Senin, November 20, 2017

4

Mau Naik Gunung Apa di Jawa Timur?

Mahasiswa tingkat akhir tanpa piknik, sama kayak Marsha-bengek tanpa ngik-ngik. Nggak asik.

Skripsi dan teror pertanyaan kampret “mau ngapain setelah lulus?”, sangat mengganggu kesehatan jiwa raga kami. Untuk menyeimbangkannya, gue butuh piknik. Tapi lagi-lagi, masalah duit jadi problem klasik.

Gue nggak bisa piknik yang menghabiskan duit banyak. Piknik yang bisa gue lakuin harus yang efisien dari segi duit dan waktu.

Temen gue, Resti, kemarin ngajakin ke Jawa Timur, Malang dan sekitarnya. Dia bilang Jawa Timur cocok buat jadi destinasi liburan rakyat jelata kayak gue gini. Pantai, museum, kuliner, sampai laut, semua ada dan jaraknya nggak jauh. Jadi bisa ngerasain banyak spot dan menghemat biaya transport.

Gue tertarik.

“Ke Jawa Timur nggak lengkap kalau kita nggak ke gunungnya Rih.”

“Ada gunung yang anget nggak? Gue nggak suka dingin.” Serius, cuy. Gue nggak pernah naik gunung karena nggak suka hawa dingin. Hidup di Semarang aja, gue nggak punya kipas angin apalagi AC di kosan.

“Ada. Kawahnya Bromo tuh, panas.”

“Sialan. Gue serius ini.”

“Yaudah. Lo mau naik gunung apa? Cari tau gih, gunung-gunung di Jawa Timur sebelum lo naik."

Gue pun membuka google dan mulai mencari informasi tentang gunung-gunung cantik di Jawa Timur. Cocok nih buat referensi manusia cemen macem gue gini sebelum mendaki.


Gunung Bromo

sumber: www.pesonaindo.com
Ini adalah satu-satunya gunung yang pernah gue datangi. Gue pernah kesini tahun 2014 lalu bareng temen-temen dari Kampung Inggris, Kediri.

Keindahan Gunung Bromo, nggak perlu diragukan lagi. Sudah go inernasional cuy. Ibarat artis, ini Agnes Monica nih, versi gunung.

Untuk yang mageran kayak gue gini, Gunung Bromo adalah pilihan yang tepat. Puncak Gunung Bromo gampang dicapai, bahkan bisa lihat kawahnya secara langsung dengan jelas. Kalau kurang jelas, silakan lakukan roll depan ke arah kawah.

Yang paling menarik tentang liburan di Bromo adalah pemandangan saat matahari terbit. SUMPAH KEREN! Dan emang ini yang paling terkenal dari Bromo.

Gunung Bromo terletak di empat kabupaten: Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Malang. Tingginya 2.300 meter di atas laut. Sebelum menuju kawah, kalian bakal disuguhi pemandangan lautan pasir yang luas. Tiap tahun ada ritual suci suku Tengger disini.

Kalau kalian berangkat ke Bromo lewat kabupaten Malang, kalian bisa dapat banyak penerbangan ke Bandara Abdul Rahman Saleh, termasuk penerbangan milik Batik Air, terus lanjut perjalanan pakai transportasi darat ke Gunung Bromo.
Gunung Lawu

sumber: www.penabiru.com
Nah gunung ini yang cocok buat pendaki pemula. Walaupun tingginya sampai 3.200 mdpl, tapi medan menuju puncak gunung relatif mudah. Letaknya di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah, jadi gampang buat gue kalau dari Semarang. Gunung Lawu ini ramai dikunjungi pendaki maupun penziarah, khususnya di bulan Suro.

Gunung Arjuno

sumber: upload.wikimedia.org
Nama Gunung Arjuno pasti sudah nggak asing buat para pendaki, khususnya buat yang aktif di dunia maya. Gunung dengan tinggi 3.300 meter ini terletak di perbatasan antara kabupaten Malang dan Mojokerto. Ada empat jalur pendakian yang bisa dipilih. Masing-masing jalur punya karakteristik dan daya tariknya sendiri.

Kalau kalian mendaki Gunung Arjuno, nggak ada salahnya lanjut naik ke Gunung Welirang yang letaknya bersebelahan. Kedua gunung ini ada di satu punggungan yang sama. Di Gunung Welirang kalian bisa menjumpai para penambang belerang.

