28 Juli 2019

4

Insto Dry Eyes atau Naik Unta?

Source: Flying Carpet Tours
Ada banyak cara untuk menghemat budget ketika traveling. Salah satu dan yang paling sering gue lakukan adalah memangkas biaya transportasi.

Yep!
Menurut gue, biaya transportasi adalah yang paling fleksibel untuk diatur-atur dalam budgeting traveling. Gampang digoyang, cuy.

Soal transportasi, buat gue saat ini yang paling hemat, gampang, dan efisien adalah motor.

Kira-kira begini gambaran gue kalau lagi naik motor. Normal bukan?
Hampir semua perjalanan yang gue lakukan, kendaraan roda dua ini selalu jadi andalan. Bahkan ketika gue di Thailand tahun lalu, gue menggunakan motor untuk keliling kota di Nakhon Ratchasima. Gue berkendara layaknya warga lokal Thailand dan bahkan mendapat sapaan beberapa orang Thailand ketika bersisipan di jalan dengan bahasa mereka. Ofcourse, gue cuma senyum kecut sambil ngangguk-ngangguk sok ngerti. Nggak tau aja mereka yang disapa ini wong Jowo.

Selain lebih hemat, traveling naik motor membuat gue lebih mengenal tempat yang gue kunjungi. Misalnya waktu liburan tahun baru kemarin di Bali, gue jadi lebih ngerasa feel-nya Bali dibanding dengan menggunakan bus pariwisata atau mobil pribadi. Berkat mengendarai motor, gue bisa dengan mudahnya mampir di warung nasi jinggo pinggir jalan, parkir dengan leluasa, tanpa takut kendaraan gue nutupin jalan orang lain. Secara nggak langsung, gue jadi lebih nyaman nongkrong di warung nasi jinggo dan ngobrol banyak bareng si penjual.

See? Banyak keuntungan yang gue dapat ketika traveling naik motor. Meskipun begitu, naik motor apalagi jarak jauh punya beberapa kekurangan, terutama soal dampak langsung ke kesehatan badan. Yang paling gue sering rasakan adalah mata jadi pegel, sepet, dan perih akibat terlalu lama kena angin jalanan. Segala asap debu jahat masuk ke mata.


Hal ini sudah gue rasakan sejak lama. Sempat ingin mengganti motor dengan seekor unta jantan, namun gue urungkan. Gue belum siap ke pura di Bali dan nitipin unta ke tukang parkir dulu. "Pasti ada solusi yang lain!" kata hati gue waktu itu.

Setelah mencari tau, akhirnya gue ngerti bahwa mata gue yang sering pegel, sepet, dan perih ini adalah gejala dari mata kering. Wedew. Ternyata nggak cuma hati aja yang kering, mata juga bisa.

Setelah konsultasi ke beberapa pihak, akhirnya gue menemukan sahabat baik untuk mata kering gue ini nih. Kecil-kecil cabai kampus! Eh maap, cabai rawit maksudnya. Hiyaaa.

Yup, Insto Dry Eyes adalah solusi untuk masalah mata kering yang sering dialami pengendara motor macam gue ini.

Super cute
 Setelah sadar akan -nggak enaknya- mata kering dan -nggak enaknya- naik unta ke pura, gue memutuskan untuk selalu siap sedia Insto Dry Eyes kemana pun gue traveling. Bentuknya yang imut cocok di kantong, membuat gue mudah untuk membawanya.

Saku celana jeans juga masih sisa banyak!
Kadang, kalau pas di jalan mata gue lelah, gue tetesin 1-2 tetes Insto Dry Eyes ini. Jadi gejala mata kering seperti mata sepet, mata pegel, dan mata perih gampang dan cepat diatasi.

So, pilih bawa Insto Dry Eyes pas jalan-jalan atau ganti motor dengan naik unta?


Bye mata kering! :p

21 Juli 2019

6

Nekat ke Karimunjawa Cuma Bawa 400 ribu!

Kamis tengah malam itu, di saat orang-orang tidur nyenyak, gue dan tujuh teman sedang bersiap untuk berangkat ke Karimunjawa hanya dengan modal nekat tanpa persiapan matang. Jam 1 dini hari kami berangkat dari Semarang menuju Pelabuhan Kartini Jepara dengan mengendarai empat motor matic. Dinginnya udara tengah malam kerasa sampai ubun-ubun. Brr!

