Selasa, Desember 11, 2018

3

Life is Walking -Ploy-

Move on adalah seni bertahan hidup tingkat dewa. Nggak semua orang bisa melewati ini dengan sempurna. Beberapa berhasil dan bertahan hidup, sementara beberapa lainnya mati sia-sia ditelan drama.

Mengenai move on, gue bukan jagonya. Jelas. Nggak usah ketawa.

Maka dari itu, mengenai move on ini, gue dapat ceramah singkat dari teman di Thailand, namanya Ploy. Analogi yang dia kasih mampu bikin gue senyum-senyum sendiri dan bergumam, "iya juga ya. Hidup memang seperti itu."

Alasan kenapa gue tanya soal move on ke Ploy adalah simpel: dia berhasil move on dari mantan pacarnya yang pacaran selama 7 tahun. Mantannya ini bukan cowok miskin muka pas-pasan hoby karokean, bukan. Mantannya dari keluarga kaya di Thailand dan serius ngajak Ploy ke pelaminan. Nggak tanggung-tanggung, mereka putus setelah si cowok selingkuh di depan mata si Ploy dan nggak lama kemudian dia nikah dengan si selingkuhan. Padahal keluarga dan teman-teman mereka saling kenal dengan baik satu sama lain.

Gue bayangin jadi Ploy rasanya mau mimisan.

Setelah itu Ploy pacaran dengan bule-bule. Ada yang LDR, ada yang memang tinggal di Thailand. Sampai akhirnya, sekarang Ploy berstatus pacar bule Jerman.

"How could you move on from your ex?" Gue tanya lewat telfon siang itu. "It must be so hard, bro."

"Yes, it was".

Ploy cerita panjang lebar dan gue cuma menimpali "really? OMG! WTF! What!?" sesekali. Memang gue tidak semutu itu gais ketika mendengarkan curhatan orang.

Dan di akhir Ploy bilang, "bro, life is walking. Sometimes we find a house and fall in love with the owner of that house. If they love us too, they will allow us to stay for long time. If they don't love us, they will kick us out and let us sit in front of the house, like a dog."

sumber: www.flickr.com
Makjleb. Mau mimisan.

"I don't wanna be a dog. I don't wanna just sit in front of the house that closed for me. I have to keep walking."

Makjleb. Mimisan beneran.

Gue cuma diem. Buka google translate, bingung mau jawab apa.

"Don't be a dog bro. You have to keep walking. Maybe you will find a better house that you can stay in for long time."

"If the owner of the next house doesn't like us too?"

"Just keep walking until you find the fit one for you to stay forever." Ploy memberi jeda. Gue bernapas. Mimisan lagi. "Believe, someday we will find a fit house for us. But we don't know which one yet."

Gue mulai paham.

Ploy melanjutkan,"who knows about the next house? The next people? We don't know about the new people we will meet there."

"But, it isn't easy to walk and leave the house that we love, right?" Gue kepo.

"Yes. It is not easy. But what can we do if they close the door? Would you just sit in front of the door like a dog?"

...

"No, bro."

"So, just keep walking. That's what I did."

Gue tertegun. Ada keheningan di antara gue dan Ploy untuk beberapa saat.

Gue memecah keheningan, "you are strong bro. I can't imagine if I were you."

Saat itu juga gue kagum. Sebelumnya, gue nggak pernah ngerti kalau apa yang sudah dilalui Ploy sesulit ini.

Kemudian gue tanya lagi, "what if they change their mind? Would you go back to the previous house?"

Ploy tertawa.

Minggu, November 25, 2018

0

Tipe-tipe Close Friends di Instagram dan Isi Postingannya

Instagram adalah sosial media yang fiturnya paling banyak. Beberapa fitur khas aplikasi lain dicomot sama instagram. Bahkan dulu waktu instagram ngeluarin fitur barunya yaitu bisa telpon di direct message, banyak jokes bermunculan, misalnya: abis ini instagram bisa buat order gojek, abis ini instagram bisa buat maps nyari lokasi tujuan, dan macem-macem.

Salah satu fitur yang ditawarkan instagram adalah fitur 'close friends' list.

sumber: wccftech.com
Close friends adalah fitur yang memungkinkan kita untuk memilih orang-orang atau followers di instagram dan membagikan postingan hanya kepada mereka. Jadi cuma mereka yang kita masukin sebagai close friends-lah yang bisa lihat postingan kita, yang lain enggak.