Gunung Raung

sumber: www.phinemo.com
Gunung Raung bisa pilihan cocok buat yang suka tantangan nih. Letaknya di Banyuwangi dan gunung ini adalah gunung stratovolcanik aktif. Untuk mencapai puncaknya, kalian harus melalui medan pendakian ekstrem sepanjang 17 km yang sebagian besar berupa bebatuan terjal. Yang lebih menantang adalah, gunung ini tidak memiliki sumber air sehingga para pendaki harus membawa setidaknya 10 liter air untuk tiap pendaki. Disarankan bawa galon, bersama dispensernya, dan kopi satu renteng. Maka kalian akan jadi warung kopi dadakan. Perlu persiapan fisik, mental, kemampuan, dan pengalaman pendakian untuk bisa menaklukkan gunung ini. Jadi kalau kalian cuma pendaki amatir atau kayak gue yang mendaki gunung cuma buat foto-foto doang, mending jangan naik ke gunung ini.

Gunung Semeru

sumber: http://indosurflife.com
Gunung yang hits gara-gara dijadiin latar novel dan film ini adalah gunung tertinggi di Pulau Jawa (3.676 meter di atas permukaan laut). Untuk mencapai puncaknya, kalian perlu melalui beberapa medan pendakian. Karena ketinggiannya, gunung ini bisa menguras tenaga. Tapi nggak usah khawatir karena ada pos-pos peristirahatan sebagai tempat berkemah selama pendakian.


Ranu Kumbolo. sumber: rizkirahmatia.files.wordpress.com
Satu spot paling terkenal dari Semeru adalah Ranu Kumbolo. Disini kalian bisa bikin tenda kemah dan beristirahat sambil menikmati keindahannya. Terus lanjut ada medan menanjak yang disebut tanjakan cinta. Di ujung tanjakan ini, padang bunga lavender Oro-Oro Ombo bisa bikin kalian lupa sama tugas kuliah sejenak.

Nah, untuk mengakses gunung-gunung di atas, beberapa alternatif transportasi bisa kalian pertimbangkan. Kalian bisa naik kereta api dan berhenti di stasiun-stasiun terdekat atau bisa menggunakan transportasi udara seperti Batik Air dan mendarat di bandara Malang atau Surabaya, kemudian lanjut perjalanan dengan transportasi darat. Beberapa maskapai termasuk Batik Air sudah melayani penerbangan dengan intensitas cukup tinggi ke Bandara Malang dan Surabaya.

Untuk kalian pengguna naga terbang, mohon maaf, belum bisa mendarat di Jawa Timur.

---

Sesuai kemampuan dan kemapanan, kayaknya gue bakal milih Gunung Bromo deh buat merefresh otak ini. Kalau kalian?

Sabtu, November 18, 2017

8

Hal-hal yang ditemui Ketika Bangun Pagi

Go-jek nggak cuma ngasih benefit soal materi. Go-Jek juga melatih gue buat selalu bangun pagi. Karena di pagi hari lebih banyak orderan, mau nggak mau gue bangun pagi setiap hari buat ngegojek biar pendapatan makin banyak. Money wins.

Sebelum jadi supir gojek, gue nggak pernah bangun pagi kecuali cuma buat solat, itu pun lanjut tidur lagi.

Ngebongkar aib sendiri ye kan.....

Selama ini, gue pikir bangun pagi adalah hal yang bodoh. Dinginnya pagi nggak dimanfaatin buat peluk guling, pakai selimut, merem, sama aja menyia-nyiakan nikmat dari Tuhan. Pagi adalah saat yang nyaman banget buat tidur cuy. Terus bangun lagi jam 9, baru deh memulai aktifitas.

Tapi setelah jadi supir gojek, jam 6 pagi gue sudah keluar kos. Ketemu banyak orang di jalan, ngobrol sama penumpang, dan melihat hal-hal yang cuma bisa dilihat di pagi hari.

Itu semua bikin gue sadar kalau ketika gue tidur pagi selama ini, banyak hal yang gue lewatkan, banyak orang sudah memulai aktifitasnya, banyak orang sudah start ‘hidup’ lebih dulu, sedangkan gue ketinggalan, gue masih bermimpi di kamar.

Nyesek.

http://www.hardlybored.com


Dari banyak hal pagi yang gue temui itu, beberapa diantaranya punya kesan tersendiri. Coba gue ceritain ya...

