Selasa, April 10, 2018

3

Puas Jalan-Jalan di Semarang Cuma Satu Hari

Banyak yang bilang Semarang nggak punya apa-apa, nggak ada tempat menarik. Tapi itu salah besar. Buktinya, tiap ada temen yang main ke Semarang, pasti selalu puas gue ajak jalan-jalan meskipun suma satu hari.

Iya, mata kalian nggak katarak. Kalian nggak salah baca. Puas jalan-jalan di Semarang meskipun cuma satu hari!

Duduk yang rapi, sini kakak jelasin.

Semarang cocok jadi destinasi wisata orang sibuk yang libur cuma sehari, misalnya hari Minggu. Sehari aja di Semarang, bisa jalan-jalan ke banyak tempat yang menarik dan pastinya puas!

Car Free Day

Kita mulai perjalanan dengan bangun pagi dan jalan-jalan di area car free day. Untuk mengisi tenaga satu hari penuh jalan-jalan, car free day Semarang cocok jadi tempat kuliner berburu sarapan dan merefresh pikiran. Suasananya enak, makanannya lengkap, harganya juga bersahabat untuk semua umat.

foto oleh steemit.com, diedit oleh Farih
Car free day Semarang diadakan setiap hari Minggu pagi jam 6 sampai jam 9 di sepanjang Jalan Pahlawan dan Pandanaran. Di car free day ini, isinya nggak cuma orang joging keringetan lho. Banyak stand makanan yang unik-unik dan biasanya banyak diadakan acara hiburan juga disini untuk menghibur pengunjung car free day. Asik kan?

Sam Po Kong

Selesai sarapan, jalan-jalan kita dilanjutkan ke Klenteng Sam Po Kong. Klenteng yang buka dari jam 8 pagi ini menawarkan suasana Cina yang kental. Gimana enggak? Disain dan arsitekturnya Cina banget. Ditambah warna merah dan huruf-huruf Cina di setiap sudut bangunan, bikin kompleks klenteng ini jadi idaman buat foto ala-ala instagram gitu.

Foto oleh salebonblog.blogspot.com, diedit oleh Farih
Sam Po Kong adalah bangunan tempat beristirahat peninggalan Laksamana Cheng Ho, Laksamana Tiongkok yang pada tahun 1400-an berlayar di Laut Jawa. Sekarang Sam Po Kong difungsikan sebagai tempat ibadah umat konghuchu dan wisata.

Tiket masuk tempat keren ini nggak mahal kok. 8.000 rupiah untuk orang dewasa, anak-anak 5.000 rupiah, dan wisatawan mancanegara 15.000 rupiah. Sam Po Kong juga menyediakan penyewaan kostum khas Cina untuk berfoto. Mantap!

Lawang Sewu

Jalan-jalan di Kota Semarang, nggak lengkap rasanya kalau nggak mengunjungi ikon Kota Semarang. Yep, Lawang Sewu!

Dari Sam Po Kong ke Lawang Sewu deket kok, kurang lebih 15 menit. Lawang Sewu cocok jadi destinasi jalan-jalan di siang hari yang mulai panas karena banyak tempat teduh di dalamnya.

Di Lawang Sewu, kita bisa jalan-jalan menikmati indahnya bangunan peninggalan Belanda yang memiliki banyak pintu sambil sedikit banyak belajar tentang sejarahnya dari tour guide yang ada. Buat yang suka share foto di instagram, Lawang Sewu punya banyak spot menarik yang bikin instagram kamu dilike banyak orang! Cobain deh.

foto oleh Farih Ikmaliyani

foto oleh Farih Ikmaliyani
foto oleh Farih Ikmaliyani

Kota Lama

Main ke Lawang Sewu pasti jadi bikin ketagihan sama bangunan kuno. Arsitekturnya yang unik, bisa membawa kita terlempar ke jaman Belanda dulu. Nah, kalau belum puas dengan Lawang Sewu, lanjut jalan-jalan ke Kota Lama Semarang. Nggak cuma satu dua bangunan kuno aja yang ada di Kota Lama Semarang ini. Tapi ada puluhan bangunan kuno yang masih asli dan tatanannya juga masih kayak kota jaman dulu. Keren deh!

Kota Lama Semarang menyajikan banyak bangunan kuno yang terawat. Enak dipandang dan fotogenik banget. Yang paling penting, jalan-jalan ke Kota Lama Semarang bebas keluar masuk kapan pun, alias gratis.

salah satu spot keren di Kota Lama Semarang. foto oleh Farih Ikmaliyani

Candi Gedong Songo

Naik sedikit, kita lanjut jalan-jalan ke Bandungan, Kabupaten Semarang, tepatnya ke Candi Gedong Songo. Candi dengan background pegunungan ini bakal bikin kita rileks banget. Udaranya yang bersih dan hawanya yang sejuk bikin kita lupa kesibukan seminggu ke belakang. Gelar tikar, makan makanan bareng keluarga atau sahabat, ahh...gue bisa lupa kuliah.