Setiap orang pengguna instagram juga memiliki perbedaan dalam memasukan kriteria followersnya sebagai close friends. Misalnya gue.

Close friends list gue isinya 95% teman dekat cewek. Sisanya adalah teman-teman cowok yang gue rasa dekat banget dan gue pikir mereka nggak akan menghujat kalau lihat hal apa pun yang gue posting. Soalnya postingan di close friends gue memiliki kemungkinan besar untuk dihujat khalayak ramai. Misalnya postingan foto dan video selfie, quote-quote galau dan politik yang memancing emosi, dan pertanyaan-pertanyaan galau lainnya.

Beda lagi sama Joko. Joko ini punya rahasia yang nggak semua orang tau. Close friends dia isinya postingan tentang rahasianya itu dan cuma beberapa teman dekatnya yang bisa lihat.

Ada juga Jaenab. Dia ini baru jadian. Karena masih malu-malu kucing, setiap dia posting instagram stories sama pacar barunya ini, dia cuma posting di close friends list. Isinya ya...teman-teman dekat yang rata-rata cewek dan dekat banget sama dia. Katanya, "malu ah, belum lama pacarannya".

Ada lagi Maemunah si ukhti baru jadi. Close friends instagram dia isinya 100% hareem (cewek). Yang dia posting disana adalah foto atau video dia tanpa pakai hijab. Pas gue tanya, dia jawab, "biar cowok nggak lihat. Biar nggak dosa."

Ya...mungkin Maemunah ini belum tau ada teknologi canggih namanya 'screen capture'.

Di luar itu, close friends list instagram juga kadang gonta-ganti kayak gue. Nggak selamanya si A gue masukin di close friends list instagram. Kadang gue masukin sebentar karena gue pikir postingan gue nggak terlalu pribadi. Tapi teman-teman dekat gue selalu stay di list itu.

Itu sih beberapa jenis close friends list dan isi postingan anak-anak instagram yang gue tau. Kalau menurut kalian, gimana?

By the way, random banget ya postingan gue sekarang. Setelah hampir 3 bulan nggak nulis blog, bingung dan kikuk gimana cara nulis blog. Fix murtad dari dunia blogger ini mah.

Selasa, Agustus 21, 2018

24

Jokowi Bukan Atlet Tong Setan

Pembangunan tol trans Jawa, tol trans Sumatera, pembangunan di daerah perbatasan Kalimantan - Malaysia, pembangunan bandara di Papua, pembangunan puluhan waduk, pembangunan-pembangunan lain seantero Nusantara, dan kemarin opening ceremony Asian Games 2018 yang wah banget, bikin gue bergumam sendiri di bulan Agustus ini:

Indonesia sudah hebat ya, di ulang tahun 73 ini. Gue bangga.


Sumber: google
Wishnutama berhasil menyuguhkan pertunjukkan kelas internasional di Opening Ceremony Asian Games 2018 kemarin. Semua detail dari awal sampai akhir menurut gue juara. Termasuk bagian Jokowi muncul menggunakan motor Yamaha FZ1.

Namun, gumaman bangga gue itu nggak bertahan lebih dari 24 jam. Sehari setelah opening ceremony Asian Games, ketika di instagram banyak akun yang memposting kemeriahan opening ceremony Asian Games 2018, makhluk-makhluk seperti ini bermunculan :

Asal ngetolol-tololin pemimpin aja lo dasar sedotan pop ice!
Kesel gue. Kemunculan Presiden Jokowi dengan motornya itu bukannya diapresiasi karena susah bikin konsep karya yang kayak gitu apalagi bareng kepala negara, eh malah dinyinyir. Huhu, pengen nampol pakai knalpot rasanya.

Di bagian pembukaan ceremony kemarin, Jokowi muncul dengan motor Yamaha FZ1 dan ada beberapa atraksi menarik dengan motornya itu. Jokowi digambarkan dalam video pembukaan meliuk-liuk di jalanan dan yang paling wow ada adegan terbang dengan motor harga ratusan juta tersebut.

