17 Desember 2017

12

Rindu Diri yang Dulu

Setuju atau tidak, hujan sering membuyarkan lamunan, menerbangkan percakapan, dan kadang menghadirkan kenangan. Setidaknya, itu yang gue rasakan kemarin, saat hujan deras di kantin kampus.

Pemancingnya adalah Anissa Dewi atau biasa gue panggil Depe, teman kampus yang sering memancing percakapan berat.

Obrolan tentang agama dari berapa jumlah sebenarnya isteri Nabi hingga "skripsimu sampai mana?", menghiasi sela-sela suara hujan jatuh di atas atap seng kantin siang itu. Yang paling kurang ajar adalah ketika muncul ucapan, "jujur ya, kamu itu berubah lho, Rih."

Pinterest
Romantis. Seketika itu gue merasa sebagai Ardina Rasti di FTV Pacarku Tukang Parkir Fotokopian.

Depe bilang gitu bukan tanpa alasan. Dia kenal gue dari pertama kali ospek. Dari awal, dia kenal gue sebagai orang yang independen. Maksudnya, gue adalah orang yang bisa kemana-mana sendiri, bisa berteman dengan siapa pun tanpa mengelompok, dan tidak membatasi diri menghabiskan waktu bersama siapa pun. Dan menurut dia, gue udah nggak kayak gitu lagi sekarang.

Gue juga merasakan hal itu. Gue sudah berubah, menjadi Power Ranger Pink.

Ehe.
Nggak lucu.
Maap.

Menurut gue ini wajar. Setiap orang berubah. Yang mengubahnya adalah lingkungan dan pengalaman.

Pinterest
Setiap detik kita dibentuk, tanpa kita sadari. Ke arah mana kita dibentuk, kita nggak sadar. Kita terus berjalan dengan arah yang diarahan keadaan. Kita baru sadar saat kita berhenti dan menoleh ke belakang. Menoleh ke arah 'kita yang dulu.'

Dan sekarang, gue sedang berhenti untuk menoleh ke belakang. Ada gue yang dulu, berdiri disana, jauh di belakang dengan arah yang tidak lagi sama. Melambaikan tangan dan berkata, "Apa kabar? Masih ingat saya?".

Kemudian dengan samar gue melihat teman-teman lama yang lain juga disana. Mereka mengajak bermain perosotan di TK kampung sebelah, mencari keong di sawah, menonton DVD bajakan bersama, merayakan ulang tahun bersama. Tapi sayang, gue sudah tidak dapat melihat dengan jelas, siapa teman-teman lama itu, karena terlalu jauh.

Hahaha. Lucu. Sudah sejauh ini gue berubah.

Gue ngerti, hidup ini nggak mengizinkan untuk gue putar balik dan menemui gue yang dulu itu. Gue harus tetap jalan ke depan dengan keadaan-keadaan yang sekarang. Ya, setidaknya, ini adalah pengalaman gue yang bisa mengubah arah hidup dan bagaimana gue dibentuk.

Bangsat, jadi ngelantur. Rindu memang sering kurang ajar, sih. Termasuk rindu diri yang dulu.

"Iya Dep. Gue juga tau. Sekarang gue lagi nyoba buat belajar dari pengalaman dan berusaha seperti gue yang dulu itu." Gue jawab sekenanya kalimat Depe. Meskipun gue tau itu nggak bisa.

30 November 2017

9

Cerita Go-Jek: Secepat itu kah Gilang Berganti Kelamin?

Setelah fail menggojek di hari pertama, gue makin penasaran dengan pekerjaan ini. Gue nggak mau diremehkan dunia dan dicap sebagai supir gojek gagal hanya karena gue lupa melepas tempelan di helm dan nggak ngerti cara top-up gopay.

Hari kedua pun gue persiapkan dengan matang. Setelah gue pastikan helm gojek sudah oke dan mempelajari cara top-up gopay dengan benar, gue melenggang keluar kos menuju basecamp teater untuk mangkal. Nggak tau kenapa, gue nyaman mangkal di tempat kegiatan mahasiswa ini. Rasa-rasanya gue pengen cetak spanduk "Pangkalan Ojek Diponegoro University" warna ijo dan memasangnya di depan basecamp teater.

lelah
Sebenarnya, gue menutupi pekerjaan ini. Memang sih, gue ngasih tau ke orang-orang kalau gue jadi supir gojek. Tapi gue nggak mau ketemu sama orang yang gue kenal pas gue lagi ngegojek secara langsung. Nggak enak aja kayaknya. Sebisa mungkin itu gue hindarin.

Hingga...

1. Yah...pada tau deh

Nggak berapa lama mangkal hari kedua, handphone gue berdering. Tanda ada orderan. Gue sumringah, riang gembira, seperti lagu Tasya libur telah tiba.

Jemput: Baskoro
Tujuan: Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Deket amat mbak. Mending naik sepatu roda. Batin gue. 

Ya meskipun tujuan si mbak ini dekat, gue tetap anterin. Masa iya gue suruh naik sepatu roda beneran. Di jalan, kita ngobrol. Ternyata dia salah satu temannya teman gue. Gue fine-fine aja waktu itu, nggak kepikiran apa-apa. Sampai keesokan harinya, teman-teman dari organisasi pada godain,

"mau dong diboncengin abang gojek..."
"gojek Semarang - Jogja dong kak..."
"lu oknum fake gojek ya Rih?"

Pada tau deh...
Huhuhu.
Hikz hikz hikz.

... salah curhat.

2. Maaf ya Mbak :(

Setelah beberapa hari mangkal di dalam area kampus, gue bosan. Nggak ada tantangan. Akhirnya gue mangkal di markas TNI AU.

Eh, belum. Belum se-ekstrem itu.

Gue mangka di kos sendiri. Gue pikir, gue bisa ngerjain hal lain sembari menunggu orderan.

Waktu itu, Rabu pagi, gue kuliah jam 9.41 WIB. Ada waktu kosong sebelum kuliah, kenapa nggak ngegojek aja, pikir gue.

Setelah bersiap memakai jaket boomber (waktu itu gue masih belum punya jaket gojek), nggak begitu lama, handphone gue kembali berdering karena ada orderan. Seperti biasa, gue girang. Tapi setelah gue lihat nama penumpangnya, rasa girang tersebut lenyap, berganti rasa gelisah sedikit basah.

Di layar handpone muncul :

Gilang
Jemput : Sumurboto
Tujuan : Stasiun Poncol Semarang

Mampus! Cowok. Pasti mas-mas gendut, nyebelin, berat, banyak nanya di jalan.

Dengan terpaksa, gue sms: mas, saya otw kesana ya. gojek.

Setelah sampai di lokasi tujuan, gue hanya melihat mbak-mbak pakai hijab berbadan lebih kecil dari gue sedang duduk menunggu sambil bawa tas besar. Gue celingak-celinguk ye kan, nyari dimana si Mas Gilang ini. Nggak ada. Gue berniat sms Gilang, si mbak yang duduk di depan rumah itu menghampiri gue.

Si mbak : mbak gojek bukan?
Gue : iya mbak.
Si mbak : gojek ke Stasiun Poncol ya Mbak?
Gue : iya Mbak.
Si mbak : oh iya Mbak, itu saya yang mesen.
Gue : *diem*

Secepat itu kah Gilang berganti kelamin? Atau jangan-jangan, hijab itu hanya untuk menutupi jakunnya?

Masih nggak yakin.

Akhirnya, si Mbak itu naik di motor gue, membuyarkan lamunan negatif gue. Di jalan, gue mencoba asik.

Gue : tadi yang mesenin gojek pacarnya ya Mbak?
Si mbak : bukan. Itu saya.
Gue : lah, di aplikasi namanya Gilang mbak.
Si mbak : iya, itu nama saya.
Gue : .....

Fail lagi Gustiiiii. :((

Gue : Maaf ya Mbak tadi saya manggilnya 'mas' di sms.
Si mbak : nggak papa Mbak, udah biasa. Tadi mangkal dimana?
Gue : di kos Mbak. Biasanya di basecamp teater sih.
Si mbak : oh, Mbak anak teater? Saya suka nonton teater lho Mbak! Saya sering nonton teater kampus.
Gue : eh iya?
Si mbak : iya. Saya juga add official account-nya teater lho.
Gue : *girang*
Si mbak : tapi saya heran. Waktu itu ada pentas teater jam 7, di account teater baru dikasih taunya jam 9.
Gue : hehehe, maap ya Mbak. itu yang ngelola akunnya anak-anak junior Mbak. Maafin ya, mungkin masih mabuk antimo.

Sepanjang jalan menuju stasiun kita ngobrol. Berasa teman sendiri.

Gue : mau kemana Mbak? Kok ke stasiun?
Si mbak : mau pulang ke Solo, kan kuliahnya udah selesai, kemarin saya wisuda. Sekalian nunggu panggilan kerja.
Gue : ohh, selamat ya Mbak. Sukses terus dan semoga cepet dapet kerjaan.
Si mbak : makasih ya Mbak.

Setelah sampai stasiun, si Mbak Gilang pun turun. Ya masa gue yang turun.

Gue pun kembali pulang ke kos dan bersiap berangkat kuliah.

Untuk Mbak Gilang (yang mungkin saja baca cerita ini), sekali lagi maaf ya saya manggilnya 'mas'. Semoga sukses dan bahagia selalu mbak. Salam, gojek yang selalu fail.

---

PS: di semua cerita Go-Jek yang gue tulis, cerita yang gue angkat itu nyata. Tapi kalimat-kalimat di dalamnya gue tambahin atau modif biar enak dibaca dan ada humornya.

20 November 2017

16

Mau Naik Gunung Apa di Jawa Timur?

Mahasiswa tingkat akhir tanpa piknik, sama kayak Marsha-bengek tanpa ngik-ngik. Nggak asik.

Skripsi dan teror pertanyaan kampret “mau ngapain setelah lulus?”, sangat mengganggu kesehatan jiwa raga kami. Untuk menyeimbangkannya, gue butuh piknik. Tapi lagi-lagi, masalah duit jadi problem klasik.

Gue nggak bisa piknik yang menghabiskan duit banyak. Piknik yang bisa gue lakuin harus yang efisien dari segi duit dan waktu.