Di Candi Gedong Songo, kita juga bisa berkuda atau pun mandi air panas lho. Pemandian air panas disini sumber mata airnya alami dan mengandung belerang. Makin bikin rileks kan?

Curug Lawe

Masih di daerah kabupaten Semarang, perjalanan kita lanjut ke Curug Lawe. Buat yang suka tatangan, suka alam, atau pun cuma pengen ngerasain segarnya air terjun asli pegunungan, wajib hukumnya ke Curug Lawe!

Curug Lawe nggak cuma bakal manjain kita dengan air segar alaminya aja. Sebelum sampai ke air terjun, kita harus jalan kaki menyusuri hutan sekitar 45 menit. Selama jalan kaki ini, mata kita bakal dimanjain sama pemandangan alam yang hijau dimana-mana.

Banyak spot foto menarik sebelum sampai di air terjun Curug Lawe. Gue paling suka di Jembatan Cinta-nya.

foto di Jembatan Cinta. foto oleh Farih Ikmaliyani

Brown Canyon

Selesai merilekskan diri dengan sejuknya suasana di Candi Gedong Songo, saatnya kita berburu senset. Sebagai pecinta sunset, gue tau tempat-tempat bagus untuk meihat sunset di Semarang dan tentunya ekonomis. Brown Canyon.

Brown Canyon merupakan tempat bekas penambangan tanah di daerah Meteseh, Tembalang, Semarang. Tempat ini jadi terkenal banget karena cantik dan dianggap mirip sama Grand Canyon Amerika Serikat. Saking cantiknya, beberapa artis atau pun pecinta fotografi pernah mampir kesini.

Di Brown Canyon kita bisa berburu foto keren atau sedekar duduk-duduk santai sambil ngopi dan menikmati indahnya sunset dengan latar pemandangan kota Semarang.

foto oleh Farih Ikmaliyani

Pasar Semawis

Setelah seharian jalan-jalan ke tempat menarik yang ada di Semarang, saatnya kita memberi asupan gizi untuk tubuh. Yap, kuliner!

foto oleh Farih Ikmaliyani

Pasar Semawis menjadi tempat yang tepat di Minggu malam untuk mengisi perut yang keroncongan. Pasar Semawis sendiri adalah pasar malam di daerah Pecinan Kota Semarang yang buka setiap Jumat, Sabtu, dan Minggu dari jam 6 sore sampai jam 10 malam. Semua jenis makanan ada disini. Mulai dari seafood, sate, healthy food, street food mancanegara, ada semua, lengkap! Bener-bener bikin perut puas. Disediakan juga kursi-kursi dan meja di sepanjang Pasar Semawis yang bikin suasananya enak dan rapi. Persis night market di Thailand dengan budget lokal.

Setelah capek seharian jalan-jalan, gue dan temen-temen biasanya langsung istirahat. Iseng, gue tawarin kos gue sebagai tempat istirahat. Jelas mereka nolak karena sempit dan berantakan. Hahaha. Mereka mau istirahat di tempat yang nyaman.

Akhirnya gue tawarin Hotel Airy Rooms. Gue baru ingat kalau kapan aja bisa dengan Airy. Mau malem atau hari libur atau kapan pun dan dimana pun, bisa nginep di Airy Room. Yang paling bikin gue yakin nawarin temen gue nginep di Airy Rooms adalah kamarnya yang nyaman dan harganya nggak bikin kepala pusing. Dimana aja ada, pilih daerahnya sesuai lokasi yang kita pengen.

Untuk Hotel yang dekat Pasar Semawis, gue cari Hotel Airy Room di daerah Semarang Tengah. Kamarnya bersih dan nyaman. Harganya juga nggak bikin kepala pusing.

Airy Gajahmada 122 Semarang

Jalan-jalan satu hari di Semarang lengkap banget kan? Makin lengkap dengan Airy Rooms karena #KapanAjaBisa!

---

Tulisan ini juga dimuat di blog Far Travel

Minggu, Maret 04, 2018

9

Sunset, Beach, and Chocolate Ice Cream

[ hi. lets see sunset together tomorrow at 5.30 p.m ]
- you texted me -


Yesterday, you texted me and asked me to see sunset together. Now, I am sitting on the bench near the beach. It's 5.00 p.m now. I am too early to be here. Too excited to meet you.

Then I buy 2 ice creams for us, chocolate and strawberry. Chocolate is for you and strawberry is for me. Chocolate is your favourite, right?

Ah, I think you will be hungry. I buy some snack for you too.

5.20 p.m.
I sit again. Wait again.

5.25 p.m.
I don't know why, I feel more excited to meet you. Fuck.

5.30 p.m.
I can see the yellow dim sunlight comes slowly. I smile.

Hey, you are late. Hahaha, always late.

5.45 p.m.
The ice creams melted.