Tukang sayur di depan kos yang jadi primadona ibu-ibu.

Setiap pagi ketika gue mulai ngegojek, selalu ada mas-mas jualan sayur pakai motor yang dikerubungi ibu-ibu di depan kos. Gue nggak ngerti si mas tukang sayur itu mulai mangkal di depan kos dari jam berapa. Soalnya mau gue keluar kos jam 5 pagi, 5.30, atau setengah tujuh, si mas sayur itu selalu sudah ada di situ. Herannya lagi, gue lebih sering lihat dia ngobrol sama ibu-ibu ketimbang melakukan transaksi jual beli. Gue jadi inget akun instagram lambeturah.

Ibu-ibu tukang sapu yang ketiduran setelah jalanannya bersih.

Gue lupa ngambil foto ibu-ibu yang ketiduran itu. Tapi gue masih ingat jelas ibu-ibu itu ketiduran di pinggir jalan, di depan salah satu rumah mewah daerah Gajah Mungkur Semarang dan jalanan di sekitar beliau tidur sudah bersih. Gue nggak ngerti beliau setiap hari kerja begitu, dari rumah jam berapa.

Jadi selama ini, ketika ibu itu menyapu jalan raya sampai bersih untuk mendapatkan nafkah, gue masih tidur di kamar. :(

Makanan-makanan yang sulit ditemui setelah jam 9 pagi.

Bubur ayam, bubur sumsum, ketoprak, lontong sayur, nasi uduk, adalah keluarga besar makanan yang sulit ditemui setelah jam 9 pagi. Biasanya penjual secara dadakan menggelar dagangannya di pinggir jalan dari jam 4 (habis subuh mungkin ya) sampai jam 9. Sebelum ngegojek, gue nggak tahu kalau ada lontong sayur enak di Jalan Prof. Sudarto setiap pagi.

Kakek dan cucu mesra di pagi hari.

Kakek itu sering menuntun cucunya jalan-jalan atau mendorongnya di sepeda. Beliau sering senyum kalau papasan sama gue di dekat kos. Nggak tahu kenapa, tapi itu sweet menurut gue. Doi sama cucunya, bukan sweet senyumnya ke gue lho ya.

3 superwomen penjual koran.

Gue masih nggak ngerti untungnya penjual koran di pinggir jalan itu berapa. Apalagi koran Tribun Jateng yang hanya dijual loper koran dengan harga seribu rupiah. Terus untungnya dia dari mana? Padahal jelas dong bagi hasil sama atasannya lagi.

Kalau kalian tinggal di Semarang, gue tahu ada 3 penjual koran perempuan yang setiap pagi stand by menjajakan korannya. Di Jalan Pahlawan, di pertigaan Rumah Sakit Kariadi, dan di perempatan Patung Kuda (patung Pangeran Diponegoro naik kuda) Tembalang.

Kalau kalian pecinta koran Jawa Pos, ibu yang di Jalan Pahlawan itu jual. Tapi kalau kalian lebih suka Tribun Jareng, bisa beli di perempatan Patung Kuda Undip atau RS Kariadi.

3 superwomen itu selalu standby setiap pagi bahkan sampai mendekati siang. Nggak pernah absen, setau gue.

Gue sering beli sih. Kalian bisa beli juga biar ibu-ibu itu cepat selesai jualan dan pulang ke rumah. Kalau kita naik motor emang biasanya nggak ditawarin koran, karena biasanya yang ditawarin yang naik mobil. Samperin aja mereka kalau mau beli.

Hal-hal itu dan hal lain yang sulit gue ceritain bikin gue sadar kalau selama gue tidur di pagi hari itu, banyak hal yang gue lewatkan.

Jadi inget apa kata ibu di rumah kalau gue bangun siang; “Rejekimu sudah dipatok ayam, tuh.”

Tulisan ini nggak jelas ya? Bodo.
Tulisan ini ditulis di note hp pagi ini, 18 November 2017, di sela-sela gue ngegojek dan menunggu orderan.

Sabtu, November 04, 2017

8

Cerita Go-Jek: Maafkan Kebohonganku Mas

Sebagai mahasiswa dengan uang makan pas-pasan, gue dipaksa memutar otak untuk mendapat pendapatan ekstra agar terhindar dari mengkonsumsi obat mag di akhir bulan. Banyak tawaran kerja yang bisa dikerjain mahasiswa, dari mulai part-time sampai full-time, dari mulai jaga toko sampai jaga perasaan, eh, jaga restauran maksudnya. Dari semua pilihan pekerjaan yang ada, gue memilih menjadi supir Go-Jek.

