Selasa, Januari 16, 2018

5

Lima Film Keren 2017

Sebagai mahasiswa yang bersahabat dengan kemelaratan, jelas, gue jarang banget ke bioskop di tahun 2017. Nonton film di bioskop terasa sangat mahal ketika uang jajan habis buat ngeprint tugas akhir dan segala tetek-bengeknya. Tapi beberapa kali, entah karena sedang memiliki uang atau memaksakan diri terlihat memiliki uang, gue nonton film ke bioskop.

Tapi, jaman now, nonton film nggak harus ke bioskop kan? hehe.

Gue ingat, di awal tahun 2017 gue bikin tulisan tentang filmIndonesia 2016 yang paling berkesan. Sekarang masuk 2018, rasanya kurang enak kalau gue nggak bikin tulisan tentang film berkesan di 2017. Tapi kali ini nggak cuma film Indonesia yang bakal gue tulis, film luar juga. So, here they are!


Pengabdi Setan

Film garapan Om Joko yang satu ini emang juara sih. Selain mendapat prestasi dimana-mana, film ini juga sudah melalang buana ke luar negeri dengan judul internasionalnya 'Satan Slave'. Film horor tanpa tetek beterbangan ini istiqomah bergenre horor, bukan horor setengah bokep.

Banyak temen bilang kalau film Pengabdi Setan bagus tapi endingnya jelek. Sedangkan gue malah suka endingnya. Ending kentang-nggak jelas-nggak nyambung-ngeselin gitu, malah bikin greget.
Pengabdi Setan adalah film reboot dari film jadul horor terbaik tanah air dengan judul yang sama. Joko Anwar berhasil membawa penonton ke apa yang dia rasakan saat dulu menonton Pengabdi Setan versi tahun 1980.

Btw, gue sudah mereview film Pengabdi Setan ini di sini. Jadi, langsung klik aja buat baca.

Kartini

Setelah film R.A Kartini (1984) dan Surat Cinta Untuk Kartini (2016), Kartini tampil lagi di layar lebar tahun 2017 dengan judul Kartini. Kali ini pemeran utamanya adalah Dian Sastriwardoyo. Gue nonton film ini di bioskop waktu itu karena tertarik dengan trailernya.

Film garapan Hanung Bramantyo ini menceritakan tentang kehidupan sang pahlawan dari bagaimana ia dibesarkan, berjuang melawan adat yang menurutnya itu salah, dan akhirnya harus menyerah pada nasib.

Hasil riset bapak sutradara bertahun-tahun hingga harus ke Belanda segala, terbayar. Film Kartini ini menurut gue lengkap dan cara penyampaiannya juga enak. Penokohan, latar, segala macamnya itu, dibuat kongkret menggambarkan situasi Kartini sebenarnya.

Jujur, gue suka film ini salah satunya karena film ini dibanjiri oleh aktor-aktor top Indonesia: Christine Hakim, Acha Septriasa, Dian Sastrowardoyo, dan idolaqu Reza Rahadian. Tambah lagi ada Djenar Maesa Ayu ikutan main. Beeeeeh! Greget banget! Berasa nonton reuni aktor.

Kalau kalian pecinta film genre biografi gini, kudu nonton film ini deh. Nggak nyesel.

Bad Genius

Gue sebenarnya bukan pecinta film Thailand. Tapi film ini beda dari film-film Thailand lain dan bikin gue jatuh cinta!

Ide dan alur cerita film Bad Genius unik. Film garapan Nattawut Poonpiriya ini mengangkat cerita tentang aksi curang sejumlah murid SMA saat ujian masuk kuliah skala internasional yang terorganisasi dengan baik. Otaknya adalah Lynn, siswi yang sangat cerdas tapi kurang mampu secara ekonomi. Karena diiming-imingi uang yang besar, akhirnya Lynn mengiyakan tawaran Pat dan Grace untuk memberi contekan. Awalnya kongkalikong contekan itu berskala kecil, lama-lama membesar.

Film yang bergenre thriller ini mampu meraup untung lebih dari 100 juta baht dalam 2 minggu penayangannya. Rekor baru di dunia film Thailand. Banyak penghargaan internasional yang diborong film dengan alur twist ini, salah satunya New York Asian Film Festival.WEW.

Yang bikin gue suka sama film ini selain ide dan alurnya adalah cerita di film itu sendiri. Gue nggak kepikiran ngasih contekan teman pas ujian seberkelas itu, gengs. Kalau gue, nyontek jawaban ujian masih dengan cara tradisional: nengok kanan nengok kiri. Nggak kepikiran secerdas Lynn.

Film Bad Genius ini amat sangat di luar ekspektasi pokoknya. Bagus banget! Kapan-kapan gue mau ngomongin film ini di satu postingan sendiri ah...

IT

Film sejuta umat seantero dunia ini beberapa bulan lalu menggemparkan jagad. Dimana-mana orang banyak ngomongin film IT. Instagram, facebook, twitter, ramai film IT. Sampai sekarang badut dan goyangan khasnya masih hits.

Film yang diangkat dari novel Stephen King ini disutradarai oleh Andy Muschietti dan diproduseri oleh Roy Lee, Dan Lin, Seth Grahame-Smith, David Katzenberg dan Barbara Muschietti. Gue nonton film ini karena dibahas dimana-mana dan reviewnya positif, sih. Film dengan anggaran $35 juta ini mampu menembus pendapatan $698,060,882. Gila.