5.50 p.m.
Sunset comes. So beautiful like always. Warm and so yellow. Always be my favourite thing so far.

Where are you?

6.00 p.m.
My hands gonna be wet because of ice creams.

6.15 p.m.
You don't come.

6.30 p.m.
The sunset goes away. Don't worry, I took the photos for you.

7.00 p.m.
You are not here.

7.30 p.m.
You are not here. You don't come.

8.00 p.m.
I know, I should back home.
I leave the melted ice creams and snack on the bench then walk away.

I know you will not come.

Where are you? Do you forget your promise to meet me at the beach to see sunset?

9.01 p.m.

[ Sorry, I forget to tell you. I'm going out with other. See ya ]
- you text me -

---

Hahaha, tulisan ini terinspirasi dari film Segala, film garapan gue yang entah jadinya kapan. Perasaan kayak gini pasti banyak yang ngerasain, kan? Gimana rasanya?

Feeling forgotten and unwanted is that bad, right?

---
Sorry for the bad grammar.

Selasa, Januari 16, 2018

5

Lima Film Keren 2017

Sebagai mahasiswa yang bersahabat dengan kemelaratan, jelas, gue jarang banget ke bioskop di tahun 2017. Nonton film di bioskop terasa sangat mahal ketika uang jajan habis buat ngeprint tugas akhir dan segala tetek-bengeknya. Tapi beberapa kali, entah karena sedang memiliki uang atau memaksakan diri terlihat memiliki uang, gue nonton film ke bioskop.

Tapi, jaman now, nonton film nggak harus ke bioskop kan? hehe.

Gue ingat, di awal tahun 2017 gue bikin tulisan tentang filmIndonesia 2016 yang paling berkesan. Sekarang masuk 2018, rasanya kurang enak kalau gue nggak bikin tulisan tentang film berkesan di 2017. Tapi kali ini nggak cuma film Indonesia yang bakal gue tulis, film luar juga. So, here they are!


Pengabdi Setan

Film garapan Om Joko yang satu ini emang juara sih. Selain mendapat prestasi dimana-mana, film ini juga sudah melalang buana ke luar negeri dengan judul internasionalnya 'Satan Slave'. Film horor tanpa tetek beterbangan ini istiqomah bergenre horor, bukan horor setengah bokep.

Banyak temen bilang kalau film Pengabdi Setan bagus tapi endingnya jelek. Sedangkan gue malah suka endingnya. Ending kentang-nggak jelas-nggak nyambung-ngeselin gitu, malah bikin greget.
Pengabdi Setan adalah film reboot dari film jadul horor terbaik tanah air dengan judul yang sama. Joko Anwar berhasil membawa penonton ke apa yang dia rasakan saat dulu menonton Pengabdi Setan versi tahun 1980.

Btw, gue sudah mereview film Pengabdi Setan ini di sini. Jadi, langsung klik aja buat baca.

Kartini

Setelah film R.A Kartini (1984) dan Surat Cinta Untuk Kartini (2016), Kartini tampil lagi di layar lebar tahun 2017 dengan judul Kartini. Kali ini pemeran utamanya adalah Dian Sastriwardoyo. Gue nonton film ini di bioskop waktu itu karena tertarik dengan trailernya.

Film garapan Hanung Bramantyo ini menceritakan tentang kehidupan sang pahlawan dari bagaimana ia dibesarkan, berjuang melawan adat yang menurutnya itu salah, dan akhirnya harus menyerah pada nasib.

Hasil riset bapak sutradara bertahun-tahun hingga harus ke Belanda segala, terbayar. Film Kartini ini menurut gue lengkap dan cara penyampaiannya juga enak. Penokohan, latar, segala macamnya itu, dibuat kongkret menggambarkan situasi Kartini sebenarnya.

Jujur, gue suka film ini salah satunya karena film ini dibanjiri oleh aktor-aktor top Indonesia: Christine Hakim, Acha Septriasa, Dian Sastrowardoyo, dan idolaqu Reza Rahadian. Tambah lagi ada Djenar Maesa Ayu ikutan main. Beeeeeh! Greget banget! Berasa nonton reuni aktor.

Kalau kalian pecinta film genre biografi gini, kudu nonton film ini deh. Nggak nyesel.

Bad Genius

Gue sebenarnya bukan pecinta film Thailand. Tapi film ini beda dari film-film Thailand lain dan bikin gue jatuh cinta!

Ide dan alur cerita film Bad Genius unik. Film garapan Nattawut Poonpiriya ini mengangkat cerita tentang aksi curang sejumlah murid SMA saat ujian masuk kuliah skala internasional yang terorganisasi dengan baik. Otaknya adalah Lynn, siswi yang sangat cerdas tapi kurang mampu secara ekonomi. Karena diiming-imingi uang yang besar, akhirnya Lynn mengiyakan tawaran Pat dan Grace untuk memberi contekan. Awalnya kongkalikong contekan itu berskala kecil, lama-lama membesar.

