25 Januari 2019

9

Cara Murah ke Bali dari Semarang PP

Kalau ngebayangin "Bali", yang ada di kepala gue adalah: mahal, ribet, mahal, ribet, miskin, busung lapar.

Berkali-kali gue diajak ngetrip ke Bali dan selalu gue tolak karena menurut gue Bali enggak menarik dan nggak bisa dinikmati kalau kita nggak kaya raya. Tapi ternyata anggapan gue itu salah dan gue sudah membuktikannya di awal tahun 2019 ini.

I love Bali even though I don't have much money!


Akhir tahun 2018, gue diajak salah satu teman gue, namanya Ayas, backpackeran ke Bali dan gue meng-iya-kan.

"Sejuta doang kok kak budgetnya, nggak lebih." kata Ayas waktu itu, dengan mimik muka layaknya sales kompor gas.

"Ciyus? Miapahh?" tanya gue. Karena jijik, Ayas membunuh gue.

"Serius Kak! Kita ikut Kadek mudik naik kereta. Di Bali-nya kita bisa pinjem motor dan nginep di rumah Kadek." Ayas masih dengan gaya salesnya.

"Iya Kak! Naik kereta ke Bali gampang dan murah banget!" Kadek menambahi. Mereka terlihat seperti dua sales kompor gas yang semangat.

Penawaran menarik. Akhirnya gue, Kadek, dan satu teman lagi berangkat ke Bali tanggal 29 Desember 2018. Sayangnya, Ayas batal ikut karena urusan pekerjaan.

Backpacker-an gue kali ini termasuk over budget karena kurang persiapan. Tapi nggak masalah, masih termasuk 'murah' dan semoga cerita gue ini bermanfaat buat kalian.

---

Gue dan teman-teman berangkat ke Bali lewat Surabaya menggunakan kereta api Maharani dengan harga tiket Rp49.000,00. Kereta kami berangkat jam 11.40 WIB dan tiba di Surabaya Pasarturi jam 16.27 WIB.

Gue pesan tiket kereta langsung melalui aplikasi KAI Access
Sampai Stasiun Pasarturi, kami bertiga bingung harus naik apa ke Banyuwangi karena kereta yang biasa dinaikin Kadek dari Surabaya ke Banyuwangi waktu itu habis. Ya gimana, trip ini memang trip dadakan. #GakNekatGakBerangkat

Opsi terakhir, akhirnya kami berangkat ke Pelabuhan Ketapang Banyuwangi menggunakan suttle bus (travel) dengan harga tiket Rp150.000,00. Padahal kalau lebih prepare, kita bisa naik kereta dari Stasiun Surabaya Gubeng ke Banyuwangi dengan harga tiket cuma Rp56.000,00. RUGI BANYAK!

Sampai di Pelabuhan Ketapang Minggu pagi, gue dan teman-teman langsung menuju loket pembayaran, kemudian bergegas menuju kapal. Biaya penyebrangan ke Pelabuhan Gilimanuk Rp6.500,00 dan harus menggunakan kartu e-toll.

Sesampainya di Bali, kami menuju rumah Kadek yang berada di Jembrana untuk beristirahat dengan menumpang angkot seharga Rp10.000,00. Kalau kalian mau langsung ke Denpasar, bisa menggunakan bus kota dengan tarif Rp30.000,00.

Dari Jembrana, gue menuju Tabanan, rumah Om-nya Kadek menggunakan bus. Biaya bus ini Rp30.000,00 juga. Dari Tabanan kami ke Denpasar menggunakan motor milik Om-nya Kadek.

---

Karena terlalu asik menikmati Bali, gue selesai jalan-jalan tanggal 2 Januari jam 9 malam. Padahal bus yang ingin kita tumpangi cuma beroperasi sampai jam 8 malam. Tarif bus (rencana gue) itu Rp30.000,00.

Pilihan terakhir adalah menggunakan bus malam dari terminal Mengwi menuju Pelabuhan Gilimanuk dengan biaya Rp150.000,00! Mahal gila. Oknum tiketing bus menaikan harga tiket bus malam itu. Penumpang lain di bus itu banyak yang protes. Mereka bilang, normalnya tarif bus malam yang gue naikin itu berkisar antara 90.000 sampai 100.000 rupiah per orang.

#GakNekatGakBerangkat
Nekat malah jadi miskin.

Jam 4 pagi tanggal 3 Januari gue menyebrang dari Pelabuhan Gilimanuk menuju Banyuwangi dengan harga tiket sama seperti ketika gue berangkat, Rp6.500,000.

