Selasa, Agustus 21, 2018

22

Jokowi Bukan Atlet Tong Setan

Pembangunan tol trans Jawa, tol trans Sumatera, pembangunan di daerah perbatasan Kalimantan - Malaysia, pembangunan bandara di Papua, pembangunan puluhan waduk, pembangunan-pembangunan lain seantero Nusantara, dan kemarin opening ceremony Asian Games 2018 yang wah banget, bikin gue bergumam sendiri di bulan Agustus ini:

Indonesia sudah hebat ya, di ulang tahun 73 ini. Gue bangga.


Sumber: google
Wishnutama berhasil menyuguhkan pertunjukkan kelas internasional di Opening Ceremony Asian Games 2018 kemarin. Semua detail dari awal sampai akhir menurut gue juara. Termasuk bagian Jokowi muncul menggunakan motor Yamaha FZ1.

Namun, gumaman bangga gue itu nggak bertahan lebih dari 24 jam. Sehari setelah opening ceremony Asian Games, ketika di instagram banyak akun yang memposting kemeriahan opening ceremony Asian Games 2018, makhluk-makhluk seperti ini bermunculan :

Asal ngetolol-tololin pemimpin aja lo dasar sedotan pop ice!
Kesel gue. Kemunculan Presiden Jokowi dengan motornya itu bukannya diapresiasi karena susah bikin konsep karya yang kayak gitu apalagi bareng kepala negara, eh malah dinyinyir. Huhu, pengen nampol pakai knalpot rasanya.

Di bagian pembukaan ceremony kemarin, Jokowi muncul dengan motor Yamaha FZ1 dan ada beberapa atraksi menarik dengan motornya itu. Jokowi digambarkan dalam video pembukaan meliuk-liuk di jalanan dan yang paling wow ada adegan terbang dengan motor harga ratusan juta tersebut.

Gue sangat apresiasi banget konsep video Wishnutama yang berani menggandeng Jokowi dengan segala kesibukannya sebagai presiden dan melahirkan video Jokowi mengendarai motor paspampres yang epic ini. Namun, makhluk-makhluk yang ketika bayi minum susu basi kembali bermunculan:
Artis-artis film action penipu dong mba? :(
Terus lo pikir Angling Dharma terbang pakai elang itu bukan tipuan?! T_T
Boleh nampol nggak mas?
YA ITU JELAS BUKAN JOKOWI LAH MBLEGENDES!

Seorang Presiden Republik Indonesia masa harus terbang pakai motor, belak-belok di jalanan buat bikin video. Sedangkan selama ini makanan presiden aja dijaga ada koki khususnya, jalan-jalan ke mall dikawal. Masa iya dibiarin gitu aja naik motor sembarangan di jalanan? Mbok mikir!

Huhu mbanya dulu dikasih ASI nggak sih sama ibunya? :(
Si Dwayne Johnson yang badannya segede itu aja kalau main film action pakai stuntmant. Atau jangan-jangan mereka selama ini mikir kalau Chris Hemsworth di film Thor, Emma Watson di film Harry Potter, itu semua 100% real mereka? Tanpa stuntman di adegan-adegan 'berbahaya'?

BENSIN MANA BENSIN?!!

Kalau memang begitu pemikirannya, cuma ada 2 kemungkinan: sutradara film sukses bikin filmnya 100% nggak ketahuan bagian stuntmannya atau mereka benar-benar bodoh.

Gue juga heran mas. Tos dulu kita samaan!

Yap. Stuntman yang dipakai di adegang motor Jokowi adalah stuntman dari Thailand namanya Saddum. Alasannya apa pakai stuntman dari Thailand gue nggak tau. Gue sudah mencoba googling nyari kenapa pakai stuntman Thailand, belum nemu alasan yang jelasnya.

Nih fotonya Bang Saddum. Sumber: Tribunnews
Indonesia padahal punya free styler motor yang bisa jadi stuntman yang bisa dibilang juga lebih bagus. Sebut aja Wawan Tembong. Dia merupakan free styler motor gitu yang beberapa kali memenangkan kompetisi free style motor yang Saddum disana juga ikutan.

Berpositive thinking, mungkin ada alasan lain yang kita belum tau alasannya apa.

Diluar dari itu semua, gue berharap banget masyarakat Indonesia berpikir jernih. Memang suhu politik Indonesia lagi panas-panasnya, tapi tolong itu jangan sampai bikin otak kira hangus dan akhirnya nggak bisa lagi buat mikir.

Jangan mendadak bodoh hanya karena benci terhadap sesuatu.

Jangan apa-apa disangkutpautkan dengan politik, pencitraan, dan tetek bengeknya. Capek adek bang, itu mulu yang dibahas.

Opening ceremony Asian Games 2018 yang sudah sedemikian rupa hebatnya, ayo kita apresiasi. Nggak gampang lho bikin karya seni sebagus itu. Dalam seni pertunjukan, film, atau yang lain, pasti disana ada hal-hal yang memang harus dilakukan untuk menunjang ke-epic-annya. Ya contohnya Jokowi pakai stuntman itu tadi.

Semoga para pembaca blog gue ini adalah orang-orang yang cerdas. Yang tau mana karya seni dan mana ranah politik. Yang kalau berkomentar nggak sembarangan. Yang selalu memiliki kejernihan hati dan pikiran ketika memandang sesuatu. Ceilehhh.