Film yang bergenre thriller ini mampu meraup untung lebih dari 100 juta baht dalam 2 minggu penayangannya. Rekor baru di dunia film Thailand. Banyak penghargaan internasional yang diborong film dengan alur twist ini, salah satunya New York Asian Film Festival.WEW.

Yang bikin gue suka sama film ini selain ide dan alurnya adalah cerita di film itu sendiri. Gue nggak kepikiran ngasih contekan teman pas ujian seberkelas itu, gengs. Kalau gue, nyontek jawaban ujian masih dengan cara tradisional: nengok kanan nengok kiri. Nggak kepikiran secerdas Lynn.

Film Bad Genius ini amat sangat di luar ekspektasi pokoknya. Bagus banget! Kapan-kapan gue mau ngomongin film ini di satu postingan sendiri ah...

IT

Film sejuta umat seantero dunia ini beberapa bulan lalu menggemparkan jagad. Dimana-mana orang banyak ngomongin film IT. Instagram, facebook, twitter, ramai film IT. Sampai sekarang badut dan goyangan khasnya masih hits.

Film yang diangkat dari novel Stephen King ini disutradarai oleh Andy Muschietti dan diproduseri oleh Roy Lee, Dan Lin, Seth Grahame-Smith, David Katzenberg dan Barbara Muschietti. Gue nonton film ini karena dibahas dimana-mana dan reviewnya positif, sih. Film dengan anggaran $35 juta ini mampu menembus pendapatan $698,060,882. Gila.

Film yang mengangkat latar tahun 1988 ini menceritakan kisah Bill Denbrough yang kehilangan adik laki-lakinya Georgie saat si adik bermain perahu kertas di waktu hujan. Nggak jelas si adik ini hilangnya kemana dan masih hidup atau nggak. Kejadian anak hilang di Kota Derry sudah berkali-kali terjadi. Bill dan 4 temannya gemas dengan kejadian ini dan akhirnya mencari apa penyebab sebenarnya kasus hilangnya anak-anak di kota mereka. Ternyata pelakunya tidak lain tidak bukan adalah badut nggak lucu bernama Pennywise.

Di luar banyak yang ngomong gara-gara film ini pamor badut menurun dan anak-anak jadi takut sama badut, film ini cocok ditonton buat kalian yang suka film horor. Nggak terlalu nyeremin sih kalau menurut gue, tapi ceritanya bagus. Nggak ketebak. Gue suka.

Blue is the Warmest Color

Sebagai bonus, gue masukin disini film tahun 2013 tapi gue tonton di tahun 2017, Blue is the Warmest Color. Film Perancis bergenre romance yang super keren bin ajaib. Butuh waktu 2 hari buat gue menonton film lesbian berdurasi 3 jam ini. Hahaha.

Judul Perancisnya La Vie d'Adèle (artinya kehidupan Adele). Adele adalah nama pemain utama di film ini. Diperankan oleh Adèle Exarchopoulos, Adele sukses bikin gue jatuh hati sama perannya. Lawan mainnya juga cakep, namanya Emma, diperankan oleh Léa Seydoux.

seksi banget ini posenya
Film Blue is the Warmest Color menceritakan kisah pencarian jati diri seorang siswa bernama Adele dan akhirnya hatinya jatuh ke seorang perempuan berambut biru bernama Emma. Mereka menjalani hidup berdua dengan baik-baik saja hingga nggak jelas apa penyebabnya, keduanya mulai berubah. Sikap dan perilakunya berubah sedikit demi sedikit. Puncaknya, Adele selingkuh dan Emma nggak bisa terima itu. Sinetron banget ya kayaknya. Tapi film ini beneran keren. Ada maksud tersirat yang diceritakan. Apalagi kalau kalian memperhatikan perubahan warna rambut Emma.

Bagian yang gue suka dari film ini adalah ketika Adele menari asik dengan lagu soundtrack film tersebut: I Follow Rivers. Gue jatuh cinta!

Menurut gue ide film Blue is the Warmest Color biasa aja, tapi penyampaiannya yang wow. Kesan yang gue terima setelah nonton film ini mirip yang gue rasain setelah nonton film HER. Apa yang mau disampaikan film pemenang Canes Festival ini nggak gampang dipahami, tapi tersirat. Keren lah pokoknya.

So, itu dia lima film yang gue tonton di 2017 dan berkesan. Kalau kalian, film yang berkesan di 2017 apa aja?

Btw, gue jarang blogwalking akhir-akhir ini karena masih KKN di desa terpencil yang cari sinyal susah. :(

Minggu, Januari 07, 2018

4

Talking About 2017


Setiap hal yang datang dan pergi pasti meninggalkan bekas. Termasuk tahun. Ya, tahun 2017 sudah pergi hampir seminggu. Tapi bekasnya masih tersisa disini, sampai sekarang.


Agak berat sebenarnya melepas tahun 2017 dan berlanjut ke tahun berikutnya. 2017 terlalu cantik buat gue. Tapi bukannya manusia memang dituntut untuk melajar berkenalan dan melupakan?