Iya, gue jadi Gojek driver.

Judul pose: berusaha menjadi gojek cantik
Gue memilih jadi supir Gojek karena jam kerjanya fleksibel banget, semau-maunya gue aja kapan mau kerja, kapan mau off, dan gue juga dasarnya emang suka muter-muter kota naik motor kalau lagi bete. Jadi gue pikir, supir Gojek adalah pekerjaan sampingan yang pas.

Sejak pertama kali meng-Gojek tanggal 14 Agustus 2017 hingga sekarang, banyak pengalaman unik yang gue dapetin. Mulai dari ngeboncengin dosen sampai dikejar-kejar customer gara-gara menolak dikasih tip.

Pengalaman-pengalaman dan para penumpang yang "unik" itu bakal gue ceritain di blog ini pada minggu pertama dan minggu terakhir setiap bulan. Semoga istiqomah ya gue bikin go-story ini. Hehe.

---

1. Deg-degan penumpang pertama

14 Agustus 2017, gue memberanikan diri keluar kos bawa helm gojek dan meng-ON-kan aplikasi GoJek Driver setelah sekitar seminggu helm itu nganggur di kosan karena gue belum berani narik (istilah dalam dunia perojekan kalau kita ngeaktifin aplikasi atau kerja). Pas nge-ON-in, rasanya deg-degan banget. Gue pikir bakal langsung ada yang order. Ternyata enggak.

Waktu itu gue belum punya jaket gojek karena kantor gojek Semarang lagi kehabisan stock jaket. Gue disuruh nunggu maksimal 2 bulan buat dapet jaket. So, gue narik pakai jaket jeans. Gaul ye kan?

Bingung mau mangkal dimana, akhirnya gue pergi ke kampus, ke basecamp teater yang berasa rumah sendiri karena gue bisa kapan pun main kesana. Akhirnya gue nunggu orderan gojek di basecamp teater, sendirian. Ditemani rasa deg-degan sebagai supir gojek amatiran.

Nunggu.
Nunggu.
Nunggu.

Tiba-tiba HP bunyi, "Tuttt tuuutttt tuuuutt".

Notif dari aplikasi gojek driver. Ada orderan!

ADA ORDERAN!

ADA ORDERAN WOY!

Jemput: teknik sipil.
Tujuan: jalan Solo.

Deg-degan. Serius. Ini gue harus gimana? Harus ngapain??!

Sendirian dan panik di dalam basecamp teater, gue merasa hina. Untung nggak ada temen yang liat kepanikan seorang supir gojek bingung ini.

Tarik napas hembuskan, tarik napas hembuskan, akhirnya gue tarik tambang. Gue mencoba untuk selow. Gue berpikir dan mengingat-ingat ketika gue order gojek, si driver gojeknya ngapain abis itu.

Mikir...

Telpon!
Yak biasanya kalau gue order gojek, si driver bakal telpon gue langsung.

Sayang, gue nggak ada pulsa telpon.

Driver gojek-amatir-panik-kere.

Akhirnya gue sms.

Sms pertama: Kak, di teknik sipil ya? Ditunggu ya. Saya kesana. *send*
Sms kedua: Gojek *send*
Sms ketiga: Saya naik beat merah, pakai jaket jeans ya. *send*
Sms keempat: Soalnya belum dapet jaket gojek. *send*

Satu customer, 4 sms. Gue asal pendet send aja. Lupa kalau ini sms, bukan line. Pulsa gue tidak tertolong. Tau kan betapa paniknya gue waktu itu?

Akhirnya, gue nyamperin customer tersebut, ke kampus teknik sipil.

2. Customer pertama ternyata blogger!

Jarak dari basecamp teater ke kampus teknik sipil deket. Nggak sampai 5 menit, gue udah berada di depan gerbang teknik sipil.

Gue sms lagi: saya sudah di depan gerbang ya.

Selang beberapa menit, cewek memakai jaket merah menghampiri. Refleks, gue langsung nyodorin helm ke dia.

"Eh ini mbak, helmnya." Dia menerima helm gojek mulus tersebut dengan sopan dan tersenyum.

