Minggu, Juli 16, 2017

7

Pada Sebuah Hati: Sarah (Part 1)

Kalau bukan gara-gara denda di perpustakaan yang semakin membengkak nominalnya, gue ogah Jumat sepagi ini menginjakan kaki di perpustakaan. Gimana enggak? Di semester 7 ini, kuliah gue cuma sampai hari Kamis. Jumat, Sabtu, Minggu, adalah jadwalnya bermalas-malasan di kos untuk menonton drama Korea atau jika Tuhan menghendaki, gue mencicil skripsi.


"Bagaimana bisa denda buku sebanyak ini? Ya ampun kamu ini!" Petugas perpustakaan ngomel ketika gue menyodorkan tiga buku ilmu sosial di mejanya. "Duduk dulu deh kamu. Ini saya data dulu bukunya."

Gue cuma bisa cengengesan kemudian menghampiri rak-rak buku. Sejujurnya gue lagi nggak berminat baca buku sekarang. Tapi seminggu terakhir ini, gue penasaran banget sama bukunya Rosemarie Tong, Feminist Thought. Buku itu sering diobrolin di kelas. Nggak ada salahnya sekarang gue coba mencari buku tersebut.

Gue menghampiri rak buku tentang feminisme. 5 menit untuk menelusuri rak buku, gue nggak nemuin buku Feminist Thought tersebut. Gue malah nemuin dua buku yang berjudul sama, yaitu Feminist Politics and Human Nature karangan Alison Jaggar.

"Ok deh, baca ini dulu. Kali aja isinya mirip sama bukunya Rosemarie Tong."

Gue mencari spot baca yang jauh dari mahasiswa-mahasiswa tingkat akhir yang sedang menikmati wifi gratis perpustakaan untuk mengerjakan skripsinya. Gue nggak nyaman dengan suara jari-jemari yang beradu dengan keyboard laptop.


Akhirnya gue memilih duduk di kursi pojok yang cuma ada satu laki-laki yang sedang baca buku disana.

Gue duduk dan mulai membuka halaman pertama buku Feminist Politics and Human Nature.

Lumayan menarik juga bukunya.

Sesekali gue menjatuhkan pandangan ke laki-laki berkemeja biru tua yang duduk di depan gue ini. Dia terlihat sangat serius membaca buku yang diletakannya di meja sampai-sampai lupa bahwa kaca mata yang menempel di hidungnya sedikit melorot.

Gue rasa buku yang dia baca bagus.

Gue melanjutkan membaca buku yang sedang gue pegang. Sampai terdengar suara derit kursi dari depan gue.

Laki-laki itu membenarkan posisi duduknya dan merubah posisi buku yang sedang ia baca menjadi vertikal di atas meja. Seketika gue bisa melihat buku yang sedang ia baca. Tertulis disana "Feminist Thought" dan nama kecil di bawahnya "Rosemarie Tong".

Ah, itu buku yang daritadi gue cari! Ternyata daritadi ada di depan gue.

Laki-laki itu masih khusyu dalam membaca bukunya Rosemarie. Sedangkan gue, mulai nggak fokus di bukunya Alison Jaggar. Beberapa kali gue mencuri pandang ke buku yang dia pegang, berharap dia segera pulang dan meninggalkan buku itu di rak feminisme.

Laki-laki itu masih tenang membaca.

Gue heran. Ini nggak wajar. Nggak biasanya laki-laki kepo dengan buku-buku feminisme macam Feminist Thought itu. Setau gue, feminisme itu favoritnya mahasiswi, bukan mahasiswa. Kenapa dia doyan banget bacanya anteng gitu?

Gue penasaran.

Ah, lama banget. Lima belas menit berselang, laki-laki itu masih tenggelam di pikiran-pikiran Rosemarie. Gue semakin kepo dengan buku itu. Kalau dia aja betah dengan buku itu, berarti isinya bagus banget dong?

Makin penasaran.

Arghh. Cepetan dong balikin bukunya ke rak!

Laki-laki itu melihat ke arah gue. Shit. Gue langsung menundukan pandangan. Nggak rela gue kalau dia memergoki gue yang daritadi merhatiin dia. Ah enggak. Maksud gue, merhatiin buku yang sedang dia baca.

Laki-laki itu melanjutkan bacaannya lagi.

Aman. Gue memperhatikannya lagi.

Sebagus apa sih buku itu? Sampai-sampai laki-laki juga betah bacanya. Temen-temen di kelas gue juga bilang sih buku itu bagus.