Dan kalian harus tau,

Jokowi itu presiden, bukan atlet Tong Setan.

Yang bisa dengan lincah mainin motor seenak jidat.

Sumber: http://taulaa.blogspot.com
Kalimat terakhir itu gue baca di twitter. Tweet dari Renne Nesa aka Makmum Masjid. Gue suka kalimatnya.

Sekali lagi gue ucapkan dirgahayu Indonesia yang ke-73. Semoga semakin dewasa menjadi sebuah negara. Opening ceremony Asian Games 2018 kemarin menjadi salah satu bukti bahwa Indonesia bisa kok. Bisa berkarya sehebat itu.

Sekarang waktunya kita sebagai warga negara Indonesia yang baik, dukung semua atlet yang berlaga di Asian Games 2018 dan juga mendoakan saudara kita yang terkena bencana di Lombok sana. Nggak ada waktu buat nyinyir.

Thankyou!

Eh, subcribe channel youtube gue yuk! :)

Sabtu, Agustus 04, 2018

22

Lo Ambisius Banget Sih Jadi Orang? Nggak Bagus Lho

Gue merasa mati. Bukan nggak napas lagi, bukan. Mati yang gue maksud adalah mati dalam berambisi.

Inget banget dulu tahun 2015, salah seorang teman gue bilang: "Lo ambisius banget sih jadi orang? Nggak bagus lho."

Bodohnya gue menelan ucapan itu dan akhirnya mengurangi kadar ambisius yang gue miliki. Dulu gue sangat aktif di kegiatan basket, bikin film pendek, teater, bisnis online shop tanpa kenal waktu, dan lain-lain. Akhirnya semua ikut berkurang intensitasnya karena gue nggak mau dikatain terlalu berambisi.

Sekarang baru nyesel. Hidup tanpa ambisi, rasanya seperti nggak hidup. Mati.

Inget banget dulu ketika SMA dan awal masuk kuliah, gue rajin bikin video atau pun berpergian mencari spot foto yang bagus untuk mengasah skill fotografi gue.

Mereka ini teman-teman yang dulu sama ambisinya bikin video. Jos kan?
Ketika ada waktu luang, gue mengajak teman untuk membuat video musik. Ada lagu asik, terus gue bikin deh videonya. Music video cover namanya.

Bahkan kalau lagi sendirian di rumah, gue sering bikin video stop motion. Beli kertas warna warni, gambar, gunting sana gunting sini, fotoin pakai tripod, jadi deh stop motion video.

Ada yang aneh nggak kira-kira?
Waktu itu yang ada di kepala gue cuma satu: mau bikin video, biar banyak yang suka. Karena ketika gue upload video dan banyak yang suka atau berkomentar positif, rasanya tuh segerrr banget. Macem es kelapa muda dikasih sirup marjan! Enak.

Itu yang bikin gue berambisi untuk terus bikin sesuatu atau nama lainnya konten.

Sekarang semua itu sudah nggak gue rasain lagi. Bahkan ambisi untuk segera lulus pun, nggak ada.

Apa gara-gara gue semakin tua juga ya? Hahaha.

Sekarang kalau gue scroll-scroll instagram, youtube, nontonin video jadul punya sendiri atau liat orang yang masih sangat berambisi bikin konten kreatif setiap hari, rasanya kangen...kangen pengen punya perasaan seperti itu lagi.

Kangen punya ambisi.

Hahaha.

Cuma bisa reuni. Reuni masa lalu dengan karya-karya yang walaupun jelek dan sekarang terlihat ketinggalan jaman dari segi kualitas, bisa bikin kenangan masa lalu muncul lagi dipikiran.

HIKS.

Dimana sih ambisi gue?

Ini beberapa video lama yang kemarin-kemarin gue tontonin lagi. Yang bikin gue akhirnya nulis tulisan ini juga.

Ini video music cover yang bikinnya fun banget. Ramai. Teman-teman gue sangat antusias ketika gue ajakin "eh ini lagu bagus nih. Bikin video yuk besok sore!" Atmosfer kebahagiaannya masih nempel erat di otak.

Ini behind the scenenya. Monmaap kalo mirip tukang pas foto.
Serius gue kangen.


Kalau ini video buat lomba sih dan akhirnya menang, alhamdulillah.

Waktu itu teman SMA, Anton, ngabarin kalau Acer lagi ngadain lomba video stop motion. Dia ngabarin gue karena tau gue hobi bikin stop motion. Akhirnya bikin dibantu dua teman dan voila! Jadi deh video ini.

Video ini gue bikin siang-siang di lapangan tenis. Gue sama sekali nggak merasa kepanasan. Yang ada cuma fun fun and fun.


Hahaha. Ini video yang memorable sih. Disaat siswa kelas 3 lain corat coret, gue masih rapi berpakaian OSIS putih abu-abu dengan kamera canon dikalungkan di leher sibuk merekam momen. Selama gue edit video ini, gue senyum-senyum sendiri inget betapa bahagianya hari kelulusan itu dan gue berpikir momen ini kudu gue dokumentasiin dengan baik nih. Dan ketika video ini jadi, teman-teman SMA gue memuji hasil videonya. Perasaan itu nggak bakal gue lupain.


Video stop motion yang gue bikin di kamar sendirian. Video ini gue bikin cuma gara-gara gue suka lagunya Afgan tanpa memperhitungkan timing yang pas buat pergerakan gambarnya. Jadilah...berantakan.