Saat dia mau make helmnya, gue buru-buru tarik helm itu lagi. "Eh eh mbak, bentar!"

Mbaknya bingung. Dahinya mengkerut. Rambutnya mengkeriting. Emang asli kriting sih.
Gue nyengir.

"Bentar mbak tempelannya belum dilepas. Hehe."

Gue lupa ngelepas tempelan di kaca helm baru itu. Fail. :(((

foto dari kaskus
"Nggak usah khawatir mbak. Helmnya baru, jadi masih bersih. He-he-he." Gue mencoba membuat suasana nggak krik-krik.

Customer gue ini ternyata mau pulang ke rumahnya, di daerah Semarang kota. Orderan pertama nggak seburuk apa yang gue bayangin. Di jalan, kita ngobrol banyak, apalagi setelah dia tau gue mahasiswa juga dan pernah ke Thailand, karena customer gue ini juga suka traveling dan pernah ke Thailand, kita jadi seru ngobrol selama di perjalanan.

Sampai di depan rumahnya, gue memberanikan diri untuk mengajaknya selfie. "Kenang-kenangan mbak. Customer pertama gojek saya. Mau ditulis di blog nanti."

Foto selfie bareng penumpang pertama! Maafkan kekucelan ini.

"Oh kamu punya blog? Saya juga suka ngeblog lho."

"Wah blogger juga mbak? Apa nama blognya mbak. Nanti saya main ke blognya mbak." Gue pun mencatat nama blog si mbaknya di note hp.

Semangat skripsinya ya Mbak Hayuning! Sukses selalu. Semoga kita ketemu lagi.

3. Kurang pengetahuan berujung bohong.

Setelah sukses (sedikit fail) menyelesaikan orderan pertama, gue berniat untuk kembali ke kampus. Dengan posisi aplikasi driver masih aktif, gue melenggang, meninggalkan rumah customer pertama.

Saat sampai di pertigaan, notif aplikasi driver kembali berbunyi. Ada orderan lagi.

Dari nama yang tertera di aplikasi, customer kali ini laki-laki. Udah keringetan aja gue ngebayangin bakal berat ngeboncengin bapak-bapak gendut, bawa tas ransel, dan ngerokok.

Sampai di lokasi penjemputan, perasaan gue sedikit lega. Penumpang kedua ini laki-laki masih muda dan cuma bawa tas kresek. Nggak gendut.

"Mbaknya baru ya jadi gojek? Kok belum pakai jaket gojek?"

"Iya mas. Ini masnya penumpang kedua. Hehe."

Selama perjalanan, dua kali kita berhenti. Pertama di tukang jahit, kedua di atm. Setelah sampai tujuan, mas ini minta di top-up gopay via driver.

"Mbak ada saldo?"

Sejujurnya gais, gue nggak ngerti pertanyaan itu dan gue jawab spontan aja agar terlihat profesional, "ada mas."

"Yaudah kembaliannya buat top-up gopay aja ya mbak."

"Eh, iya mas..."

Mak jeglek...dyarrr! Gue nggak ngerti caranya top-up gopay. Apa pula itu top-up gopay. Gue aja seumur-umur (waktu itu) nggak pernah pakai gopay.

Gue hanya menunduk, memainkan ponsel sok-sokan melakukan transaksi top-up gopay. Padahal yang gue lakuin cuma pencet menu - back - menu - back - menu - back gitu terus sampai indomaret sama alfamaret bersatu.

GUE NGGAK NGERTI HARUS NGAPAIN ANJIRRR!! T_T

"Udah belum mbak?" Suara mas-mas itu merusak kegiatan pencet menu-back gue.

"Eh anu mas. Ini, kok nggak bisa ya? Loading terus. Lagi eror mungkin mas servernya. Nggak bisa top-up."

Ampuni kebohongan saya ya Tuhan.

"Oh lagi eror ya mbak? Pantesan lama. Biasanya cepet kok." Gue nyengir. "Yaudah mbak nggak usah top-up aja. Makasih ya mbak."

"Iya mas he-he-he."

Gue pun pergi. Gue merasa bersalah udah bohong ke masnya. Padahal nggak ada yang eror. Emang dasar guenya aja yang nggak ngerti cara top-up gopay. Maafkan kebohonganku mas.....