Temen gue, Resti, kemarin ngajakin ke Jawa Timur, Malang dan sekitarnya. Dia bilang Jawa Timur cocok buat jadi destinasi liburan rakyat jelata kayak gue gini. Pantai, museum, kuliner, sampai laut, semua ada dan jaraknya nggak jauh. Jadi bisa ngerasain banyak spot dan menghemat biaya transport.

Gue tertarik.

“Ke Jawa Timur nggak lengkap kalau kita nggak ke gunungnya Rih.”

“Ada gunung yang anget nggak? Gue nggak suka dingin.” Serius, cuy. Gue nggak pernah naik gunung karena nggak suka hawa dingin. Hidup di Semarang aja, gue nggak punya kipas angin apalagi AC di kosan.

“Ada. Kawahnya Bromo tuh, panas.”

“Sialan. Gue serius ini.”

“Yaudah. Lo mau naik gunung apa? Cari tau gih, gunung-gunung di Jawa Timur sebelum lo naik."

Gue pun membuka google dan mulai mencari informasi tentang gunung-gunung cantik di Jawa Timur. Cocok nih buat referensi manusia cemen macem gue gini sebelum mendaki.


Gunung Bromo

sumber: www.pesonaindo.com
Ini adalah satu-satunya gunung yang pernah gue datangi. Gue pernah kesini tahun 2014 lalu bareng temen-temen dari Kampung Inggris, Kediri.

Keindahan Gunung Bromo, nggak perlu diragukan lagi. Sudah go inernasional cuy. Ibarat artis, ini Agnes Monica nih, versi gunung.

Untuk yang mageran kayak gue gini, Gunung Bromo adalah pilihan yang tepat. Puncak Gunung Bromo gampang dicapai, bahkan bisa lihat kawahnya secara langsung dengan jelas. Kalau kurang jelas, silakan lakukan roll depan ke arah kawah.

Yang paling menarik tentang liburan di Bromo adalah pemandangan saat matahari terbit. SUMPAH KEREN! Dan emang ini yang paling terkenal dari Bromo.

Gunung Bromo terletak di empat kabupaten: Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Malang. Tingginya 2.300 meter di atas laut. Sebelum menuju kawah, kalian bakal disuguhi pemandangan lautan pasir yang luas. Tiap tahun ada ritual suci suku Tengger disini.

Kalau kalian berangkat ke Bromo lewat kabupaten Malang, kalian bisa dapat banyak penerbangan ke Bandara Abdul Rahman Saleh, termasuk penerbangan milik Batik Air, terus lanjut perjalanan pakai transportasi darat ke Gunung Bromo.
Gunung Lawu

sumber: www.penabiru.com
Nah gunung ini yang cocok buat pendaki pemula. Walaupun tingginya sampai 3.200 mdpl, tapi medan menuju puncak gunung relatif mudah. Letaknya di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah, jadi gampang buat gue kalau dari Semarang. Gunung Lawu ini ramai dikunjungi pendaki maupun penziarah, khususnya di bulan Suro.

Gunung Arjuno

sumber: upload.wikimedia.org
Nama Gunung Arjuno pasti sudah nggak asing buat para pendaki, khususnya buat yang aktif di dunia maya. Gunung dengan tinggi 3.300 meter ini terletak di perbatasan antara kabupaten Malang dan Mojokerto. Ada empat jalur pendakian yang bisa dipilih. Masing-masing jalur punya karakteristik dan daya tariknya sendiri.

Kalau kalian mendaki Gunung Arjuno, nggak ada salahnya lanjut naik ke Gunung Welirang yang letaknya bersebelahan. Kedua gunung ini ada di satu punggungan yang sama. Di Gunung Welirang kalian bisa menjumpai para penambang belerang.

Gunung Raung

sumber: www.phinemo.com
Gunung Raung bisa pilihan cocok buat yang suka tantangan nih. Letaknya di Banyuwangi dan gunung ini adalah gunung stratovolcanik aktif. Untuk mencapai puncaknya, kalian harus melalui medan pendakian ekstrem sepanjang 17 km yang sebagian besar berupa bebatuan terjal. Yang lebih menantang adalah, gunung ini tidak memiliki sumber air sehingga para pendaki harus membawa setidaknya 10 liter air untuk tiap pendaki. Disarankan bawa galon, bersama dispensernya, dan kopi satu renteng. Maka kalian akan jadi warung kopi dadakan. Perlu persiapan fisik, mental, kemampuan, dan pengalaman pendakian untuk bisa menaklukkan gunung ini. Jadi kalau kalian cuma pendaki amatir atau kayak gue yang mendaki gunung cuma buat foto-foto doang, mending jangan naik ke gunung ini.

Gunung Semeru

sumber: http://indosurflife.com
Gunung yang hits gara-gara dijadiin latar novel dan film ini adalah gunung tertinggi di Pulau Jawa (3.676 meter di atas permukaan laut). Untuk mencapai puncaknya, kalian perlu melalui beberapa medan pendakian. Karena ketinggiannya, gunung ini bisa menguras tenaga. Tapi nggak usah khawatir karena ada pos-pos peristirahatan sebagai tempat berkemah selama pendakian.


Ranu Kumbolo. sumber: rizkirahmatia.files.wordpress.com
Satu spot paling terkenal dari Semeru adalah Ranu Kumbolo. Disini kalian bisa bikin tenda kemah dan beristirahat sambil menikmati keindahannya. Terus lanjut ada medan menanjak yang disebut tanjakan cinta. Di ujung tanjakan ini, padang bunga lavender Oro-Oro Ombo bisa bikin kalian lupa sama tugas kuliah sejenak.

Nah, untuk mengakses gunung-gunung di atas, beberapa alternatif transportasi bisa kalian pertimbangkan. Kalian bisa naik kereta api dan berhenti di stasiun-stasiun terdekat atau bisa menggunakan transportasi udara seperti Batik Air dan mendarat di bandara Malang atau Surabaya, kemudian lanjut perjalanan dengan transportasi darat. Beberapa maskapai termasuk Batik Air sudah melayani penerbangan dengan intensitas cukup tinggi ke Bandara Malang dan Surabaya.

Untuk kalian pengguna naga terbang, mohon maaf, belum bisa mendarat di Jawa Timur.

---

Sesuai kemampuan dan kemapanan, kayaknya gue bakal milih Gunung Bromo deh buat merefresh otak ini. Kalau kalian?

18 November 2017

10

Hal-hal yang ditemui Ketika Bangun Pagi

Go-jek nggak cuma ngasih benefit soal materi. Go-Jek juga melatih gue buat selalu bangun pagi. Karena di pagi hari lebih banyak orderan, mau nggak mau gue bangun pagi setiap hari buat ngegojek biar pendapatan makin banyak. Money wins.

Sebelum jadi supir gojek, gue nggak pernah bangun pagi kecuali cuma buat solat, itu pun lanjut tidur lagi.

Ngebongkar aib sendiri ye kan.....

Selama ini, gue pikir bangun pagi adalah hal yang bodoh. Dinginnya pagi nggak dimanfaatin buat peluk guling, pakai selimut, merem, sama aja menyia-nyiakan nikmat dari Tuhan. Pagi adalah saat yang nyaman banget buat tidur cuy. Terus bangun lagi jam 9, baru deh memulai aktifitas.

Tapi setelah jadi supir gojek, jam 6 pagi gue sudah keluar kos. Ketemu banyak orang di jalan, ngobrol sama penumpang, dan melihat hal-hal yang cuma bisa dilihat di pagi hari.

Itu semua bikin gue sadar kalau ketika gue tidur pagi selama ini, banyak hal yang gue lewatkan, banyak orang sudah memulai aktifitasnya, banyak orang sudah start ‘hidup’ lebih dulu, sedangkan gue ketinggalan, gue masih bermimpi di kamar.

Nyesek.

http://www.hardlybored.com


Dari banyak hal pagi yang gue temui itu, beberapa diantaranya punya kesan tersendiri. Coba gue ceritain ya...

Tukang sayur di depan kos yang jadi primadona ibu-ibu.

Setiap pagi ketika gue mulai ngegojek, selalu ada mas-mas jualan sayur pakai motor yang dikerubungi ibu-ibu di depan kos. Gue nggak ngerti si mas tukang sayur itu mulai mangkal di depan kos dari jam berapa. Soalnya mau gue keluar kos jam 5 pagi, 5.30, atau setengah tujuh, si mas sayur itu selalu sudah ada di situ. Herannya lagi, gue lebih sering lihat dia ngobrol sama ibu-ibu ketimbang melakukan transaksi jual beli. Gue jadi inget akun instagram lambeturah.

Ibu-ibu tukang sapu yang ketiduran setelah jalanannya bersih.

Gue lupa ngambil foto ibu-ibu yang ketiduran itu. Tapi gue masih ingat jelas ibu-ibu itu ketiduran di pinggir jalan, di depan salah satu rumah mewah daerah Gajah Mungkur Semarang dan jalanan di sekitar beliau tidur sudah bersih. Gue nggak ngerti beliau setiap hari kerja begitu, dari rumah jam berapa.

Jadi selama ini, ketika ibu itu menyapu jalan raya sampai bersih untuk mendapatkan nafkah, gue masih tidur di kamar. :(

Makanan-makanan yang sulit ditemui setelah jam 9 pagi.

Bubur ayam, bubur sumsum, ketoprak, lontong sayur, nasi uduk, adalah keluarga besar makanan yang sulit ditemui setelah jam 9 pagi. Biasanya penjual secara dadakan menggelar dagangannya di pinggir jalan dari jam 4 (habis subuh mungkin ya) sampai jam 9. Sebelum ngegojek, gue nggak tahu kalau ada lontong sayur enak di Jalan Prof. Sudarto setiap pagi.

Kakek dan cucu mesra di pagi hari.

Kakek itu sering menuntun cucunya jalan-jalan atau mendorongnya di sepeda. Beliau sering senyum kalau papasan sama gue di dekat kos. Nggak tahu kenapa, tapi itu sweet menurut gue. Doi sama cucunya, bukan sweet senyumnya ke gue lho ya.

3 superwomen penjual koran.