Hahaha, belum apa-apa sudah ngaco.

Tahun 2017 mengajarkan gue banyak hal. Mengajarkan gue buat mengerti hidup yang lebih baik, mengajarkan untuk berdamai dengan diri sendiri ketika kenyataan tidak sesuai ekspektasi, dan mengajarkan untuk memilih orang-orang yang tepat sebagai teman, bukan orang-orang yang hanya mencari untung tanpa mau rugi.

Harusnya semua hal itu bukan hanya gue temui di 2017, sih. Tapi itu yang signifikan gue rasain di 2017. Tahun drama.

Gue kehilangan kakek di tahun 2017. Yang paling gue ingat dari beliau adalah wejangannya tentang hidup. Beliau bilang, "kejar akhirat aja. Inshaallah dunia ngikutin." Sampai sekarang belum bisa 100% gue praktekin.

Gue kehilangan beberapa teman juga di tahun 2017. Awalnya sedih, bahkan sampai ganggu pikiran. Tapi lama-lama gue sadar, nggak semua yang hilang itu pantas untuk ditangisi. Beberapa hal bahkan lebih baik menjauh dari hidup kita. Apalagi ada teman yang bilang, "makin tua itu teman makin sedikit.". Gue setuju.

Ini hal drama banget sih. Sudah segede ini, sebentar lagi punya gelar sarjana, tapi masih marah-marahan sama teman sendiri. Bukan dengan mudah berdamai, malah sampai sekarang silaturahmi nggak sebaik sebelumnya.

Nggak dewasa.

Yang paling gue banggakan dari 2017 adalah gue bisa naik pesawat ke luar negeri! Hahaha. Norak. Tapi gue bangga. Meskipun nggak sepenuhnya pakai duit gue sendiri. Gue senang ketika bertemu banyak teman baru dari berbagai daerah di Indonesia dan Thailand. Mereka datang dengan cerita masing-masing yang pada akhirnya membuat gue lebih dewasa.

Gue berterimakasih, 2017 berhasil membawa gue ke beberapa tempat untuk traveling. Itu memberikan gue semangat untuk makin banyak traveling. Dengan itu juga, gue bikin travel blog yang (recananya) bakal rutin gue tulis soal jalan-jalan.

Hmmm... Apalagi ya?

2017 is too hard to be told.
Dan untuk 2018, semoga gue bisa jatuh cinta ke lo ya, lebih dalam daripada tahun 2017.

Semoga semua hal makin baik untuk kita semua. Semoga semua jiwa makin mendewasa dan beruntung. Jangan lupa juga bahagia. Happy new year!

So,
Tahun 2017-mu gimana?

Minggu, Desember 17, 2017

8

Rindu Diri yang Dulu

Setuju atau tidak, hujan sering membuyarkan lamunan, menerbangkan percakapan, dan kadang menghadirkan kenangan. Setidaknya, itu yang gue rasakan kemarin, saat hujan deras di kantin kampus.

Pemancingnya adalah Anissa Dewi atau biasa gue panggil Depe, teman kampus yang sering memancing percakapan berat.

Obrolan tentang agama dari berapa jumlah sebenarnya isteri Nabi hingga "skripsimu sampai mana?", menghiasi sela-sela suara hujan jatuh di atas atap seng kantin siang itu. Yang paling kurang ajar adalah ketika muncul ucapan, "jujur ya, kamu itu berubah lho, Rih."

Pinterest
Romantis. Seketika itu gue merasa sebagai Ardina Rasti di FTV Pacarku Tukang Parkir Fotokopian.

Depe bilang gitu bukan tanpa alasan. Dia kenal gue dari pertama kali ospek. Dari awal, dia kenal gue sebagai orang yang independen. Maksudnya, gue adalah orang yang bisa kemana-mana sendiri, bisa berteman dengan siapa pun tanpa mengelompok, dan tidak membatasi diri menghabiskan waktu bersama siapa pun. Dan menurut dia, gue udah nggak kayak gitu lagi sekarang.

Gue juga merasakan hal itu. Gue sudah berubah, menjadi Power Ranger Pink.

Ehe.

Menurut gue ini wajar. Setiap orang berubah. Yang mengubahnya adalah lingkungan dan pengalaman.

Pinterest
Setiap detik kita dibentuk, tanpa kita sadari. Ke arah mana kita dibentuk, kita nggak sadar. Kita terus berjalan dengan arah yang diarahan keadaan. Kita baru sadar saat kita berhenti dan menoleh ke belakang. Menoleh ke arah 'kita yang dulu.'

Dan sekarang, gue sedang berhenti untuk menoleh ke belakang. Ada gue yang dulu, berdiri disana, jauh di belakang dengan arah yang tidak lagi sama. Melambaikan tangan dan berkata, "Apa kabar? Masih ingat saya?".

