17 Desember 2017

12

Rindu Diri yang Dulu

Setuju atau tidak, hujan sering membuyarkan lamunan, menerbangkan percakapan, dan kadang menghadirkan kenangan. Setidaknya, itu yang gue rasakan kemarin, saat hujan deras di kantin kampus.

Pemancingnya adalah Anissa Dewi atau biasa gue panggil Depe, teman kampus yang sering memancing percakapan berat.

Obrolan tentang agama dari berapa jumlah sebenarnya isteri Nabi hingga "skripsimu sampai mana?", menghiasi sela-sela suara hujan jatuh di atas atap seng kantin siang itu. Yang paling kurang ajar adalah ketika muncul ucapan, "jujur ya, kamu itu berubah lho, Rih."

Pinterest
Romantis. Seketika itu gue merasa sebagai Ardina Rasti di FTV Pacarku Tukang Parkir Fotokopian.

Depe bilang gitu bukan tanpa alasan. Dia kenal gue dari pertama kali ospek. Dari awal, dia kenal gue sebagai orang yang independen. Maksudnya, gue adalah orang yang bisa kemana-mana sendiri, bisa berteman dengan siapa pun tanpa mengelompok, dan tidak membatasi diri menghabiskan waktu bersama siapa pun. Dan menurut dia, gue udah nggak kayak gitu lagi sekarang.

Gue juga merasakan hal itu. Gue sudah berubah, menjadi Power Ranger Pink.

Ehe.
Nggak lucu.
Maap.

Menurut gue ini wajar. Setiap orang berubah. Yang mengubahnya adalah lingkungan dan pengalaman.

Pinterest
Setiap detik kita dibentuk, tanpa kita sadari. Ke arah mana kita dibentuk, kita nggak sadar. Kita terus berjalan dengan arah yang diarahan keadaan. Kita baru sadar saat kita berhenti dan menoleh ke belakang. Menoleh ke arah 'kita yang dulu.'

Dan sekarang, gue sedang berhenti untuk menoleh ke belakang. Ada gue yang dulu, berdiri disana, jauh di belakang dengan arah yang tidak lagi sama. Melambaikan tangan dan berkata, "Apa kabar? Masih ingat saya?".

Kemudian dengan samar gue melihat teman-teman lama yang lain juga disana. Mereka mengajak bermain perosotan di TK kampung sebelah, mencari keong di sawah, menonton DVD bajakan bersama, merayakan ulang tahun bersama. Tapi sayang, gue sudah tidak dapat melihat dengan jelas, siapa teman-teman lama itu, karena terlalu jauh.

Hahaha. Lucu. Sudah sejauh ini gue berubah.

Gue ngerti, hidup ini nggak mengizinkan untuk gue putar balik dan menemui gue yang dulu itu. Gue harus tetap jalan ke depan dengan keadaan-keadaan yang sekarang. Ya, setidaknya, ini adalah pengalaman gue yang bisa mengubah arah hidup dan bagaimana gue dibentuk.

Bangsat, jadi ngelantur. Rindu memang sering kurang ajar, sih. Termasuk rindu diri yang dulu.

"Iya Dep. Gue juga tau. Sekarang gue lagi nyoba buat belajar dari pengalaman dan berusaha seperti gue yang dulu itu." Gue jawab sekenanya kalimat Depe. Meskipun gue tau itu nggak bisa.

Teman