Gue sangat apresiasi banget konsep video Wishnutama yang berani menggandeng Jokowi dengan segala kesibukannya sebagai presiden dan melahirkan video Jokowi mengendarai motor paspampres yang epic ini. Namun, makhluk-makhluk yang ketika bayi minum susu basi kembali bermunculan:
Artis-artis film action penipu dong mba? :(
Terus lo pikir Angling Dharma terbang pakai elang itu bukan tipuan?! T_T
Boleh nampol nggak mas?
YA ITU JELAS BUKAN JOKOWI LAH MBLEGENDES!

Seorang Presiden Republik Indonesia masa harus terbang pakai motor, belak-belok di jalanan buat bikin video. Sedangkan selama ini makanan presiden aja dijaga ada koki khususnya, jalan-jalan ke mall dikawal. Masa iya dibiarin gitu aja naik motor sembarangan di jalanan? Mbok mikir!

Huhu mbanya dulu dikasih ASI nggak sih sama ibunya? :(
Si Dwayne Johnson yang badannya segede itu aja kalau main film action pakai stuntmant. Atau jangan-jangan mereka selama ini mikir kalau Chris Hemsworth di film Thor, Emma Watson di film Harry Potter, itu semua 100% real mereka? Tanpa stuntman di adegan-adegan 'berbahaya'?

BENSIN MANA BENSIN?!!

Kalau memang begitu pemikirannya, cuma ada 2 kemungkinan: sutradara film sukses bikin filmnya 100% nggak ketahuan bagian stuntmannya atau mereka benar-benar bodoh.

Gue juga heran mas. Tos dulu kita samaan!

Yap. Stuntman yang dipakai di adegang motor Jokowi adalah stuntman dari Thailand namanya Saddum. Alasannya apa pakai stuntman dari Thailand gue nggak tau. Gue sudah mencoba googling nyari kenapa pakai stuntman Thailand, belum nemu alasan yang jelasnya.

Nih fotonya Bang Saddum. Sumber: Tribunnews
Indonesia padahal punya free styler motor yang bisa jadi stuntman yang bisa dibilang juga lebih bagus. Sebut aja Wawan Tembong. Dia merupakan free styler motor gitu yang beberapa kali memenangkan kompetisi free style motor yang Saddum disana juga ikutan.

Berpositive thinking, mungkin ada alasan lain yang kita belum tau alasannya apa.

Diluar dari itu semua, gue berharap banget masyarakat Indonesia berpikir jernih. Memang suhu politik Indonesia lagi panas-panasnya, tapi tolong itu jangan sampai bikin otak kira hangus dan akhirnya nggak bisa lagi buat mikir.

Jangan mendadak bodoh hanya karena benci terhadap sesuatu.

Jangan apa-apa disangkutpautkan dengan politik, pencitraan, dan tetek bengeknya. Capek adek bang, itu mulu yang dibahas.

Opening ceremony Asian Games 2018 yang sudah sedemikian rupa hebatnya, ayo kita apresiasi. Nggak gampang lho bikin karya seni sebagus itu. Dalam seni pertunjukan, film, atau yang lain, pasti disana ada hal-hal yang memang harus dilakukan untuk menunjang ke-epic-annya. Ya contohnya Jokowi pakai stuntman itu tadi.

Semoga para pembaca blog gue ini adalah orang-orang yang cerdas. Yang tau mana karya seni dan mana ranah politik. Yang kalau berkomentar nggak sembarangan. Yang selalu memiliki kejernihan hati dan pikiran ketika memandang sesuatu. Ceilehhh.

Dan kalian harus tau,

Jokowi itu presiden, bukan atlet Tong Setan.

Yang bisa dengan lincah mainin motor seenak jidat.

Sumber: http://taulaa.blogspot.com
Kalimat terakhir itu gue baca di twitter. Tweet dari Renne Nesa aka Makmum Masjid. Gue suka kalimatnya.

Sekali lagi gue ucapkan dirgahayu Indonesia yang ke-73. Semoga semakin dewasa menjadi sebuah negara. Opening ceremony Asian Games 2018 kemarin menjadi salah satu bukti bahwa Indonesia bisa kok. Bisa berkarya sehebat itu.

Sekarang waktunya kita sebagai warga negara Indonesia yang baik, dukung semua atlet yang berlaga di Asian Games 2018 dan juga mendoakan saudara kita yang terkena bencana di Lombok sana. Nggak ada waktu buat nyinyir.

Thankyou!

Eh, subcribe channel youtube gue yuk! :)

Sabtu, Agustus 04, 2018

25

Lo Ambisius Banget Sih Jadi Orang? Nggak Bagus Lho

Gue merasa mati. Bukan nggak napas lagi, bukan. Mati yang gue maksud adalah mati dalam berambisi.