Setelah mengantar mas-mas tadi, gue non aktifkan aplikasi gojek driver dan kembali ke kampus. Hari pertama meng-gojek gue tutup dengan perasaan bersalah dan tekad untuk memperluas pengetahuan gojek gue.

Senin, Oktober 16, 2017

12

[Review Film] Pengabdi Setan - Joko Anwar

Sekali lagi, ngomongin film horor Indonesia sama dengan ngomongin film bokep. Gue selalu pesimis dan punya stereotipe negatif kalau lihat poster film horor Indonesia di bioskop.

"Halah. Paling juga isinya suster keramas atau suster mandi wajib."

Akhirnya gue nggak pernah mau nonton film horor Indonesia lagi.

Tapi stereotipe itu tanggal 3 Oktober kemarin terpatahkan. Setelah sekian lama nggak nonton film horor Indonesia (kayaknya yang terakhir film Badoet deh), akhirnya gue nonton juga dan literally impressed with that movie. Yap, film Pengabdi Setan, karya Joko Anwar.

Awalnya gue sama sekali nggak tertarik dengan judul film Pengabdi Setan. Gue pikir alay, nggak kekinian, nggak jaman now, terus paling isinya tetek-tetek nggak jelas. Cuma nama 'Joko Anwar' yang bikin gue agak penasaran. Film pendek horor Grave Torture (Silent Terror) menjadi film yang bikin gue jatuh cinta sama si om lulusan Teknik Penerbangan ITB ini dan membuat image "sutradara film horor" secara nggak sadar nempel di kepala gue. Tiap denger nama "Joko Anwar", ingetnya setan.

Masa iya Joko Anwar bikin film horor ada teteknya? Nggak mungkin. Pasti ini film bagus.
Pikir gue.

Ditambah lagi temen gue bilang, "Rih, lo harus nonton Pengabdi Setan! Harus! Filmnya keren banget!"


Film Pengabdi Setan (2017) adalah film re-make (Joko Anwar lebih suka bilang 'reboot') dengan judul yang sama di tahun 1980. Film Pengabdi Setan tahun 1980 garapan almarhum Sisworo Gautama Putra sukses menjadi film horor terbaik di masa itu dan berhasil menembus pasar film Internasional. Nggak heran sih, karena Sisworo Gautama Putra menurut gue emang spesialis film horor. Lebih dari 12 judul film horor sukses disutradarainya. Termasuk beberapa film Suzana.

Film Pengabdi Setan tahun 2017 dan 1980 memiliki premis yang sama: seorang ibu meninggal kemudian arwahnya datang kembali meneror rumah dan keluarganya untuk satu tujuan. Makanya tagline film ini "Ibu datang lagi".

Pengabdi Setan 2017 menceritakan tentang sebuah keluarga yang mengalami krisis ekonomi setelah sang ibu (Ayu Laksmi) jatuh sakit kemudian meninggal. Keempat anak yang ditinggalkan yaitu Rini (Tara Basro), Tony (Endy Arfian), Bondi (Nassar Anuz), dan anak terakhir Ian (M. Adhiyat). Ibu sebelum sakit adalah seorang penyanyi terkenal di tahun 1980an dengan lagu hitsnya berjudul Kelam Malam. Setelah ibu meninggal, banyak kejadian aneh dan misterius yang terjadi pada keluarga ini. Sampai pada akhirnya mereka menyadari bahwa hal-hal aneh yang terjadi di rumah mereka berhubungan dengan rahasia sang ibu semasa hidup.

Meskipun memiliki premis yang sama, Joko Anwar membuat banyak perbedaan dalam film ini secara teknis dan penyampaian cerita. Misalnya; Pengabdi Setan 1980 tidak menceritakan hubungan anak dengan ibu sebelum meninggal. Scene awal langsung pemakaman sang ibu. Sedangkan 2017 diceritakan dulu bagaimana kondisi sang ibu ketika hidup dan bagaimana hubungannya dengan anak-anaknya.