Itu sih beberapa video masa lalu ketika gue masih berambisi untuk selalu bikin dan bikin. Banyak video lain yang gue buat, ada di youtube gue kalau kalian mau nonton.

Gue juga dulu sering ke lapangan kompleks malem-malem bawa senter dan kamera buat bikin bulb. Teman setia gue bikin bulb si Izzun Abdussalam. Kalau lagi takut dikunciin Bapak karena pulang malem, gue bikin bulb di kamar biasanya.

Bulb yang dibikin di kamar
Gue bener-bener kangen masa-masa berambisi itu.

Sekarang gue benci kalimat Lo ambisius banget sih jadi orang? Nggak bagus lho.

Kalimat yang cuma bisa matiin semangat-semangat orang untuk 'hidup'.

Dimana ya, gue bisa temuin ambisi gue itu lagi? Ada yang tau?

"Ahh, skripsian dulu aja lah Rih"

Sabtu, Juni 02, 2018

24

Apa Yang Dilakukan Blogger Ketika Kehabisan Ide Untuk Menulis?

Oke, sekarang malam Minggu dan ini jadwalnya gue menulis di blog. Tapi setelah 3 jam duduk loyo di depan layar laptop, ide 'mau nulis apa' belum muncul juga.

Gue heran dengan para blogger yang bisa rutin setiap minggu menghasilkan tulisan baru di blognya. Bahkan ada yang dalam seminggu memposting lebih dari 1 tulisan. Idenya dari mana? Dan, apa sih yang mereka lakukan biar selalu mendapat ide dalam menulis blog?

Sumber: https://www.garyvaynerchuk.com
Biasanya, kalau memang benar-benar mentok, nggak nemu ide mau nulis apa, gue bakal ngelakuin hal lain yang gue pikir bisa mendatangkan ide dalam menulis. Ini nggak efektif sebenarnya, karena gue banyak menghabiskan waktu untuk hal-hal lain dulu baru benar-benar menulis di blog. Misalnya gue bakal...

Nonton Film

Ketika otak mentok nggak tau mau nulis apa di blog, gue biasanya merefreshing pikiran dengan menonton film-film secara random. Dengan cara ini, ide-ide sering muncul dari cerita film yang gue tonton atau kalau filmnya bagus, gue bakal review di blog. Lumayan kan, jadi bahan tulisan.

Tapi nonton film ini nggak cukup cuma 2 jam. Milih film apa yang mau ditonton aja memakan waktu setengah jam sendiri. Wasting time. Kalau nggak mau menghabiskan waktu dengan nonton film yang lama ini, biasanya gue...

Beli Es

Gue percaya, kehabisan ide saat menulis blog disebabkan salah satunya karena mood menulis gue lagi jelek. Nah, salah satu hal yang bisa memperbaiki mood gue dalam menulis adalah dengan meneguk kesegaran minuman favorit. Biasanya gue pergi keluar kos-kosan dan membeli es kopi atau Thai tea.

Ini es kopi atau Thai tea hayoo? Sumber: kompasiana
Kalau gue sedang mager menerjang panasnya Kota Semarang untuk membeli minuman segar namun juga nggak mampu bayar go-food, biasanya gue cuma...

Baca Blog Orang Lain

Berselancar di dunia maya dengan melakukan blogwalking. Gue akan mengunjungi blog-blog orang secara acak untuk membaca tulisannya. Gue akan membaca blog para teman sesama blogger yang mampir ke blog gue ini atau membuka blog-blog favorit.

Btw, baca juga: alasan-alasan gue kenapa membaca blog lo. 

Dengan membaca blog orang lain, pikiran gue sering menjadi lebih terbuka dan banyak menemukan ide-ide untuk menulis di blog gue sendiri. Cara ini sering ampuh untuk menemukan ide tulisan. Selain itu, dari blogwalking gue biasanya menemukan blog-blog bagus yang sebelumnya belum pernah gue kunjungi. Lumayan, tambah teman juga.

---

Itu tadi hal-hal yang gue lakuin ketika mau menulis blog tapi nggak punya ide. Nggak selamanya hal-hal itu membuahkan ide menulis juga, kok. Kayak hari ini misalnya. Gue sudah mencoba untuk menonton film, membaca blog orang lain, menimun minuman segar yang gue suka, tapi tetap aja nggak nemu ide tulisan. Malahan ide untuk menulis postingan ini muncul ketika gue melamun dan memikirkan:

Mau nulis apa ya?


Pertanyaan gue sendiri yang malah jadi bahan tulisan.

Kalau kalian, apa yang biasanya kalian lakuin untuk mendapatkan ide menulis di blog?

Senin, Mei 28, 2018

13

Pengalaman Nonton Bioskop di Thailand

Salah satu alasan gue pengen traveling ke Thailand adalah karena gue penasaran pengen nonton film di bioskop Thailand. Sederhana banget, kan?

Yang bikin gue penasaran pengen nonton film di bioskop Thailand adalah 'ritual' sebelum filmnya dimulai. Disana, sebelum film dimulai, kita sebagai penonton harus berdiri dan memberi hormat kepada raja Thailand kurang lebih 20 menit. Selama itu, layar bioskop akan menampilkan gambar-gambar tentang Raja Thailand dan penonton diwajibkan untuk berdiri serta menyanyikan lagu penghormatan untuk sang raja.