Oke. Gue semakin penasaran dengan isi buku itu.

Apa sebaiknya gue ngomong baik-baik ke dia kalau gue pengen pinjem buku itu? Tapi gue sama sekali nggak kenal dia. Bahkan selama tiga tahun kuliah disini, belum sekali pun gue melihat dia. Mukanya asing buat gue.

"Sarah Larasati!" Bu Eni, petugas perpustakaan memanggil nama gue dengan lantang.

"Eh, iya Bu..." Gue pun menghampiri mejanya.



Pada Sebuah Hati: Johan, di https://wahyuimamrifai.blogspot.co.id
(BERSAMBUNG KE PART 2)

Selasa, Juni 27, 2017

12

Tiga Hal yang Harus Dihindari Ketika Lebaran Tiba

Lebaran. Jangan sampai jadi lebar -an atau malah lebarkan. Jangan. Sia-sia puasa lo sebulan kalau malah makin melebar. Puasa sebulan bikin berat badan turun 5 kilo, cuma gara-gara nasi-opor-sambal kentang goreng sehari, berat badan naik lagi 7 kilo kan nggak lucu.


Lebaran.

Semua tetangga gue mudik. Nggak mau kalah, gue mudik juga. Walaupun rumah kakek beda kecamatan satu kabupaten, gue pokoknya mudik! The cemen-nest mudik in the world: mudik beda kecamatan.

Mudik adalah hal menyenangkan meskipun ribet. Kumpul bareng keluarga, ketemu om-tante-kakek-nenek. Semuanya bahagia. Momen mahal setahun sekali.

Tapi taukah anda, bahwa di balik keceriaan lebaran, kehebohan mudik, dan kebahagiaan kumpul bareng keluarga terselip hal-hal mengerikan dan patut dihindari? Gue bilang begini bukan asal sotoy doang ya. Tapi ini adalah hasil riset lebaran-lebaran sebelumnya. Dan ini relevan banget. Apalagi buat kaum perempuan-perempuan lemah seperti gue ini.

1. Untuk kalian muda-mudi berumur diatas 20 tahun dan jomblo, hindari ngumpul bareng om-tante tanpa ada balita di sekitar kalian. Karena mereka akan melontarkan pertanyaan-pertanyaan sulit, sekelas tes CPNS seperti :

"Kapan nikah?"
"Calonnya orang mana?"
atau kalau kalian sedikit beruntung, mereka akan menanyakan: "kapan wisudanya?"

Jika ada balita di sekitar kalian, kalian bisa berpura-pura tidak mendengar pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan cara berpura-pura mengajak si balita main. Tapi jika tidak ada balita di sekitar kalian, atau bahkan posisinya kalian sendirian-jomblo-jelek pula dikepung pasukan om-tante, yaudah. Kelar hidup lo. Satu-satunya jalan keluar untuk terlepas dari situasi seperti ini ber-mati suri-lah.


2. Saat lebaran tiba, makanan melimpah, dapur selalu ramai. Kaum ibu-ibu sibuk dengan masakannya. Mereka seperti nggak rela kalau meja makan kosong tanpa makanan. Saat momen seperti ini tiba, hindarilah dapur.

Serius. Hindari dapur.

Khususnya kaum perempuan berusia matang yang hanya memiliki kemampuan masak sebatas merebus air.

Tante-tante yang sedang asik masak itu biasanya akan menanyakan "bisa masak apa? Sini masak bareng tante. Bantuin tante bikin opor ayam. Bantuin tante bikin sayur lodeh. Bantuin tante bikin kue putu ntar sore mau tante jualin."

Karena memang kemampuan masak lo cetek abis, lo jawab, "cuma bisa ngerebus air tante."

Terus tante lo bakal ketawa setan nyinyir dan berkata, "hahaha masa sih nggak bisa masak? Aduh perawan kok nggak bisa masak?"

Akhirnya satu keluarga besar lo denger nyinyiran setan tersebut dan lo mulai terbully karena nggak bisa masak.

3. Kecewa adalah hal yang sangat gue benci. Berharap terlalu tinggi kemudian dibuat patah hati dengan kenyataan yang jauh dari harapan.

Seperti itulah, toples Khong Guan.

Iya. Toples Khong Guan bikin kecewa tiap lebaran.

Hindari toples Khong Guan, tolong.


Berharap wafer cokelat dan vanilla, malah yang muncul rengginang asin atau peyek kacang gurih. Kan kesel yak. Kecewa sampai ubun-ubun.