Film yang mengangkat latar tahun 1988 ini menceritakan kisah Bill Denbrough yang kehilangan adik laki-lakinya Georgie saat si adik bermain perahu kertas di waktu hujan. Nggak jelas si adik ini hilangnya kemana dan masih hidup atau nggak. Kejadian anak hilang di Kota Derry sudah berkali-kali terjadi. Bill dan 4 temannya gemas dengan kejadian ini dan akhirnya mencari apa penyebab sebenarnya kasus hilangnya anak-anak di kota mereka. Ternyata pelakunya tidak lain tidak bukan adalah badut nggak lucu bernama Pennywise.

Di luar banyak yang ngomong gara-gara film ini pamor badut menurun dan anak-anak jadi takut sama badut, film ini cocok ditonton buat kalian yang suka film horor. Nggak terlalu nyeremin sih kalau menurut gue, tapi ceritanya bagus. Nggak ketebak. Gue suka.

Blue is the Warmest Color

Sebagai bonus, gue masukin disini film tahun 2013 tapi gue tonton di tahun 2017, Blue is the Warmest Color. Film Perancis bergenre romance yang super keren bin ajaib. Butuh waktu 2 hari buat gue menonton film lesbian berdurasi 3 jam ini. Hahaha.

Judul Perancisnya La Vie d'Adèle (artinya kehidupan Adele). Adele adalah nama pemain utama di film ini. Diperankan oleh Adèle Exarchopoulos, Adele sukses bikin gue jatuh hati sama perannya. Lawan mainnya juga cakep, namanya Emma, diperankan oleh Léa Seydoux.

seksi banget ini posenya
Film Blue is the Warmest Color menceritakan kisah pencarian jati diri seorang siswa bernama Adele dan akhirnya hatinya jatuh ke seorang perempuan berambut biru bernama Emma. Mereka menjalani hidup berdua dengan baik-baik saja hingga nggak jelas apa penyebabnya, keduanya mulai berubah. Sikap dan perilakunya berubah sedikit demi sedikit. Puncaknya, Adele selingkuh dan Emma nggak bisa terima itu. Sinetron banget ya kayaknya. Tapi film ini beneran keren. Ada maksud tersirat yang diceritakan. Apalagi kalau kalian memperhatikan perubahan warna rambut Emma.

Bagian yang gue suka dari film ini adalah ketika Adele menari asik dengan lagu soundtrack film tersebut: I Follow Rivers. Gue jatuh cinta!

Menurut gue ide film Blue is the Warmest Color biasa aja, tapi penyampaiannya yang wow. Kesan yang gue terima setelah nonton film ini mirip yang gue rasain setelah nonton film HER. Apa yang mau disampaikan film pemenang Canes Festival ini nggak gampang dipahami, tapi tersirat. Keren lah pokoknya.

So, itu dia lima film yang gue tonton di 2017 dan berkesan. Kalau kalian, film yang berkesan di 2017 apa aja?

Btw, gue jarang blogwalking akhir-akhir ini karena masih KKN di desa terpencil yang cari sinyal susah. :(

Minggu, Januari 07, 2018

4

Talking About 2017


Setiap hal yang datang dan pergi pasti meninggalkan bekas. Termasuk tahun. Ya, tahun 2017 sudah pergi hampir seminggu. Tapi bekasnya masih tersisa disini, sampai sekarang.


Agak berat sebenarnya melepas tahun 2017 dan berlanjut ke tahun berikutnya. 2017 terlalu cantik buat gue. Tapi bukannya manusia memang dituntut untuk melajar berkenalan dan melupakan?

Hahaha, belum apa-apa sudah ngaco.

Tahun 2017 mengajarkan gue banyak hal. Mengajarkan gue buat mengerti hidup yang lebih baik, mengajarkan untuk berdamai dengan diri sendiri ketika kenyataan tidak sesuai ekspektasi, dan mengajarkan untuk memilih orang-orang yang tepat sebagai teman, bukan orang-orang yang hanya mencari untung tanpa mau rugi.

Harusnya semua hal itu bukan hanya gue temui di 2017, sih. Tapi itu yang signifikan gue rasain di 2017. Tahun drama.

Gue kehilangan kakek di tahun 2017. Yang paling gue ingat dari beliau adalah wejangannya tentang hidup. Beliau bilang, "kejar akhirat aja. Inshaallah dunia ngikutin." Sampai sekarang belum bisa 100% gue praktekin.

Gue kehilangan beberapa teman juga di tahun 2017. Awalnya sedih, bahkan sampai ganggu pikiran. Tapi lama-lama gue sadar, nggak semua yang hilang itu pantas untuk ditangisi. Beberapa hal bahkan lebih baik menjauh dari hidup kita. Apalagi ada teman yang bilang, "makin tua itu teman makin sedikit.". Gue setuju.

Ini hal drama banget sih. Sudah segede ini, sebentar lagi punya gelar sarjana, tapi masih marah-marahan sama teman sendiri. Bukan dengan mudah berdamai, malah sampai sekarang silaturahmi nggak sebaik sebelumnya.

Nggak dewasa.

Yang paling gue banggakan dari 2017 adalah gue bisa naik pesawat ke luar negeri! Hahaha. Norak. Tapi gue bangga. Meskipun nggak sepenuhnya pakai duit gue sendiri. Gue senang ketika bertemu banyak teman baru dari berbagai daerah di Indonesia dan Thailand. Mereka datang dengan cerita masing-masing yang pada akhirnya membuat gue lebih dewasa.