Beda banget kan sama di Indonesia yang sebelum film mulai cuma duduk nontonin mbak-mbak lalu lalang nawarin paket hemat popcorn sama soda?

Ini yang bikin gue tertarik dan akhirnya keinginan gue nonton bioskop di Thailand itu terwujud sebulan yang lalu.

Gue berangkat ke Thailand sendirian. Gue nggak khawatir karena gue punya beberapa temen yang tinggal di Thailand dan bisa menemani gue nonton bioskop disana.

sumber: twitter.com/imtaiki
Di Thailand, gue stay beberapa hari di Nakhon Ratachima. Nakhon Ratachima ini biasanya disingkat jadi "Korat". Kayak Yogyakarta jadi "Jogja" gitu. Korat adalah sebuah kota di wilayah barat laut Thailand. Kota ini merupakan ibuka provinsi Nakhon Ratchasima dan distrik Nakhon Ratachima.

Rabu, 18 April 2018, gue pergi ke Terminal 21 Korat (nama salah satu mall) buat nonton film Quiet Place. Gue pergi kesana sekitar jam 8 malem berdua sama temen gue orang Thailand dan kita nonton film yang jam 9 malem.

Gue pergi ke bioskop dengan perasaan sumringah penuh berkah senyum mengembang dengan indahnya. Sedangkan temen gue cemberut ogah-ogahan. Katanya ini terlalu malem dan dia nggak begitu suka filmnya. Bodo amat.

Dan inilah pengalaman gue nonton bioskop di Thailand!

Sepi

Ini bisa dijumpai dimana aja sih, nggak cuma di Thailand. Tapi waktu itu gue ngerasa sepinya berlebihan. Bioskop SF ini gedenya minta ampun (komentar orang kampung). Staf dan penonton yang ada disana berjumlah kurang dari 20 gue liat waktu itu. Sempat gue agak nggak yakin mau nonton karena gue pikir bakal nggak fun. Jauh-jauh ke Thailand buat nonton bioskop malah sepi gini. Tapi kepalang tanggung, akhirnya gue tetep beli tiket dan gue pilih duduk di tengah. Siapa tau ternyata ntar ramai.

Pas masuk teater, gue kaget. Teaternya kosong dan gelap. Cuma ada kursi-kursi + layar. Nggak ada petugas di pintu keluar atau yang bawa-bawa senter ngarahin penonton duduk dimana. Nggak ada petugas yang berdiri di pintu keluar juga. Penonton juga belum ada yang masuk. Sama sekali nggak ada orang. Cuma ada gue dan temen gue.

Sekosong ini cuy.
Rasanya pengen pulang ke Indonesia waktu itu.

Akhirnya, yakin nggak yakin gue duduk. Gue masih berusaha positif thinking. Bakal banyak yang nonton nanti.

Jam Masuk Bioskop di Thailand Beda

Setelah mendapatkan tiket, gue harus menukarnya dengan kertas kecil. Agak bingung gue waktu itu. Gue yang selalu ngoleksi tiket bioskop, merasa sedikit kecewa karena nggak bisa nyimpen tiket dan masa iya cuma nyimpen kertas kecil yang ditulisin pakai bolpen begini?

Ini tiketnya. Untung habis beli langsung gue foto buat update di instastory. Jadi ada kenang-kenangan.
Setelah menukar dengan kertas kecil, nggak tau kenapa karena temen gue yang ngomong pakai bahasa Thailand, gue dapat cash back per tiketnya 20 baht.

Setelah itu, gue dan temen gue langsung mencari teater yang dituju dan menunggu di depan teater.

Jam 20.45, gue ajak temen gue masuk teater. Katanya belum boleh. Oke, gue nunggu lagi.

Jam 20.55, gue ajak temen gue lagi masuk teater. Katanya masih belum boleh.

Gue heran. Gue nggak mau telat. Filmnya jam 9, gue harus masuk bioskop sebelum jam 9 dong. Seperti di bioskop-bioskop Indonesia.

Ternyata jam 9 yang tertera di tiket adalah jam penonton masuk ke teater bioskop. Hm. Oke. Beda banget.

Ditinggal Sendirian, Mangap-mangap, dan Bego

Gue dan temen gue duduk anteng di bioskop menunggu film dimulai. Teater masih sepi. Nggak lama kemudian masuk satu rombongan keluarga yang duduk di kursi atas. Gue bersyukur. Nggak nonton sendirian.

Ini temen gue. Selama di bioskop nggak happy.
"I wanna go to toilet." Temen gue berdiri dan keluar menuju toilet. Gue duduk sendirian.

Sampai layar bioskop nampilin foto Raja Thailand. Musik yang ala-ala kerajaan juga mulai terdengar.

Gue harus ngapain nih?

Oke, calm down.

Gue lihat rombongan penonton di kursi belakang mulai berdiri dan bernyanyi dengan muka khidmat. Pandangan lurus ke depan. Gue celingukan sedikit panik.

Gue harus ngapain nih?

GUE HARUS NGAPAIN NIH?!

Akhirnya gue berdiri juga. Masih celingukan. Apa yang harus gue nyanyiin?! Di layar ada subtitle lagunya. Tapi pakai aksara Thailand yang di mata gue nggak jauh beda dari aksara Jawa tapi lebih keriting. Woy tolong!

OH TUHAN...

GUE HARUS NGAPAIN NEEEH?!