Kemudian dengan samar gue melihat teman-teman lama yang lain juga disana. Mereka mengajak bermain perosotan di TK kampung sebelah, mencari keong di sawah, menonton DVD bajakan bersama, merayakan ulang tahun bersama. Tapi sayang, gue sudah tidak dapat melihat dengan jelas, siapa teman-teman lama itu, karena terlalu jauh.

Hahaha. Lucu. Sudah sejauh ini gue berubah.

Gue ngerti, hidup ini nggak mengizinkan untuk gue putar balik dan menemui gue yang dulu itu. Gue harus tetap jalan ke depan dengan keadaan-keadaan yang sekarng. Ya, setidaknya, ini adalah pengalaman gue yang bisa mengubah arah hidup dan bagaimana gue dibentuk.

Bangsat, jadi ngelantur. Rindu memang sering kurang ajar, sih. Termasuk rindu diri yang dulu.

"Iya Dep. Gue juga tau. Sekarang gue lagi nyoba buat belajar dari pengalaman dan berusaha seperti gue yang dulu itu." Gue jawab sekenanya kalimat Depe. Meskipun gue tau itu nggak bisa.



---
Tulisan ini disponsori oleh instagram story netijen yang lagi berduaan di dalam mobil.

Kamis, November 30, 2017

9

Cerita Go-Jek: Secepat itu kah Gilang Berganti Kelamin?

Setelah fail menggojek di hari pertama, gue makin penasaran dengan pekerjaan ini. Gue nggak mau diremehkan dunia dan dicap sebagai supir gojek gagal hanya karena gue lupa melepas tempelan di helm dan nggak ngerti cara top-up gopay.

Hari kedua pun gue persiapkan dengan matang. Setelah gue pastikan helm gojek sudah oke dan mempelajari cara top-up gopay dengan benar, gue melenggang keluar kos menuju basecamp teater untuk mangkal. Nggak tau kenapa, gue nyaman mangkal di tempat kegiatan mahasiswa ini. Rasa-rasanya gue pengen cetak spanduk "Pangkalan Ojek Diponegoro University" warna ijo dan memasangnya di depan basecamp teater.

lelah
Sebenarnya, gue menutupi pekerjaan ini. Memang sih, gue ngasih tau ke orang-orang kalau gue jadi supir gojek. Tapi gue nggak mau ketemu sama orang yang gue kenal pas gue lagi ngegojek secara langsung. Nggak enak aja kayaknya. Sebisa mungkin itu gue hindarin.

Hingga...

1. Yah...pada tau deh

Nggak berapa lama mangkal hari kedua, handphone gue berdering. Tanda ada orderan. Gue sumringah, riang gembira, seperti lagu Tasya libur telah tiba.

Jemput: Baskoro
Tujuan: Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Deket amat mbak. Mending naik sepatu roda. Batin gue. 

Ya meskipun tujuan si mbak ini dekat, gue tetap anterin. Masa iya gue suruh naik sepatu roda beneran. Di jalan, kita ngobrol. Ternyata dia salah satu temannya teman gue. Gue fine-fine aja waktu itu, nggak kepikiran apa-apa. Sampai keesokan harinya, teman-teman dari organisasi pada godain,

"mau dong diboncengin abang gojek..."
"gojek Semarang - Jogja dong kak..."
"lu oknum fake gojek ya Rih?"

Pada tau deh...
Huhuhu.
Hikz hikz hikz.

... salah curhat.

2. Maaf ya Mbak :(

Setelah beberapa hari mangkal di dalam area kampus, gue bosan. Nggak ada tantangan. Akhirnya gue mangkal di markas TNI AU.

Eh, belum. Belum se-ekstrem itu.

Gue mangka di kos sendiri. Gue pikir, gue bisa ngerjain hal lain sembari menunggu orderan.

Waktu itu, Rabu pagi, gue kuliah jam 9.41 WIB. Ada waktu kosong sebelum kuliah, kenapa nggak ngegojek aja, pikir gue.

Setelah bersiap memakai jaket boomber (waktu itu gue masih belum punya jaket gojek), nggak begitu lama, handphone gue kembali berdering karena ada orderan. Seperti biasa, gue girang. Tapi setelah gue lihat nama penumpangnya, rasa girang tersebut lenyap, berganti rasa gelisah sedikit basah.

Di layar handpone muncul :

Gilang
Jemput : Sumurboto
Tujuan : Stasiun Poncol Semarang

Mampus! Cowok. Pasti mas-mas gendut, nyebelin, berat, banyak nanya di jalan.

Dengan terpaksa, gue sms: mas, saya otw kesana ya. gojek.

Setelah sampai di lokasi tujuan, gue hanya melihat mbak-mbak pakai hijab berbadan lebih kecil dari gue sedang duduk menunggu sambil bawa tas besar. Gue celingak-celinguk ye kan, nyari dimana si Mas Gilang ini. Nggak ada. Gue berniat sms Gilang, si mbak yang duduk di depan rumah itu menghampiri gue.