Jangan nodai hari fitri kalian dengan kalimat umpatan pada rengginang atau pun peyek kacang:

Anjing! Kok rengginang!?

Oke. Itu 3 hal yang musti kalian hindari ketika lebaran tiba versi gue. 3 hal itu adalah hal yang emang ngeselin banget buat gue. Subjektif sih, tapi menurut gue banyak dari kalian yang mengalami hal yang sama. Iya nggak?

Di hari Idul Fitri kemarin, kakek gue dipanggil Tuhan. Sudah waktunya pulang. Gue nyesel nggak bisa di samping beliau waktu itu. Keluarga besar 80% ada disana. Gue enggak. Hmm. Mbah kakung, semoga disana bahagia ya Mbah...

Oh ya. Enjoy your Eid ul-Fitr day guys. Selamat lebaran! Maaf lahir batin ya, dari gue, blogger yang nggak konsisten.

Sumber gambar:
https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/originals/8e/d7/dd/8ed7ddd0e9aef41175f445e931f5eef2.jpg
https://img.okezone.com//content/2016/11/15/194/1542059/wawancara-pertama-sebagai-keluarga-kepresidenan-melania-trump-pilih-dress-merah-membara-fygOXMR7uh.jpg
http://4.bp.blogspot.com

Senin, Juni 19, 2017

11

[Review Film] The Mummy - Alex Kurtzman


Nonton film di bioskop adalah hal yang akhir-akhir ini sulit untuk gue realisasikan. Sibuk dan nggak ada duit adalah alasan utamanya. Rencana nonton film Fast and Furious 8 sampai film Ziarah, gagal semua. Mungkin baru bisa gue tonton setelah filmnya duet jadi "Fast and Furious Berziarah".

Kemarin, gue dan Sofi, main ke Java Mall dengan niat awal beli Thai tea Dum-dum. Thai tea yang hits banget di Semarang. Setelah beli Thai tea, kita berdua iseng ke bioskopnya, Cinemaxx. Bioskop ini masih baru, belum ada sebulan, makanya kita kepo. Niat awal cuma liat-liat, kita malah kepincut sama dua poster film disana: Zombie Fighters, film Thailand yang masih coming soon dan film The Mummy yang sedang tayang di bioskop.


Tanpa basa-basi, kita nonton film The Mummy. Dadakan. Karena jamnya mepet, kita dapet seat sisa, seat paling depan. Meskipun bola mata serasa nempel ke layar bioskop dan tulang belulang pegel semua, gue tetap berusaha menikmati muka ganteng Tom Cruise di depan mata.

The Mummy adalah film kedua yang disutradarai oleh Alex Kurtzman setelah film People Like Us (2012) dan istimewanya adalah: Alex Kurtzman jadi sutradara, sekaligus penulis (bukan utama), sekaligus produser di film The Mummy ini! BOOM!!

Nama Alex Kurtzman memang sering kedengeran di dunia film. Tapi dia lebih sering jadi penulis skenario atau produser, bukan sutradara. Film The Island (2005) dan Now You See Me 2 (2016) adalah beberapa film yang dia garap. Gue langsung inget, film The Island adalah film sci-fi yang pertama kali gue tonton dan bikin gue jatuh cinta sama film sci-fi sampai sekarang. Ternyata doi yang nulis.

Film The Mummy bercerita tentang Putri Mesir kuno yang hidup ribuan tahun lalu, Princess Ahmanet (Sofia Boutella, aktris Algeria), yang dikubur hidup-hidup setelah mencoba membunuh ayahnya karena berusaha mendapatkan tahta kerajaan. Kemudian, kuburan Princess Ahmanet ditemukan oleh Nick Morton (Tom Cruise), Annabelle Wallis (Jenny Hasley), dan Sgt. Vail (Jake Johnson) pada jaman modern sekarang ini dan menyebabkan mummy Princess Ahmanet bangkit kembali.

Seperti standar film mummy pada umumnya, mummy Princess Ahmanet bangkit dari kematiannya dan belajar giat untuk mengikuti tes SBMPTN. Eh ngaco. Maap. Mummy Princess Ahmanet bangkit membawa dendam kepada umat manusia dan berusaha menguasai dunia. Nick Morton dkk merasa bertanggung jawab atas bangkitnya mummy seksi ini dan berusaha 'menidurkan'nya lagi.

Film berbudget mencapai $125 juta ini merupkan film reboot The Mummy tahun 1999 dari Universal Monsters. Universal Monsters Universe series adalah genre atau pengelompokan film dari Universal Studio yang mengangkat tema horor, setan-setanan, mosnster-monsteran, dan science fiction.