Inget banget dulu tahun 2015, salah seorang teman gue bilang: "Lo ambisius banget sih jadi orang? Nggak bagus lho."

Bodohnya gue menelan ucapan itu dan akhirnya mengurangi kadar ambisius yang gue miliki. Dulu gue sangat aktif di kegiatan basket, bikin film pendek, teater, bisnis online shop tanpa kenal waktu, dan lain-lain. Akhirnya semua ikut berkurang intensitasnya karena gue nggak mau dikatain terlalu berambisi.

Sekarang baru nyesel. Hidup tanpa ambisi, rasanya seperti nggak hidup. Mati.

Inget banget dulu ketika SMA dan awal masuk kuliah, gue rajin bikin video atau pun berpergian mencari spot foto yang bagus untuk mengasah skill fotografi gue.

Mereka ini teman-teman yang dulu sama ambisinya bikin video. Jos kan?
Ketika ada waktu luang, gue mengajak teman untuk membuat video musik. Ada lagu asik, terus gue bikin deh videonya. Music video cover namanya.

Bahkan kalau lagi sendirian di rumah, gue sering bikin video stop motion. Beli kertas warna warni, gambar, gunting sana gunting sini, fotoin pakai tripod, jadi deh stop motion video.

Ada yang aneh nggak kira-kira?
Waktu itu yang ada di kepala gue cuma satu: mau bikin video, biar banyak yang suka. Karena ketika gue upload video dan banyak yang suka atau berkomentar positif, rasanya tuh segerrr banget. Macem es kelapa muda dikasih sirup marjan! Enak.

Itu yang bikin gue berambisi untuk terus bikin sesuatu atau nama lainnya konten.

Sekarang semua itu sudah nggak gue rasain lagi. Bahkan ambisi untuk segera lulus pun, nggak ada.

Apa gara-gara gue semakin tua juga ya? Hahaha.

Sekarang kalau gue scroll-scroll instagram, youtube, nontonin video jadul punya sendiri atau liat orang yang masih sangat berambisi bikin konten kreatif setiap hari, rasanya kangen...kangen pengen punya perasaan seperti itu lagi.

Kangen punya ambisi.

Hahaha.

Cuma bisa reuni. Reuni masa lalu dengan karya-karya yang walaupun jelek dan sekarang terlihat ketinggalan jaman dari segi kualitas, bisa bikin kenangan masa lalu muncul lagi dipikiran.

HIKS.

Dimana sih ambisi gue?

Ini beberapa video lama yang kemarin-kemarin gue tontonin lagi. Yang bikin gue akhirnya nulis tulisan ini juga.

Ini video music cover yang bikinnya fun banget. Ramai. Teman-teman gue sangat antusias ketika gue ajakin "eh ini lagu bagus nih. Bikin video yuk besok sore!" Atmosfer kebahagiaannya masih nempel erat di otak.

Ini behind the scenenya. Monmaap kalo mirip tukang pas foto.
Serius gue kangen.


Kalau ini video buat lomba sih dan akhirnya menang, alhamdulillah.

Waktu itu teman SMA, Anton, ngabarin kalau Acer lagi ngadain lomba video stop motion. Dia ngabarin gue karena tau gue hobi bikin stop motion. Akhirnya bikin dibantu dua teman dan voila! Jadi deh video ini.

Video ini gue bikin siang-siang di lapangan tenis. Gue sama sekali nggak merasa kepanasan. Yang ada cuma fun fun and fun.


Hahaha. Ini video yang memorable sih. Disaat siswa kelas 3 lain corat coret, gue masih rapi berpakaian OSIS putih abu-abu dengan kamera canon dikalungkan di leher sibuk merekam momen. Selama gue edit video ini, gue senyum-senyum sendiri inget betapa bahagianya hari kelulusan itu dan gue berpikir momen ini kudu gue dokumentasiin dengan baik nih. Dan ketika video ini jadi, teman-teman SMA gue memuji hasil videonya. Perasaan itu nggak bakal gue lupain.


Video stop motion yang gue bikin di kamar sendirian. Video ini gue bikin cuma gara-gara gue suka lagunya Afgan tanpa memperhitungkan timing yang pas buat pergerakan gambarnya. Jadilah...berantakan.

