21 Mei 2016

8

Penyesalan di Tanggal Tua

Dulu, gue pikir jadi anak kos itu enak. Bisa main kemana aja, bebas pulang jam berapa pun, nggak ada yang ngomel ketika bangun kesiangan, bebas makan apa aja yang gue mau, dan hidup jadi maha asik. Nggak kayak tinggal di rumah yang waktu main dibatasi, bangun harus pagi, rebutan remot tv sama orang tua, telat makan diomelin ibu, dan lain sebagainya yang bisa bikin gue mati kebosanan.



Tapi, itu dulu, kawan... Dulu, sebelum negara api menyerang dan membangunkan gue dari mimpi.

Sekarang, gue adalah seorang mahasiswa semester empat dan sekaligus menjadi anak kos, impian yang dulu gue pengenin, dan, gue nyesel pernah punya keinginan menjadi anak kos.

Kenyataannya adalah: jadi anak kos itu nggak seasik yang gue bayangin. Sering kesepian di kamar kos, nggak bisa debat sama ibu tentang siapa yang pantas jadi suami Mbak Hana di Catatan Hari Seorang Isteri season 2, dan yang paling nggak asik adalah hidup sengsara karena duit minim.

Memang sih, di awal bulan ketika uang jatah bulanan baru turun, gue bisa semena-mena nonton di bioskop, makan di KFC, beli berbagai macam barang di online shop, dan shampoan dua kali sehari. Tapi ketika tanggal udah geser ke angka belasan, hidup gue mulai tertekan. Gue mulai mengkonsumsi mie instan siang malam, boro-boro ke bioskop beli kuota aja berat banget. Puncaknya adalah ketika tanggal sudah di angka dua puluhan dan tiga puluhan. Mie instan gue ganti obat mag, shampoan dua kali sehari berganti jadi tiga hari sekali. Rasanya pengen langsung dinikahin pengusaha batu bara aja.

Ketika tanggal tua tiba, gue mulai membuat catatan hidup nelangsa. Gue catat apa aja yang memang harus gue beli dan mana yang jangan sampe gue beli. Salah-salah, kejadiannya kayak waktu itu.

---

Gue adalah pemakai kaca mata. Mata gue rabun jauh. Kemana-mana gue bawa kacamata dan seringnya gue cantolin doang di baju atau gue sakuin. Gue pakai hanya ketika gue membutuhkan kayak misalnya di jalan raya, di bioskop, atau di kelas.

Kemarin seharian gue sibuk banget. Jadi panitia di berbagai kegiatan dan ngerjain tugas di berbagai tempat. Gue bolak-balik ke tempat yang berbeda dengan tergesa-gesa. Ketika semua kegiatan itu udah selesai dan gue sampe kamar kos, gue baru sadar, kacamata gue nggak ada di saku maupun kerah baju.

Awalnya gue santai. Lama-lama panik. GUE LUPA NARO DIMANA.

Gue flashback tempat mana aja yang hari itu gue datengin. Salah satunya adalah kosan temen. Gue langsung chat si temen itu.

Gue: kacamata gue ketinggalan di kosan lu nggak?
Temen: nggak nih. Adanya kaos kaki.

Gue inget-inget lagi...dan akhirnya gue nggak inget. Fix, kacamata gue ilang, di tanggal tua.

*hening*

Gue memutuskan untuk nggak beli kacamata dulu. Selain belum ada duit, gue pikir gue belum butuh karena masih bisa ngeliat tanpa kacamata.

Sehari, dua hari, tiga hari berselang, gue mulai nggak betah nggak pake kacamata. Di kelas gue nggak bisa ngeliat presentasi dari dosen, di jalan gue nggak bisa bedain mana ibu-ibu mau nyebrang mana tong sampah. Hidup gue semakin berat di tanggal tua.