Gue lupa-lupa inget sih sama film The Mummy 1999, tapi ceritanya mirip-mirip gitu. Mengesampingkan jerawat di pipi Tom Cruise yang terlihat jelas di depan mata, secara keseluruhan film ini bagus banget. Berkali-kali gue teriak-teriak sendiri waktu nonton karena saking menegangkannya. Bagian paling menegangkan adalah saat pesawat jatuh. Beberapa detik audio-visualnya bikin ada space kosong di jantung gue. haha. Spoiler.

Meskipun film bergenre mummy kayak gini ceritanya gampang ditebak, tapi alur dan gambar-gambar hasil DOP-nya Ben Seresin ini bikin penonton selalu tegang dan berpikir "abis ini apa nih? abis ini apa ya?".


Ngereview atau ngomongin film kelas hollywood emang susah. Hampir semuanya 100% sempurna. Intinya film The Mummy (2017) visualnya keren meskipun ceritanya membosankan. Beberapa kali scene no sound bikin jantung mencelos terus shock terus sound on lagi. Keren. Visual film The Mummy ini bisa bikin penonton (seenggaknya gue) nggak ngerasa bosen sama film tentang mummy yang "oh paling endingnya begitu".

Note: postingan ini harusnya bisa gue post seminggu yang lalu. Karena kurang dikit tapi gue nggak ngelarin, jadi baru bisa dipost hari ini. PARAH.

Rabu, Mei 31, 2017

14

Mei Kali Ini

Yap, gue selingkuh lagi. Gue ninggalin blog lagi. Meskipun kali ini gue selingkuh karena ngurusin tugas kuliah mahasiswa akhir, gue tetep merasa bersalah dan layak untuk diceraikan.

Lebay njir...

Bulan Mei udah tinggal sehari lagi. Nggak kerasa. Kurang gede dan tahan lama soalnya. Beli obat pembesar dan obat kuat dulu, gih.

Apaan njir...

Bulan ini, angka di umur gue bertambah. Makin tua.

Iya, Mei adalah bulan ulang tahun gue. Dulu, setiap memasuki bulan Mei, gue bahagia banget. Ekspektasi gue udah macem-macem. Dapet banyak hadiah lah, dapet surprise lah, sosmed ramai banjir ucapan, dan lain-lain yang bikin gue selalu seneng ketika memasuki bulan Mei. Berasa orang spesial satu hari.

Postcard dari temen gue di Thailand

Tapi itu semua berubah semenjak gue jadi mahasiswa. Setelah kuliah, gue merasa ulang tahun adalah hal yang mengerikan. Umur gue bakal bertambah, beban hidup gue makin banyak, makin banyak hal serius yang harus gue lewati, dan...makin tua makin nggak bisa main-main.

Mei, bukan bulan favorit gue lagi.

Ekspektasi gue pun semakin surut. Gue nggak berharap hadiah, surprise, atau bahkan ucapan-ucapan banyak orang lewat sosmed. Semakin tua gue semakin sadar. Ulang tahun bukan melulu soal itu. Ulang tahun adalah saat dimana gue sadar untuk istirahat sebentar dari hidup, menyadari apa aja yang udah gue lewatin dan memikirkan apa yang selanjutnya bakal gue lakuin di hidup ini, di umur yang baru ini.

Nggak munafik, gue butuh ucapan "selamat ulang tahun". Tapi bukan dari banyak orang lagi. Gue butuh itu dari keluarga dan teman terdekat gue.

Setiap ulang tahun, orang tua gue selalu ngucapin dengan doa-doa mereka. Mereka telpon atau sebatas mengirimi gue pesan. Itu udah lebih dari cukup.

4 Mei kemarin, pagi-pagi, ibu gue ngirim whatsapp. "Nduk, selamat ulang tahun nggih." dan ditambahi doa-doa manis di belakangnya. Pesan singkat itu sukses bikin gue senyum getir rindu rumah.

Siang-sore-malem. Ucapan "selamat ulang tahun" makin menumpuk di smartphone gue. Tapi, gue masih setia buka-tutup smartphone karena menunggu satu orang yang belum ngucapin. Bapak gue.

Hingga tanggal berganti, bapak gue belum ngucapin. Baru setelah hampir satu minggu berselang, muncul notification di whatsapp; "selamat ulang tahun nduk. maaf bapak lupa ulangtahunmu."