Kami sampai di Pelabuhan Kartini Jepara jam 4 pagi untuk selanjutnya menyebrang ke Pulau Karimunjawa. Kapal Siginjai yang akan menyebrangkan kami berangkat jam 6 pagi. Ada waktu tunggu 2 jam, gue gunain untuk tidur di salah satu warung di pelabuhan.
Setelah membeli tiket kapal seharga Rp57.000,- untuk penumpang (update 2018: Rp72.000,-) dan Rp25.000,- untuk tarif motor (update 2018: Rp27.000,-), jam 6 pagi kami naik ke Kapal Siginjai kelas ekonomi.

Secerah itu cuy cuacanya!

Ini tiket gue waktu itu. Agak kesel sih, gue ditulisnya "laki-laki". Mau protes juga sia-sia.
Perjalanan menggunakan Kapal Siginjai yang memakan waktu 4-5 jam ini kami gunakan untuk berfoto di beberapa spot menarik di atas kapal dan berkenalan dengan bule.

Sekitar jam 10 siang kami menginjakkan kaki di Pulau Karimunjawa dan langsung lanjut mencari masjid untuk solat Jumat. Sementara temen-temen cowok gue solat Jumat, kita-kita 4 orang cewek mencari penginapan.

Banyak tawaran penginapan dari warga sekitar. Mereka menyewakan rumahnya untuk dijadikan penginapan dengan fasilitas seadanya tapi harganya juga murah banget! Akhirnya kami memilih menginap di rumah warga yang memang disewakan untuk turis dengan harga Rp80.000,- per kamar untuk satu malam. Kami menyewa dua kamar untuk dua malam. Satu kamar diisi 4 cowok dan satu kamar lain untuk 4 cewek. Jatuhnya, per-malam, satu orang kena tarif Rp20.000,00. Murah kan?!

Setelah mandi dan membersihkan diri dari debu-debu jahat Semarang-Jepara, kami mencari makan siang di pinggir jalan dengan harga 10.000-an dan menuju ke Bukit Joko Tuwo untuk menikmati sunset. Tarif memasuki Bukit Joko Tuwo hanya Rp10.000,00 waktu itu. Bukit Joko Tuwo ini punya beberapa spot untuk dikunjungi. Kita harus menaiki anak tangga untuk menuju ke spot-spotnya. Kami memilih spot paling dekat karena waktu yang mepet.


Sunset cantik dengan background pulau-pulau kecil di sekitar Karimunjawa. Surga dunia!
Keesokan harinya, pagi hari kami mencari persewaan peraahu dan alat snorkeling untuk bersnokel ria di pulau-pulau sekitar Karimunjawa. Setelah mencari dan menawar, akhirnya kami mendapatkan kapal plus alat snorkeling plus guide plus solar plus makan siang dengan harga Rp100.000,- per orang.

Kami mengunjungi beberapa pulau seperti Pulau Menjangan Besar, Menjangan Kecil, Cemara Kecil, dan Tanjung Gelam. Di Pulau Menjangan Besar kami menikmati adrenalin dengan masuk ke kolam yang penuh dengan hiu di tempat penangkatan hiu. Seharusnya pengunjung harus membayar tiket masuk Rp40.000,- . Tapi karena gue berhasil sepik-sepik bapak syahbandar Karimunjawa, kami pun gratis masuk penangkaran hiu ini. Hahaha.

Terlihat tenang padahal deg-degan gais
Snorkeling di sekitaran Pulau Menjangan Kecil dan Tanjung Gelam adalah hal yang nggak bisa gue lupain. Airnya tenang, bersih, dan karangnya bagus-bagus. Dari atas perahu gue bisa melihat karang-karang di bawah air karena karang disini cuma ada di kedalaman setengah meter. Gue beruntung juga karena waktu itu buln Agustus air laut masih surut. Selama snorkeling pantat gue sering kena karang juga. Tapi buat kalian yang mau liburan kesini hati-hati ya. Jangan sampai ngerusak karang.