Itu sih beberapa video masa lalu ketika gue masih berambisi untuk selalu bikin dan bikin. Banyak video lain yang gue buat, ada di youtube gue kalau kalian mau nonton.

Gue juga dulu sering ke lapangan kompleks malem-malem bawa senter dan kamera buat bikin bulb. Teman setia gue bikin bulb si Izzun Abdussalam. Kalau lagi takut dikunciin Bapak karena pulang malem, gue bikin bulb di kamar biasanya.

Bulb yang dibikin di kamar
Gue bener-bener kangen masa-masa berambisi itu.

Sekarang gue benci kalimat Lo ambisius banget sih jadi orang? Nggak bagus lho.

Kalimat yang cuma bisa matiin semangat-semangat orang untuk 'hidup'.

Dimana ya, gue bisa temuin ambisi gue itu lagi? Ada yang tau?

"Ahh, skripsian dulu aja lah Rih"

Sabtu, Juni 02, 2018

24

Apa Yang Dilakukan Blogger Ketika Kehabisan Ide Untuk Menulis?

Oke, sekarang malam Minggu dan ini jadwalnya gue menulis di blog. Tapi setelah 3 jam duduk loyo di depan layar laptop, ide 'mau nulis apa' belum muncul juga.

Gue heran dengan para blogger yang bisa rutin setiap minggu menghasilkan tulisan baru di blognya. Bahkan ada yang dalam seminggu memposting lebih dari 1 tulisan. Idenya dari mana? Dan, apa sih yang mereka lakukan biar selalu mendapat ide dalam menulis blog?

Sumber: https://www.garyvaynerchuk.com
Biasanya, kalau memang benar-benar mentok, nggak nemu ide mau nulis apa, gue bakal ngelakuin hal lain yang gue pikir bisa mendatangkan ide dalam menulis. Ini nggak efektif sebenarnya, karena gue banyak menghabiskan waktu untuk hal-hal lain dulu baru benar-benar menulis di blog. Misalnya gue bakal...

Nonton Film

Ketika otak mentok nggak tau mau nulis apa di blog, gue biasanya merefreshing pikiran dengan menonton film-film secara random. Dengan cara ini, ide-ide sering muncul dari cerita film yang gue tonton atau kalau filmnya bagus, gue bakal review di blog. Lumayan kan, jadi bahan tulisan.

Tapi nonton film ini nggak cukup cuma 2 jam. Milih film apa yang mau ditonton aja memakan waktu setengah jam sendiri. Wasting time. Kalau nggak mau menghabiskan waktu dengan nonton film yang lama ini, biasanya gue...

Beli Es

Gue percaya, kehabisan ide saat menulis blog disebabkan salah satunya karena mood menulis gue lagi jelek. Nah, salah satu hal yang bisa memperbaiki mood gue dalam menulis adalah dengan meneguk kesegaran minuman favorit. Biasanya gue pergi keluar kos-kosan dan membeli es kopi atau Thai tea.

Ini es kopi atau Thai tea hayoo? Sumber: kompasiana
Kalau gue sedang mager menerjang panasnya Kota Semarang untuk membeli minuman segar namun juga nggak mampu bayar go-food, biasanya gue cuma...

Baca Blog Orang Lain

Berselancar di dunia maya dengan melakukan blogwalking. Gue akan mengunjungi blog-blog orang secara acak untuk membaca tulisannya. Gue akan membaca blog para teman sesama blogger yang mampir ke blog gue ini atau membuka blog-blog favorit.

Btw, baca juga: alasan-alasan gue kenapa membaca blog lo. 

Dengan membaca blog orang lain, pikiran gue sering menjadi lebih terbuka dan banyak menemukan ide-ide untuk menulis di blog gue sendiri. Cara ini sering ampuh untuk menemukan ide tulisan. Selain itu, dari blogwalking gue biasanya menemukan blog-blog bagus yang sebelumnya belum pernah gue kunjungi. Lumayan, tambah teman juga.

---

Itu tadi hal-hal yang gue lakuin ketika mau menulis blog tapi nggak punya ide. Nggak selamanya hal-hal itu membuahkan ide menulis juga, kok. Kayak hari ini misalnya. Gue sudah mencoba untuk menonton film, membaca blog orang lain, menimun minuman segar yang gue suka, tapi tetap aja nggak nemu ide tulisan. Malahan ide untuk menulis postingan ini muncul ketika gue melamun dan memikirkan:

Mau nulis apa ya?