Si mbak : mbak gojek bukan?
Gue : iya mbak.
Si mbak : gojek ke Stasiun Poncol ya Mbak?
Gue : iya Mbak.
Si mbak : oh iya Mbak, itu saya yang mesen.
Gue : *diem*

Secepat itu kah Gilang berganti kelamin? Atau jangan-jangan, hijab itu hanya untuk menutupi jakunnya?

Masih nggak yakin.

Akhirnya, si Mbak itu naik di motor gue, membuyarkan lamunan negatif gue. Di jalan, gue mencoba asik.

Gue : tadi yang mesenin gojek pacarnya ya Mbak?
Si mbak : bukan. Itu saya.
Gue : lah, di aplikasi namanya Gilang mbak.
Si mbak : iya, itu nama saya.
Gue : .....

Fail lagi Gustiiiii. :((

Gue : Maaf ya Mbak tadi saya manggilnya 'mas' di sms.
Si mbak : nggak papa Mbak, udah biasa. Tadi mangkal dimana?
Gue : di kos Mbak. Biasanya di basecamp teater sih.
Si mbak : oh, Mbak anak teater? Saya suka nonton teater lho Mbak! Saya sering nonton teater kampus.
Gue : eh iya?
Si mbak : iya. Saya juga add official account-nya teater lho.
Gue : *girang*
Si mbak : tapi saya heran. Waktu itu ada pentas teater jam 7, di account teater baru dikasih taunya jam 9.
Gue : hehehe, maap ya Mbak. itu yang ngelola akunnya anak-anak junior Mbak. Maafin ya, mungkin masih mabuk antimo.

Sepanjang jalan menuju stasiun kita ngobrol. Berasa teman sendiri.

Gue : mau kemana Mbak? Kok ke stasiun?
Si mbak : mau pulang ke Solo, kan kuliahnya udah selesai, kemarin saya wisuda. Sekalian nunggu panggilan kerja.
Gue : ohh, selamat ya Mbak. Sukses terus dan semoga cepet dapet kerjaan.
Si mbak : makasih ya Mbak.

Setelah sampai stasiun, si Mbak Gilang pun turun. Ya masa gue yang turun.

Gue pun kembali pulang ke kos dan bersiap berangkat kuliah.

Untuk Mbak Gilang (yang mungkin saja baca cerita ini), sekali lagi maaf ya saya manggilnya 'mas'. Semoga sukses dan bahagia selalu mbak. Salam, gojek yang selalu fail.

---

PS: di semua cerita Go-Jek yang gue tulis, cerita yang gue angkat itu nyata. Tapi kalimat-kalimat di dalamnya gue tambahin atau modif biar enak dibaca dan ada humornya.

Senin, November 20, 2017

16

Mau Naik Gunung Apa di Jawa Timur?

Mahasiswa tingkat akhir tanpa piknik, sama kayak Marsha-bengek tanpa ngik-ngik. Nggak asik.

Skripsi dan teror pertanyaan kampret “mau ngapain setelah lulus?”, sangat mengganggu kesehatan jiwa raga kami. Untuk menyeimbangkannya, gue butuh piknik. Tapi lagi-lagi, masalah duit jadi problem klasik.

Gue nggak bisa piknik yang menghabiskan duit banyak. Piknik yang bisa gue lakuin harus yang efisien dari segi duit dan waktu.

Temen gue, Resti, kemarin ngajakin ke Jawa Timur, Malang dan sekitarnya. Dia bilang Jawa Timur cocok buat jadi destinasi liburan rakyat jelata kayak gue gini. Pantai, museum, kuliner, sampai laut, semua ada dan jaraknya nggak jauh. Jadi bisa ngerasain banyak spot dan menghemat biaya transport.

Gue tertarik.

“Ke Jawa Timur nggak lengkap kalau kita nggak ke gunungnya Rih.”

“Ada gunung yang anget nggak? Gue nggak suka dingin.” Serius, cuy. Gue nggak pernah naik gunung karena nggak suka hawa dingin. Hidup di Semarang aja, gue nggak punya kipas angin apalagi AC di kosan.

“Ada. Kawahnya Bromo tuh, panas.”

“Sialan. Gue serius ini.”

“Yaudah. Lo mau naik gunung apa? Cari tau gih, gunung-gunung di Jawa Timur sebelum lo naik."

Gue pun membuka google dan mulai mencari informasi tentang gunung-gunung cantik di Jawa Timur. Cocok nih buat referensi manusia cemen macem gue gini sebelum mendaki.


Gunung Bromo

sumber: www.pesonaindo.com
Ini adalah satu-satunya gunung yang pernah gue datangi. Gue pernah kesini tahun 2014 lalu bareng temen-temen dari Kampung Inggris, Kediri.

Keindahan Gunung Bromo, nggak perlu diragukan lagi. Sudah go inernasional cuy. Ibarat artis, ini Agnes Monica nih, versi gunung.