Dan baru setelah itu, gue merasa ulang tahun gue sempurna. Bukan masalah ucapannya. Tapi masalah, akhirnya bapak gue inget hari lahir gue.

Keluarga, sahabat-sahabat gue. I am so happy to have them. Mereka membuat ulang tahun gue ini sesederhana hari biasanya tapi penuh arti. Mereka membuat gue sadar bahwa, ulang tahun adalah hal manis yang akan menjadi manis jika gue melewatinya bareng mereka yang sayang sama gue dengan tulus.

Sembari gue berbahagia, dalam hati kecil gue, gue nggak bisa bohong bahwa gue takut untuk memulai lembar-lembar baru di angka yang baru ini.

Ini berarti gue makin tua. Ini berarti life goals gue harus makin banyak yang tercapai. Ini berarti gue harus ngerasa malu kalau masih ngerepotin orang tua.

Gue pengen travelling. Gue pengen independen dari segi ekonomi. Gue pengen lebih kenal Farih. Gue pengen lebih mengenal banyak hal. Gue pengen cepet lulus. Gue pengen buktiin ke orang tua gue bahwa "ini lho anakmu Pak Buk." Ah... oke. Hari ini adalah hari terakhir di bulan Mei 2017. Gue harus udah mulai jalan di dalam rencana-rencana hidup gue di umur yang baru, bukan cuma sekedar "gue pengen".

Thanks buat orang tua, sahabar-sahabat, dan semua orang yang tulus memberikan sebagian hatinya buat gue. Gue harap, gue bisa menggunakan perasaan ini untuk menjalani hidup yang lebih baik di umur yang sekarang.

Oh iya. Dan syukur, bulan Mei ini juga, untuk pertama kalinya gue naik pesawat, keluar negeri, sendirian. I will tell this amazing story soon guys. HAHA. Keep reading this blog!

Anyway, thanks for the gifts. Gue sangat butuh jam alarm di kamar kos ini.

Jumat, Januari 27, 2017

29

Lima Film Indonesia 2016

Film Indonesia sekarang ini lagi giat-giatnya berkembang. Lari mengejar banyak ketinggalan mulai dari teknis, cerita, dan pemainnya. Dan hasilnya pun keliatan setiap tahun. Film Indonesia mengalami banyak peningkatan. Mulai dari musnahnya oknum tetek nongol di film horor, sampai ketatnya distribusi film yang bikin film Indonesia nggak ada di ganol.

Tahun 2016, gue nggak banyak nonton film di bioskop. Nggak sebanyak tahun 2015. Faktornya jelas: anak kuliah, jarang ada waktu dan nggak ada duit. Tapi, ada beberapa film Indonesia yang gue tonton di 2016 dan unforgetable. Entah itu jelek, bagus, atau apa. Pokoknya masih nyangkut aja dipikiran.


Lima film Indonesia 2016 yang berkesan menurut gue adalah :

1. Hangout

Jelas ini adalah film yang nggak terlupakan. Yaiyalah orang baru kemarin. Film Hangout adalah film garapannya Raditya Dika yang dia bikin sendiri ceritanya, dia yang nyutradarain, dan dia juga yang main. Seperti biasanya. Dan menurut gue, caranya itu udah mulai membosankan. Membosankan dalam artian: gue pengen Radit ngeubah caranya dia bikin film. Kayak misalnya dia yang nulis dan sutradara, tapi dia nggak main. Atau sebaliknya. Pasti bakal beda.

Film Hangout, katanya, beda dari film komedinya Raditya Dika yang lain karena genrenya bukan romance. Doi kan kalo bikin film seringnya romance, cinta-cintaan lucu gitu. Emang sih beda. Komedi dikemas dengan cerita horor thriller-petualangan (gue nggak paham), bukan Raditya Dika banget. Bagus, beda dari sebelumnya. Tapi cara dia berkomedi masih "Raditya Dika" banget dan gue nggak suka endingnya, yang menurut gue kayak sinetron.

Secara keseluruhan, film Hangout masuk kategori keren, bagus. Tapi gue secara pribadi bosen dengan film Raditya Dika. Entah karena dia terlalu cepet bikinnya jadi setiap film ya mentok nilainya 8 terus. Nggak pernah 9 atau 5. Atau memang gue bosen sama "Raditya Dika" yang itu-itu aja.

2. Ada Apa Dengan Cinta 2

Film bombastis yang bikin Gereja Ayam dipenuhi pengunjung tiap hari. Film yang berhasil bikin banyak orang baper. Film yang berhasil bikin parodi "kamu jahat" bejibun di instagram.