Pertanyaan gue sendiri yang malah jadi bahan tulisan.

Kalau kalian, apa yang biasanya kalian lakuin untuk mendapatkan ide menulis di blog?

Senin, Mei 28, 2018

14

Pengalaman Nonton Bioskop di Thailand

Salah satu alasan gue pengen traveling ke Thailand adalah karena gue penasaran pengen nonton film di bioskop Thailand. Sederhana banget, kan?

Yang bikin gue penasaran pengen nonton film di bioskop Thailand adalah 'ritual' sebelum filmnya dimulai. Disana, sebelum film dimulai, kita sebagai penonton harus berdiri dan memberi hormat kepada raja Thailand kurang lebih 20 menit. Selama itu, layar bioskop akan menampilkan gambar-gambar tentang Raja Thailand dan penonton diwajibkan untuk berdiri serta menyanyikan lagu penghormatan untuk sang raja.

Beda banget kan sama di Indonesia yang sebelum film mulai cuma duduk nontonin mbak-mbak lalu lalang nawarin paket hemat popcorn sama soda?

Ini yang bikin gue tertarik dan akhirnya keinginan gue nonton bioskop di Thailand itu terwujud sebulan yang lalu.

Gue berangkat ke Thailand sendirian. Gue nggak khawatir karena gue punya beberapa temen yang tinggal di Thailand dan bisa menemani gue nonton bioskop disana.

sumber: twitter.com/imtaiki
Di Thailand, gue stay beberapa hari di Nakhon Ratachima. Nakhon Ratachima ini biasanya disingkat jadi "Korat". Kayak Yogyakarta jadi "Jogja" gitu. Korat adalah sebuah kota di wilayah barat laut Thailand. Kota ini merupakan ibuka provinsi Nakhon Ratchasima dan distrik Nakhon Ratachima.

Rabu, 18 April 2018, gue pergi ke Terminal 21 Korat (nama salah satu mall) buat nonton film Quiet Place. Gue pergi kesana sekitar jam 8 malem berdua sama temen gue orang Thailand dan kita nonton film yang jam 9 malem.

Gue pergi ke bioskop dengan perasaan sumringah penuh berkah senyum mengembang dengan indahnya. Sedangkan temen gue cemberut ogah-ogahan. Katanya ini terlalu malem dan dia nggak begitu suka filmnya. Bodo amat.

Dan inilah pengalaman gue nonton bioskop di Thailand!

Sepi

Ini bisa dijumpai dimana aja sih, nggak cuma di Thailand. Tapi waktu itu gue ngerasa sepinya berlebihan. Bioskop SF ini gedenya minta ampun (komentar orang kampung). Staf dan penonton yang ada disana berjumlah kurang dari 20 gue liat waktu itu. Sempat gue agak nggak yakin mau nonton karena gue pikir bakal nggak fun. Jauh-jauh ke Thailand buat nonton bioskop malah sepi gini. Tapi kepalang tanggung, akhirnya gue tetep beli tiket dan gue pilih duduk di tengah. Siapa tau ternyata ntar ramai.

Pas masuk teater, gue kaget. Teaternya kosong dan gelap. Cuma ada kursi-kursi + layar. Nggak ada petugas di pintu keluar atau yang bawa-bawa senter ngarahin penonton duduk dimana. Nggak ada petugas yang berdiri di pintu keluar juga. Penonton juga belum ada yang masuk. Sama sekali nggak ada orang. Cuma ada gue dan temen gue.

Sekosong ini cuy.
Rasanya pengen pulang ke Indonesia waktu itu.

Akhirnya, yakin nggak yakin gue duduk. Gue masih berusaha positif thinking. Bakal banyak yang nonton nanti.

Jam Masuk Bioskop di Thailand Beda

Setelah mendapatkan tiket, gue harus menukarnya dengan kertas kecil. Agak bingung gue waktu itu. Gue yang selalu ngoleksi tiket bioskop, merasa sedikit kecewa karena nggak bisa nyimpen tiket dan masa iya cuma nyimpen kertas kecil yang ditulisin pakai bolpen begini?

Ini tiketnya. Untung habis beli langsung gue foto buat update di instastory. Jadi ada kenang-kenangan.
Setelah menukar dengan kertas kecil, nggak tau kenapa karena temen gue yang ngomong pakai bahasa Thailand, gue dapat cash back per tiketnya 20 baht.

