27 November 2015

14

Gratisan Kompas Kampus

Dimana ada gula, disitu ada semut. Dimana ada yang gratis, disitu ada mahasiswa.

Mahasiswa. Belanja nggak kenal kwalitas yang penting murah, makan nggak peduli gizi yang penting kenyang, seminar nggak peduli materinya apa yang penting dapet makan gratis.

Gratis.

Layaknya mantra sihir, kata 'gratis' dapat merubah orang dengan mudahnya. Yang tadinya mager jadi semangat, yang tadinya putus asa jadi menemukan gairah hidup kembali, yang tadinya jelek, tetep jelek, sih.

Seperti hari ini tadi. Kampus gue kedatangan Kompas tv. Mereka ngadain acara Kompas Kampus dan itu gratis. Tanpa pikir panjang, gue langsung daftar dan ikut acara Kompas Kampus tersebut. Gratis cuy!

Selesai kuliah pagi gue langsung berangkat ke Gedung Soedarto Universitas Diponegoro dengan santainya dan ngerasa paling awal untuk menukarkan tiket acara Kompas Kampus. Tapi baru sampai parkiran gedung gue langsung lemes. Antrian penukaran tiket udah panjang banget. Gue lupa semboyan dimana ada yang gratis, disitu ada mahasiswa.

Gue masuk ke dalam lautan antrian itu, sendirian. Kesenggol sana, keinjek sini, scroll atas scroll bawah sok-sokan main hape biar keliatan sibuk. Inilah, kemandirian yang berlebihan.

Setelah sekian lama mengantri, akhirnya gue berada di urutan ke-7 antrian. Depan gue adalah mbak-mbak baju kuning. Sembari mengantri, gue sms temen. Setelah selesai sms dan pandangan kembali ke depan, mbak-mbak baju kuning telah tiada. Gue sedih. Belum sempat berkenalan, dia sudah dipanggil Tuhan. Gue nangis di tengah-tengah antrian.

Enggak ding.
Enggak gitu.

Setelah melihat ke depan lagi, yang berdiri di depan gue bukan mbak-mbak baju kuning tadi melainkan mbak-mbak baju merah. Gue sadar mbak-mbak ini nyerobot antrian. Mbak ini mungkin nggak tau perjuangan gue yang sendirian kepanasan, capek kesenggol sana kesenggol sini, dan tiba-tiba antriannya diserobot gitu aja. Kesel. Kzl. KZL. Gue colek bahunya.

Gue: Mbak, ngantri dong jangan nyerobot antrian.
Mbak: Saya daritadi disini kok.
Gue: Tadi bukan mbak yang di depan saya. Ngantri dong.
Mbak: Saya daritadi disini.
Gue: Mana ada tadi mbak nggak di depan saya. Ngantri dong!
Mbak: Saya daritadi disini.
Gue: Ngantri dong mbak!
Mbak: Saya daritadi disini!
Gue: Ngantri dong mbak!!!
Mbak: Saya daritadi disini!!!!!
Gue: LO LAHIR DISINI APA GIMANA??!!!
Mbak: IYA! GUE DARI LAHIR UDAH DISINI MAU APE LO???!!!!!
Gue: *gigitin kabel sound system*

Mungkin sesuatu yang gratis bisa sampe bikin orang lupa lahir dimana. Miris sebenernya. Tapi nggak munafik juga gue pernah begitu, nyerobot antrian. Meskipun sedikit demi sedikit gue udah mulai sadar diri dan mengubah kebiasaan buruk itu.

Kalo mental orang Indonesia begini terus, kapan bisa maju? Tapi serem juga kalo Indonesia maju. Bisa tabrakan sama Singapura. Lah. Yuk berubah bareng-bareng. Yang tadinya suka nyerobot antrian dari belakang tiba-tiba udah di paling depan, diubah yuk nyerobotnya sampe tengah aja, jangan langsung ke depan. Nggak papa berubah sedikit demi sedikit.

Btw, acara Kompas Kampus itu dilaksanakan 2 hari, hari ini dan kemarin (25 & 26 November). Pas hari ke dua (tadi) gue sengaja bawa kamera. Bintang tamunya Pak Ganjar Pranowo, Tukul Arwana, Rosiana Silalahi, Kuntho Aji, Comic, dan The Finest Tree. Nggak banyak hasil kameranya, karena gue telat dan dapet barisan belakang. Barisannya mas-mas tinggi yang nontonnya sambil berdiri. 50% acara nonton Kompas Kampus gue habiskan untuk menonton punggung mas-mas. Huhuhu.

Ini beberapa foto yang gue ambil.












PS: Gue ngetik ini kemarin. Karena belum sempet posting, gue posting hari ini. Dan foto-fotonya masih mentah.

21 November 2015

10

[Review Film] Badoet - Awi Suryadi, keren!