MANGAP-MANGAP DOANG GITU???

Ini momen yang gue cari tapi malah gue cengok begini. Bangsat.

Setelah 20 menit, akhirnya 'ritual' pun selesai. Fiuhhh. Lega. Temen gue masih belum dateng. Nggak jadi lega. Gue merasa dizolimi. Gue merasa gue dikerjain dan ditinggal sama dia.

Gue langsung kepikiran bakal tidur di mall ini.

Nggak. Gue nggak boleh nyerah sama keadaan. Gue harus berusaha. Akhirnya gue keluar teater, mencari keberadaan temen gue, dan menemukan dia lagi celingak-celinguk mondar mandir di lorong bioskop.

"I can't find our theater door. All the doors here are same."

Temen gue muter-muter nyari pintu masuk teater dari toilet. Pintunya emang sama semua sih tiap teaternya dan nggak ada petugasnya sama sekali disana. Pantesan temen gue tersesat.

---

Itu pengalaman gue nonton bioskop di Thailand. Benar-benar mengajarkan gue arti sebuah kemandirian yang hakiki di bioskop. Petugas nggak selalu ada di setiap sudut bioskop.

Walaupun gue nggak terlalu having fun, tapi pengalaman ini bakal unforgertable banget.

Nonton lagi yuk, ke Thailand!

Selasa, Mei 22, 2018

5

[Review Film] Coco - Lee Unkrick, Bikin Nangis di Bulan Ramadan

Setelah menimbang-nimbang hal apa yang akan dilakukan untuk menghabiskan hari Minggu jenuh di bulan Ramadan ini, akhirnya pilihan gue jatuh pada menonton film Coco. Film tahun 2017 yang nggak sempat gue tonton di bioskop dan kata temen-temen gue film bagus ini gue kira film tentang cokelat-cokelat gitu. Ternyata bukan tentang cokelat sama sekali.

https://cinelatinofilmfestival.com.au/films/coco
Awalnya gue meremehkan film Coco. Nggak tertarik sama sekali. Gue pikir film ini sama kayak kebanyakan film animasi lain, bakal ngebosenin apalagi ada bumbu musikal di dalamnya. Tapi ternyata gue salah. Negative thinking gue ke film, salah lagi. Film ini bagus dan berhasil bikin gue nangis di siang Ramadan.

Film Coco menceritakan tentang seorang anak laki-laki berusia 12 tahun bernama Miguel yang tinggal di salah satu desa di Meksiko bersama keluarga besarnya yang bekerja sebagai pembuat sepatu. Keluarga Miguel sangat anti terhadap musik. Ini yang jadi masalah, karena Miguel menyukai musik dan ingin menjadi musisi.

Saking antinya terhadap musik, keluarga Miguel akan memarahi siapa pun yang bernyanyi atau pun membunyikan alat musik di sekitaran rumah Miguel. Ketidak suka-an keluarga Miguel terhadap musik bukan tanpa alasan. Penyebabnya adalah kakek buyut Miguel, dulu, meninggalkan keluarga karena ingin mengejar karir sebagai musisi. Dari situlah, keluarga Miguel beranggapan bahwa musik adalah hal yang buruk dan harus dihindari.


Miguel nggak setuju dengan kepercayaan keluarganya yang menganggap musik adalah hal yang buruk.

Yang namanya mimpi harus dicapai ye kan... Miguel tetap ingin menjadi seorang musisi yang hebat seperti idolanya, Ernesto de la Cruz. Miguel berusaha menggapai mimpinya itu dengan sembunyi-sembunyi dari keluarga dan sampai pada akhirnya, dalam perjalanannya menggapai mimpi menjadi musisi, Miguel malah mendapatkan pelajaran hidup bahwa keluarga adalah hal terpenting di hidupnya lebih dari apa pun.

Dalam perjalanan Miguel menggapai impian menjadi musisi, secara tidak sengaja dia dibawa ke alam baka, bertemu keluarga-keluarganya yang sudah meninggal. Petualangan pun dimulai disana.


Gue nangis di bagian akhir. Film ini bener-bener bisa membawa gue masuk ke dunia Miguel, berpetualang bareng Miguel, dan membuat gue sadar bahwa iya, keluarga adalah yang paling penting.

Predikat 'maco' gue luluh lantah di depan film animasi berlatar Meksiko ini. Kurang ajar.

Film Coco mengangkat tradisi Dia de Muertos, yaitu hari peringatan bagi orang-orang yang telah meninggal di Meksiko. Orang Meksiko percaya bahwa di hari peringatan itu, roh anggota keluarga yang sudah meninggal akan mengunjungi rumah mereka jika mereka masih mengingat tentang anggota keluarga yang telah meninggal tersebut.

Alur film Coco ini sederhana, nggak muter-muter. Cocok ditonton untuk semua usia dan semua level kecerdasan.

Lee Unkrick sebagai sutradara berhasil membuat film animasi petualangan yang penuh makna dengan alur sederhana dan benang merah cerita yang sederhana juga. Gue sebagai penonton merasa dibawa ke Meksiko selama 1 jam 49 menit. Musik gitarnya yang khas, budaya Meksiko yang tergambar di setiap scene-nya, dan beberapa pembawaan bahasa Meksiko turut andil bagian menjadi alasan.

Untuk ukuran film animasi dengan target penonton anak-anak dan dewasa, film Coco menurut gue sudah keren. Konflik dan klimaksnya dapet meskipun nggak ribet.