Gue berterimakasih, 2017 berhasil membawa gue ke beberapa tempat untuk traveling. Itu memberikan gue semangat untuk makin banyak traveling. Dengan itu juga, gue bikin travel blog yang (recananya) bakal rutin gue tulis soal jalan-jalan.

Hmmm... Apalagi ya?

2017 is too hard to be told.
Dan untuk 2018, semoga gue bisa jatuh cinta ke lo ya, lebih dalam daripada tahun 2017.

Semoga semua hal makin baik untuk kita semua. Semoga semua jiwa makin mendewasa dan beruntung. Jangan lupa juga bahagia. Happy new year!

So,
Tahun 2017-mu gimana?

Minggu, Desember 17, 2017

8

Rindu Diri yang Dulu

Setuju atau tidak, hujan sering membuyarkan lamunan, menerbangkan percakapan, dan kadang menghadirkan kenangan. Setidaknya, itu yang gue rasakan kemarin, saat hujan deras di kantin kampus.

Pemancingnya adalah Anissa Dewi atau biasa gue panggil Depe, teman kampus yang sering memancing percakapan berat.

Obrolan tentang agama dari berapa jumlah sebenarnya isteri Nabi hingga "skripsimu sampai mana?", menghiasi sela-sela suara hujan jatuh di atas atap seng kantin siang itu. Yang paling kurang ajar adalah ketika muncul ucapan, "jujur ya, kamu itu berubah lho, Rih."

Pinterest
Romantis. Seketika itu gue merasa sebagai Ardina Rasti di FTV Pacarku Tukang Parkir Fotokopian.

Depe bilang gitu bukan tanpa alasan. Dia kenal gue dari pertama kali ospek. Dari awal, dia kenal gue sebagai orang yang independen. Maksudnya, gue adalah orang yang bisa kemana-mana sendiri, bisa berteman dengan siapa pun tanpa mengelompok, dan tidak membatasi diri menghabiskan waktu bersama siapa pun. Dan menurut dia, gue udah nggak kayak gitu lagi sekarang.

Gue juga merasakan hal itu. Gue sudah berubah, menjadi Power Ranger Pink.

Ehe.

Menurut gue ini wajar. Setiap orang berubah. Yang mengubahnya adalah lingkungan dan pengalaman.

Pinterest
Setiap detik kita dibentuk, tanpa kita sadari. Ke arah mana kita dibentuk, kita nggak sadar. Kita terus berjalan dengan arah yang diarahan keadaan. Kita baru sadar saat kita berhenti dan menoleh ke belakang. Menoleh ke arah 'kita yang dulu.'

Dan sekarang, gue sedang berhenti untuk menoleh ke belakang. Ada gue yang dulu, berdiri disana, jauh di belakang dengan arah yang tidak lagi sama. Melambaikan tangan dan berkata, "Apa kabar? Masih ingat saya?".

Kemudian dengan samar gue melihat teman-teman lama yang lain juga disana. Mereka mengajak bermain perosotan di TK kampung sebelah, mencari keong di sawah, menonton DVD bajakan bersama, merayakan ulang tahun bersama. Tapi sayang, gue sudah tidak dapat melihat dengan jelas, siapa teman-teman lama itu, karena terlalu jauh.

Hahaha. Lucu. Sudah sejauh ini gue berubah.

Gue ngerti, hidup ini nggak mengizinkan untuk gue putar balik dan menemui gue yang dulu itu. Gue harus tetap jalan ke depan dengan keadaan-keadaan yang sekarng. Ya, setidaknya, ini adalah pengalaman gue yang bisa mengubah arah hidup dan bagaimana gue dibentuk.

Bangsat, jadi ngelantur. Rindu memang sering kurang ajar, sih. Termasuk rindu diri yang dulu.

"Iya Dep. Gue juga tau. Sekarang gue lagi nyoba buat belajar dari pengalaman dan berusaha seperti gue yang dulu itu." Gue jawab sekenanya kalimat Depe. Meskipun gue tau itu nggak bisa.



---
Tulisan ini disponsori oleh instagram story netijen yang lagi berduaan di dalam mobil.

Kamis, November 30, 2017

9

Cerita Go-Jek: Secepat itu kah Gilang Berganti Kelamin?

Setelah fail menggojek di hari pertama, gue makin penasaran dengan pekerjaan ini. Gue nggak mau diremehkan dunia dan dicap sebagai supir gojek gagal hanya karena gue lupa melepas tempelan di helm dan nggak ngerti cara top-up gopay.

Hari kedua pun gue persiapkan dengan matang. Setelah gue pastikan helm gojek sudah oke dan mempelajari cara top-up gopay dengan benar, gue melenggang keluar kos menuju basecamp teater untuk mangkal. Nggak tau kenapa, gue nyaman mangkal di tempat kegiatan mahasiswa ini. Rasa-rasanya gue pengen cetak spanduk "Pangkalan Ojek Diponegoro University" warna ijo dan memasangnya di depan basecamp teater.

lelah
Sebenarnya, gue menutupi pekerjaan ini. Memang sih, gue ngasih tau ke orang-orang kalau gue jadi supir gojek. Tapi gue nggak mau ketemu sama orang yang gue kenal pas gue lagi ngegojek secara langsung. Nggak enak aja kayaknya. Sebisa mungkin itu gue hindarin.