Untuk yang mageran kayak gue gini, Gunung Bromo adalah pilihan yang tepat. Puncak Gunung Bromo gampang dicapai, bahkan bisa lihat kawahnya secara langsung dengan jelas. Kalau kurang jelas, silakan lakukan roll depan ke arah kawah.

Yang paling menarik tentang liburan di Bromo adalah pemandangan saat matahari terbit. SUMPAH KEREN! Dan emang ini yang paling terkenal dari Bromo.

Gunung Bromo terletak di empat kabupaten: Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Malang. Tingginya 2.300 meter di atas laut. Sebelum menuju kawah, kalian bakal disuguhi pemandangan lautan pasir yang luas. Tiap tahun ada ritual suci suku Tengger disini.

Kalau kalian berangkat ke Bromo lewat kabupaten Malang, kalian bisa dapat banyak penerbangan ke Bandara Abdul Rahman Saleh, termasuk penerbangan milik Batik Air, terus lanjut perjalanan pakai transportasi darat ke Gunung Bromo.
Gunung Lawu

sumber: www.penabiru.com
Nah gunung ini yang cocok buat pendaki pemula. Walaupun tingginya sampai 3.200 mdpl, tapi medan menuju puncak gunung relatif mudah. Letaknya di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah, jadi gampang buat gue kalau dari Semarang. Gunung Lawu ini ramai dikunjungi pendaki maupun penziarah, khususnya di bulan Suro.

Gunung Arjuno

sumber: upload.wikimedia.org
Nama Gunung Arjuno pasti sudah nggak asing buat para pendaki, khususnya buat yang aktif di dunia maya. Gunung dengan tinggi 3.300 meter ini terletak di perbatasan antara kabupaten Malang dan Mojokerto. Ada empat jalur pendakian yang bisa dipilih. Masing-masing jalur punya karakteristik dan daya tariknya sendiri.

Kalau kalian mendaki Gunung Arjuno, nggak ada salahnya lanjut naik ke Gunung Welirang yang letaknya bersebelahan. Kedua gunung ini ada di satu punggungan yang sama. Di Gunung Welirang kalian bisa menjumpai para penambang belerang.

Gunung Raung

sumber: www.phinemo.com
Gunung Raung bisa pilihan cocok buat yang suka tantangan nih. Letaknya di Banyuwangi dan gunung ini adalah gunung stratovolcanik aktif. Untuk mencapai puncaknya, kalian harus melalui medan pendakian ekstrem sepanjang 17 km yang sebagian besar berupa bebatuan terjal. Yang lebih menantang adalah, gunung ini tidak memiliki sumber air sehingga para pendaki harus membawa setidaknya 10 liter air untuk tiap pendaki. Disarankan bawa galon, bersama dispensernya, dan kopi satu renteng. Maka kalian akan jadi warung kopi dadakan. Perlu persiapan fisik, mental, kemampuan, dan pengalaman pendakian untuk bisa menaklukkan gunung ini. Jadi kalau kalian cuma pendaki amatir atau kayak gue yang mendaki gunung cuma buat foto-foto doang, mending jangan naik ke gunung ini.

Gunung Semeru

sumber: http://indosurflife.com
Gunung yang hits gara-gara dijadiin latar novel dan film ini adalah gunung tertinggi di Pulau Jawa (3.676 meter di atas permukaan laut). Untuk mencapai puncaknya, kalian perlu melalui beberapa medan pendakian. Karena ketinggiannya, gunung ini bisa menguras tenaga. Tapi nggak usah khawatir karena ada pos-pos peristirahatan sebagai tempat berkemah selama pendakian.


Ranu Kumbolo. sumber: rizkirahmatia.files.wordpress.com
Satu spot paling terkenal dari Semeru adalah Ranu Kumbolo. Disini kalian bisa bikin tenda kemah dan beristirahat sambil menikmati keindahannya. Terus lanjut ada medan menanjak yang disebut tanjakan cinta. Di ujung tanjakan ini, padang bunga lavender Oro-Oro Ombo bisa bikin kalian lupa sama tugas kuliah sejenak.

Nah, untuk mengakses gunung-gunung di atas, beberapa alternatif transportasi bisa kalian pertimbangkan. Kalian bisa naik kereta api dan berhenti di stasiun-stasiun terdekat atau bisa menggunakan transportasi udara seperti Batik Air dan mendarat di bandara Malang atau Surabaya, kemudian lanjut perjalanan dengan transportasi darat. Beberapa maskapai termasuk Batik Air sudah melayani penerbangan dengan intensitas cukup tinggi ke Bandara Malang dan Surabaya.

Untuk kalian pengguna naga terbang, mohon maaf, belum bisa mendarat di Jawa Timur.

---

Sesuai kemampuan dan kemapanan, kayaknya gue bakal milih Gunung Bromo deh buat merefresh otak ini. Kalau kalian?

Teman

Jumlah Pembaca