Senin, Mei 28, 2018

9

Pengalaman Nonton Bioskop di Thailand

Salah satu alasan gue pengen traveling ke Thailand adalah karena gue penasaran pengen nonton film di bioskop Thailand. Sederhana banget, kan?

Yang bikin gue penasaran pengen nonton film di bioskop Thailand adalah 'ritual' sebelum filmnya dimulai. Disana, sebelum film dimulai, kita sebagai penonton harus berdiri dan memberi hormat kepada raja Thailand kurang lebih 20 menit. Selama itu, layar bioskop akan menampilkan gambar-gambar tentang Raja Thailand dan penonton diwajibkan untuk berdiri serta menyanyikan lagu penghormatan untuk sang raja.

Beda banget kan sama di Indonesia yang sebelum film mulai cuma duduk nontonin mbak-mbak lalu lalang nawarin paket hemat popcorn sama soda?

Ini yang bikin gue tertarik dan akhirnya keinginan gue nonton bioskop di Thailand itu terwujud sebulan yang lalu.

Gue berangkat ke Thailand sendirian. Gue nggak khawatir karena gue punya beberapa temen yang tinggal di Thailand dan bisa menemani gue nonton bioskop disana.

sumber: twitter.com/imtaiki
Di Thailand, gue stay beberapa hari di Nakhon Ratachima. Nakhon Ratachima ini biasanya disingkat jadi "Korat". Kayak Yogyakarta jadi "Jogja" gitu. Korat adalah sebuah kota di wilayah barat laut Thailand. Kota ini merupakan ibuka provinsi Nakhon Ratchasima dan distrik Nakhon Ratachima.

Rabu, 18 April 2018, gue pergi ke Terminal 21 Korat (nama salah satu mall) buat nonton film Quiet Place. Gue pergi kesana sekitar jam 8 malem berdua sama temen gue orang Thailand dan kita nonton film yang jam 9 malem.

Gue pergi ke bioskop dengan perasaan sumringah penuh berkah senyum mengembang dengan indahnya. Sedangkan temen gue cemberut ogah-ogahan. Katanya ini terlalu malem dan dia nggak begitu suka filmnya. Bodo amat.

Dan inilah pengalaman gue nonton bioskop di Thailand!

Sepi

Ini bisa dijumpai dimana aja sih, nggak cuma di Thailand. Tapi waktu itu gue ngerasa sepinya berlebihan. Bioskop SF ini gedenya minta ampun (komentar orang kampung). Staf dan penonton yang ada disana berjumlah kurang dari 20 gue liat waktu itu. Sempat gue agak nggak yakin mau nonton karena gue pikir bakal nggak fun. Jauh-jauh ke Thailand buat nonton bioskop malah sepi gini. Tapi kepalang tanggung, akhirnya gue tetep beli tiket dan gue pilih duduk di tengah. Siapa tau ternyata ntar ramai.

Pas masuk teater, gue kaget. Teaternya kosong dan gelap. Cuma ada kursi-kursi + layar. Nggak ada petugas di pintu keluar atau yang bawa-bawa senter ngarahin penonton duduk dimana. Nggak ada petugas yang berdiri di pintu keluar juga. Penonton juga belum ada yang masuk. Sama sekali nggak ada orang. Cuma ada gue dan temen gue.

Sekosong ini cuy.
Rasanya pengen pulang ke Indonesia waktu itu.

Akhirnya, yakin nggak yakin gue duduk. Gue masih berusaha positif thinking. Bakal banyak yang nonton nanti.

Jam Masuk Bioskop di Thailand Beda

Setelah mendapatkan tiket, gue harus menukarnya dengan kertas kecil. Agak bingung gue waktu itu. Gue yang selalu ngoleksi tiket bioskop, merasa sedikit kecewa karena nggak bisa nyimpen tiket dan masa iya cuma nyimpen kertas kecil yang ditulisin pakai bolpen begini?

Ini tiketnya. Untung habis beli langsung gue foto buat update di instastory. Jadi ada kenang-kenangan.
Setelah menukar dengan kertas kecil, nggak tau kenapa karena temen gue yang ngomong pakai bahasa Thailand, gue dapat cash back per tiketnya 20 baht.

Setelah itu, gue dan temen gue langsung mencari teater yang dituju dan menunggu di depan teater.

Jam 20.45, gue ajak temen gue masuk teater. Katanya belum boleh. Oke, gue nunggu lagi.

Jam 20.55, gue ajak temen gue lagi masuk teater. Katanya masih belum boleh.