Ada Apa Dengan Cinta 2 adalah film yang amat sangat ditunggu-tunggu setelah sequel pertamanya tahun 2002. Dari AADC 1 ke AADC 2 doang butuh waktu 14 tahun. Dari Cinta Fitri belum nongol sampe udah tamat. Dari yang dulunya nonton AADC masih sekolah sekarang udah punya anak. Gila lama banget kan 14 tahun, makanya pas AADC2 keluar heboh banget Indonesia.

Menurut gue, AADC2 itu terlalu maksain. Maksain karena AADC pertama adalah film yang sekali kelar, nggak pake sequel. Tapi gara-gara banyak yang kangen AADC2 terutama Rangga-nya dan banyak yang haus akan film happy ending, akhirnya AADC2 dibikin dan finally happy ending.

Gue suka cara Riri Riza menyampaikan cinta lama bersemi kembali di Ada Apa Dengan Cinta 2. Nggak mainstream. Tapi gue benci Rangga. Seenaknya masuk lagi di kehidupan Cinta dan mengambil hati Cinta lagi. Nggak enak sob jadi Trian. Nyeseknya bakal bertahun-tahun itu pasti.

3. My Stupid Boss

Jujur, gue nonton film ini nggak enjoy banget. Gue waktu itu nonton rame-rame bareng temen kampus. Ramenya mereka pas nonton kali bikin mood anjlok. Jadi nggak kebawa di dalam film itu. Setiap "kelucuan" yang ada di My Stupid Boss rasanya garing.

Di luar feel yang gue rasain saat nonton My Stupid boss, gue salut sama Ade Gimbal sebagai penata artistiknya. Kalo diperhatiin, warna gambar film My Stupid Boss itu hijau-merah-kuning. Kostum, setting, dan color gradingnya dibikin seirama. Selama gue nonton My Stupid Boss, gue merasakan suasana natal. Merah-ijo. Hahaha. Keren. Jarang ada film Indonesia yang berani ambil tema tegas gitu buat pewarnaan gambarnya.

Kemarin gue sempet nonton film My Stupid Boss lagi di rumah dengan mood yang lebih baik dan ternyata lucu abis. Upi sukses bikin filmnya sempurna. Film yang digarap Indonesia-Malaysia.

4. Nay

Kalo film yang satu ini udah jelas ya, amat sangat bikin gue jatuh cinta. Gue jabarin di satu postingan penuh. Silakan baca lagi atau silakan baca kalo kalian belum baca.

5. Prenjak

Mungkin banyak yang nggak tau film keren yang satu ini karena memang film Prenjak nggak beredar bebas di bioskop.

Film Prenjak adalah film pendek garapan anak Jogja yang sekolah film di IKJ, Wregas Bhanuteja dan sempat diputar di Cannes Film Festival 2016 di Perancis. Film Prenjak juga mendapat penghargaan piala citra sebagai film pendek terbaik.

Film ini jelas keren banget. Gue nonton di pemutaran film pendek di Semarang waktu itu. Wregas mengangkat cerita kuno asli Jogja tentang wanita penjual korek api dengan harga yang sangat mahal. Film ini sangat berani menurut gue, karena jarang ada film Indonesia yang mengekspose bagian tubuh manusia. Makanya film ini nggak mungkin beredar bebas gitu aja.

Wregas berhasil mengangkat isu kehidupan sulit yang saat ini dialami banyak masyarakat Indonesia dengan caranya yang nggak gamblang. Tersirat. Cakep. Dekat sama masyarakat.

Gue suka film-film garapannya Wregas. Meskipun dia kuliah di Jakarta, dia tetep mengangkat cerita Jogja sebagai premisnya. Kayak di film pendeknya yang berjudul Lemantun. Film tanpa klimaks secara visual tapi klimaks di feeling. Tai banget udah ini film. Hahaha.

Oke. Kelar. Menurut gue postingan ini terlalu panjang meskipun udah sebisa mungkin kalimatnya gue bikin singkat padat.

Yap. Itu adalah lima film Indonesia di 2016 yang masih nyantel di ingatan gue. Kalo kalian, coba dong sebutin lima film di 2016 yang masih nyantel filmnya sampe sekarang?

Terakhir, gue berharap La La Land nggak maksain bikin sequel juga. Mentang-mentang sad ending, dibikin happy ending. Kan nggk lucu juga kalo ada sequel La La Land ntar judulnya Tinky Winky Land, Dipsy Land, dan Po Land.

Followers

Total Tayangan Laman