Gue masih nggak ngerti untungnya penjual koran di pinggir jalan itu berapa. Apalagi koran Tribun Jateng yang hanya dijual loper koran dengan harga seribu rupiah. Terus untungnya dia dari mana? Padahal jelas dong bagi hasil sama atasannya lagi.

Kalau kalian tinggal di Semarang, gue tahu ada 3 penjual koran perempuan yang setiap pagi stand by menjajakan korannya. Di Jalan Pahlawan, di pertigaan Rumah Sakit Kariadi, dan di perempatan Patung Kuda (patung Pangeran Diponegoro naik kuda) Tembalang.

Kalau kalian pecinta koran Jawa Pos, ibu yang di Jalan Pahlawan itu jual. Tapi kalau kalian lebih suka Tribun Jareng, bisa beli di perempatan Patung Kuda Undip atau RS Kariadi.

3 superwomen itu selalu standby setiap pagi bahkan sampai mendekati siang. Nggak pernah absen, setau gue.

Gue sering beli sih. Kalian bisa beli juga biar ibu-ibu itu cepat selesai jualan dan pulang ke rumah. Kalau kita naik motor emang biasanya nggak ditawarin koran, karena biasanya yang ditawarin yang naik mobil. Samperin aja mereka kalau mau beli.

Hal-hal itu dan hal lain yang sulit gue ceritain bikin gue sadar kalau selama gue tidur di pagi hari itu, banyak hal yang gue lewatkan.

Jadi inget apa kata ibu di rumah kalau gue bangun siang; “Rejekimu sudah dipatok ayam, tuh.”

Tulisan ini nggak jelas ya? Bodo.
Tulisan ini ditulis di note hp pagi ini, 18 November 2017, di sela-sela gue ngegojek dan menunggu orderan.

4 November 2017

10

Cerita Go-Jek: Maafkan Kebohonganku Mas

Sebagai mahasiswa dengan uang makan pas-pasan, gue dipaksa memutar otak untuk mendapat pendapatan ekstra agar terhindar dari mengkonsumsi obat mag di akhir bulan. Banyak tawaran kerja yang bisa dikerjain mahasiswa, dari mulai part-time sampai full-time, dari mulai jaga toko sampai jaga perasaan, eh, jaga restauran maksudnya. Dari semua pilihan pekerjaan yang ada, gue memilih menjadi supir Go-Jek.

Iya, gue jadi Gojek driver.

Judul pose: berusaha menjadi gojek cantik
Gue memilih jadi supir Gojek karena jam kerjanya fleksibel banget, semau-maunya gue aja kapan mau kerja, kapan mau off, dan gue juga dasarnya emang suka muter-muter kota naik motor kalau lagi bete. Jadi gue pikir, supir Gojek adalah pekerjaan sampingan yang pas.

Sejak pertama kali meng-Gojek tanggal 14 Agustus 2017 hingga sekarang, banyak pengalaman unik yang gue dapetin. Mulai dari ngeboncengin dosen sampai dikejar-kejar customer gara-gara menolak dikasih tip.

Pengalaman-pengalaman dan para penumpang yang "unik" itu bakal gue ceritain di blog ini pada minggu pertama dan minggu terakhir setiap bulan. Semoga istiqomah ya gue bikin go-story ini. Hehe.

---

1. Deg-degan penumpang pertama

14 Agustus 2017, gue memberanikan diri keluar kos bawa helm gojek dan meng-ON-kan aplikasi GoJek Driver setelah sekitar seminggu helm itu nganggur di kosan karena gue belum berani narik (istilah dalam dunia perojekan kalau kita ngeaktifin aplikasi atau kerja). Pas nge-ON-in, rasanya deg-degan banget. Gue pikir bakal langsung ada yang order. Ternyata enggak.

Waktu itu gue belum punya jaket gojek karena kantor gojek Semarang lagi kehabisan stock jaket. Gue disuruh nunggu maksimal 2 bulan buat dapet jaket. So, gue narik pakai jaket jeans. Gaul ye kan?

Bingung mau mangkal dimana, akhirnya gue pergi ke kampus, ke basecamp teater yang berasa rumah sendiri karena gue bisa kapan pun main kesana. Akhirnya gue nunggu orderan gojek di basecamp teater, sendirian. Ditemani rasa deg-degan sebagai supir gojek amatiran.

Nunggu.
Nunggu.
Nunggu.

Tiba-tiba HP bunyi, "Tuttt tuuutttt tuuuutt".

Notif dari aplikasi gojek driver. Ada orderan!

ADA ORDERAN!

ADA ORDERAN WOY!

Jemput: teknik sipil.
Tujuan: jalan Solo.

Deg-degan. Serius. Ini gue harus gimana? Harus ngapain??!

Sendirian dan panik di dalam basecamp teater, gue merasa hina. Untung nggak ada temen yang liat kepanikan seorang supir gojek bingung ini.

Tarik napas hembuskan, tarik napas hembuskan, akhirnya gue tarik tambang. Gue mencoba untuk selow. Gue berpikir dan mengingat-ingat ketika gue order gojek, si driver gojeknya ngapain abis itu.

Mikir...

Telpon!
Yak biasanya kalau gue order gojek, si driver bakal telpon gue langsung.

Sayang, gue nggak ada pulsa telpon.

Driver gojek-amatir-panik-kere.

Akhirnya gue sms.

Sms pertama: Kak, di teknik sipil ya? Ditunggu ya. Saya kesana. *send*
Sms kedua: Gojek *send*
Sms ketiga: Saya naik beat merah, pakai jaket jeans ya. *send*
Sms keempat: Soalnya belum dapet jaket gojek. *send*

Satu customer, 4 sms. Gue asal pendet send aja. Lupa kalau ini sms, bukan line. Pulsa gue tidak tertolong. Tau kan betapa paniknya gue waktu itu?

Akhirnya, gue nyamperin customer tersebut, ke kampus teknik sipil.

2. Customer pertama ternyata blogger!

Jarak dari basecamp teater ke kampus teknik sipil deket. Nggak sampai 5 menit, gue udah berada di depan gerbang teknik sipil.

Gue sms lagi: saya sudah di depan gerbang ya.

Selang beberapa menit, cewek memakai jaket merah menghampiri. Refleks, gue langsung nyodorin helm ke dia.

"Eh ini mbak, helmnya." Dia menerima helm gojek mulus tersebut dengan sopan dan tersenyum.

Saat dia mau make helmnya, gue buru-buru tarik helm itu lagi. "Eh eh mbak, bentar!"

Mbaknya bingung. Dahinya mengkerut. Rambutnya mengkeriting. Emang asli kriting sih.
Gue nyengir.

"Bentar mbak tempelannya belum dilepas. Hehe."

Gue lupa ngelepas tempelan di kaca helm baru itu. Fail. :(((

foto dari kaskus
"Nggak usah khawatir mbak. Helmnya baru, jadi masih bersih. He-he-he." Gue mencoba membuat suasana nggak krik-krik.

Customer gue ini ternyata mau pulang ke rumahnya, di daerah Semarang kota. Orderan pertama nggak seburuk apa yang gue bayangin. Di jalan, kita ngobrol banyak, apalagi setelah dia tau gue mahasiswa juga dan pernah ke Thailand, karena customer gue ini juga suka traveling dan pernah ke Thailand, kita jadi seru ngobrol selama di perjalanan.

Sampai di depan rumahnya, gue memberanikan diri untuk mengajaknya selfie. "Kenang-kenangan mbak. Customer pertama gojek saya. Mau ditulis di blog nanti."

Foto selfie bareng penumpang pertama! Maafkan kekucelan ini.

"Oh kamu punya blog? Saya juga suka ngeblog lho."

"Wah blogger juga mbak? Apa nama blognya mbak. Nanti saya main ke blognya mbak." Gue pun mencatat nama blog si mbaknya di note hp.

Semangat skripsinya ya Mbak Hayuning! Sukses selalu. Semoga kita ketemu lagi.

3. Kurang pengetahuan berujung bohong.

Setelah sukses (sedikit fail) menyelesaikan orderan pertama, gue berniat untuk kembali ke kampus. Dengan posisi aplikasi driver masih aktif, gue melenggang, meninggalkan rumah customer pertama.

Saat sampai di pertigaan, notif aplikasi driver kembali berbunyi. Ada orderan lagi.

Dari nama yang tertera di aplikasi, customer kali ini laki-laki. Udah keringetan aja gue ngebayangin bakal berat ngeboncengin bapak-bapak gendut, bawa tas ransel, dan ngerokok.

Sampai di lokasi penjemputan, perasaan gue sedikit lega. Penumpang kedua ini laki-laki masih muda dan cuma bawa tas kresek. Nggak gendut.

"Mbaknya baru ya jadi gojek? Kok belum pakai jaket gojek?"

"Iya mas. Ini masnya penumpang kedua. Hehe."

Selama perjalanan, dua kali kita berhenti. Pertama di tukang jahit, kedua di atm. Setelah sampai tujuan, mas ini minta di top-up gopay via driver.

"Mbak ada saldo?"

Sejujurnya gais, gue nggak ngerti pertanyaan itu dan gue jawab spontan aja agar terlihat profesional, "ada mas."

"Yaudah kembaliannya buat top-up gopay aja ya mbak."

"Eh, iya mas..."

Mak jeglek...dyarrr! Gue nggak ngerti caranya top-up gopay. Apa pula itu top-up gopay. Gue aja seumur-umur (waktu itu) nggak pernah pakai gopay.

Gue hanya menunduk, memainkan ponsel sok-sokan melakukan transaksi top-up gopay. Padahal yang gue lakuin cuma pencet menu - back - menu - back - menu - back gitu terus sampai indomaret sama alfamaret bersatu.

GUE NGGAK NGERTI HARUS NGAPAIN ANJIRRR!! T_T

"Udah belum mbak?" Suara mas-mas itu merusak kegiatan pencet menu-back gue.

"Eh anu mas. Ini, kok nggak bisa ya? Loading terus. Lagi eror mungkin mas servernya. Nggak bisa top-up."

Ampuni kebohongan saya ya Tuhan.

"Oh lagi eror ya mbak? Pantesan lama. Biasanya cepet kok." Gue nyengir. "Yaudah mbak nggak usah top-up aja. Makasih ya mbak."

"Iya mas he-he-he."