Cantik banget gak sih?!
Setelah puas dengan snorkeling di beberapa spot underwater dan menikmati sunbath di Tanjung Gelam dengan pasir putihnya, kami kembali ke Pulau Karimunjawa jam 4 sore. Kami langsung menuju ke Bukit Joko Tuwo lagi untuk mengunjungi spot yang lebih tinggi dari sebelumnya dan menikmati sunset. Spot ini namanya Bukit Cinta.

Landmark Karimunjawa yang terkenal itu uwuwu

Malamnya, kami menikmati seafood di Alun-alun Karimunjawa yang penuh dengan pilihan makanan. Sebagai pecinta seafood berkantong tipis, gue benar-benar excited. Banyak banget pilihan seafood dan harganya murah. Gue cuma menghabiskan uang sekitar Rp25.000,- untuk makan seafood disini.

Penjual seafood di Alun-alun Karimunjawa menjual ikan, udang, lobster, dan lain-lain dalam keadaan mentah bahkan masih hidup. Kami bisa memilih sendiri hasil laut apa yang ingin kami makan dan si penjual akan segera mengolahnya menjadi masakan yang enak sesuai keinginan. Jadi benar-benar segar seafood di Alun-Alun Karimunjawa ini.

Minggu pagi jam 5 kami harus segera menuju dermaga untuk kembali ke Jepara dengan Kapal Siginjai. Harga tiket kapal sama dengan ketika kami berangkat.

Minggu siang gue dan teman-teman sampai di Jepara dan langsung pulang menuju ke Semarang dengan membawa pengalaman traveling yang menyenangkan dan kulit yang menghitam. Gue nggak masalah. Karena menghitamnya kulit ini sebagai bukti bahwa gue sudah pernah dan menikmati shirt trip di Karimunjawa.

Untuk trip Karimunjawa ini gue cuma menghbiskan uang Rp430.000,- aja. Rp30.000,- gue pakai buat beli celana pantai di Alun-alun. Hehe.

Gue selalu punya rencana kembali lagi ke Karimunjawa meskipun belum tau kapan. See you again Karimunjawa!

11 Juni 2019

15

Pagi Itu Kamu Cantik Dan Aku Suka, Jakarta

Macet, rusuh, mahal, berantakan, kotor, adalah kata-kata yang sering muncul di benak gue ketika mendengar nama "Jakarta". Beberapa bulan yang lalu, gue selalu bersumpah kepada diri sendiri untuk tidak tinggal di Jakarta sampai kapan pun. Tapi, sumpah itu sedikit kendur di awal Mei kemarin, ketika gue berada di Ibu Kota untuk beberapa hari.

Sedikit banyak, Ibu Kota berusaha dan berhasil bikin gue luluh.

Yap, Jakarta cantik pagi itu, dan gue suka.


Pagi itu belum genap jam 6 pagi, gue memesan ojek online dari Jakarta Selatan ke daerah Kemayoran. Agak jauh dan masih lumayan dingin, gue pikir susah buat dapet driver. Ternyata gampang.

"Biasa narik jam segini Mas?" Gue bertanya di ketika di atas motor yang melaju menembus jalanan lengang Ibu Kota.

"Iya Mbak." Jawab abang ojek singkat.

"Jakarta enak ya Mas, jam segini adem."

"Iya Mbak, enak, belum macet." Jawab si abang. "Saya juga seneng narik jam segini."


Obrolan selama perjalanan berlanjut mengenai damainya Ibu Kota di pagi hari dan basa-basi sederhana antara penumpang dan supir ojek. Sesekali, gue ambil ponsel di saku jaket dan mengabadikan gambar Jakarta pagi itu dengan jepretan seadanya karena motor masih tetap melaju. Ya kali, gue suruh abang ojeknya berhenti dulu buat poto-poto dan ngefotoin gue. "Bang potoin bang buat postingan di blog." Kan nggak mungkin.


 Kawasan Jalan M.H. Thamrin dan Jend. Sudirman paling cantik, sih. Gue akuin itu. Gedung-gedung berjejer rapi, pengendara dan pengguna jalan saling mengerti hak dan kewajibannya. Kawasan itu bikin gue yakin pemerintah Indonesia dan masyarakat sudah bangun tidur dan sadar bahwa Indonesia, terutama ibu kota, perlu lari buat kejar ketinggalan dari negara-negara tetangga sebelah yang sudah lebih dulu membangun.