Hingga...

1. Yah...pada tau deh

Nggak berapa lama mangkal hari kedua, handphone gue berdering. Tanda ada orderan. Gue sumringah, riang gembira, seperti lagu Tasya libur telah tiba.

Jemput: Baskoro
Tujuan: Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Deket amat mbak. Mending naik sepatu roda. Batin gue. 

Ya meskipun tujuan si mbak ini dekat, gue tetap anterin. Masa iya gue suruh naik sepatu roda beneran. Di jalan, kita ngobrol. Ternyata dia salah satu temannya teman gue. Gue fine-fine aja waktu itu, nggak kepikiran apa-apa. Sampai keesokan harinya, teman-teman dari organisasi pada godain,

"mau dong diboncengin abang gojek..."
"gojek Semarang - Jogja dong kak..."
"lu oknum fake gojek ya Rih?"

Pada tau deh...
Huhuhu.
Hikz hikz hikz.

... salah curhat.

2. Maaf ya Mbak :(

Setelah beberapa hari mangkal di dalam area kampus, gue bosan. Nggak ada tantangan. Akhirnya gue mangkal di markas TNI AU.

Eh, belum. Belum se-ekstrem itu.

Gue mangka di kos sendiri. Gue pikir, gue bisa ngerjain hal lain sembari menunggu orderan.

Waktu itu, Rabu pagi, gue kuliah jam 9.41 WIB. Ada waktu kosong sebelum kuliah, kenapa nggak ngegojek aja, pikir gue.

Setelah bersiap memakai jaket boomber (waktu itu gue masih belum punya jaket gojek), nggak begitu lama, handphone gue kembali berdering karena ada orderan. Seperti biasa, gue girang. Tapi setelah gue lihat nama penumpangnya, rasa girang tersebut lenyap, berganti rasa gelisah sedikit basah.

Di layar handpone muncul :

Gilang
Jemput : Sumurboto
Tujuan : Stasiun Poncol Semarang

Mampus! Cowok. Pasti mas-mas gendut, nyebelin, berat, banyak nanya di jalan.

Dengan terpaksa, gue sms: mas, saya otw kesana ya. gojek.

Setelah sampai di lokasi tujuan, gue hanya melihat mbak-mbak pakai hijab berbadan lebih kecil dari gue sedang duduk menunggu sambil bawa tas besar. Gue celingak-celinguk ye kan, nyari dimana si Mas Gilang ini. Nggak ada. Gue berniat sms Gilang, si mbak yang duduk di depan rumah itu menghampiri gue.

Si mbak : mbak gojek bukan?
Gue : iya mbak.
Si mbak : gojek ke Stasiun Poncol ya Mbak?
Gue : iya Mbak.
Si mbak : oh iya Mbak, itu saya yang mesen.
Gue : *diem*

Secepat itu kah Gilang berganti kelamin? Atau jangan-jangan, hijab itu hanya untuk menutupi jakunnya?

Masih nggak yakin.

Akhirnya, si Mbak itu naik di motor gue, membuyarkan lamunan negatif gue. Di jalan, gue mencoba asik.

Gue : tadi yang mesenin gojek pacarnya ya Mbak?
Si mbak : bukan. Itu saya.
Gue : lah, di aplikasi namanya Gilang mbak.
Si mbak : iya, itu nama saya.
Gue : .....

Fail lagi Gustiiiii. :((

Gue : Maaf ya Mbak tadi saya manggilnya 'mas' di sms.
Si mbak : nggak papa Mbak, udah biasa. Tadi mangkal dimana?
Gue : di kos Mbak. Biasanya di basecamp teater sih.
Si mbak : oh, Mbak anak teater? Saya suka nonton teater lho Mbak! Saya sering nonton teater kampus.
Gue : eh iya?
Si mbak : iya. Saya juga add official account-nya teater lho.
Gue : *girang*
Si mbak : tapi saya heran. Waktu itu ada pentas teater jam 7, di account teater baru dikasih taunya jam 9.
Gue : hehehe, maap ya Mbak. itu yang ngelola akunnya anak-anak junior Mbak. Maafin ya, mungkin masih mabuk antimo.

Sepanjang jalan menuju stasiun kita ngobrol. Berasa teman sendiri.

Gue : mau kemana Mbak? Kok ke stasiun?
Si mbak : mau pulang ke Solo, kan kuliahnya udah selesai, kemarin saya wisuda. Sekalian nunggu panggilan kerja.
Gue : ohh, selamat ya Mbak. Sukses terus dan semoga cepet dapet kerjaan.
Si mbak : makasih ya Mbak.

Setelah sampai stasiun, si Mbak Gilang pun turun. Ya masa gue yang turun.

Gue pun kembali pulang ke kos dan bersiap berangkat kuliah.

Untuk Mbak Gilang (yang mungkin saja baca cerita ini), sekali lagi maaf ya saya manggilnya 'mas'. Semoga sukses dan bahagia selalu mbak. Salam, gojek yang selalu fail.

---

PS: di semua cerita Go-Jek yang gue tulis, cerita yang gue angkat itu nyata. Tapi kalimat-kalimat di dalamnya gue tambahin atau modif biar enak dibaca dan ada humornya.

Senin, November 20, 2017

16

Mau Naik Gunung Apa di Jawa Timur?

Mahasiswa tingkat akhir tanpa piknik, sama kayak Marsha-bengek tanpa ngik-ngik. Nggak asik.