Setelah itu, gue dan temen gue langsung mencari teater yang dituju dan menunggu di depan teater.

Jam 20.45, gue ajak temen gue masuk teater. Katanya belum boleh. Oke, gue nunggu lagi.

Jam 20.55, gue ajak temen gue lagi masuk teater. Katanya masih belum boleh.

Gue heran. Gue nggak mau telat. Filmnya jam 9, gue harus masuk bioskop sebelum jam 9 dong. Seperti di bioskop-bioskop Indonesia.

Ternyata jam 9 yang tertera di tiket adalah jam penonton masuk ke teater bioskop. Hm. Oke. Beda banget.

Ditinggal Sendirian, Mangap-mangap, dan Bego

Gue dan temen gue duduk anteng di bioskop menunggu film dimulai. Teater masih sepi. Nggak lama kemudian masuk satu rombongan keluarga yang duduk di kursi atas. Gue bersyukur. Nggak nonton sendirian.

Ini temen gue. Selama di bioskop nggak happy.
"I wanna go to toilet." Temen gue berdiri dan keluar menuju toilet. Gue duduk sendirian.

Sampai layar bioskop nampilin foto Raja Thailand. Musik yang ala-ala kerajaan juga mulai terdengar.

Gue harus ngapain nih?

Oke, calm down.

Gue lihat rombongan penonton di kursi belakang mulai berdiri dan bernyanyi dengan muka khidmat. Pandangan lurus ke depan. Gue celingukan sedikit panik.

Gue harus ngapain nih?

GUE HARUS NGAPAIN NIH?!

Akhirnya gue berdiri juga. Masih celingukan. Apa yang harus gue nyanyiin?! Di layar ada subtitle lagunya. Tapi pakai aksara Thailand yang di mata gue nggak jauh beda dari aksara Jawa tapi lebih keriting. Woy tolong!

OH TUHAN...

GUE HARUS NGAPAIN NEEEH?!

MANGAP-MANGAP DOANG GITU???

Ini momen yang gue cari tapi malah gue cengok begini. Bangsat.

Setelah 20 menit, akhirnya 'ritual' pun selesai. Fiuhhh. Lega. Temen gue masih belum dateng. Nggak jadi lega. Gue merasa dizolimi. Gue merasa gue dikerjain dan ditinggal sama dia.

Gue langsung kepikiran bakal tidur di mall ini.

Nggak. Gue nggak boleh nyerah sama keadaan. Gue harus berusaha. Akhirnya gue keluar teater, mencari keberadaan temen gue, dan menemukan dia lagi celingak-celinguk mondar mandir di lorong bioskop.

"I can't find our theater door. All the doors here are same."

Temen gue muter-muter nyari pintu masuk teater dari toilet. Pintunya emang sama semua sih tiap teaternya dan nggak ada petugasnya sama sekali disana. Pantesan temen gue tersesat.

---

Itu pengalaman gue nonton bioskop di Thailand. Benar-benar mengajarkan gue arti sebuah kemandirian yang hakiki di bioskop. Petugas nggak selalu ada di setiap sudut bioskop.

Walaupun gue nggak terlalu having fun, tapi pengalaman ini bakal unforgertable banget.

Nonton lagi yuk, ke Thailand!

Selasa, Mei 22, 2018

5

[Review Film] Coco - Lee Unkrick, Bikin Nangis di Bulan Ramadan

Setelah menimbang-nimbang hal apa yang akan dilakukan untuk menghabiskan hari Minggu jenuh di bulan Ramadan ini, akhirnya pilihan gue jatuh pada menonton film Coco. Film tahun 2017 yang nggak sempat gue tonton di bioskop dan kata temen-temen gue film bagus ini gue kira film tentang cokelat-cokelat gitu. Ternyata bukan tentang cokelat sama sekali.

https://cinelatinofilmfestival.com.au/films/coco
Awalnya gue meremehkan film Coco. Nggak tertarik sama sekali. Gue pikir film ini sama kayak kebanyakan film animasi lain, bakal ngebosenin apalagi ada bumbu musikal di dalamnya. Tapi ternyata gue salah. Negative thinking gue ke film, salah lagi. Film ini bagus dan berhasil bikin gue nangis di siang Ramadan.