Kata salah seorang teman, kawasan daerah Bundaran HI itu memang baru selesai direnovasi dan ditata rapi, jadi cantik. Apalagi MRT ada disitu.


Semoga, cantiknya Jakarta pagi itu bisa berkembang ke jam-jam setelah pagi, kemudian menular ke kota-kota lain di Indonesia. Kalau semua kota cantik, kan, kita juga yang bahagia. Kayak gue gini di pagi itu. Hehe.

25 April 2019

27

Jokowi Bukan Atlet Tong Setan

Pembangunan tol trans Jawa, tol trans Sumatera, pembangunan di daerah perbatasan Kalimantan - Malaysia, pembangunan bandara di Papua, pembangunan puluhan waduk, pembangunan-pembangunan lain seantero Nusantara, dan kemarin opening ceremony Asian Games 2018 yang wah banget, bikin gue bergumam sendiri di bulan Agustus ini:

Indonesia sudah hebat ya, di ulang tahun 73 ini. Gue bangga.


Sumber: google
Wishnutama berhasil menyuguhkan pertunjukkan kelas internasional di Opening Ceremony Asian Games 2018 kemarin. Semua detail dari awal sampai akhir menurut gue juara. Termasuk bagian Jokowi muncul menggunakan motor Yamaha FZ1.

Namun, gumaman bangga gue itu nggak bertahan lebih dari 24 jam. Sehari setelah opening ceremony Asian Games, ketika di instagram banyak akun yang memposting kemeriahan opening ceremony Asian Games 2018, makhluk-makhluk seperti ini bermunculan :

Asal ngetolol-tololin pemimpin aja lo dasar sedotan pop ice!
Kesel gue. Kemunculan Presiden Jokowi dengan motornya itu bukannya diapresiasi karena susah bikin konsep karya yang kayak gitu apalagi bareng kepala negara, eh malah dinyinyir. Huhu, pengen nampol pakai knalpot rasanya.

Di bagian pembukaan ceremony kemarin, Jokowi muncul dengan motor Yamaha FZ1 dan ada beberapa atraksi menarik dengan motornya itu. Jokowi digambarkan dalam video pembukaan meliuk-liuk di jalanan dan yang paling wow ada adegan terbang dengan motor harga ratusan juta tersebut.

Gue sangat apresiasi banget konsep video Wishnutama yang berani menggandeng Jokowi dengan segala kesibukannya sebagai presiden dan melahirkan video Jokowi mengendarai motor paspampres yang epic ini. Namun, makhluk-makhluk yang ketika bayi minum susu basi kembali bermunculan:
Artis-artis film action penipu dong mba? :(
Terus lo pikir Angling Dharma terbang pakai elang itu bukan tipuan?! T_T
Boleh nampol nggak mas?
YA ITU JELAS BUKAN JOKOWI LAH MBLEGENDES!

Seorang Presiden Republik Indonesia masa harus terbang pakai motor, belak-belok di jalanan buat bikin video. Sedangkan selama ini makanan presiden aja dijaga ada koki khususnya, jalan-jalan ke mall dikawal. Masa iya dibiarin gitu aja naik motor sembarangan di jalanan? Mbok mikir!

Huhu mbanya dulu dikasih ASI nggak sih sama ibunya? :(
Si Dwayne Johnson yang badannya segede itu aja kalau main film action pakai stuntmant. Atau jangan-jangan mereka selama ini mikir kalau Chris Hemsworth di film Thor, Emma Watson di film Harry Potter, itu semua 100% real mereka? Tanpa stuntman di adegan-adegan 'berbahaya'?

BENSIN MANA BENSIN?!!

Kalau memang begitu pemikirannya, cuma ada 2 kemungkinan: sutradara film sukses bikin filmnya 100% nggak ketahuan bagian stuntmannya atau mereka benar-benar bodoh.

Gue juga heran mas. Tos dulu kita samaan!