Skripsi dan teror pertanyaan kampret “mau ngapain setelah lulus?”, sangat mengganggu kesehatan jiwa raga kami. Untuk menyeimbangkannya, gue butuh piknik. Tapi lagi-lagi, masalah duit jadi problem klasik.

Gue nggak bisa piknik yang menghabiskan duit banyak. Piknik yang bisa gue lakuin harus yang efisien dari segi duit dan waktu.

Temen gue, Resti, kemarin ngajakin ke Jawa Timur, Malang dan sekitarnya. Dia bilang Jawa Timur cocok buat jadi destinasi liburan rakyat jelata kayak gue gini. Pantai, museum, kuliner, sampai laut, semua ada dan jaraknya nggak jauh. Jadi bisa ngerasain banyak spot dan menghemat biaya transport.

Gue tertarik.

“Ke Jawa Timur nggak lengkap kalau kita nggak ke gunungnya Rih.”

“Ada gunung yang anget nggak? Gue nggak suka dingin.” Serius, cuy. Gue nggak pernah naik gunung karena nggak suka hawa dingin. Hidup di Semarang aja, gue nggak punya kipas angin apalagi AC di kosan.

“Ada. Kawahnya Bromo tuh, panas.”

“Sialan. Gue serius ini.”

“Yaudah. Lo mau naik gunung apa? Cari tau gih, gunung-gunung di Jawa Timur sebelum lo naik."

Gue pun membuka google dan mulai mencari informasi tentang gunung-gunung cantik di Jawa Timur. Cocok nih buat referensi manusia cemen macem gue gini sebelum mendaki.


Gunung Bromo

sumber: www.pesonaindo.com
Ini adalah satu-satunya gunung yang pernah gue datangi. Gue pernah kesini tahun 2014 lalu bareng temen-temen dari Kampung Inggris, Kediri.

Keindahan Gunung Bromo, nggak perlu diragukan lagi. Sudah go inernasional cuy. Ibarat artis, ini Agnes Monica nih, versi gunung.

Untuk yang mageran kayak gue gini, Gunung Bromo adalah pilihan yang tepat. Puncak Gunung Bromo gampang dicapai, bahkan bisa lihat kawahnya secara langsung dengan jelas. Kalau kurang jelas, silakan lakukan roll depan ke arah kawah.

Yang paling menarik tentang liburan di Bromo adalah pemandangan saat matahari terbit. SUMPAH KEREN! Dan emang ini yang paling terkenal dari Bromo.

Gunung Bromo terletak di empat kabupaten: Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Malang. Tingginya 2.300 meter di atas laut. Sebelum menuju kawah, kalian bakal disuguhi pemandangan lautan pasir yang luas. Tiap tahun ada ritual suci suku Tengger disini.

Kalau kalian berangkat ke Bromo lewat kabupaten Malang, kalian bisa dapat banyak penerbangan ke Bandara Abdul Rahman Saleh, termasuk penerbangan milik Batik Air, terus lanjut perjalanan pakai transportasi darat ke Gunung Bromo.
Gunung Lawu

sumber: www.penabiru.com
Nah gunung ini yang cocok buat pendaki pemula. Walaupun tingginya sampai 3.200 mdpl, tapi medan menuju puncak gunung relatif mudah. Letaknya di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah, jadi gampang buat gue kalau dari Semarang. Gunung Lawu ini ramai dikunjungi pendaki maupun penziarah, khususnya di bulan Suro.

Gunung Arjuno

sumber: upload.wikimedia.org
Nama Gunung Arjuno pasti sudah nggak asing buat para pendaki, khususnya buat yang aktif di dunia maya. Gunung dengan tinggi 3.300 meter ini terletak di perbatasan antara kabupaten Malang dan Mojokerto. Ada empat jalur pendakian yang bisa dipilih. Masing-masing jalur punya karakteristik dan daya tariknya sendiri.

Kalau kalian mendaki Gunung Arjuno, nggak ada salahnya lanjut naik ke Gunung Welirang yang letaknya bersebelahan. Kedua gunung ini ada di satu punggungan yang sama. Di Gunung Welirang kalian bisa menjumpai para penambang belerang.

Gunung Raung

sumber: www.phinemo.com
Gunung Raung bisa pilihan cocok buat yang suka tantangan nih. Letaknya di Banyuwangi dan gunung ini adalah gunung stratovolcanik aktif. Untuk mencapai puncaknya, kalian harus melalui medan pendakian ekstrem sepanjang 17 km yang sebagian besar berupa bebatuan terjal. Yang lebih menantang adalah, gunung ini tidak memiliki sumber air sehingga para pendaki harus membawa setidaknya 10 liter air untuk tiap pendaki. Disarankan bawa galon, bersama dispensernya, dan kopi satu renteng. Maka kalian akan jadi warung kopi dadakan. Perlu persiapan fisik, mental, kemampuan, dan pengalaman pendakian untuk bisa menaklukkan gunung ini. Jadi kalau kalian cuma pendaki amatir atau kayak gue yang mendaki gunung cuma buat foto-foto doang, mending jangan naik ke gunung ini.

Gunung Semeru

sumber: http://indosurflife.com
Gunung yang hits gara-gara dijadiin latar novel dan film ini adalah gunung tertinggi di Pulau Jawa (3.676 meter di atas permukaan laut). Untuk mencapai puncaknya, kalian perlu melalui beberapa medan pendakian. Karena ketinggiannya, gunung ini bisa menguras tenaga. Tapi nggak usah khawatir karena ada pos-pos peristirahatan sebagai tempat berkemah selama pendakian.