Gue heran. Gue nggak mau telat. Filmnya jam 9, gue harus masuk bioskop sebelum jam 9 dong. Seperti di bioskop-bioskop Indonesia.

Ternyata jam 9 yang tertera di tiket adalah jam penonton masuk ke teater bioskop. Hm. Oke. Beda banget.

Ditinggal Sendirian, Mangap-mangap, dan Bego

Gue dan temen gue duduk anteng di bioskop menunggu film dimulai. Teater masih sepi. Nggak lama kemudian masuk satu rombongan keluarga yang duduk di kursi atas. Gue bersyukur. Nggak nonton sendirian.

Ini temen gue. Selama di bioskop nggak happy.
"I wanna go to toilet." Temen gue berdiri dan keluar menuju toilet. Gue duduk sendirian.

Sampai layar bioskop nampilin foto Raja Thailand. Musik yang ala-ala kerajaan juga mulai terdengar.

Gue harus ngapain nih?

Oke, calm down.

Gue lihat rombongan penonton di kursi belakang mulai berdiri dan bernyanyi dengan muka khidmat. Pandangan lurus ke depan. Gue celingukan sedikit panik.

Gue harus ngapain nih?

GUE HARUS NGAPAIN NIH?!

Akhirnya gue berdiri juga. Masih celingukan. Apa yang harus gue nyanyiin?! Di layar ada subtitle lagunya. Tapi pakai aksara Thailand yang di mata gue nggak jauh beda dari aksara Jawa tapi lebih keriting. Woy tolong!

OH TUHAN...

GUE HARUS NGAPAIN NEEEH?!

MANGAP-MANGAP DOANG GITU???

Ini momen yang gue cari tapi malah gue cengok begini. Bangsat.

Setelah 20 menit, akhirnya 'ritual' pun selesai. Fiuhhh. Lega. Temen gue masih belum dateng. Nggak jadi lega. Gue merasa dizolimi. Gue merasa gue dikerjain dan ditinggal sama dia.

Gue langsung kepikiran bakal tidur di mall ini.

Nggak. Gue nggak boleh nyerah sama keadaan. Gue harus berusaha. Akhirnya gue keluar teater, mencari keberadaan temen gue, dan menemukan dia lagi celingak-celinguk mondar mandir di lorong bioskop.

"I can't find our theater door. All the doors here are same."

Temen gue muter-muter nyari pintu masuk teater dari toilet. Pintunya emang sama semua sih tiap teaternya dan nggak ada petugasnya sama sekali disana. Pantesan temen gue tersesat.

---

Itu pengalaman gue nonton bioskop di Thailand. Benar-benar mengajarkan gue arti sebuah kemandirian yang hakiki di bioskop. Petugas nggak selalu ada di setiap sudut bioskop.

Walaupun gue nggak terlalu having fun, tapi pengalaman ini bakal unforgertable banget.

Nonton lagi yuk, ke Thailand!

9 komentar:

  1. Mangap-mangap bego. Hahahaha! Wah sistem jam di Thailand bagus tuh biar penonton nggak ngaret. Haha

    Kemarin liat di Twitter ngemention gitu ke akun Thailand, mau kerja atau apa? Bukan mau operasi kan? :p
    Gimana perkembangannya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada positif negatifnya sih jamnya begitu.

      Hahaha jadi relawan di perbatasan Myanmar itu. Operasinya ntar dulu deh. Modal belum cukup. :(

      Hapus
  2. Males ah gue kalau ada ritual sebelum nonton model begini. 20 menit itu panjang men buat berdiri doang. Iya kalau nontonnya cuma sekali seminggu. Kalau tiap hari? Mending gue jadi rakun di wakanda aja deh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha iya juga sih. Tapi di Thailand apa pun dilakuin buat Rajanya. Jadi berdiri 20 menit doang, enteng buat mereka tiap hari juga.

      Hapus
  3. Ching khaa?
    Wkwkwkw apaan sik.

    Tapi emang kan mungkin karena masih Monarki, jadi Raja adalah segala-galanya. Bahkan waktu di Hatyai saya juga menemukan beberapa tugu mini dengan foto Raja, everywheeere.

    Bahkan di spanduk, dll. Macam mau kampanye aja. Pun di terminal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jing jing. 555

      Wihh... Gue belum pernah tuh ke Hatyai. Pengen.

      Hahaha iya. Orang Thailand bener-bener cinta sama rajanya ya.

      Hapus
  4. Bioskop di Indonesia masih yang terbaique! Hahahaha.

    BalasHapus

Teman