Dengan terpaksa akhirnya gue memutuskan untuk membeli kacamata. Karena budget minim, gue cari kacamata yang semurah mungkin. Gue keliling dari satu optik ke optik lain buat ngebandingin harga. Pilihan gue jatuh di kacamata bulat ini:


Setelah gue beli kacamata bulat itu, pandangan mata jadi jelas tapi hidup semakin berantakan. Gue shampoan tiga hari sekali dengan shampo yang diisi air. Gue beli sabun batang buat menggantikan sabun cair peninggalan tanggal muda. Gue lama-lamain di kampus biar bisa wifian gratis, tanpa harus beli minum kayak di kafe. Gue mulai mengkonsumsi obat mag buat mengganjal laper. Gue tabah ngelakuin itu semua demi kacamata.

Sehari, dua hari, seminggu gue lewatin dengan sengsara. Sampai akhirnya di ujung perjuangan hidup, tanggal 30, gue mati suri.

Tanggal 30 lambung gue udah mulai bocor, rambut jadi sarang kutu, ketek gue mulai jamuran. Gue hanya bisa menghabiskan sisa tanggal kampret ini dengan wifian. Berharap ada yang email undian BH berhadiah,

"Selamat anda memenangkan undian BH berhadiah uang lima juta! Segera tukarkan struk BH anda di toko kami!"

Ketika buka email, gue rada heran, ada email masuk dengan nama pengirim Randy. Gue nggak pernah punya temen namanya Randy. Jangan-jangan itu email penculikan, yang jika gue klik gue akan tersedot ke dalam layar laptop dan menghilang dari peradaban. Atau bisa juga Randy ini adalah distributor BH berhadiah?

Karena penasaran, gue akhirnya ngebuka email tersebut. Ternyata isinya adalah ajakan buat ikut lomba blog Matahari Mall. Waw.

Gue klik link yang ada di email Randy tadi. Ternyata link itu nyambung ke website Matahari Mall dan halaman lomba blog Kisah Tanggal Tuaku.

Selama ini gue pikir Matahari Mall cuma ada di mall aja, ternyata ada onlinenya juga. Iseng, gue buka website matahari itu dan boom! Gila, isinya diskon semua anjiir. Dan yang paling boom adalah banyak diskon hari tertentu, termasuk tanggal tua.

Anjir kenapa kacamata di mataharimall.com harganya miring??!
Anjir kenapa gue baru tau website ini setelah gue beli kacamata??!
Anjir kenapa Randy ini bukan distributor BH berhadiahhh??!

Anjir.

Diskonnya pun nggak cuma barang-barang fashion aja, barang kebutuhan anak kos juga lengkap. Dari mulai shampo sampe sabun sirih semuanya diskon. Nyesel gue kemarin shampoan tiga hari sekali.

Yaudahlah ya, ambil hikmahnya aja. Seenggaknya gue jadi tau ada info lomba berhadiah keren dan ada banyak diskon di mataharimall.com. Gue langsung daftar dan inget pengalaman ini, pengalaman menyesal di tanggal tua.


#JadilahSepertiBudi anak kos yang paham belanja tepat dimana.

6 Mei 2016

9

Susah Cari Kos-kosan Nyaman

Untuk beberapa mahasiswa, khususnya yang nggak aktif di kegiatan organisasi atau nggak punya kegiatan lain selain kuliah, waktu mereka banyak dihabiskan di kos-kosan. Ini berarti kos-kosan yang mereka tinggali harus nyaman dan sesuai dengan keinginan, agar mereka betah lama-lama di kos.

Standart nyamannya orang dalam mencari kos-kosan itu beda-beda. Misalnya gue dan temen gue. Pengalaman ini gue dapetin pas kemarin pindah kos-kosan.


Gue nyaman di kos yang ada wifinya, harga murah, suasananya tenang nggak berisik, tembok kamar warnanya harus putih, dan ada ibu kos yang siap ngebangunin ketika ada kuliah pagi.

Sedangkan temen gue, nyaman di kos-kosan yang ada wifinya, suasanya ramai, dan nggak ada ibu kos (penjaganya). Beda banget kan sama selera nyamannya gue.