Gue pun pergi. Gue merasa bersalah udah bohong ke masnya. Padahal nggak ada yang eror. Emang dasar guenya aja yang nggak ngerti cara top-up gopay. Maafkan kebohonganku mas.....

Setelah mengantar mas-mas tadi, gue non aktifkan aplikasi gojek driver dan kembali ke kampus. Hari pertama meng-gojek gue tutup dengan perasaan bersalah dan tekad untuk memperluas pengetahuan gojek gue.

16 Oktober 2017

12

[Review Film] Pengabdi Setan - Joko Anwar

Sekali lagi, ngomongin film horor Indonesia sama dengan ngomongin film bokep. Gue selalu pesimis dan punya stereotipe negatif kalau lihat poster film horor Indonesia di bioskop.

"Halah. Paling juga isinya suster keramas atau suster mandi wajib."

Akhirnya gue nggak pernah mau nonton film horor Indonesia lagi.

Tapi stereotipe itu tanggal 3 Oktober kemarin terpatahkan. Setelah sekian lama nggak nonton film horor Indonesia (kayaknya yang terakhir film Badoet deh), akhirnya gue nonton juga dan literally impressed with that movie. Yap, film Pengabdi Setan, karya Joko Anwar.

Awalnya gue sama sekali nggak tertarik dengan judul film Pengabdi Setan. Gue pikir alay, nggak kekinian, nggak jaman now, terus paling isinya tetek-tetek nggak jelas. Cuma nama 'Joko Anwar' yang bikin gue agak penasaran. Film pendek horor Grave Torture (Silent Terror) menjadi film yang bikin gue jatuh cinta sama si om lulusan Teknik Penerbangan ITB ini dan membuat image "sutradara film horor" secara nggak sadar nempel di kepala gue. Tiap denger nama "Joko Anwar", ingetnya setan.

Masa iya Joko Anwar bikin film horor ada teteknya? Nggak mungkin. Pasti ini film bagus.
Pikir gue.

Ditambah lagi temen gue bilang, "Rih, lo harus nonton Pengabdi Setan! Harus! Filmnya keren banget!"


Film Pengabdi Setan (2017) adalah film re-make (Joko Anwar lebih suka bilang 'reboot') dengan judul yang sama di tahun 1980. Film Pengabdi Setan tahun 1980 garapan almarhum Sisworo Gautama Putra sukses menjadi film horor terbaik di masa itu dan berhasil menembus pasar film Internasional. Nggak heran sih, karena Sisworo Gautama Putra menurut gue emang spesialis film horor. Lebih dari 12 judul film horor sukses disutradarainya. Termasuk beberapa film Suzana.

Film Pengabdi Setan tahun 2017 dan 1980 memiliki premis yang sama: seorang ibu meninggal kemudian arwahnya datang kembali meneror rumah dan keluarganya untuk satu tujuan. Makanya tagline film ini "Ibu datang lagi".

Pengabdi Setan 2017 menceritakan tentang sebuah keluarga yang mengalami krisis ekonomi setelah sang ibu (Ayu Laksmi) jatuh sakit kemudian meninggal. Keempat anak yang ditinggalkan yaitu Rini (Tara Basro), Tony (Endy Arfian), Bondi (Nassar Anuz), dan anak terakhir Ian (M. Adhiyat). Ibu sebelum sakit adalah seorang penyanyi terkenal di tahun 1980an dengan lagu hitsnya berjudul Kelam Malam. Setelah ibu meninggal, banyak kejadian aneh dan misterius yang terjadi pada keluarga ini. Sampai pada akhirnya mereka menyadari bahwa hal-hal aneh yang terjadi di rumah mereka berhubungan dengan rahasia sang ibu semasa hidup.

Meskipun memiliki premis yang sama, Joko Anwar membuat banyak perbedaan dalam film ini secara teknis dan penyampaian cerita. Misalnya; Pengabdi Setan 1980 tidak menceritakan hubungan anak dengan ibu sebelum meninggal. Scene awal langsung pemakaman sang ibu. Sedangkan 2017 diceritakan dulu bagaimana kondisi sang ibu ketika hidup dan bagaimana hubungannya dengan anak-anaknya.

Untuk teknis, jelas Pengabdi Setan 2017 lebih bagus daripada 1980. Teknologi sudah makin canggih, men. Gue paling suka scene ketika Hendra (Dimas Aditya) wajahnya terseret di atas aspal. Kayak asli. *spoiler*

Menonton film Pengabdi Setan, 107 menit mata gue dimanjakan dengan gambar, warna, dan nuansa kuno yang berhasil Joko Anwar bangun. Kesan tahun 1980an sukses digambarkan dengan baik didukung oleh pernak-pernik seperti jam dinding tua, sumur, telpon rumah, dan motor butut milik Tony. Rumah kosong di Pengalengan, Bandung peninggalan jaman Belanda juga berhasil menjadi ikon utama yang menunjukan kalau cerita di film ini memang terjadi 37 tahun yang lalu. Rumah kuno ini dan segala interiornya bikin gue lupa kalau lagi nonton film Indonesia. Artistiknya gue acungin jempol 4.

Gue bukan orang yang gampang takut dan teriak-teriak ketakutan kalau nonton film horor. Tapi Pengabdi Setan sukses bikin gue deg-degan di bagian awal. Jujur sebelum nonton, gue sudah punya mindset kalau film ini bakal ngeri. Bayangin aja, yang jadi setan ibunya, cuy. Kurang ajar. Sutradara durhaka. Dan beberapa aktifitas yang dekat denga kehidupan gue bikin gue makin masuk ke dalam film. Pemakaman, pocong, kuburan ala Indonesia, tahlilan, sumur tua, semua itu ada di kehidupan asli gue.

Menembus 2 juta lebih penonton hanya dalam 13 hari tayang, Pengabdi Setan masih punya beberapa 'miss'. Beberapa adegan banyak yang nggak nyambung. Aksen bahasa yang digunakan para pemain juga terkesan maksain. Bahasa yang digunakan Bondi dan Rini, nggak cocok. Bapak (Bront Palarae) yang diperankan aktor Malaysia juga kaku dalam berdialog.

Karakter para tokoh kurang kuat digambarkan. Tokoh yang berhasil dibangun cuma Ian, si anak bontot tuna rungu yang menggemaskan dan memberi sentuhan komedi di film ini.

Adegan yang bener-bener bikin gue bingung adalah ketika bapak bilang nggak mau tidur tiba-tiba muncul di layar doi sudah tidur pules aja. Itu...nggak nyambung.

Mulai masuk ending, kengerian film ini mulai berkurang. Setannya dan cara setan itu muncul jadi standar. Klimaksnya malah menurut gue di bagian munculnya Fachry Albar, scene paling terakhir. Beberapa penonton di sekitar gue bilang "apaan banget itu (scene Fachry) nggak nyambung. Bikin jelek." Tapi menurut gue malah itu yang bikin "anjir ini film kampret! Keren!".

But, over all, gue suka film Pengabdi Setan ini. Plotnya, sinematiknya, konsep ceritanya, joss. Untuk kelas film horor Indonesia, Pengabdi Setan ini bisa dibilang keren banget, bisa disejajarkan dengan film The Conjuring lah. Dan yang paling penting, Joko Anwar berhasil bikin gue nggak negative thinking lagi sama film horor Indonesia.

Film Badoet dan Pengabdi Setan, gue rasa bakal jadi titik balik dan titik sadarnya produser atau sutradara film horor Indonesia bahwa: bikin film horor nggak harus ada sentuhan bokepnya.

Gue bakal terus menunggu karya-karya cerdas sutradara film horor Indonesia macem Pengabdi Setan ini. Joss!!

Anyway, gue mulai nulis ini sejak setelah nonton film Pengabdi Setan dan baru hari ini terposting. Sedih. :')

17 September 2017

2

Pada Sebuah Hati: Sarah (Part 4)

Gue menghampiri laki-laki cupu peminjam buku Feminist Thought yang sedang membaca buku di sudut perpustakaan. Kita janjian pagi ini.

"Hai." Gue mencoba menyapanya dengan ramah. "Gue sebel hari ini. Kena marah Bu Eni dan dia malah nyuruh gue nyari orang yang bernama Johan buat membantu gue mengembalikan buku yang gue ilangin. Johan? Kenal aja enggak."

Suasana hening. Laki-laki itu nampak syok. Lebay. Aneh.


"Lo kenal orang yang namanya Johan?"

Laki-laki itu masih diam kemudian membuka mulutnya. "Ya. Aku pernah sekelas sama Johan. Kenapa? Lagi pula semester ini aku satu kelas sama dia."

"Lo serius?" Gue girang.

"Enggak sih. Bohong aja." Laki-laki itu mulai menyebalkan lagi. Gue muak. Gue mulai curiga kalau dia nggak waras. "Kamu masih ada hutang denganku kan? Ceritain isi buku Feminist Thought."

Mati. Kan gue nggak baca sampai habis. Baru setengah dari buku itu yang masuk ke otak gue. Oke. Cara terbaik untuk lari dari situasi adalah: ngeles. "Gue bakal ceritain isi bukunya bahkan sampai ke riwayat si penulisnya. Tapi nanti. Sekarang lo anter gue ke kelasnya Johan dulu!" Gue memaksa. "Please anterin gue ketemu Johan itu. Kata Bu Eni dia yang nemuin buku yang gue ilangin."

Laki-laki itu nampak syok dan mengernyitkan dahi. Bodo. Gue tarik tangannya. "Lo kuliah di ruang mana hari ini?"

"D15."

Gue memasuki ruang D15 dengan masih menyeret laki-laki menyebalkan ini. Sampai sekarang pun, gue nggak ada rasa tertarik untuk menanyakan namanya.

Ruang D15 hanya ada 2 laki-laki dan 3 perempuan yang duduk terpisah menjadi dua kelompok seperti di masjid. Laki-laki berdua duduk di pojok kanan dan 3 perempuan duduk ketawa-ketiwi di bagian tengah ruangan.

"Disini ada yang namanya Johan?" Gue menghampiri dua laki-laki itu. "Kata mas ini dia sekelas sama Johan disini."

Hening. Dua laki-laki di hadapan gue hening. Tiga perempuan di tengah hening. Meja-meja di ruangan hening. Kompak.

