiswanya, dosen yang paling ramah, dosen yang selalu memudahkan urusan mahasiswanya, dosen yang nggak pernah marah, dosen yang selalu kirim guyonan ala bapak-bapak di whatsapp, dosen yang nggak pernah absen kirim informasi lowongan kerja, dosen yang selalu bangga menceritakan cerita SMA-nya bersama Jokowi, dosen yang selalu baik dengan siapa pun, dia telah pulang.

Kini grup whatsapp "Pak Pri & Anak-anak" yang gue buat 2 tahun lalu sepi. Nggak ada lagi chat beliau. Gue menyesal, jarang merespon guyonan atau chat perhatian beliau di grup itu.

Gue kehilangan sosok bapak setelah ayah kandung gue, gue kehilangan pembaca setia blog gue, gue kehilangan satu-satunya orang yang selalu berkomentar di fan-page facebook gue.

Tanpa beliau, mungkin gue nggak bisa lulus tepat waktu.

Tanpa beliau, mungkin gue nggak bisa skripsian sambil nge-gojek tiap pagi dan sore.

Tanpa beliau, mungkin kuliah gue nggak seasik itu.

Dia-lah Pak Pri, dosen yang bajunya selalu dipenuhi bulu-bulu kucing, Priyatno Harsasto, dosen terbaik sedunia.

17 Juli 2020

9

Sunset dan Gorengan

Hari itu Bapak pulang dari pasar lebih awal dari biasanya. Azan ashar selesai, Bapak sudah di rumah.

"Bapak mau ajak kamu lihat matahari terbenam di atas bukit." Ucap Bapak ketika aku menanyakan soal kepulangannya ini. "Ayo! Mumpung lagi cantik. Mumpung ada waktu." Begitu bersemangatnya Bapak, hingga ia lupa berganti pakaian.

Melihat matahari terbenam di atas bukit di pinggir pantai adalah hal paling menyenangkan dan terakhir aku melakukannya Agustus lalu.

Aku bersiap. Topi rimba motif tentara ku pakai dan tentu talinya ku kencangkan. Bapak sudah di depan rumah, duduk tersenyum di atas sepeda tuanya, siap mengayuh. Aku pun buru-buru duduk di belakang Bapak. "Let's go Pak!"

"Kenapa pakai topi itu? Kan banyak topi yang lain?" Bapak bertanya di perjalanan.

"Topi ini banyak kenangan bahagianya Pak. Aku suka."

Sepeda kami berdenyit melewati jalan aspal murahan dan berbatu. Sawah dan kebun tebu bergantian menghibur kami selama perjalanan, sedikit meringankan perih di pantat gara-gara jalanan kurang ajar.

Setelah melewati belokan ke kanan terakhir, bukit yang kami tuju terlihat. Aku gagal menyembunyikan senyum bahagia yang terlalu lebar ini.

Jalanan mulai menanjak. Artinya, tempat cantik itu kian dekat. Bapak tetap mengayuh, walaupun lebih pelan dari sebelumnya. Pelan-pelan, terlihat beberapa orang berjalan menuju bukit yang sedang aku dan Bapak tuju.

Bapak memarkir sepedanya di samping warung yang hanya satu-satunya di bukit itu. Warung itu menjual kopi dan segala rupa gorengan hangat. Pemiliknya juga menyukai senja, seperti kami. Mungkin itu alasannya berjualan disini.

"Kamu kesana dulu ya. Bapak mau beli kopi sambil nunggu gorengan." Bapak menunjuk sudut di atas bukit yang menurutnya adalah lokasi paling pas untuk memandangi matahari terbenam.

Dengan perasaan bahagia luar biasa, aku duduk di tempat yang Bapak tunjuk tadi, sebuah batu yang seperti sudah ditata untuk diduduki manusia. Di sekitarku, banyak orang yang menunggu si cantik senja menampakkan dirinya. Mereka ada yang sendirian, berdua bersama kopi, dan berkelompok duduk mengelilingi sepiring gorengan.

sumber: jogjakartour.com/
Aku duduk termenung sendirian di antara riuhnya orang-orang yang bercengkrama dengan orang-orang terdekatnya. Senja sedikit mengintip, cahayanya terlihat tak sabar ingin keluar.

"Nih, cireng buat temen ngelamun, biar makin asik ngelamunnya." Bapak tiba-tiba muncul di sampingku, dengan membawa sepiring penuh gorengan berbagai rupa di tangan kiri, sedangkan tangan kanannya terlihat sibuk dengan dua cangkir kecil kopi hitam yang terlihat sedikit tumpah.

"Nggak sabar Pak, kayaknya senja kali ini bakal cantik banget." kataku setelah meletakkan dua cangkir kopi di atas batu yang terlihat seperti meja di depan kami.

Bapak duduk di batu yang kami jadikan kursi di sampingku lalu menyeruput kopi di cangkirnya sedikit. "Kenapa kamu suka sekali dengan senja?".

"Ya, karena cantik, Pak." jawabku. "Indah sekali dipandang mata telanjang. Lagian, memang ada orang yang nggak suka senja, ya?"

"Bapak suka. Tapi nggak segila kamu."

"Kenapa?"

"Senja itu jahat Dik." Bapak mencomot singkong goreng dari piring. "Dia cantik tapi egois. Suka-suka sendiri mau datang kapan. Kadang datang tapi dengan mood jelek. Kadang malah nggak datang sama sekali, padahal sudah ditunggu lama."

Dahiku mengernyit.

"Jangan terlalu gila menyukai sesuatu atau kamu akan sering kecewa." Bapak melanjutkan. "Apa yang kita kejar, belum tentu menghargai kita."

"Iya Pak."

Kemudian suasana bapak-anak ini menjadi khidmat. Hanya terdengar mulut yang sama-sama mengunyah gorengan pilihan yang diselingi bunyi "sluurp" dari bibir cangkir kopi.

Sore itu senja sedang baik padaku dan Bapak. Dia memperlihatkan cantiknya. Setidaknya menghargai pantat kami yang ternaniaya jalanan kurang ajar saat menuju ke bukit ini.

Terimakasih ya.

---

Anjayy up juga nih tulisan setelah hampir setahun mendekam di 'draf'. Sore ini akhirnya selesai dan posted.

Btw, sunset-nya Jogja kenapa sering memikat ya?

Teman