Jadi, dalam mencari kos, gue nyari kos-kosan yang ada wifinya, harga murah, suasana kos tenang, tembok kamar berwarna putih, dan ada ibu kosnya. Saat gue cari kos-kosan yang kriterinya gitu, susahnya minta kawin ampun.

Satu kos gue datengin. Ada wifinya, suasananya tenang, tembok kamarnya berwarna putih, ada ibu kosnya, tapi harganya selangit: gue tinggalin, jelas.

Pindah ke kos berikutnya. Wifinya kenceng, tembok kamarnya berwarna putih, ada ibu kosnya, tapi suasananya kayak konser boyband Shinee pas adegan Choi Minho pamer sixpack perutnya ke penonton. Berisik banget. Langsung gue coret dari nominasi calon kos-kosan.

Pindah lagi ke kos berikutnya. Ada wifinya, harganya murah, warna tembok kamar putih, suasananya tenang, ada ibu kosnya yang baik. Cocok, sesuai banget sama kriteria kos-kosan yang gue cari. Tapi ketika mau daftar jadi penghuni kos, gue malah diusir sama pemilik kos. Ternyata itu kos-kosan khusus cowok.

Lelah gue cari kos-kosan yang nyaman. Cari kos aja lelah, gimana cari jodoh? Skip.

Dua temen gue yang nemenin gue dalam mencari kos-kosan, Arina dan Titis, hampir menyerah. Mereka mengibarkan kancut putih masing-masing, tanda menyerah dalam mempartnerin gue mencari kos-kosan. Alhasil, gue juga ikut mengibarkan kancut putih. Akhirnya pilihan gue jatuh pada kos-kosan yang wifinya kenceng, ibu kosnya baik, suasananya damai, meskipun warna temboknya pink, bukan putih.

Sebelum mendapatkan kos tersebut, gue udah muter satu Tembalang (daerah kampus) dan nggak ada kos yang cocok. Paling cocok adalah kos tembok pink tadi.

Setelah gue pindah ke kos baru tersebut, banyak hujatan menerpa gue mengenai kos-kosan yang baru ini.

"Rih lo nggak pantes tinggal di kosan warna pink imut gini."
"Tampang begal kayak lo nggak pantes tidur di kamar princess gini Rih."
"Kamar ini nggak Farih banget deh. Pindah gih. Huss huss."
"Ini kamar kos atau Naughty Rih? Pink banget."

Dear kawan, SIAPA JUGA YANG MAU TINGGAL DI KAMAR KOS PINK INI??! Nyari kos-kosan susah woyy!

Gue sadar, nggak ada kos-kosan yang sempurna, seperti yang kita mau. Jadi kita harus nyingkirin beberapa kriteria nyaman yang awalnya kita patokin buat nyari kos. Kayak gue misalnya. Capek-capek nyari kos-kosan ujung-ujungnya tinggal di kos-kosan yang warna cat temboknya nggak putih, nggak sesuai sama apa yang gue harapkan.

Oh iya, dari tadi gue ngomongin soal kos-kosan ngalur ngidul, ada nih situs buat nyari kamar kos yang sesuai sama kriteria nyaman kalian dalam menentukan kos-kosan. Jadi kita nggak perlu lagi capek-capek muter cari kos-kosan. Bahkan buat yang nggak berani tidur sendirian (biasanya cewek-cewek manja), bisa juga nemuin temen sekamar di situs ini. Nama situnya adalah serumah.com.

Di serumah.com, kalian juga bisa mengiklankan kamar sewa atau kos-kosan. Cocok nih buat juragan kos. Cek aja langsung situsnya.

Btw, sampai sekarang gue masih ada niatan buat pindah kos. Cari kos yang cat temboknya berwarna putih. Ntar deh, kalau nggak sibuk dan nggak males ngangkutin barang. Ya gitu, susah nyari kos-kosan nyaman 100%.

Teman