Ranu Kumbolo. sumber: rizkirahmatia.files.wordpress.com
Satu spot paling terkenal dari Semeru adalah Ranu Kumbolo. Disini kalian bisa bikin tenda kemah dan beristirahat sambil menikmati keindahannya. Terus lanjut ada medan menanjak yang disebut tanjakan cinta. Di ujung tanjakan ini, padang bunga lavender Oro-Oro Ombo bisa bikin kalian lupa sama tugas kuliah sejenak.

Nah, untuk mengakses gunung-gunung di atas, beberapa alternatif transportasi bisa kalian pertimbangkan. Kalian bisa naik kereta api dan berhenti di stasiun-stasiun terdekat atau bisa menggunakan transportasi udara seperti Batik Air dan mendarat di bandara Malang atau Surabaya, kemudian lanjut perjalanan dengan transportasi darat. Beberapa maskapai termasuk Batik Air sudah melayani penerbangan dengan intensitas cukup tinggi ke Bandara Malang dan Surabaya.

Untuk kalian pengguna naga terbang, mohon maaf, belum bisa mendarat di Jawa Timur.

---

Sesuai kemampuan dan kemapanan, kayaknya gue bakal milih Gunung Bromo deh buat merefresh otak ini. Kalau kalian?

Sabtu, November 18, 2017

10

Hal-hal yang ditemui Ketika Bangun Pagi

Go-jek nggak cuma ngasih benefit soal materi. Go-Jek juga melatih gue buat selalu bangun pagi. Karena di pagi hari lebih banyak orderan, mau nggak mau gue bangun pagi setiap hari buat ngegojek biar pendapatan makin banyak. Money wins.

Sebelum jadi supir gojek, gue nggak pernah bangun pagi kecuali cuma buat solat, itu pun lanjut tidur lagi.

Ngebongkar aib sendiri ye kan.....

Selama ini, gue pikir bangun pagi adalah hal yang bodoh. Dinginnya pagi nggak dimanfaatin buat peluk guling, pakai selimut, merem, sama aja menyia-nyiakan nikmat dari Tuhan. Pagi adalah saat yang nyaman banget buat tidur cuy. Terus bangun lagi jam 9, baru deh memulai aktifitas.

Tapi setelah jadi supir gojek, jam 6 pagi gue sudah keluar kos. Ketemu banyak orang di jalan, ngobrol sama penumpang, dan melihat hal-hal yang cuma bisa dilihat di pagi hari.

Itu semua bikin gue sadar kalau ketika gue tidur pagi selama ini, banyak hal yang gue lewatkan, banyak orang sudah memulai aktifitasnya, banyak orang sudah start ‘hidup’ lebih dulu, sedangkan gue ketinggalan, gue masih bermimpi di kamar.

Nyesek.

http://www.hardlybored.com


Dari banyak hal pagi yang gue temui itu, beberapa diantaranya punya kesan tersendiri. Coba gue ceritain ya...

Tukang sayur di depan kos yang jadi primadona ibu-ibu.

Setiap pagi ketika gue mulai ngegojek, selalu ada mas-mas jualan sayur pakai motor yang dikerubungi ibu-ibu di depan kos. Gue nggak ngerti si mas tukang sayur itu mulai mangkal di depan kos dari jam berapa. Soalnya mau gue keluar kos jam 5 pagi, 5.30, atau setengah tujuh, si mas sayur itu selalu sudah ada di situ. Herannya lagi, gue lebih sering lihat dia ngobrol sama ibu-ibu ketimbang melakukan transaksi jual beli. Gue jadi inget akun instagram lambeturah.

Ibu-ibu tukang sapu yang ketiduran setelah jalanannya bersih.

Gue lupa ngambil foto ibu-ibu yang ketiduran itu. Tapi gue masih ingat jelas ibu-ibu itu ketiduran di pinggir jalan, di depan salah satu rumah mewah daerah Gajah Mungkur Semarang dan jalanan di sekitar beliau tidur sudah bersih. Gue nggak ngerti beliau setiap hari kerja begitu, dari rumah jam berapa.

Jadi selama ini, ketika ibu itu menyapu jalan raya sampai bersih untuk mendapatkan nafkah, gue masih tidur di kamar. :(

Makanan-makanan yang sulit ditemui setelah jam 9 pagi.

Bubur ayam, bubur sumsum, ketoprak, lontong sayur, nasi uduk, adalah keluarga besar makanan yang sulit ditemui setelah jam 9 pagi. Biasanya penjual secara dadakan menggelar dagangannya di pinggir jalan dari jam 4 (habis subuh mungkin ya) sampai jam 9. Sebelum ngegojek, gue nggak tahu kalau ada lontong sayur enak di Jalan Prof. Sudarto setiap pagi.

Kakek dan cucu mesra di pagi hari.

Kakek itu sering menuntun cucunya jalan-jalan atau mendorongnya di sepeda. Beliau sering senyum kalau papasan sama gue di dekat kos. Nggak tahu kenapa, tapi itu sweet menurut gue. Doi sama cucunya, bukan sweet senyumnya ke gue lho ya.

3 superwomen penjual koran.