Nonton film adalah salah satu obat yang sangat ampuh untuk menghilangkan badmood. Ramainya bioskop, suasana ketika sudah duduk di dalam bioskop, dan alur cerita film mampu bikin pikiran kita melayang ke dunia lain dan bikin mood membaik dalam hitungan menit.

Kemarin gue lagi badmood, ada sedikit masalah. Iseng gue cek aplikasi Cinema21 dan nemuin film Badoet udah tayang. Nggak ambil pusing, gue yang emang sedang sangat menunggu film ini langsung berangkat ke bioskop bareng temen yang kebetulan sedang nganggur berat.

Sampe bioskop, film Badoet udah berjalan 10 menit. Nggak masalah, tetep gass.

 

Film Badoet adalah film horor Indonesia yang memakai karakter badut sebagai tokoh hantu utamanya. Badut yang seharusnya lucu dibuat sedemikian seram di film ini. Hidung yang biasanya bulat merah besar, jadi cacat kepotong. Senyum lebar yang harusnya lucu, jadi serem. Menurut gue, Awi Suryadi sukses bikin badut jadi amat sangat serem disini. Kenangan mantan aja kalah seremnya.

Film yang disutradarai Awi Suryadi ini dibintangi oleh Daniel Topan, Ratu Felisha, Christoffer Nelwan, Marcel Chandrawinata, Aurelie Moeremans, Tiara Westlake, dan Ronny P. Tjandra. Mungkin banyak nama yang kurang familir di telinga pecinta film Indonesia, tapi itu nggak bikin film yang berlatar rumah susun sederhana ini kehilangan kekerenannya.

Film Badoet menceritakan tentang kehidupan di rumah susun yang awalnya hangat dan penuh kekeluargaan berubah menjadi penuh teror sadis. Anak-anak yang awalnya bermain ceria satu per satu tewas bunuh diri. Teror ini diawali dari penemuan kotak musik oleh anak kecil bernama Vino. Donald (Daniel Topan), Farel (Christoffer Nelwan), dan Kayla (Aurelie Moeremans), tetangganya Vino penasaran dan mencari tahu penyebab kematian anak-anak itu apa.



Dengan bantuan Nikki (Tiara Westlake), teman Donald yang indigo, akhirnya mereka bisa tau apa yang sebenarnya terjadi di rumah susun itu. Teror itu berasal dari mana, apa penyebabnya, dan gimana cara mengatasinya. Sukses nggak Donald cs? Donald itu siapanya pemilik McD?

Secara keseluruhan film ini keren-abis! Meskipun telat 10 menit, 70 menit sisanya bisa bikin gue penasaran, deg-degan, geregetan pengen nikah. Sutradara asal Lampung ini mampu bikin setiap menit di film penuh arti. Nggak ada scene yang sia-sia apalagi scene bokep-bokep nggak jelas. 100% adegan di film ini yahud. No pantat, no belahan tetek, no setan keramas. Halal.

Sosok badutnya sendiri sangat sedikit tampil di dalam film. Sebagai pemeran utama, gue rasa badut kurang hits. Dia muncul sebentar-sebentar doang. Tapi teror-terornya itu, beh...nggak usah muncul udah bikin dahi berkerut. Buat sebagian orang, suara musik dari kotak musik kuno ngeri, dan semakin ngeri di film ini.

Sebelum tayang, Film Badoet mendapat tawaran tayang di India dan Amerika. Two thumbs up! Keren banget! Belum tayang lho gaes, belum tayang! Darimana coba produser-produser bule itu tau kalo film Badoet bagus? Hah.

But, ada sedikit miss di film Badoet. Menurut gue aneh aja, 2 kejadian anak bunuh diri diperlihatkan. Cuma 1 kejadian anak bunuh diri aja yang nggak diliatin. Kenapa ya? Jeng jeng jeng! Dan, kalo kata temen gue sinematografinya kurang. Banyak kamera goyang. Tapi nggak papa, bukan pantat yang goyang.

Katanya film Badoet ini mirip film import The Clown ya? Gue belum nonton The Clown, jadi belum bisa bandingin. Coba dong, yang udah pernah nonton The Clown, reviewnya?

Yuk, yang belum nonton Badoet nonton gih. Film lokal kok, murah tiketnya. Support local movie, sekali-kali. Di bioskop ya nontonnyaaa. :p

7 November 2015

31

[Review Film] Paranormal Activity The Ghost Dimension - Gregory Plotkin

Seperti yang sudah diutarakan di postingan sebelumnya, gue nungguin film Paranormal Activity dan akhirnya beberapa hari yang lalu gue nonton juga. Yeay!

Ekspektasi : teriak-teriak, kaget, deg-degan, minta nikah.
Realita : diem, doang.