Yap. Stuntman yang dipakai di adegang motor Jokowi adalah stuntman dari Thailand namanya Saddum. Alasannya apa pakai stuntman dari Thailand gue nggak tau. Gue sudah mencoba googling nyari kenapa pakai stuntman Thailand, belum nemu alasan yang jelasnya.

Nih fotonya Bang Saddum. Sumber: Tribunnews
Indonesia padahal punya free styler motor yang bisa jadi stuntman yang bisa dibilang juga lebih bagus. Sebut aja Wawan Tembong. Dia merupakan free styler motor gitu yang beberapa kali memenangkan kompetisi free style motor yang Saddum disana juga ikutan.

Berpositive thinking, mungkin ada alasan lain yang kita belum tau alasannya apa.

Diluar dari itu semua, gue berharap banget masyarakat Indonesia berpikir jernih. Memang suhu politik Indonesia lagi panas-panasnya, tapi tolong itu jangan sampai bikin otak kira hangus dan akhirnya nggak bisa lagi buat mikir.

Jangan mendadak bodoh hanya karena benci terhadap sesuatu.

Jangan apa-apa disangkutpautkan dengan politik, pencitraan, dan tetek bengeknya. Capek adek bang, itu mulu yang dibahas.

Opening ceremony Asian Games 2018 yang sudah sedemikian rupa hebatnya, ayo kita apresiasi. Nggak gampang lho bikin karya seni sebagus itu. Dalam seni pertunjukan, film, atau yang lain, pasti disana ada hal-hal yang memang harus dilakukan untuk menunjang ke-epic-annya. Ya contohnya Jokowi pakai stuntman itu tadi.

Semoga para pembaca blog gue ini adalah orang-orang yang cerdas. Yang tau mana karya seni dan mana ranah politik. Yang kalau berkomentar nggak sembarangan. Yang selalu memiliki kejernihan hati dan pikiran ketika memandang sesuatu. Ceilehhh.

Dan kalian harus tau,

Jokowi itu presiden, bukan atlet Tong Setan.

Yang bisa dengan lincah mainin motor seenak jidat.

Sumber: http://taulaa.blogspot.com
Kalimat terakhir itu gue baca di twitter. Tweet dari Renne Nesa aka Makmum Masjid. Gue suka kalimatnya.

Sekali lagi gue ucapkan dirgahayu Indonesia yang ke-73. Semoga semakin dewasa menjadi sebuah negara. Opening ceremony Asian Games 2018 kemarin menjadi salah satu bukti bahwa Indonesia bisa kok. Bisa berkarya sehebat itu.

Sekarang waktunya kita sebagai warga negara Indonesia yang baik, dukung semua atlet yang berlaga di Asian Games 2018 dan juga mendoakan saudara kita yang terkena bencana di Lombok sana. Nggak ada waktu buat nyinyir.

Thankyou!

Eh, subcribe channel youtube gue yuk! :)

14 Februari 2019

16

Pakaian yang dibawa Perempuan untuk Backpackeran Seminggu

Perempuan backpackeran, kenapa enggak?

sumber: www.inibaru.id
Gue sering pergi traveling dengan hanya membawa satu tas backpack untuk menampung pakaian selama kurang lebih seminggu. Gue memang dasarnya nggak suka bawa pakaian banyak. Berat dan ribet.

Nah, pakaian apa aja sih yang biasanya gue bawa dalam satu tas backpack untuk traveling sekitar seminggu?

2 atau 3 pakaian santai berupa kaos lengan panjang dan pendek.

Satu kaos bisa gue pakai seharian bahkan dua hari. Tergantung pemakaian. Kalau nggak keringetan, nggak kena kotoran yang berarti, satu kaos bisa gue pakai dua hari.

Masalah pakaian untuk perempuan khususnya, percaya deh, kalian bakal beli pakaian baru di tempat tujuan traveling atau wisata. Selain buat oleh-oleh, mata nggak bisa ditahan buat nggak belanja. Nah, pakaian yang dibeli di tempat wisata itu bisa dipakai langsung buat menghemat pakaian ketika berangkat. Yang doyan belanja pasti lagi ngangguk-ngangguk seneng.