Gue masih nggak ngerti untungnya penjual koran di pinggir jalan itu berapa. Apalagi koran Tribun Jateng yang hanya dijual loper koran dengan harga seribu rupiah. Terus untungnya dia dari mana? Padahal jelas dong bagi hasil sama atasannya lagi.

Kalau kalian tinggal di Semarang, gue tahu ada 3 penjual koran perempuan yang setiap pagi stand by menjajakan korannya. Di Jalan Pahlawan, di pertigaan Rumah Sakit Kariadi, dan di perempatan Patung Kuda (patung Pangeran Diponegoro naik kuda) Tembalang.

Kalau kalian pecinta koran Jawa Pos, ibu yang di Jalan Pahlawan itu jual. Tapi kalau kalian lebih suka Tribun Jareng, bisa beli di perempatan Patung Kuda Undip atau RS Kariadi.

3 superwomen itu selalu standby setiap pagi bahkan sampai mendekati siang. Nggak pernah absen, setau gue.

Gue sering beli sih. Kalian bisa beli juga biar ibu-ibu itu cepat selesai jualan dan pulang ke rumah. Kalau kita naik motor emang biasanya nggak ditawarin koran, karena biasanya yang ditawarin yang naik mobil. Samperin aja mereka kalau mau beli.

Hal-hal itu dan hal lain yang sulit gue ceritain bikin gue sadar kalau selama gue tidur di pagi hari itu, banyak hal yang gue lewatkan.

Jadi inget apa kata ibu di rumah kalau gue bangun siang; “Rejekimu sudah dipatok ayam, tuh.”

Tulisan ini nggak jelas ya? Bodo.
Tulisan ini ditulis di note hp pagi ini, 18 November 2017, di sela-sela gue ngegojek dan menunggu orderan.

Sabtu, November 04, 2017

8

Cerita Go-Jek: Maafkan Kebohonganku Mas

Sebagai mahasiswa dengan uang makan pas-pasan, gue dipaksa memutar otak untuk mendapat pendapatan ekstra agar terhindar dari mengkonsumsi obat mag di akhir bulan. Banyak tawaran kerja yang bisa dikerjain mahasiswa, dari mulai part-time sampai full-time, dari mulai jaga toko sampai jaga perasaan, eh, jaga restauran maksudnya. Dari semua pilihan pekerjaan yang ada, gue memilih menjadi supir Go-Jek.

Iya, gue jadi Gojek driver.

Judul pose: berusaha menjadi gojek cantik
Gue memilih jadi supir Gojek karena jam kerjanya fleksibel banget, semau-maunya gue aja kapan mau kerja, kapan mau off, dan gue juga dasarnya emang suka muter-muter kota naik motor kalau lagi bete. Jadi gue pikir, supir Gojek adalah pekerjaan sampingan yang pas.

Sejak pertama kali meng-Gojek tanggal 14 Agustus 2017 hingga sekarang, banyak pengalaman unik yang gue dapetin. Mulai dari ngeboncengin dosen sampai dikejar-kejar customer gara-gara menolak dikasih tip.

Pengalaman-pengalaman dan para penumpang yang "unik" itu bakal gue ceritain di blog ini pada minggu pertama dan minggu terakhir setiap bulan. Semoga istiqomah ya gue bikin go-story ini. Hehe.

---

1. Deg-degan penumpang pertama

14 Agustus 2017, gue memberanikan diri keluar kos bawa helm gojek dan meng-ON-kan aplikasi GoJek Driver setelah sekitar seminggu helm itu nganggur di kosan karena gue belum berani narik (istilah dalam dunia perojekan kalau kita ngeaktifin aplikasi atau kerja). Pas nge-ON-in, rasanya deg-degan banget. Gue pikir bakal langsung ada yang order. Ternyata enggak.

Waktu itu gue belum punya jaket gojek karena kantor gojek Semarang lagi kehabisan stock jaket. Gue disuruh nunggu maksimal 2 bulan buat dapet jaket. So, gue narik pakai jaket jeans. Gaul ye kan?

Bingung mau mangkal dimana, akhirnya gue pergi ke kampus, ke basecamp teater yang berasa rumah sendiri karena gue bisa kapan pun main kesana. Akhirnya gue nunggu orderan gojek di basecamp teater, sendirian. Ditemani rasa deg-degan sebagai supir gojek amatiran.

Nunggu.
Nunggu.
Nunggu.

Tiba-tiba HP bunyi, "Tuttt tuuutttt tuuuutt".

Notif dari aplikasi gojek driver. Ada orderan!

ADA ORDERAN!

ADA ORDERAN WOY!

Jemput: teknik sipil.
Tujuan: jalan Solo.

Deg-degan. Serius. Ini gue harus gimana? Harus ngapain??!

Sendirian dan panik di dalam basecamp teater, gue merasa hina. Untung nggak ada temen yang liat kepanikan seorang supir gojek bingung ini.

Tarik napas hembuskan, tarik napas hembuskan, akhirnya gue tarik tambang. Gue mencoba untuk selow. Gue berpikir dan mengingat-ingat ketika gue order gojek, si driver gojeknya ngapain abis itu.

Mikir...

Telpon!
Yak biasanya kalau gue order gojek, si driver bakal telpon gue langsung.

Sayang, gue nggak ada pulsa telpon.

Driver gojek-amatir-panik-kere.

Akhirnya gue sms.

