Selasa, Mei 22, 2018

4

[Review Film] Coco - Lee Unkrick, Bikin Nangis di Bulan Ramadan

Setelah menimbang-nimbang hal apa yang akan dilakukan untuk menghabiskan hari Minggu jenuh di bulan Ramadan ini, akhirnya pilihan gue jatuh pada menonton film Coco. Film tahun 2017 yang nggak sempat gue tonton di bioskop dan kata temen-temen gue film bagus ini gue kira film tentang cokelat-cokelat gitu. Ternyata bukan tentang cokelat sama sekali.

https://cinelatinofilmfestival.com.au/films/coco
Awalnya gue meremehkan film Coco. Nggak tertarik sama sekali. Gue pikir film ini sama kayak kebanyakan film animasi lain, bakal ngebosenin apalagi ada bumbu musikal di dalamnya. Tapi ternyata gue salah. Negative thinking gue ke film, salah lagi. Film ini bagus dan berhasil bikin gue nangis di siang Ramadan.

Film Coco menceritakan tentang seorang anak laki-laki berusia 12 tahun bernama Miguel yang tinggal di salah satu desa di Meksiko bersama keluarga besarnya yang bekerja sebagai pembuat sepatu. Keluarga Miguel sangat anti terhadap musik. Ini yang jadi masalah, karena Miguel menyukai musik dan ingin menjadi musisi.

Saking antinya terhadap musik, keluarga Miguel akan memarahi siapa pun yang bernyanyi atau pun membunyikan alat musik di sekitaran rumah Miguel. Ketidak suka-an keluarga Miguel terhadap musik bukan tanpa alasan. Penyebabnya adalah kakek buyut Miguel, dulu, meninggalkan keluarga karena ingin mengejar karir sebagai musisi. Dari situlah, keluarga Miguel beranggapan bahwa musik adalah hal yang buruk dan harus dihindari.


Miguel nggak setuju dengan kepercayaan keluarganya yang menganggap musik adalah hal yang buruk.

Yang namanya mimpi harus dicapai ye kan... Miguel tetap ingin menjadi seorang musisi yang hebat seperti idolanya, Ernesto de la Cruz. Miguel berusaha menggapai mimpinya itu dengan sembunyi-sembunyi dari keluarga dan sampai pada akhirnya, dalam perjalanannya menggapai mimpi menjadi musisi, Miguel malah mendapatkan pelajaran hidup bahwa keluarga adalah hal terpenting di hidupnya lebih dari apa pun.

Dalam perjalanan Miguel menggapai impian menjadi musisi, secara tidak sengaja dia dibawa ke alam baka, bertemu keluarga-keluarganya yang sudah meninggal. Petualangan pun dimulai disana.


Gue nangis di bagian akhir. Film ini bener-bener bisa membawa gue masuk ke dunia Miguel, berpetualang bareng Miguel, dan membuat gue sadar bahwa iya, keluarga adalah yang paling penting.

Predikat 'maco' gue luluh lantah di depan film animasi berlatar Meksiko ini. Kurang ajar.

Film Coco mengangkat tradisi Dia de Muertos, yaitu hari peringatan bagi orang-orang yang telah meninggal di Meksiko. Orang Meksiko percaya bahwa di hari peringatan itu, roh anggota keluarga yang sudah meninggal akan mengunjungi rumah mereka jika mereka masih mengingat tentang anggota keluarga yang telah meninggal tersebut.

Alur film Coco ini sederhana, nggak muter-muter. Cocok ditonton untuk semua usia dan semua level kecerdasan.

Lee Unkrick sebagai sutradara berhasil membuat film animasi petualangan yang penuh makna dengan alur sederhana dan benang merah cerita yang sederhana juga. Gue sebagai penonton merasa dibawa ke Meksiko selama 1 jam 49 menit. Musik gitarnya yang khas, budaya Meksiko yang tergambar di setiap scene-nya, dan beberapa pembawaan bahasa Meksiko turut andil bagian menjadi alasan.

Untuk ukuran film animasi dengan target penonton anak-anak dan dewasa, film Coco menurut gue sudah keren. Konflik dan klimaksnya dapet meskipun nggak ribet.

Pesan yang ingin disampaikan melalui film Coco ini gampang dicerna oleh penonton males mikir kayak gue gini.

Cuma satu hal yang menurut gue 'miss' dari film Coco adalah, di bagian endingnya. Ketika semua keluarga kumpul di rumah Miguel, tanpa diceritakan dengan jelas, tiba-tiba mereka punya kucing peliharaan. Padahal sebelumnya nggak punya. Mungkin yang dimaksud sutradara adalah kucing itu sebagai bentuk hidup penjaga roh nenek buyut Miguel di alam baka yang digambarkan sebagai singa terbang. Tapi mungkin untuk beberapa orang bakal bingung, kenapa kucing itu bisa kembali ke dunia manusia yang masih hidup karena nggak diperlihatkan sama sekali di dalam scene.

Over all film Coco bagus dan cocok ditonton kalian bareng ponakan-ponakan. Bagi yang belum nonton, gih buruan nonton. Lumayan buat isi waktu luang sambil menunggu bedug magrib. Yang sudah nonton, gimana pendapat kalian? Coba tulis di kolom komentar.

Btw, selamat berpuasa ya bagi yang menjalankan. ^^

4 komentar:

  1. Konsepnya sama kayak film Happy Feet nggak sih? Yang penguin nggak bisa nyanyi tapi bisa nari?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hmmm kayaknya beda deh. :D

      Hapus
    2. Udah nyoba nyari-nyari infonya. Baca2 di google. Mau nonton tapi nunggu pacar libur dulu biar ngabuburit barengan. Ntar gue komen lagi kalau udah nonton. :p

      Hapus
    3. Gak usah nyebut kata-kata pacar. Hormati status jomblo pemilik blog ini. Terimakasih. :)))

      :(

      Hapus

Teman