1 celana panjang dan 1 celana pendek.
Gue biasanya bawa 1 celana panjang berupa celana training. Celana training adalah celana yang paling fleksibel menurut gue. Bisa gue pakai kapan pun karena bahannya adem dan longgar. Aktivitas apa pun enak, apalagi training yang warnanya hitam. Nggak malu-maluin kalau pun buat foto. Beda sama celana training kelas yang ada tulisannya nama jurusan. 1 celana pendek gue bawa untuk jaga-jaga kalau hawanya terlalu panas dan gerah.

Pakaian dalam sesuai jumlah hari.
Kalau backpackeran seminggu, gue biasanya bawa 7 set pakaian dalam. Satu hari satu. Gue pakai pantilainer buat menghemat celana dalam dan mempermudan perjalanan.

1 jaket serbaguna.
Bawalah jaket yang bahannya bukan jeans. Favorit gue adalah jaket yang bahan luarnya parasut dan bahan dalamnya (yang nempel di kulit kita) cotton. Nyaman banget dipakai. Hangat tapi juga nggak panas. Bisa juga buat pengganti selimut ketika kedinginan.

Itu dia pakaian-pakaian yang biasanya gue bawa dalam satu tas backpack untuk traveling kurang dari seminggu. Pakaian-pakaian tersebut di luar pakaian yang gue pakai ketika berangkat ya dan biasanya ketika berangkat traveling, gue memakai luaran jaket.

Kalau kalian, gimana? Biasanya bawa pakaian apa aja? Berapa jumlahnya?

25 Januari 2019

9

Cara Murah ke Bali dari Semarang PP

Kalau ngebayangin "Bali", yang ada di kepala gue adalah: mahal, ribet, mahal, ribet, miskin, busung lapar.

Berkali-kali gue diajak ngetrip ke Bali dan selalu gue tolak karena menurut gue Bali enggak menarik dan nggak bisa dinikmati kalau kita nggak kaya raya. Tapi ternyata anggapan gue itu salah dan gue sudah membuktikannya di awal tahun 2019 ini.

I love Bali even though I don't have much money!


Akhir tahun 2018, gue diajak salah satu teman gue, namanya Ayas, backpackeran ke Bali dan gue meng-iya-kan.

"Sejuta doang kok kak budgetnya, nggak lebih." kata Ayas waktu itu, dengan mimik muka layaknya sales kompor gas.

"Ciyus? Miapahh?" tanya gue. Karena jijik, Ayas membunuh gue.

"Serius Kak! Kita ikut Kadek mudik naik kereta. Di Bali-nya kita bisa pinjem motor dan nginep di rumah Kadek." Ayas masih dengan gaya salesnya.

"Iya Kak! Naik kereta ke Bali gampang dan murah banget!" Kadek menambahi. Mereka terlihat seperti dua sales kompor gas yang semangat.

Penawaran menarik. Akhirnya gue, Kadek, dan satu teman lagi berangkat ke Bali tanggal 29 Desember 2018. Sayangnya, Ayas batal ikut karena urusan pekerjaan.

Backpacker-an gue kali ini termasuk over budget karena kurang persiapan. Tapi nggak masalah, masih termasuk 'murah' dan semoga cerita gue ini bermanfaat buat kalian.

---

Gue dan teman-teman berangkat ke Bali lewat Surabaya menggunakan kereta api Maharani dengan harga tiket Rp49.000,00. Kereta kami berangkat jam 11.40 WIB dan tiba di Surabaya Pasarturi jam 16.27 WIB.

Gue pesan tiket kereta langsung melalui aplikasi KAI Access
Sampai Stasiun Pasarturi, kami bertiga bingung harus naik apa ke Banyuwangi karena kereta yang biasa dinaikin Kadek dari Surabaya ke Banyuwangi waktu itu habis. Ya gimana, trip ini memang trip dadakan. #GakNekatGakBerangkat

Opsi terakhir, akhirnya kami berangkat ke Pelabuhan Ketapang Banyuwangi menggunakan suttle bus (travel) dengan harga tiket Rp150.000,00. Padahal kalau lebih prepare, kita bisa naik kereta dari Stasiun Surabaya Gubeng ke Banyuwangi dengan harga tiket cuma Rp56.000,00. RUGI BANYAK!