Sms pertama: Kak, di teknik sipil ya? Ditunggu ya. Saya kesana. *send*
Sms kedua: Gojek *send*
Sms ketiga: Saya naik beat merah, pakai jaket jeans ya. *send*
Sms keempat: Soalnya belum dapet jaket gojek. *send*

Satu customer, 4 sms. Gue asal pendet send aja. Lupa kalau ini sms, bukan line. Pulsa gue tidak tertolong. Tau kan betapa paniknya gue waktu itu?

Akhirnya, gue nyamperin customer tersebut, ke kampus teknik sipil.

2. Customer pertama ternyata blogger!

Jarak dari basecamp teater ke kampus teknik sipil deket. Nggak sampai 5 menit, gue udah berada di depan gerbang teknik sipil.

Gue sms lagi: saya sudah di depan gerbang ya.

Selang beberapa menit, cewek memakai jaket merah menghampiri. Refleks, gue langsung nyodorin helm ke dia.

"Eh ini mbak, helmnya." Dia menerima helm gojek mulus tersebut dengan sopan dan tersenyum.

Saat dia mau make helmnya, gue buru-buru tarik helm itu lagi. "Eh eh mbak, bentar!"

Mbaknya bingung. Dahinya mengkerut. Rambutnya mengkeriting. Emang asli kriting sih.
Gue nyengir.

"Bentar mbak tempelannya belum dilepas. Hehe."

Gue lupa ngelepas tempelan di kaca helm baru itu. Fail. :(((

foto dari kaskus
"Nggak usah khawatir mbak. Helmnya baru, jadi masih bersih. He-he-he." Gue mencoba membuat suasana nggak krik-krik.

Customer gue ini ternyata mau pulang ke rumahnya, di daerah Semarang kota. Orderan pertama nggak seburuk apa yang gue bayangin. Di jalan, kita ngobrol banyak, apalagi setelah dia tau gue mahasiswa juga dan pernah ke Thailand, karena customer gue ini juga suka traveling dan pernah ke Thailand, kita jadi seru ngobrol selama di perjalanan.

Sampai di depan rumahnya, gue memberanikan diri untuk mengajaknya selfie. "Kenang-kenangan mbak. Customer pertama gojek saya. Mau ditulis di blog nanti."

Foto selfie bareng penumpang pertama! Maafkan kekucelan ini.

"Oh kamu punya blog? Saya juga suka ngeblog lho."

"Wah blogger juga mbak? Apa nama blognya mbak. Nanti saya main ke blognya mbak." Gue pun mencatat nama blog si mbaknya di note hp.

Semangat skripsinya ya Mbak Hayuning! Sukses selalu. Semoga kita ketemu lagi.

3. Kurang pengetahuan berujung bohong.

Setelah sukses (sedikit fail) menyelesaikan orderan pertama, gue berniat untuk kembali ke kampus. Dengan posisi aplikasi driver masih aktif, gue melenggang, meninggalkan rumah customer pertama.

Saat sampai di pertigaan, notif aplikasi driver kembali berbunyi. Ada orderan lagi.

Dari nama yang tertera di aplikasi, customer kali ini laki-laki. Udah keringetan aja gue ngebayangin bakal berat ngeboncengin bapak-bapak gendut, bawa tas ransel, dan ngerokok.

Sampai di lokasi penjemputan, perasaan gue sedikit lega. Penumpang kedua ini laki-laki masih muda dan cuma bawa tas kresek. Nggak gendut.

"Mbaknya baru ya jadi gojek? Kok belum pakai jaket gojek?"

"Iya mas. Ini masnya penumpang kedua. Hehe."

Selama perjalanan, dua kali kita berhenti. Pertama di tukang jahit, kedua di atm. Setelah sampai tujuan, mas ini minta di top-up gopay via driver.

"Mbak ada saldo?"

Sejujurnya gais, gue nggak ngerti pertanyaan itu dan gue jawab spontan aja agar terlihat profesional, "ada mas."

"Yaudah kembaliannya buat top-up gopay aja ya mbak."

"Eh, iya mas..."

Mak jeglek...dyarrr! Gue nggak ngerti caranya top-up gopay. Apa pula itu top-up gopay. Gue aja seumur-umur (waktu itu) nggak pernah pakai gopay.

Gue hanya menunduk, memainkan ponsel sok-sokan melakukan transaksi top-up gopay. Padahal yang gue lakuin cuma pencet menu - back - menu - back - menu - back gitu terus sampai indomaret sama alfamaret bersatu.

GUE NGGAK NGERTI HARUS NGAPAIN ANJIRRR!! T_T

"Udah belum mbak?" Suara mas-mas itu merusak kegiatan pencet menu-back gue.

"Eh anu mas. Ini, kok nggak bisa ya? Loading terus. Lagi eror mungkin mas servernya. Nggak bisa top-up."

Ampuni kebohongan saya ya Tuhan.

"Oh lagi eror ya mbak? Pantesan lama. Biasanya cepet kok." Gue nyengir. "Yaudah mbak nggak usah top-up aja. Makasih ya mbak."

"Iya mas he-he-he."

Gue pun pergi. Gue merasa bersalah udah bohong ke masnya. Padahal nggak ada yang eror. Emang dasar guenya aja yang nggak ngerti cara top-up gopay. Maafkan kebohonganku mas.....

Setelah mengantar mas-mas tadi, gue non aktifkan aplikasi gojek driver dan kembali ke kampus. Hari pertama meng-gojek gue tutup dengan perasaan bersalah dan tekad untuk memperluas pengetahuan gojek gue.

Teman

Jumlah Pembaca