Film Coco menceritakan tentang seorang anak laki-laki berusia 12 tahun bernama Miguel yang tinggal di salah satu desa di Meksiko bersama keluarga besarnya yang bekerja sebagai pembuat sepatu. Keluarga Miguel sangat anti terhadap musik. Ini yang jadi masalah, karena Miguel menyukai musik dan ingin menjadi musisi.

Saking antinya terhadap musik, keluarga Miguel akan memarahi siapa pun yang bernyanyi atau pun membunyikan alat musik di sekitaran rumah Miguel. Ketidak suka-an keluarga Miguel terhadap musik bukan tanpa alasan. Penyebabnya adalah kakek buyut Miguel, dulu, meninggalkan keluarga karena ingin mengejar karir sebagai musisi. Dari situlah, keluarga Miguel beranggapan bahwa musik adalah hal yang buruk dan harus dihindari.


Miguel nggak setuju dengan kepercayaan keluarganya yang menganggap musik adalah hal yang buruk.

Yang namanya mimpi harus dicapai ye kan... Miguel tetap ingin menjadi seorang musisi yang hebat seperti idolanya, Ernesto de la Cruz. Miguel berusaha menggapai mimpinya itu dengan sembunyi-sembunyi dari keluarga dan sampai pada akhirnya, dalam perjalanannya menggapai mimpi menjadi musisi, Miguel malah mendapatkan pelajaran hidup bahwa keluarga adalah hal terpenting di hidupnya lebih dari apa pun.

Dalam perjalanan Miguel menggapai impian menjadi musisi, secara tidak sengaja dia dibawa ke alam baka, bertemu keluarga-keluarganya yang sudah meninggal. Petualangan pun dimulai disana.


Gue nangis di bagian akhir. Film ini bener-bener bisa membawa gue masuk ke dunia Miguel, berpetualang bareng Miguel, dan membuat gue sadar bahwa iya, keluarga adalah yang paling penting.

Predikat 'maco' gue luluh lantah di depan film animasi berlatar Meksiko ini. Kurang ajar.

Film Coco mengangkat tradisi Dia de Muertos, yaitu hari peringatan bagi orang-orang yang telah meninggal di Meksiko. Orang Meksiko percaya bahwa di hari peringatan itu, roh anggota keluarga yang sudah meninggal akan mengunjungi rumah mereka jika mereka masih mengingat tentang anggota keluarga yang telah meninggal tersebut.

Alur film Coco ini sederhana, nggak muter-muter. Cocok ditonton untuk semua usia dan semua level kecerdasan.

Lee Unkrick sebagai sutradara berhasil membuat film animasi petualangan yang penuh makna dengan alur sederhana dan benang merah cerita yang sederhana juga. Gue sebagai penonton merasa dibawa ke Meksiko selama 1 jam 49 menit. Musik gitarnya yang khas, budaya Meksiko yang tergambar di setiap scene-nya, dan beberapa pembawaan bahasa Meksiko turut andil bagian menjadi alasan.

Untuk ukuran film animasi dengan target penonton anak-anak dan dewasa, film Coco menurut gue sudah keren. Konflik dan klimaksnya dapet meskipun nggak ribet.

Pesan yang ingin disampaikan melalui film Coco ini gampang dicerna oleh penonton males mikir kayak gue gini.

Cuma satu hal yang menurut gue 'miss' dari film Coco adalah, di bagian endingnya. Ketika semua keluarga kumpul di rumah Miguel, tanpa diceritakan dengan jelas, tiba-tiba mereka punya kucing peliharaan. Padahal sebelumnya nggak punya. Mungkin yang dimaksud sutradara adalah kucing itu sebagai bentuk hidup penjaga roh nenek buyut Miguel di alam baka yang digambarkan sebagai singa terbang. Tapi mungkin untuk beberapa orang bakal bingung, kenapa kucing itu bisa kembali ke dunia manusia yang masih hidup karena nggak diperlihatkan sama sekali di dalam scene.

Over all film Coco bagus dan cocok ditonton kalian bareng ponakan-ponakan. Bagi yang belum nonton, gih buruan nonton. Lumayan buat isi waktu luang sambil menunggu bedug magrib. Yang sudah nonton, gimana pendapat kalian? Coba tulis di kolom komentar.

Btw, selamat berpuasa ya bagi yang menjalankan. ^^

Teman