"Eh anu. Johan ya Mbak? Johannya lagi nggak di kampus." Akhirnya laki-laki kurus menjawab pertanyaan gue meskipun masih dengan muka bingung. Hening lagi. "Tapi saya punya nomor HP-nya Mbak kalau mau."

Gue menelpon nomor yang dikasih si laki-laki kurus. "Kok nggak aktif ya Mas nomernya?"

"Mungkin dia lagi ada kegiatan. Lagian ngapain sih ribet banget nyariin Johan?!" Laki-laki menyebalkan di samping gue tiba-tiba membuka mulut. Ngeselin.

Gue mengacuhkan si laki-laki ngeselin dan mengucap terimkasih kepada orang-orang di dalam ruangan. Kemudian kita berdua pergi meninggalkan ruang D15.

"Gue pulang aja deh. Lo kalau ketemu Johan bilang ya, ada yang nyariin. By the way, makasih."

"Iya sama-sama. Dicariin siapa?"

"Eh iya lupa. Kita belum kenalan ya? Gue sarah." Gue mengulurkan tangan.

"Aku Adi." Kita berjabat tangan sebentar. "Panggil mas lagi aja nggak papa."

"Rese banget sih lo baru kenal!"

"Resean mana sama yang baru kenal tapi udah narik-narik tangan seenak jidat?"

Bener-bener ngeselin. Tapi memang gue narik-narik tangan dia sih. "Oke, gue minta maaf."

"Kamu masih ada hutang denganku ya. Ceritain isi buku Feminist Thought. Yang bab 4 aja deh. halaman 312." Anjir. Dia masih aja ngotot.

"Duh!" Gue langsung kabur, berjalan cepat meninggalkan laki-laki ngeselin bernama Adi itu.

"Hei!" Adi meneriakiku.

"Gue mau nyelesaiin masalah sama Johan dulu baru setelah itu gue ceritain isi bukunya!" Gue melambaikan tangan.

Gue sudah sampai di area parkir. Sebelum masuk mobil, gue sempatin buat telfon Johan lagi. Siapa tahu diangkat.

"Tut...tutt...tuuuttt..." Nggak ada jawaban.

Gue kirim pesan aja kali ya. Biar kalau si Johan baca dan tahu kalau gue mau ketemu dia.

Selamat pagi mas, apakah ini nomornya mas Johan? Saya Sarah dari jurusan hukum. Kalau mas ada waktu bisakah kita bertemu sebentar? Saya ada perlu dengan anda. Terima kasih.

Semoga nanti malam Johan memberikan kabar baik soal buku yang gue ilangin.



Part 1 bisa dibaca di sini.
Part 2 bisa dibaca di sini.
Part 3 bisa dibaca di sini.
Pada Sebuah Hati: Johan, di https://wahyuimamrifai.blogspot.co.id
(BERSAMBUNG KE PART 5)

17 Agustus 2017

6

Pada Sebuah Hati: Sarah (Part 3)

Seumur-umur gue nggak pernah terlihat cemen di depan orang, apalagi laki-laki cupu model gini.

"Oke, gue setuju!" Gue mengiyakan tantangan si laki-laki nyebelin ini meskipun gue nggak yakin bakal selesai dalam 3 hari, sih. Ah bodo. Yang penting gue terlihat keren dulu. "3 hari doang?"

Laki-laki itu diam sesaat. "Iya, 3 hari." Diam lagi. Gue rasa orang ini lagi mikir sesuatu deh. Kemudian melanjutkan. "Hari Senin balikin ke aku ya di perpustakaan ini lagi jam 7 pagi."

What the hell. Kurang pagi.

"Nggak sekalian waktu solat tahajud aja?"


Malam sebelum hari libur selalu menyenangkan. Malam panjang yang bisa dinikmati dengan begadang tanpa diteror pikiran "besok bangun pagi...besok bangun pagi". Seperti Jumat malam kali ini.

Malam ini gue bakal baca buku Feminist Thought dengan santai ditemani wafer tango cokelat yang kemarin gue beli. Sabtu-Minggu libur. Duh, menyenangkan.

Gue adalah tipe orang yang nggak bisa diburu-buru ketika baca buku. Bahkan, kalau gue kurang mengerti isinya, gue ulangi lagi halaman tersebut. Gue nggak peduli buku ini bakal selesai Senin atau enggak. Gue mau santai bacanya.

***

"Rian! Kamu lihat buku kakak nggak?"

"Itu kan di meja kakak banyak buku." Rian, adek gue yang masih berumur 8 tahun menjawab dengan nggak niat. Dia lagi mainan hotwheel kesayangannya di depan tv ketika gue panik mencari buku perpustakaan yang entah dimana. Malam Minggu yang nggak asik.

"Buku yang ada fotonya Bapak Presiden itu lho Yan. Yang warnanya merah." Gue masih sibuk mencari. "Kamu beneran nggak lihat?"

"Rian nggak tau Kak."

Anjir, dimana ya?

***

Minggu malam dan buku Feminist Thought belum selesai gue baca. Masih kurang seperempat dari seluruh halaman yang belum gue baca.

Jam menunjukan pukul 11 malam. Gue nggak kuat untuk melek lagi. Gue tidur.

***

Hari Senin ini gue cuma ada kelas jam 12 siang dan sepagi ini, jam 6.30 gue udah rapi sampai di kampus Fisip. Mahasiswa teladan. Kalau bukan gara-gara taruhan harga diri dengan si laki-laki cupu itu, gue masih tidur cantik di kamar.

Perpustakaan masih sepi. Gue berdiri di ambang pintu masuk mencari keberadaan si cowok cupu bin ngeselin. "Hei kamu. Ngapain berdiri disitu? Nutupin rezeki orang nanti." Bu Eni muncul dari balik meja. Gue kaget, kemudian menyiram wajah beliau dengan air keras. Eh, enggak sih. Boong. Kaget doang.

"Eh ini Bu..."

"Itu buku perpustakaan? Mau dikembalikan?" Bu Eni menunjuk buku Feminist Thought yang gue dekap. "Sini bukunya, Ibu data."

"Eh Bu, saya mau mengembalikan buku ini Bu." Kampret. Kenapa gue yang balikin jadinya? Mana nih si cowok cupu yang ngeselin itu?

"Siapa yang meminjam kenapa kamu yang mengembalikan?" Bu Eni mulai memasang wajah nggak enaknya.

"Ah anu, saya dititipi buku ini sama laki-laki yang pakai kacamata, tinggi itu Bu. Dia biasanya disini kok Bu, saya juga janjian sama dia."

"Oh dia.. Silakan tanda tangan disini." Bu Eni sepertinya hafal betul dengan si laki-laki ngeselin itu. "Oh iya, kamu yang kemarin Jumat katanya mau ngembaliin buku itu kan? Yang sebulan lebih kamu baca tapi nggak selesai. Sekarang mana bukunya?"

Mati gue.
Ngeles apalagi nih?
Duh.

"Itu Bu...sepertinya hilang." Bu Eni melotot.

Mati dua kali gue.

Pasrah.



Part 1 bisa dibaca di sini.
Part 2 bisa dibaca di sini.
Pada Sebuah Hati: Johan, di https://wahyuimamrifai.blogspot.co.id
(BERSAMBUNG KE PART 4)

9 Agustus 2017

19

Alasan Gue Baca Blog Lo

"Kalau nggak pernah baca, nggak bakal bisa nulis."

Kalimat itu selalu terngiang di kepala gue ketika gue lama nggak baca buku atau at least artikel di internet. Gue suka ngeblog tapi kadang nggak suka baca. Dan itu jadi masalah. Kalau gue nggak baca, gue nggak bisa nulis.

Baca artikel blog lebih gue pilih daripada baca buku ketika bener-bener males baca atau nggak ada waktu luang banyak buat baca. Disamping lebih fleksibel bisa baca dimana-mana asal bawa hp doang, baca blog orang kadang lebih menarik karena tulisannya lebih pendek dan punya cara penulisan yang beda-beda di setiap blog milik orang.


Nah, tapi nggak semua blog gue kunjungin dan gue baca. Gue punya lima alasan yang biasanya bikin gue baca blog tersebut.

Pertama, gue bakal baca blog seseorang setelah dia komen di blog gue.
Nggak munafik, gue biasanya buka blog orang setelah namanya muncul di kolom komentar blog gue. Itu cara mudah buat blog-walking dan sebagai tanda terimakasih kalau dia sudah meluangkan waktunya untuk mengunjungi dan membaca blog gue, so gue kunjungi balik blognya. Lagian, kalau sesama blogger harus saling mendukung kan?

Kedua, gue baca blog orang karena tulisannya bagus. Cara dia menyampaikan cerita bagus.
Ini biasanya gue lakuin ketika punya waktu luang yang relatif lebih banyak. Sudah ada beberapa blog orang yang gue favoritkan. Jadi kalau gue online, gue langsung ke blog tersebut dengan menuliskan alamat blognya di google chrome. hehe.

Ketiga, gue baca blog orang karena tulisannya pendek.
Jujur aja sih. Ketika gue mengunjungi blog seseorang, kemudian gue scroll ke bawah tulisannya nauzubillah panjang bener kayak insta-story-nya Awkarin, gue langsung 'close' page blog tersebut. Gue punya pemikiran negatif kalau tulisan-tulisan blog yang panjang, biasanya kebanyakan basa-basi dan bahasanya nggak efektif. Biasanya gue bosen baca tulisan yang kepanjangan.

Waktu buat baca satu tulisan panjang itu sama aja dengan gue baca tiga tulisan pendek dengan berbeda cerita. Jadi gue lebih memilih tulisan yang pendek buat dibaca. Tapi nggak semua tulisan yang panjang itu ngebosenin. 30% tulisan blog yang panjang isinya masih bagus dan nggak ngebosenin, kok.

Keempat, gue baca blog orang karena template-nya 'easy reading'.
Beberapa blogger menggunakan asas "bodo amat yang penting gue suka" saat menentukan template untuk blognya. Hal ini nggak masalah kalau template yang dia pilih aman buat kesehatan mata kita. Tapi kadang, blogger memilih template yang dia nggak tau kalau template tersebut dapat menyebabkan kerusakan mata permanen si pembaca blognya.