Untuk teknis, jelas Pengabdi Setan 2017 lebih bagus daripada 1980. Teknologi sudah makin canggih, men. Gue paling suka scene ketika Hendra (Dimas Aditya) wajahnya terseret di atas aspal. Kayak asli. *spoiler*

Menonton film Pengabdi Setan, 107 menit mata gue dimanjakan dengan gambar, warna, dan nuansa kuno yang berhasil Joko Anwar bangun. Kesan tahun 1980an sukses digambarkan dengan baik didukung oleh pernak-pernik seperti jam dinding tua, sumur, telpon rumah, dan motor butut milik Tony. Rumah kosong di Pengalengan, Bandung peninggalan jaman Belanda juga berhasil menjadi ikon utama yang menunjukan kalau cerita di film ini memang terjadi 37 tahun yang lalu. Rumah kuno ini dan segala interiornya bikin gue lupa kalau lagi nonton film Indonesia. Artistiknya gue acungin jempol 4.

Gue bukan orang yang gampang takut dan teriak-teriak ketakutan kalau nonton film horor. Tapi Pengabdi Setan sukses bikin gue deg-degan di bagian awal. Jujur sebelum nonton, gue sudah punya mindset kalau film ini bakal ngeri. Bayangin aja, yang jadi setan ibunya, cuy. Kurang ajar. Sutradara durhaka. Dan beberapa aktifitas yang dekat denga kehidupan gue bikin gue makin masuk ke dalam film. Pemakaman, pocong, kuburan ala Indonesia, tahlilan, sumur tua, semua itu ada di kehidupan asli gue.

Menembus 2 juta lebih penonton hanya dalam 13 hari tayang, Pengabdi Setan masih punya beberapa 'miss'. Beberapa adegan banyak yang nggak nyambung. Aksen bahasa yang digunakan para pemain juga terkesan maksain. Bahasa yang digunakan Bondi dan Rini, nggak cocok. Bapak (Bront Palarae) yang diperankan aktor Malaysia juga kaku dalam berdialog.

Karakter para tokoh kurang kuat digambarkan. Tokoh yang berhasil dibangun cuma Ian, si anak bontot tuna rungu yang menggemaskan dan memberi sentuhan komedi di film ini.

Adegan yang bener-bener bikin gue bingung adalah ketika bapak bilang nggak mau tidur tiba-tiba muncul di layar doi sudah tidur pules aja. Itu...nggak nyambung.

Mulai masuk ending, kengerian film ini mulai berkurang. Setannya dan cara setan itu muncul jadi standar. Klimaksnya malah menurut gue di bagian munculnya Fachry Albar, scene paling terakhir. Beberapa penonton di sekitar gue bilang "apaan banget itu (scene Fachry) nggak nyambung. Bikin jelek." Tapi menurut gue malah itu yang bikin "anjir ini film kampret! Keren!".

But, over all, gue suka film Pengabdi Setan ini. Plotnya, sinematiknya, konsep ceritanya, joss. Untuk kelas film horor Indonesia, Pengabdi Setan ini bisa dibilang keren banget, bisa disejajarkan dengan film The Conjuring lah. Dan yang paling penting, Joko Anwar berhasil bikin gue nggak negative thinking lagi sama film horor Indonesia.

Film Badoet dan Pengabdi Setan, gue rasa bakal jadi titik balik dan titik sadarnya produser atau sutradara film horor Indonesia bahwa: bikin film horor nggak harus ada sentuhan bokepnya.

Gue bakal terus menunggu karya-karya cerdas sutradara film horor Indonesia macem Pengabdi Setan ini. Joss!!

Anyway, gue mulai nulis ini sejak setelah nonton film Pengabdi Setan dan baru hari ini terposting. Sedih. :')

Minggu, September 17, 2017

2

Pada Sebuah Hati: Sarah (Part 4)

Gue menghampiri laki-laki cupu peminjam buku Feminist Thought yang sedang membaca buku di sudut perpustakaan. Kita janjian pagi ini.

"Hai." Gue mencoba menyapanya dengan ramah. "Gue sebel hari ini. Kena marah Bu Eni dan dia malah nyuruh gue nyari orang yang bernama Johan buat membantu gue mengembalikan buku yang gue ilangin. Johan? Kenal aja enggak."

Suasana hening. Laki-laki itu nampak syok. Lebay. Aneh.


"Lo kenal orang yang namanya Johan?"

Laki-laki itu masih diam kemudian membuka mulutnya. "Ya. Aku pernah sekelas sama Johan. Kenapa? Lagi pula semester ini aku satu kelas sama dia."

"Lo serius?" Gue girang.

"Enggak sih. Bohong aja." Laki-laki itu mulai menyebalkan lagi. Gue muak. Gue mulai curiga kalau dia nggak waras. "Kamu masih ada hutang denganku kan? Ceritain isi buku Feminist Thought."