Pesan yang ingin disampaikan melalui film Coco ini gampang dicerna oleh penonton males mikir kayak gue gini.

Cuma satu hal yang menurut gue 'miss' dari film Coco adalah, di bagian endingnya. Ketika semua keluarga kumpul di rumah Miguel, tanpa diceritakan dengan jelas, tiba-tiba mereka punya kucing peliharaan. Padahal sebelumnya nggak punya. Mungkin yang dimaksud sutradara adalah kucing itu sebagai bentuk hidup penjaga roh nenek buyut Miguel di alam baka yang digambarkan sebagai singa terbang. Tapi mungkin untuk beberapa orang bakal bingung, kenapa kucing itu bisa kembali ke dunia manusia yang masih hidup karena nggak diperlihatkan sama sekali di dalam scene.

Over all film Coco bagus dan cocok ditonton kalian bareng ponakan-ponakan. Bagi yang belum nonton, gih buruan nonton. Lumayan buat isi waktu luang sambil menunggu bedug magrib. Yang sudah nonton, gimana pendapat kalian? Coba tulis di kolom komentar.

Btw, selamat berpuasa ya bagi yang menjalankan. ^^

Minggu, Mei 13, 2018

18

Tipe-tipe Pengguna Instagram Berdasarkan Akun Yang Difollow Dan Konten Yang Ditonton

Instagram adalah media sosial yang paling sering gue gunakan akhir-akhir ini dan paling populer. Menurut gue, wajar kalau instagram jadi sosial media paling populer ngalahin snapchat, facebook, twitter, bahkan primbon.com. Instagram fiturnya lebih lengkap dan tampilannya simpel. Jadi enak makenya.

sumber: https://socialpromo.pl/uslugi/

Hampir setiap hari main instagram, bikin gue bisa membaca dan mengelompokkan tipe-tipe pengguna instagram berdasarkan akun yang mereka follow dan konten apa yang sering mereka tonton.

Gue coba jelasin ke kalian wahai netijen yang budiman tentang tipe-tipe pengguna instagram berdasarkan akun yang mereka follow dan postingan yang mereka tonton. Perhatikan baik-baik.

Remaja Siap Berkeluarga

Pengguna instagram tipe ini didominasi kaum hawa, meskipun ada beberapa kaum adam yang nyelip di dalamnya. Mereka umumnya adalah remaja-remaja usia nyerah skripsi maunya nikah aja tapi pasangan belum punya.

Tipe ini gampang banget ditemui di akun-akun instagram milik artis yang sudah berkeluarga, apalagi jika si artis sudah memiliki anak. Yap, tipe pengguna instagram jenis ini suka ngeliatin postingan-postingan romantis pasangan artis dan kelucuan anak si artis kemudian menyukai postingan sang artis atau meninggalkan komentar gemas seperti di bawah ini :

Siap berkeluarga, meskipun dengan suami orang.

Gemes sih...

Nggak kuat ya?

Pemuja Makanan

Tipe pengguna instagram jenis ini kasihan, menurut gue. Mereka adalah kaum-kaum yang berencana diet namun gagal karena selalu nggak kuat nontonin video makanan tapi endingnya juga nggak bisa makan.

Berdasarkan kejadian lapangan yang banyak gue temui, tipe pengguna instagram jenis ini biasanya berselancar di instagram malam hari, di jam-jam krusial yang harusnya mereka nggak boleh makan jadinya laper gara-gara video makanan yang kelihatannya enak. Biasanya mereka nggak ngefollow akun makanan tersebut dan menanamkan motto, "jangan follow nanti pengen, jangan follow nanti pengen." Tapi ujung-ujungnya nge-search akun makanan dan ditontonin juga gambar makanannya.

Fotografer Pemula

Pengguna instagram tipe ini biasanya didominasi oleh adek-adek yang lagi kenal kamera dan getol banget pengen tau hal-hal tentang fotografi. Mereka biasanya ngefollow selebgram yang fotonya keren dan follow fotografer-fotografer di instagram yang feednya menarik.

Tipe ini menurut gue paling adem ya. Nggak ganggu pengguna instagram lain dan kegiatannya positif. Mereka cuma menikmati foto fotografer panutan, kemudian mempelajari hasil foto si panutan, dan mengaplikasikannya ke foto-foto mereka. Biasanya sih gitu.

Lagi Hijrah

Ini adalah tipe pengguna instagram yang ngagetin buat gue. Pengguna instagram jenis ini biasanya mengganti nama akun mereka menjadi yang lebih agamis dan menghapus foto-foto aib di instagram. Beberapa kali gue dibuat heran dengan akun-akun yang namanya asing buat gue, "ini siapa yak? Perasaan gue nggak pernah follow akun ini." Setelah scroll down, oalah akunnya si ini toh.

Tipe ini biasanya memfollow akun-akun dakwah, tokoh agama, dan quote-quote motivasi hidup yang agamis. Nggak jarang mereka juga suka merepost postingan-postingan tentang agama di instagramnya yang dicopy dari akun-akun panutan.

Big Fan

Tipe jenis ini adalah para pengguna instagram yang menggilai idolanya. Mereka follow, ngelike postingan, dan nontonin sang idola live di instagram. Apa pun yang sang idola upload, pasti dilike sama pengguna instagram jenis ini.