Kelima, gue baca blog orang karena gue mengerti topik yang dibahas.
Gue nggak mungkin baca blog yang ngebahas soal bagaimana alat reproduksi babi hutan di dataran tinggi.

Itu sih lima alasan gue biasanya baca atau mengunjungi suatu blog. Lima alasan itu juga sebisa mungkin gue terapin ke dalam blog gue sendiri, biar blog gue dibaca sama orang. Ya meskipun belum sempurna gue terapin.

Kalau kalian, gimana? Apa alasan kalian membaca atau mengunjungi suatu blog? Share ya alasan singkatnya di kolom komentar. :)

28 Juli 2017

9

Pada Sebuah Hati: Sarah (Part 2)

"Ini dicatetan kamu pinjam empat buku. Kok yang dibalikin cuma tiga?" Wajah Bu Eni nggak enak dipandang. Ya, karena memang bukan pemandangan. "Yang satu kemana?!"


"Eh...itu...iya Bu kurang satu." Astaga, kemana buku satu lagi ya? Duh, gue lupa. "Yang satu belum selesai saya baca Bu." Terpaksa gue bohong.

"Sebulan lebih belum selesai? Itu niat baca apa enggak to mbak mbak! Kayak anak kecil baca bukunya lama." Bu Eni lancar memaki. Gue cuma bisa nyengir. Dalam hati getir. Malu. Gue yakin sekarang semua mata pengunjung perpustakaan tertuju ke arah gue.

"Satu bukunya lagi besok Senin ya Bu, saya kembaliin kesini lagi." Gue kemudian bergegas keluar perpustakaan. Gue bener-bener malu.

Ketika berada di ambang pintu perpustakaan, gue teringat kembali dengan buku Feminist Thought yang pengen gue baca. Gue menoleh ke arah si laki-laki tadi dan ternyata dia sudah berada di depan meja Bu Eni dengan menyodorkan buku Feminist Thought.

"Tanggal kembalinya maksimal tanggal 10 Agustus ya." Bu Eni tersenyum dan laki-laki itu kemudian berjalan keluar perpustakaan melewati gue, sambil menenteng buku Feminist Thought.

Kurang ajar. Gue pengen baca buku itu woy!

Apa gue coba buat bilang langsung ke laki-laki itu kalau gue mau pinjem bukunya? Kalau nggak dipinjemin gimana? Malu double dong gue hari ini.

Ah bodo. Gue pinjem aja sekarang. Gue samperin laki-laki tadi yang sedang berjalan menjauhi perpustakaan.

"Mas mas!" Laki-laki itu berhenti. "Ehm, eh. Itu bukunya boleh saya pinjem nggak?"

Laki-laki itu diam, memandang gue dengan tatapan heran, dan mengernyitkan dahi.

Gue yakin dalam hatinya, laki-laki ini pasti mikir gue cewek yang sok kenal sama orang, sok asik, dan ganggu harinya dia. Ya Tuhan, gue pengen ngilang.

"Buku ini?" Dia mengangkat buku Feminist Thought.

"Iya, itu." Gue menunjuk buku yang si laki-laki itu pegang dan mencoba memberinya sebuah senyum. Kali aja bisa meluruhkan hatinya biar mau meminjami gue buku tersebut.

Laki-laki tersebut nyengir. "Kamu mau pinjem buku ini? Mau berapa bulan bacanya?"

Ahh! Gue merasa terhina. Pasti ini gara-gara ucapan Bu Eni tadi soal buku-buku yang sebulan lebih gue pinjem. Gue cuma bisa nyengir malu di depan laki-laki yang "kampret" ini.

Suasana hening dalam beberapa detik.

"Nih, kamu boleh pinjem buku ini." Nggak disangka, laki-laki itu menyodorkan bukunya. "Selesaiin dalam waktu tiga hari ya."

Tiga hari nyelesaiin buku Feminist Thought? Hey! Ini bukan novel remaja yang gaya bahasanya sederhana ya!

"Gimana?" Laki-laki ini sepertinya menunggu jawaban.



Part 1 bisa dibaca di sini.
Pada Sebuah Hati: Johan, di https://wahyuimamrifai.blogspot.co.id
(BERSAMBUNG KE PART 3)

16 Juli 2017

8

Pada Sebuah Hati: Sarah (Part 1)

Kalau bukan gara-gara denda di perpustakaan yang semakin membengkak nominalnya, gue ogah Jumat sepagi ini menginjakan kaki di perpustakaan. Gimana enggak? Di semester 7 ini, kuliah gue cuma sampai hari Kamis. Jumat, Sabtu, Minggu, adalah jadwalnya bermalas-malasan di kos untuk menonton drama Korea atau jika Tuhan menghendaki, gue mencicil skripsi.


"Bagaimana bisa denda buku sebanyak ini? Ya ampun kamu ini!" Petugas perpustakaan ngomel ketika gue menyodorkan tiga buku ilmu sosial di mejanya. "Duduk dulu deh kamu. Ini saya data dulu bukunya."

Gue cuma bisa cengengesan kemudian menghampiri rak-rak buku. Sejujurnya gue lagi nggak berminat baca buku sekarang. Tapi seminggu terakhir ini, gue penasaran banget sama bukunya Rosemarie Tong, Feminist Thought. Buku itu sering diobrolin di kelas. Nggak ada salahnya sekarang gue coba mencari buku tersebut.

Gue menghampiri rak buku tentang feminisme. 5 menit untuk menelusuri rak buku, gue nggak nemuin buku Feminist Thought tersebut. Gue malah nemuin dua buku yang berjudul sama, yaitu Feminist Politics and Human Nature karangan Alison Jaggar.

"Ok deh, baca ini dulu. Kali aja isinya mirip sama bukunya Rosemarie Tong."

Gue mencari spot baca yang jauh dari mahasiswa-mahasiswa tingkat akhir yang sedang menikmati wifi gratis perpustakaan untuk mengerjakan skripsinya. Gue nggak nyaman dengan suara jari-jemari yang beradu dengan keyboard laptop.


Akhirnya gue memilih duduk di kursi pojok yang cuma ada satu laki-laki yang sedang baca buku disana.

Gue duduk dan mulai membuka halaman pertama buku Feminist Politics and Human Nature.

Lumayan menarik juga bukunya.

Sesekali gue menjatuhkan pandangan ke laki-laki berkemeja biru tua yang duduk di depan gue ini. Dia terlihat sangat serius membaca buku yang diletakannya di meja sampai-sampai lupa bahwa kaca mata yang menempel di hidungnya sedikit melorot.

Gue rasa buku yang dia baca bagus.

Gue melanjutkan membaca buku yang sedang gue pegang. Sampai terdengar suara derit kursi dari depan gue.

Laki-laki itu membenarkan posisi duduknya dan merubah posisi buku yang sedang ia baca menjadi vertikal di atas meja. Seketika gue bisa melihat buku yang sedang ia baca. Tertulis disana "Feminist Thought" dan nama kecil di bawahnya "Rosemarie Tong".

Ah, itu buku yang daritadi gue cari! Ternyata daritadi ada di depan gue.

Laki-laki itu masih khusyu dalam membaca bukunya Rosemarie. Sedangkan gue, mulai nggak fokus di bukunya Alison Jaggar. Beberapa kali gue mencuri pandang ke buku yang dia pegang, berharap dia segera pulang dan meninggalkan buku itu di rak feminisme.

Laki-laki itu masih tenang membaca.

Gue heran. Ini nggak wajar. Nggak biasanya laki-laki kepo dengan buku-buku feminisme macam Feminist Thought itu. Setau gue, feminisme itu favoritnya mahasiswi, bukan mahasiswa. Kenapa dia doyan banget bacanya anteng gitu?

Gue penasaran.

Ah, lama banget. Lima belas menit berselang, laki-laki itu masih tenggelam di pikiran-pikiran Rosemarie. Gue semakin kepo dengan buku itu. Kalau dia aja betah dengan buku itu, berarti isinya bagus banget dong?

Makin penasaran.

Arghh. Cepetan dong balikin bukunya ke rak!

Laki-laki itu melihat ke arah gue. Shit. Gue langsung menundukan pandangan. Nggak rela gue kalau dia memergoki gue yang daritadi merhatiin dia. Ah enggak. Maksud gue, merhatiin buku yang sedang dia baca.

Laki-laki itu melanjutkan bacaannya lagi.

Aman. Gue memperhatikannya lagi.

Sebagus apa sih buku itu? Sampai-sampai laki-laki juga betah bacanya. Temen-temen di kelas gue juga bilang sih buku itu bagus.

Oke. Gue semakin penasaran dengan isi buku itu.

Apa sebaiknya gue ngomong baik-baik ke dia kalau gue pengen pinjem buku itu? Tapi gue sama sekali nggak kenal dia. Bahkan selama tiga tahun kuliah disini, belum sekali pun gue melihat dia. Mukanya asing buat gue.

"Sarah Larasati!" Bu Eni, petugas perpustakaan memanggil nama gue dengan lantang.

"Eh, iya Bu..." Gue pun menghampiri mejanya.



Pada Sebuah Hati: Johan, di https://wahyuimamrifai.blogspot.co.id
(BERSAMBUNG KE PART 2)

27 Juni 2017

12

Tiga Hal yang Harus Dihindari Ketika Lebaran Tiba

Lebaran. Jangan sampai jadi lebar -an atau malah lebarkan. Jangan. Sia-sia puasa lo sebulan kalau malah makin melebar. Puasa sebulan bikin berat badan turun 5 kilo, cuma gara-gara nasi-opor-sambal kentang goreng sehari, berat badan naik lagi 7 kilo kan nggak lucu.


Lebaran.

Semua tetangga gue mudik. Nggak mau kalah, gue mudik juga. Walaupun rumah kakek beda kecamatan satu kabupaten, gue pokoknya mudik! The cemen-nest mudik in the world: mudik beda kecamatan.

Mudik adalah hal menyenangkan meskipun ribet. Kumpul bareng keluarga, ketemu om-tante-kakek-nenek. Semuanya bahagia. Momen mahal setahun sekali.