Sampai di Pelabuhan Ketapang, gue berjalan kaki sekitar 10 menit menuju Stasiun Banyuwangi Baru. Jarak antara Pelabuhan Ketapang dan Stasiun Banyuwangi deket banget. Untuk backpacker gue saranin jalan kaki aja. Teguhkan pendirian karena bakal banyak supir-supir angkot dan ojek menawarkan angkutan mereka dengan segala macam rayuan.

Dari Banyuwangi, gue menggunakan kereta api menuju Solo Stasiun Purwosari dengan kereta Sri Tanjung. Kereta ini berangkat jam 6.30 pagi dan sampai Solo jam 18.30 dengan tarif Rp94.000. 

Iya, kalian nggak salah baca. 12 jam penuh gue di kereta!
Dari Solo menuju Semarang, banyak opsi transportasi yang bisa gue gunakan: bus dan beberapa kereta. Gue memilih menggunakan kereta api baru KAI yaitu kereta Joglosemarkerto. Selain ingin mencoba kereta baru, kereta jadwal keberangkatan kereta Joglosemarkerto adalah yang paling dekat dengan jam kedatangan gue di Solo. Jadi nunggunya nggak terlalu lama. Harga tiket untuk kereta ini adalah Rp48.000,00.

Gue nunggu di stasiun sekitar 1.5 jam
Sampailah gue di Stasiun Tawang Semarang tengah malam.

Gitu cuy,cara jalan-jalan pulang pergi dari Semarang ke Bali. Untuk lebih jelasnya gue rangkum biaya perjalanan dengan tabel di bawah ini ya.


Total biaya berangkat gue = Rp265.500,00 seharusnya bisa dihemat menjadi Rp141.500,00.

Total biaya pulang gue = Rp298.500,00 seharusnya bisa dihemat menjadi Rp178.500,00.

Ada dua opsi rute ke Bali dari Semarang naik kereta :
  • Semarang - Surabaya - Banyuwangi
  • Semarang - Solo - Banyuwangi
Jadi itu pengalaman pertama gue backpackeran ke Bali. Semoga bermanfaat buat kalian. Maaf kalau penjelasan gue masih membingungkan. Gue bakal belajar buat nulis cerita budgeting gini ke depannya.

Cheers!

Jangan lupa tulisan ini dishare ya.. Siapa tau berguna buat orang lain juga.

20 Januari 2019

12

Starting Travel Blog This Blog

Gue serius, pengen bangun travel blog. Dari tahun kemarin, jadi travel blogger adalah salah satu resolusi gue. Tapi, kemalasan dan segala tetek bengek menuju gelar sarjana melumpuhkan hal itu.

Tahun ini gue pengen coba lagi. Awalnya gue bingung, blog traveling gue dijadiin satu aja di sini atau dipisah, karena jelas isi kontennya beda. Blog farihikmaliyani.com isinya tulisan random gado-gado ngaco dan fartravelblog.blogspot.com isinya serius tentang traveling.

Tahun lalu gue sempet kepikiran dipisah dan lahirlah blog fartravelblog.blogspot.com yang selama setahun cuma berhasil posting 5 tulisan. Cupu.

Tampilan depan blog fartravelblog.blogspot.com

Punya blog dua bikin gue nggak fokus dan bingung mau nulis dimana. Ujung-ujungnya malah nggak nulis.

Setelah bersemedi beberapa waktu lamanya, akhirnya gue memutuskan untuk serius di satu blog aja. Untuk memantapkan hal itu, gue iseng bikin polling di instagram dan hasilnya makin menguatkan gue kalau cukup punya satu blog yang nantinya bakal gue isi soal traveling dan tetap ada tulisan random.

Gue jadi inget tulisan pertama gue di blog fartravelblog setahun lalu :


Masih sama seperti apa yang gue tulis di postingan pertama fartravelblog: gue bakal nulis tentang cerita jalan-jalan, budgeting, tips soal backpacker, dan segala jenis tulisan tentang pengalaman gue selama jalan-jalan. Gue selalu ngerasa bersalah ketika ada orang yang nanyain, "Rih katanya mau nulis tips backpackeran di blog?" "Rih, kapan ngasih tips backpackeran ke Thailand?", dan lain-lain yang hanya gue jawab dengan kalimat PHP: "Nanti ya, tunggu aja di blog gue."

Maaf ya, netijen.

Oke, resolusi gue tentang dunia blog tahun ini nggak muluk-muluk. Gue cuma pengen rajin nulis dan konsisten. Itu aja.

Semoga ini awal yang baik. Gue pengen serius jadi blogger, orang yang punya blog dan merawat blognya. Hahaha.

Semakin kesini, semakin kenal banyak blogger, gue jadi semakin ngerti kalau blogger adalah hoby yang banyak memberikan hal baik.

Semoga bisa konsisten, I am starting my travel blog this blog.

By the way, gimana Januari kalian?

Teman