Gue sendiri sebenernya nggak ngikutin film Paranormal Activity dan lupa-lupa film yang pertama gimana, kedua gimana, ketiga gimana. Yang gue tau, Paranormal Activity itu film horor yang nayangin gambar setan dari kamera CCTV. Ya. Pengetahuan gue secetek itu.

The Ghost Dimension adalah sekuel kelima dan film keenam dari deretan film Paranormal Activity yang beredar mulai tahun 2009. Film ini masih ngelanjutin film sebelumnya yang setannya belum jelas. Jika di Paranormal Activity sebelumnya kita cuma bisa liat aktivitas sang setan yang masih samar-samar, Gregory Plotkin bikin si setan keliatan di film yang mulai tayang tanggal 28 Oktober ini. Sesuai sama tagline filmnya: For The First Time You Will See The Activity, dan bener, kita bakal liat aktivitas setan yang sebenarnya.

Paranormal Activity The Ghost Dimension menceritakan tentang keluarga Ryan (Chris J. Murray), Emily (Brit Shaw), dan anak mereka Leila (Ivy George) yang menempati rumah baru. Awalnya mereka hidup bahagia, nggak ada masalah, kayak keluarga Raffi Ahmad Nagita Slavina. Sampai suatu hari Ryan dan saudaranya Mike (Dan Gill) nemuin kamera kuno beserta beberapa kaset di rumah itu. Gue sempet mikir, bakal kayak Sinister nih kayaknya. Ternyata enggak. Kamera yang ditemuin itu adalah kamera yang bisa ngerekam hal-hal astral dan kaset-kaset itu berisi dokumentasi kegiatan kelompok pemuja setan.

Setelah nemuin kamera dan kaset-kaset tadi, keluarga Ryan hidupnya jadi nggak tenang. Bukan karena mereka salah pakai pembalut, tapi karena mereka merasa diteror oleh orang-orang yang hidup di tahun 1988. Kaset yang ditemukan ternyata berisi video kegiatan supranatural yang dilakukan Katie dan saudaranya yang hidup di tahun 1988 dan anehnya mereka seperti melihat kehidupan keluarga Ryan pada tahun 2013.

Leila pun mulai bersikap aneh. Dia punya temen imajinatif. Ya, sudah bisa ditebak; anak kecil ngomong sendiri, dan ternyata dia ngomong sama hantu, dan ternyata hantunya mau bawa dia kabur. Standar film horor orang barat. Predictable banget, huh, nggak asik.

Leila menjadi sasaran setan yang digambarkan dengan bentuk asap (nggak macho banget) untuk memenuhi ritual agar si setan bisa nyata dan hidup di bumi. Sang asap hitam pekat jelek itu bernama Toby (makin nggak macho). Darah Leila cocok untuk ritual kebangkitan Toby, makanya Toby mengincar Leila. Orang tua Leila, Ryan dan Emily yang sadar anaknya ada dalam bahaya nggak tinggal diam. Mereka berusaha menarik Leila agar tidak terlibat dalam ritual kebangkitan Toby dan beralih mengikuti acara kebangkitan nasional.

Terus gimana? Leila akhirnya bisa lepas dari Toby nggak? Toby bukan yang di GGS itu?

Film yang bersekuel memang menjanjikan untung besar karena penonton pensaran kelanjutan film dan akan nonton. Apalagi jika film pertama sukses di pasaran. Meskipun penasaran, penonton menagih film yang lebih bagus dan lebih bagus lagi dari sebelumnya. Kalo si film maker nggak bisa bikin film yang lebih greget dari sebelumnya, yang ada penonton bakal bosen dan kecewa. Ini yang menurut gue terjadi di film Paranormal Activity The Ghost Dimension. Ngebosenin, no klimaks, dan gampang ditebak. Gregory Plotkin sebagai sutradara gagal membuat tiap-tiap scene di film ini menegangkan. Hanya bagian ending yang masih bisa dibilang keren. Pindah rumah, anak dihantui, sekte-sekte penyembah setan, adalah model film horor ala Hollywood yang paling sering digunakan dan sayangnya Paranormal Activity pake model ini jadi alurnya gampang ditebak.

Overall film ini lumayan. Untuk kalian yang memiliki tingkat kecemenan tinggi, film ini bisa dijadiin latihan nonton film horor. Nggak ada darah-darahan, bunuh-bunuhan, setan bermuka ancur, aman kok.

Gimana film Paranormal Activity The Ghost Dimension menurut kalian yang udah nonton? Mungkin pendapat kita beda. Karena jujur aja gue adalah orang yang nggak gampang kaget kalo nonton film horor. Jadi belum tentu film ini cemen sebenernya.

Gue agak bingung mau nulis apa. Karena banyak bagian di film ini yang nggak berkesan.

Btw, pas nulis postingan ini gue ngerasa lebih merinding daripada pas nonton filmnya di bioskop. Kenapa ya?

Teman