Tapi taukah anda, bahwa di balik keceriaan lebaran, kehebohan mudik, dan kebahagiaan kumpul bareng keluarga terselip hal-hal mengerikan dan patut dihindari? Gue bilang begini bukan asal sotoy doang ya. Tapi ini adalah hasil riset lebaran-lebaran sebelumnya. Dan ini relevan banget. Apalagi buat kaum perempuan-perempuan lemah seperti gue ini.

1. Untuk kalian muda-mudi berumur diatas 20 tahun dan jomblo, hindari ngumpul bareng om-tante tanpa ada balita di sekitar kalian. Karena mereka akan melontarkan pertanyaan-pertanyaan sulit, sekelas tes CPNS seperti :

"Kapan nikah?"
"Calonnya orang mana?"
atau kalau kalian sedikit beruntung, mereka akan menanyakan: "kapan wisudanya?"

Jika ada balita di sekitar kalian, kalian bisa berpura-pura tidak mendengar pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan cara berpura-pura mengajak si balita main. Tapi jika tidak ada balita di sekitar kalian, atau bahkan posisinya kalian sendirian-jomblo-jelek pula dikepung pasukan om-tante, yaudah. Kelar hidup lo. Satu-satunya jalan keluar untuk terlepas dari situasi seperti ini ber-mati suri-lah.


2. Saat lebaran tiba, makanan melimpah, dapur selalu ramai. Kaum ibu-ibu sibuk dengan masakannya. Mereka seperti nggak rela kalau meja makan kosong tanpa makanan. Saat momen seperti ini tiba, hindarilah dapur.

Serius. Hindari dapur.

Khususnya kaum perempuan berusia matang yang hanya memiliki kemampuan masak sebatas merebus air.

Tante-tante yang sedang asik masak itu biasanya akan menanyakan "bisa masak apa? Sini masak bareng tante. Bantuin tante bikin opor ayam. Bantuin tante bikin sayur lodeh. Bantuin tante bikin kue putu ntar sore mau tante jualin."

Karena memang kemampuan masak lo cetek abis, lo jawab, "cuma bisa ngerebus air tante."

Terus tante lo bakal ketawa setan nyinyir dan berkata, "hahaha masa sih nggak bisa masak? Aduh perawan kok nggak bisa masak?"

Akhirnya satu keluarga besar lo denger nyinyiran setan tersebut dan lo mulai terbully karena nggak bisa masak.

3. Kecewa adalah hal yang sangat gue benci. Berharap terlalu tinggi kemudian dibuat patah hati dengan kenyataan yang jauh dari harapan.

Seperti itulah, toples Khong Guan.

Iya. Toples Khong Guan bikin kecewa tiap lebaran.

Hindari toples Khong Guan, tolong.


Berharap wafer cokelat dan vanilla, malah yang muncul rengginang asin atau peyek kacang gurih. Kan kesel yak. Kecewa sampai ubun-ubun.

Jangan nodai hari fitri kalian dengan kalimat umpatan pada rengginang atau pun peyek kacang:

Anjing! Kok rengginang!?

Oke. Itu 3 hal yang musti kalian hindari ketika lebaran tiba versi gue. 3 hal itu adalah hal yang emang ngeselin banget buat gue. Subjektif sih, tapi menurut gue banyak dari kalian yang mengalami hal yang sama. Iya nggak?

Di hari Idul Fitri kemarin, kakek gue dipanggil Tuhan. Sudah waktunya pulang. Gue nyesel nggak bisa di samping beliau waktu itu. Keluarga besar 80% ada disana. Gue enggak. Hmm. Mbah kakung, semoga disana bahagia ya Mbah...

Oh ya. Enjoy your Eid ul-Fitr day guys. Selamat lebaran! Maaf lahir batin ya, dari gue, blogger yang nggak konsisten.

Sumber gambar:
https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/originals/8e/d7/dd/8ed7ddd0e9aef41175f445e931f5eef2.jpg
https://img.okezone.com//content/2016/11/15/194/1542059/wawancara-pertama-sebagai-keluarga-kepresidenan-melania-trump-pilih-dress-merah-membara-fygOXMR7uh.jpg
http://4.bp.blogspot.com

19 Juni 2017

11

[Review Film] The Mummy - Alex Kurtzman


Nonton film di bioskop adalah hal yang akhir-akhir ini sulit untuk gue realisasikan. Sibuk dan nggak ada duit adalah alasan utamanya. Rencana nonton film Fast and Furious 8 sampai film Ziarah, gagal semua. Mungkin baru bisa gue tonton setelah filmnya duet jadi "Fast and Furious Berziarah".

Kemarin, gue dan Sofi, main ke Java Mall dengan niat awal beli Thai tea Dum-dum. Thai tea yang hits banget di Semarang. Setelah beli Thai tea, kita berdua iseng ke bioskopnya, Cinemaxx. Bioskop ini masih baru, belum ada sebulan, makanya kita kepo. Niat awal cuma liat-liat, kita malah kepincut sama dua poster film disana: Zombie Fighters, film Thailand yang masih coming soon dan film The Mummy yang sedang tayang di bioskop.


Tanpa basa-basi, kita nonton film The Mummy. Dadakan. Karena jamnya mepet, kita dapet seat sisa, seat paling depan. Meskipun bola mata serasa nempel ke layar bioskop dan tulang belulang pegel semua, gue tetap berusaha menikmati muka ganteng Tom Cruise di depan mata.

The Mummy adalah film kedua yang disutradarai oleh Alex Kurtzman setelah film People Like Us (2012) dan istimewanya adalah: Alex Kurtzman jadi sutradara, sekaligus penulis (bukan utama), sekaligus produser di film The Mummy ini! BOOM!!

Nama Alex Kurtzman memang sering kedengeran di dunia film. Tapi dia lebih sering jadi penulis skenario atau produser, bukan sutradara. Film The Island (2005) dan Now You See Me 2 (2016) adalah beberapa film yang dia garap. Gue langsung inget, film The Island adalah film sci-fi yang pertama kali gue tonton dan bikin gue jatuh cinta sama film sci-fi sampai sekarang. Ternyata doi yang nulis.

Film The Mummy bercerita tentang Putri Mesir kuno yang hidup ribuan tahun lalu, Princess Ahmanet (Sofia Boutella, aktris Algeria), yang dikubur hidup-hidup setelah mencoba membunuh ayahnya karena berusaha mendapatkan tahta kerajaan. Kemudian, kuburan Princess Ahmanet ditemukan oleh Nick Morton (Tom Cruise), Annabelle Wallis (Jenny Hasley), dan Sgt. Vail (Jake Johnson) pada jaman modern sekarang ini dan menyebabkan mummy Princess Ahmanet bangkit kembali.

Seperti standar film mummy pada umumnya, mummy Princess Ahmanet bangkit dari kematiannya dan belajar giat untuk mengikuti tes SBMPTN. Eh ngaco. Maap. Mummy Princess Ahmanet bangkit membawa dendam kepada umat manusia dan berusaha menguasai dunia. Nick Morton dkk merasa bertanggung jawab atas bangkitnya mummy seksi ini dan berusaha 'menidurkan'nya lagi.

Film berbudget mencapai $125 juta ini merupkan film reboot The Mummy tahun 1999 dari Universal Monsters. Universal Monsters Universe series adalah genre atau pengelompokan film dari Universal Studio yang mengangkat tema horor, setan-setanan, mosnster-monsteran, dan science fiction.


Gue lupa-lupa inget sih sama film The Mummy 1999, tapi ceritanya mirip-mirip gitu. Mengesampingkan jerawat di pipi Tom Cruise yang terlihat jelas di depan mata, secara keseluruhan film ini bagus banget. Berkali-kali gue teriak-teriak sendiri waktu nonton karena saking menegangkannya. Bagian paling menegangkan adalah saat pesawat jatuh. Beberapa detik audio-visualnya bikin ada space kosong di jantung gue. haha. Spoiler.

Meskipun film bergenre mummy kayak gini ceritanya gampang ditebak, tapi alur dan gambar-gambar hasil DOP-nya Ben Seresin ini bikin penonton selalu tegang dan berpikir "abis ini apa nih? abis ini apa ya?".


Ngereview atau ngomongin film kelas hollywood emang susah. Hampir semuanya 100% sempurna. Intinya film The Mummy (2017) visualnya keren meskipun ceritanya membosankan. Beberapa kali scene no sound bikin jantung mencelos terus shock terus sound on lagi. Keren. Visual film The Mummy ini bisa bikin penonton (seenggaknya gue) nggak ngerasa bosen sama film tentang mummy yang "oh paling endingnya begitu".

Note: postingan ini harusnya bisa gue post seminggu yang lalu. Karena kurang dikit tapi gue nggak ngelarin, jadi baru bisa dipost hari ini. PARAH.

31 Mei 2017

14

Mei Kali Ini

Yap, gue selingkuh lagi. Gue ninggalin blog lagi. Meskipun kali ini gue selingkuh karena ngurusin tugas kuliah mahasiswa akhir, gue tetep merasa bersalah dan layak untuk diceraikan.

Lebay njir...

Bulan Mei udah tinggal sehari lagi. Nggak kerasa. Kurang gede dan tahan lama soalnya. Beli obat pembesar dan obat kuat dulu, gih.

Apaan njir...

Bulan ini, angka di umur gue bertambah. Makin tua.

Iya, Mei adalah bulan ulang tahun gue. Dulu, setiap memasuki bulan Mei, gue bahagia banget. Ekspektasi gue udah macem-macem. Dapet banyak hadiah lah, dapet surprise lah, sosmed ramai banjir ucapan, dan lain-lain yang bikin gue selalu seneng ketika memasuki bulan Mei. Berasa orang spesial satu hari.

Postcard dari temen gue di Thailand

Tapi itu semua berubah semenjak gue jadi mahasiswa. Setelah kuliah, gue merasa ulang tahun adalah hal yang mengerikan. Umur gue bakal bertambah, beban hidup gue makin banyak, makin banyak hal serius yang harus gue lewati, dan...makin tua makin nggak bisa main-main.

Mei, bukan bulan favorit gue lagi.