Mati. Kan gue nggak baca sampai habis. Baru setengah dari buku itu yang masuk ke otak gue. Oke. Cara terbaik untuk lari dari situasi adalah: ngeles. "Gue bakal ceritain isi bukunya bahkan sampai ke riwayat si penulisnya. Tapi nanti. Sekarang lo anter gue ke kelasnya Johan dulu!" Gue memaksa. "Please anterin gue ketemu Johan itu. Kata Bu Eni dia yang nemuin buku yang gue ilangin."

Laki-laki itu nampak syok dan mengernyitkan dahi. Bodo. Gue tarik tangannya. "Lo kuliah di ruang mana hari ini?"

"D15."

Gue memasuki ruang D15 dengan masih menyeret laki-laki menyebalkan ini. Sampai sekarang pun, gue nggak ada rasa tertarik untuk menanyakan namanya.

Ruang D15 hanya ada 2 laki-laki dan 3 perempuan yang duduk terpisah menjadi dua kelompok seperti di masjid. Laki-laki berdua duduk di pojok kanan dan 3 perempuan duduk ketawa-ketiwi di bagian tengah ruangan.

"Disini ada yang namanya Johan?" Gue menghampiri dua laki-laki itu. "Kata mas ini dia sekelas sama Johan disini."

Hening. Dua laki-laki di hadapan gue hening. Tiga perempuan di tengah hening. Meja-meja di ruangan hening. Kompak.

"Eh anu. Johan ya Mbak? Johannya lagi nggak di kampus." Akhirnya laki-laki kurus menjawab pertanyaan gue meskipun masih dengan muka bingung. Hening lagi. "Tapi saya punya nomor HP-nya Mbak kalau mau."

Gue menelpon nomor yang dikasih si laki-laki kurus. "Kok nggak aktif ya Mas nomernya?"

"Mungkin dia lagi ada kegiatan. Lagian ngapain sih ribet banget nyariin Johan?!" Laki-laki menyebalkan di samping gue tiba-tiba membuka mulut. Ngeselin.

Gue mengacuhkan si laki-laki ngeselin dan mengucap terimkasih kepada orang-orang di dalam ruangan. Kemudian kita berdua pergi meninggalkan ruang D15.

"Gue pulang aja deh. Lo kalau ketemu Johan bilang ya, ada yang nyariin. By the way, makasih."

"Iya sama-sama. Dicariin siapa?"

"Eh iya lupa. Kita belum kenalan ya? Gue sarah." Gue mengulurkan tangan.

"Aku Adi." Kita berjabat tangan sebentar. "Panggil mas lagi aja nggak papa."

"Rese banget sih lo baru kenal!"

"Resean mana sama yang baru kenal tapi udah narik-narik tangan seenak jidat?"

Bener-bener ngeselin. Tapi memang gue narik-narik tangan dia sih. "Oke, gue minta maaf."

"Kamu masih ada hutang denganku ya. Ceritain isi buku Feminist Thought. Yang bab 4 aja deh. halaman 312." Anjir. Dia masih aja ngotot.

"Duh!" Gue langsung kabur, berjalan cepat meninggalkan laki-laki ngeselin bernama Adi itu.

"Hei!" Adi meneriakiku.

"Gue mau nyelesaiin masalah sama Johan dulu baru setelah itu gue ceritain isi bukunya!" Gue melambaikan tangan.

Gue sudah sampai di area parkir. Sebelum masuk mobil, gue sempatin buat telfon Johan lagi. Siapa tahu diangkat.

"Tut...tutt...tuuuttt..." Nggak ada jawaban.

Gue kirim pesan aja kali ya. Biar kalau si Johan baca dan tahu kalau gue mau ketemu dia.

Selamat pagi mas, apakah ini nomornya mas Johan? Saya Sarah dari jurusan hukum. Kalau mas ada waktu bisakah kita bertemu sebentar? Saya ada perlu dengan anda. Terima kasih.

Semoga nanti malam Johan memberikan kabar baik soal buku yang gue ilangin.



Part 1 bisa dibaca di sini.
Part 2 bisa dibaca di sini.
Part 3 bisa dibaca di sini.
Pada Sebuah Hati: Johan, di https://wahyuimamrifai.blogspot.co.id
(BERSAMBUNG KE PART 5)

Teman

Jumlah Pembaca