Sampai di Pelabuhan Ketapang Minggu pagi, gue dan teman-teman langsung menuju loket pembayaran, kemudian bergegas menuju kapal. Biaya penyebrangan ke Pelabuhan Gilimanuk Rp6.500,00 dan harus menggunakan kartu e-toll.

Sesampainya di Bali, kami menuju rumah Kadek yang berada di Jembrana untuk beristirahat dengan menumpang angkot seharga Rp10.000,00. Kalau kalian mau langsung ke Denpasar, bisa menggunakan bus kota dengan tarif Rp30.000,00.

Dari Jembrana, gue menuju Tabanan, rumah Om-nya Kadek menggunakan bus. Biaya bus ini Rp30.000,00 juga. Dari Tabanan kami ke Denpasar menggunakan motor milik Om-nya Kadek.

---

Karena terlalu asik menikmati Bali, gue selesai jalan-jalan tanggal 2 Januari jam 9 malam. Padahal bus yang ingin kita tumpangi cuma beroperasi sampai jam 8 malam. Tarif bus (rencana gue) itu Rp30.000,00.

Pilihan terakhir adalah menggunakan bus malam dari terminal Mengwi menuju Pelabuhan Gilimanuk dengan biaya Rp150.000,00! Mahal gila. Oknum tiketing bus menaikan harga tiket bus malam itu. Penumpang lain di bus itu banyak yang protes. Mereka bilang, normalnya tarif bus malam yang gue naikin itu berkisar antara 90.000 sampai 100.000 rupiah per orang.

#GakNekatGakBerangkat
Nekat malah jadi miskin.

Jam 4 pagi tanggal 3 Januari gue menyebrang dari Pelabuhan Gilimanuk menuju Banyuwangi dengan harga tiket sama seperti ketika gue berangkat, Rp6.500,000.

Sampai di Pelabuhan Ketapang, gue berjalan kaki sekitar 10 menit menuju Stasiun Banyuwangi Baru. Jarak antara Pelabuhan Ketapang dan Stasiun Banyuwangi deket banget. Untuk backpacker gue saranin jalan kaki aja. Teguhkan pendirian karena bakal banyak supir-supir angkot dan ojek menawarkan angkutan mereka dengan segala macam rayuan.

Dari Banyuwangi, gue menggunakan kereta api menuju Solo Stasiun Purwosari dengan kereta Sri Tanjung. Kereta ini berangkat jam 6.30 pagi dan sampai Solo jam 18.30 dengan tarif Rp94.000. 

Iya, kalian nggak salah baca. 12 jam penuh gue di kereta!
Dari Solo menuju Semarang, banyak opsi transportasi yang bisa gue gunakan: bus dan beberapa kereta. Gue memilih menggunakan kereta api baru KAI yaitu kereta Joglosemarkerto. Selain ingin mencoba kereta baru, kereta jadwal keberangkatan kereta Joglosemarkerto adalah yang paling dekat dengan jam kedatangan gue di Solo. Jadi nunggunya nggak terlalu lama. Harga tiket untuk kereta ini adalah Rp48.000,00.

Gue nunggu di stasiun sekitar 1.5 jam
Sampailah gue di Stasiun Tawang Semarang tengah malam.

Gitu cuy,cara jalan-jalan pulang pergi dari Semarang ke Bali. Untuk lebih jelasnya gue rangkum biaya perjalanan dengan tabel di bawah ini ya.


Total biaya berangkat gue = Rp265.500,00 seharusnya bisa dihemat menjadi Rp141.500,00.

Total biaya pulang gue = Rp298.500,00 seharusnya bisa dihemat menjadi Rp178.500,00.

Ada dua opsi rute ke Bali dari Semarang naik kereta :
  • Semarang - Surabaya - Banyuwangi
  • Semarang - Solo - Banyuwangi
Jadi itu pengalaman pertama gue backpackeran ke Bali. Semoga bermanfaat buat kalian. Maaf kalau penjelasan gue masih membingungkan. Gue bakal belajar buat nulis cerita budgeting gini ke depannya.

Cheers!

Jangan lupa tulisan ini dishare ya.. Siapa tau berguna buat orang lain juga.

Teman