Mereka adalah jamaah dengan shaf paling depan jika sang idola update, merekalah orang pertama yang tau. Bagi mereka, salah satu bukti cinta kepada idola adalah dengan memfollow semua akun sosial media milik sang idola. Contohnya mereka ini, para penggemar Dina Ike Lestari :

big fan of @dinaikelestari.

Pengguna instagram jenis ini adalah yang paling disukai oleh pemilik konter pulsa. Mereka dengan mudah, rido, dan ikhlas menghabiskan kuota hanya untuk sang idola.

Pemuja Lambe-lambean

Pengguna instagram jenis ini adalah bibit-bibit netijen yang maha benar dengan segala komentarnya karena mereka merasa merekalah yang paling tau mengenai suatu berita karena follow akun-akun gosip. Mereka memfollow akun-akun nyinyir, gosip, berita tentang artis-artis, dan tak jarang pula ikut nimbrung di dalam lautan komentar nyinyir pengguna instgram yang lain.

Berita perselingkuhan artis, artis pacaran diam-diam, atau apalah itu, mereka akan mengetahui terlebih dahulu ketimbang teman-temannya yang lain yang nggak follow akun-akun lambe.

Mereka ini adalah kaum-kaum haus akan berita.

Tipe ini biasanya berdalih "biar update", makanya mereka follow akun lambe-lambean.

Dalam dunia nyata, tipe pengguna instagram jenis ini sangat mudah dikenali. Ketika ada satu perkumpulan, misalnya sedang ngomongin perceraian Sule, pengguna instagram jenis ini akan segera muncul dengan kalimat saktinya :

"Ah lo telat. Gue udah liat berita itu di apdetan lambe turah kemarin."

Gitu.

Oke. Itu tipe-tipe pengguna instagram versi gue. Lo masuk tipe pengguna instagram yang apa?

Selasa, April 10, 2018

14

Puas Jalan-Jalan di Semarang Cuma Satu Hari

Banyak yang bilang Semarang nggak punya apa-apa, nggak ada tempat menarik. Tapi itu salah besar. Buktinya, tiap ada temen yang main ke Semarang, pasti selalu puas gue ajak jalan-jalan meskipun suma satu hari.

Iya, mata kalian nggak katarak. Kalian nggak salah baca. Puas jalan-jalan di Semarang meskipun cuma satu hari!

Duduk yang rapi, sini kakak jelasin.

Semarang cocok jadi destinasi wisata orang sibuk yang libur cuma sehari, misalnya hari Minggu. Sehari aja di Semarang, bisa jalan-jalan ke banyak tempat yang menarik dan pastinya puas!

Car Free Day

Kita mulai perjalanan dengan bangun pagi dan jalan-jalan di area car free day. Untuk mengisi tenaga satu hari penuh jalan-jalan, car free day Semarang cocok jadi tempat kuliner berburu sarapan dan merefresh pikiran. Suasananya enak, makanannya lengkap, harganya juga bersahabat untuk semua umat.

foto oleh steemit.com, diedit oleh Farih
Car free day Semarang diadakan setiap hari Minggu pagi jam 6 sampai jam 9 di sepanjang Jalan Pahlawan dan Pandanaran. Di car free day ini, isinya nggak cuma orang joging keringetan lho. Banyak stand makanan yang unik-unik dan biasanya banyak diadakan acara hiburan juga disini untuk menghibur pengunjung car free day. Asik kan?

Sam Po Kong

Selesai sarapan, jalan-jalan kita dilanjutkan ke Klenteng Sam Po Kong. Klenteng yang buka dari jam 8 pagi ini menawarkan suasana Cina yang kental. Gimana enggak? Disain dan arsitekturnya Cina banget. Ditambah warna merah dan huruf-huruf Cina di setiap sudut bangunan, bikin kompleks klenteng ini jadi idaman buat foto ala-ala instagram gitu.

Foto oleh salebonblog.blogspot.com, diedit oleh Farih
Sam Po Kong adalah bangunan tempat beristirahat peninggalan Laksamana Cheng Ho, Laksamana Tiongkok yang pada tahun 1400-an berlayar di Laut Jawa. Sekarang Sam Po Kong difungsikan sebagai tempat ibadah umat konghuchu dan wisata.

Tiket masuk tempat keren ini nggak mahal kok. 8.000 rupiah untuk orang dewasa, anak-anak 5.000 rupiah, dan wisatawan mancanegara 15.000 rupiah. Sam Po Kong juga menyediakan penyewaan kostum khas Cina untuk berfoto. Mantap!

Lawang Sewu

Jalan-jalan di Kota Semarang, nggak lengkap rasanya kalau nggak mengunjungi ikon Kota Semarang. Yep, Lawang Sewu!

Dari Sam Po Kong ke Lawang Sewu deket kok, kurang lebih 15 menit. Lawang Sewu cocok jadi destinasi jalan-jalan di siang hari yang mulai panas karena banyak tempat teduh di dalamnya.