Ekspektasi gue pun semakin surut. Gue nggak berharap hadiah, surprise, atau bahkan ucapan-ucapan banyak orang lewat sosmed. Semakin tua gue semakin sadar. Ulang tahun bukan melulu soal itu. Ulang tahun adalah saat dimana gue sadar untuk istirahat sebentar dari hidup, menyadari apa aja yang udah gue lewatin dan memikirkan apa yang selanjutnya bakal gue lakuin di hidup ini, di umur yang baru ini.

Nggak munafik, gue butuh ucapan "selamat ulang tahun". Tapi bukan dari banyak orang lagi. Gue butuh itu dari keluarga dan teman terdekat gue.

Setiap ulang tahun, orang tua gue selalu ngucapin dengan doa-doa mereka. Mereka telpon atau sebatas mengirimi gue pesan. Itu udah lebih dari cukup.

4 Mei kemarin, pagi-pagi, ibu gue ngirim whatsapp. "Nduk, selamat ulang tahun nggih." dan ditambahi doa-doa manis di belakangnya. Pesan singkat itu sukses bikin gue senyum getir rindu rumah.

Siang-sore-malem. Ucapan "selamat ulang tahun" makin menumpuk di smartphone gue. Tapi, gue masih setia buka-tutup smartphone karena menunggu satu orang yang belum ngucapin. Bapak gue.

Hingga tanggal berganti, bapak gue belum ngucapin. Baru setelah hampir satu minggu berselang, muncul notification di whatsapp; "selamat ulang tahun nduk. maaf bapak lupa ulangtahunmu."

Dan baru setelah itu, gue merasa ulang tahun gue sempurna. Bukan masalah ucapannya. Tapi masalah, akhirnya bapak gue inget hari lahir gue.

Keluarga, sahabat-sahabat gue. I am so happy to have them. Mereka membuat ulang tahun gue ini sesederhana hari biasanya tapi penuh arti. Mereka membuat gue sadar bahwa, ulang tahun adalah hal manis yang akan menjadi manis jika gue melewatinya bareng mereka yang sayang sama gue dengan tulus.

Sembari gue berbahagia, dalam hati kecil gue, gue nggak bisa bohong bahwa gue takut untuk memulai lembar-lembar baru di angka yang baru ini.

Ini berarti gue makin tua. Ini berarti life goals gue harus makin banyak yang tercapai. Ini berarti gue harus ngerasa malu kalau masih ngerepotin orang tua.

Gue pengen travelling. Gue pengen independen dari segi ekonomi. Gue pengen lebih kenal Farih. Gue pengen lebih mengenal banyak hal. Gue pengen cepet lulus. Gue pengen buktiin ke orang tua gue bahwa "ini lho anakmu Pak Buk." Ah... oke. Hari ini adalah hari terakhir di bulan Mei 2017. Gue harus udah mulai jalan di dalam rencana-rencana hidup gue di umur yang baru, bukan cuma sekedar "gue pengen".

Thanks buat orang tua, sahabar-sahabat, dan semua orang yang tulus memberikan sebagian hatinya buat gue. Gue harap, gue bisa menggunakan perasaan ini untuk menjalani hidup yang lebih baik di umur yang sekarang.

Oh iya. Dan syukur, bulan Mei ini juga, untuk pertama kalinya gue naik pesawat, keluar negeri, sendirian. I will tell this amazing story soon guys. HAHA. Keep reading this blog!

Anyway, thanks for the gifts. Gue sangat butuh jam alarm di kamar kos ini.

27 Januari 2017

29

Lima Film Indonesia 2016

Film Indonesia sekarang ini lagi giat-giatnya berkembang. Lari mengejar banyak ketinggalan mulai dari teknis, cerita, dan pemainnya. Dan hasilnya pun keliatan setiap tahun. Film Indonesia mengalami banyak peningkatan. Mulai dari musnahnya oknum tetek nongol di film horor, sampai ketatnya distribusi film yang bikin film Indonesia nggak ada di ganol.

Tahun 2016, gue nggak banyak nonton film di bioskop. Nggak sebanyak tahun 2015. Faktornya jelas: anak kuliah, jarang ada waktu dan nggak ada duit. Tapi, ada beberapa film Indonesia yang gue tonton di 2016 dan unforgetable. Entah itu jelek, bagus, atau apa. Pokoknya masih nyangkut aja dipikiran.


Lima film Indonesia 2016 yang berkesan menurut gue adalah :

1. Hangout

Jelas ini adalah film yang nggak terlupakan. Yaiyalah orang baru kemarin. Film Hangout adalah film garapannya Raditya Dika yang dia bikin sendiri ceritanya, dia yang nyutradarain, dan dia juga yang main. Seperti biasanya. Dan menurut gue, caranya itu udah mulai membosankan. Membosankan dalam artian: gue pengen Radit ngeubah caranya dia bikin film. Kayak misalnya dia yang nulis dan sutradara, tapi dia nggak main. Atau sebaliknya. Pasti bakal beda.

Film Hangout, katanya, beda dari film komedinya Raditya Dika yang lain karena genrenya bukan romance. Doi kan kalo bikin film seringnya romance, cinta-cintaan lucu gitu. Emang sih beda. Komedi dikemas dengan cerita horor thriller-petualangan (gue nggak paham), bukan Raditya Dika banget. Bagus, beda dari sebelumnya. Tapi cara dia berkomedi masih "Raditya Dika" banget dan gue nggak suka endingnya, yang menurut gue kayak sinetron.

Secara keseluruhan, film Hangout masuk kategori keren, bagus. Tapi gue secara pribadi bosen dengan film Raditya Dika. Entah karena dia terlalu cepet bikinnya jadi setiap film ya mentok nilainya 8 terus. Nggak pernah 9 atau 5. Atau memang gue bosen sama "Raditya Dika" yang itu-itu aja.

2. Ada Apa Dengan Cinta 2

Film bombastis yang bikin Gereja Ayam dipenuhi pengunjung tiap hari. Film yang berhasil bikin banyak orang baper. Film yang berhasil bikin parodi "kamu jahat" bejibun di instagram.

Ada Apa Dengan Cinta 2 adalah film yang amat sangat ditunggu-tunggu setelah sequel pertamanya tahun 2002. Dari AADC 1 ke AADC 2 doang butuh waktu 14 tahun. Dari Cinta Fitri belum nongol sampe udah tamat. Dari yang dulunya nonton AADC masih sekolah sekarang udah punya anak. Gila lama banget kan 14 tahun, makanya pas AADC2 keluar heboh banget Indonesia.

Menurut gue, AADC2 itu terlalu maksain. Maksain karena AADC pertama adalah film yang sekali kelar, nggak pake sequel. Tapi gara-gara banyak yang kangen AADC2 terutama Rangga-nya dan banyak yang haus akan film happy ending, akhirnya AADC2 dibikin dan finally happy ending.

Gue suka cara Riri Riza menyampaikan cinta lama bersemi kembali di Ada Apa Dengan Cinta 2. Nggak mainstream. Tapi gue benci Rangga. Seenaknya masuk lagi di kehidupan Cinta dan mengambil hati Cinta lagi. Nggak enak sob jadi Trian. Nyeseknya bakal bertahun-tahun itu pasti.

3. My Stupid Boss

Jujur, gue nonton film ini nggak enjoy banget. Gue waktu itu nonton rame-rame bareng temen kampus. Ramenya mereka pas nonton kali bikin mood anjlok. Jadi nggak kebawa di dalam film itu. Setiap "kelucuan" yang ada di My Stupid Boss rasanya garing.

Di luar feel yang gue rasain saat nonton My Stupid boss, gue salut sama Ade Gimbal sebagai penata artistiknya. Kalo diperhatiin, warna gambar film My Stupid Boss itu hijau-merah-kuning. Kostum, setting, dan color gradingnya dibikin seirama. Selama gue nonton My Stupid Boss, gue merasakan suasana natal. Merah-ijo. Hahaha. Keren. Jarang ada film Indonesia yang berani ambil tema tegas gitu buat pewarnaan gambarnya.

Kemarin gue sempet nonton film My Stupid Boss lagi di rumah dengan mood yang lebih baik dan ternyata lucu abis. Upi sukses bikin filmnya sempurna. Film yang digarap Indonesia-Malaysia.

4. Nay

Kalo film yang satu ini udah jelas ya, amat sangat bikin gue jatuh cinta. Gue jabarin di satu postingan penuh. Silakan baca lagi atau silakan baca kalo kalian belum baca.

5. Prenjak

Mungkin banyak yang nggak tau film keren yang satu ini karena memang film Prenjak nggak beredar bebas di bioskop.

Film Prenjak adalah film pendek garapan anak Jogja yang sekolah film di IKJ, Wregas Bhanuteja dan sempat diputar di Cannes Film Festival 2016 di Perancis. Film Prenjak juga mendapat penghargaan piala citra sebagai film pendek terbaik.

Film ini jelas keren banget. Gue nonton di pemutaran film pendek di Semarang waktu itu. Wregas mengangkat cerita kuno asli Jogja tentang wanita penjual korek api dengan harga yang sangat mahal. Film ini sangat berani menurut gue, karena jarang ada film Indonesia yang mengekspose bagian tubuh manusia. Makanya film ini nggak mungkin beredar bebas gitu aja.

Wregas berhasil mengangkat isu kehidupan sulit yang saat ini dialami banyak masyarakat Indonesia dengan caranya yang nggak gamblang. Tersirat. Cakep. Dekat sama masyarakat.

Gue suka film-film garapannya Wregas. Meskipun dia kuliah di Jakarta, dia tetep mengangkat cerita Jogja sebagai premisnya. Kayak di film pendeknya yang berjudul Lemantun. Film tanpa klimaks secara visual tapi klimaks di feeling. Tai banget udah ini film. Hahaha.

Oke. Kelar. Menurut gue postingan ini terlalu panjang meskipun udah sebisa mungkin kalimatnya gue bikin singkat padat.

Yap. Itu adalah lima film Indonesia di 2016 yang masih nyantel di ingatan gue. Kalo kalian, coba dong sebutin lima film di 2016 yang masih nyantel filmnya sampe sekarang?

Terakhir, gue berharap La La Land nggak maksain bikin sequel juga. Mentang-mentang sad ending, dibikin happy ending. Kan nggk lucu juga kalo ada sequel La La Land ntar judulnya Tinky Winky Land, Dipsy Land, dan Po Land.

Teman