Di Lawang Sewu, kita bisa jalan-jalan menikmati indahnya bangunan peninggalan Belanda yang memiliki banyak pintu sambil sedikit banyak belajar tentang sejarahnya dari tour guide yang ada. Buat yang suka share foto di instagram, Lawang Sewu punya banyak spot menarik yang bikin instagram kamu dilike banyak orang! Cobain deh.

foto oleh Farih Ikmaliyani

foto oleh Farih Ikmaliyani
foto oleh Farih Ikmaliyani

Kota Lama

Main ke Lawang Sewu pasti jadi bikin ketagihan sama bangunan kuno. Arsitekturnya yang unik, bisa membawa kita terlempar ke jaman Belanda dulu. Nah, kalau belum puas dengan Lawang Sewu, lanjut jalan-jalan ke Kota Lama Semarang. Nggak cuma satu dua bangunan kuno aja yang ada di Kota Lama Semarang ini. Tapi ada puluhan bangunan kuno yang masih asli dan tatanannya juga masih kayak kota jaman dulu. Keren deh!

Kota Lama Semarang menyajikan banyak bangunan kuno yang terawat. Enak dipandang dan fotogenik banget. Yang paling penting, jalan-jalan ke Kota Lama Semarang bebas keluar masuk kapan pun, alias gratis.

salah satu spot keren di Kota Lama Semarang. foto oleh Farih Ikmaliyani

Candi Gedong Songo

Naik sedikit, kita lanjut jalan-jalan ke Bandungan, Kabupaten Semarang, tepatnya ke Candi Gedong Songo. Candi dengan background pegunungan ini bakal bikin kita rileks banget. Udaranya yang bersih dan hawanya yang sejuk bikin kita lupa kesibukan seminggu ke belakang. Gelar tikar, makan makanan bareng keluarga atau sahabat, ahh...gue bisa lupa kuliah.

Di Candi Gedong Songo, kita juga bisa berkuda atau pun mandi air panas lho. Pemandian air panas disini sumber mata airnya alami dan mengandung belerang. Makin bikin rileks kan?

Curug Lawe

Masih di daerah kabupaten Semarang, perjalanan kita lanjut ke Curug Lawe. Buat yang suka tatangan, suka alam, atau pun cuma pengen ngerasain segarnya air terjun asli pegunungan, wajib hukumnya ke Curug Lawe!

Curug Lawe nggak cuma bakal manjain kita dengan air segar alaminya aja. Sebelum sampai ke air terjun, kita harus jalan kaki menyusuri hutan sekitar 45 menit. Selama jalan kaki ini, mata kita bakal dimanjain sama pemandangan alam yang hijau dimana-mana.

Banyak spot foto menarik sebelum sampai di air terjun Curug Lawe. Gue paling suka di Jembatan Cinta-nya.

foto di Jembatan Cinta. foto oleh Farih Ikmaliyani

Brown Canyon

Selesai merilekskan diri dengan sejuknya suasana di Candi Gedong Songo, saatnya kita berburu senset. Sebagai pecinta sunset, gue tau tempat-tempat bagus untuk meihat sunset di Semarang dan tentunya ekonomis. Brown Canyon.

Brown Canyon merupakan tempat bekas penambangan tanah di daerah Meteseh, Tembalang, Semarang. Tempat ini jadi terkenal banget karena cantik dan dianggap mirip sama Grand Canyon Amerika Serikat. Saking cantiknya, beberapa artis atau pun pecinta fotografi pernah mampir kesini.

Di Brown Canyon kita bisa berburu foto keren atau sedekar duduk-duduk santai sambil ngopi dan menikmati indahnya sunset dengan latar pemandangan kota Semarang.

foto oleh Farih Ikmaliyani

Pasar Semawis

Setelah seharian jalan-jalan ke tempat menarik yang ada di Semarang, saatnya kita memberi asupan gizi untuk tubuh. Yap, kuliner!

foto oleh Farih Ikmaliyani

Pasar Semawis menjadi tempat yang tepat di Minggu malam untuk mengisi perut yang keroncongan. Pasar Semawis sendiri adalah pasar malam di daerah Pecinan Kota Semarang yang buka setiap Jumat, Sabtu, dan Minggu dari jam 6 sore sampai jam 10 malam. Semua jenis makanan ada disini. Mulai dari seafood, sate, healthy food, street food mancanegara, ada semua, lengkap! Bener-bener bikin perut puas. Disediakan juga kursi-kursi dan meja di sepanjang Pasar Semawis yang bikin suasananya enak dan rapi. Persis night market di Thailand dengan budget lokal.

Setelah capek seharian jalan-jalan, gue dan temen-temen biasanya langsung istirahat. Iseng, gue tawarin kos gue sebagai tempat istirahat. Jelas mereka nolak karena sempit dan berantakan. Hahaha. Mereka mau istirahat di tempat yang nyaman.

Akhirnya gue tawarin Hotel Airy Rooms. Gue baru ingat kalau kapan aja bisa dengan Airy. Mau malem atau hari libur atau kapan pun dan dimana pun, bisa nginep di Airy Room. Yang paling bikin gue yakin nawarin temen gue nginep di Airy Rooms adalah kamarnya yang nyaman dan harganya nggak bikin kepala pusing. Dimana aja ada, pilih daerahnya sesuai lokasi yang kita pengen.

Untuk Hotel yang dekat Pasar Semawis, gue cari Hotel Airy Room di daerah Semarang Tengah. Kamarnya bersih dan nyaman. Harganya juga nggak bikin kepala pusing.

Airy Gajahmada 122 Semarang

Jalan-jalan satu hari di Semarang lengkap banget kan? Makin lengkap dengan Airy Rooms karena #KapanAjaBisa!

---

Tulisan ini juga dimuat di blog Far Travel

Teman